Sebelum transmigrasi, Bella adalah mimpi buruk SMA Garuda Bangsa. Ketua geng. Tukang bolos. Suka membuat keributan. Nilai nyaris tidak tertolong.
Setelah transmigrasi?
Ia datang ke sekolah tepat waktu, memakai seragam rapi, membawa agenda, dan mengadakan rapat sebelum pelajaran dimulai.
Teman-temannya mengira Bella sudah bertobat.
Mereka salah.
Bella yang lama ingin menguasai gengnya. Bella yang sekarang ingin mengelolanya.
Karena jiwa yang menempati tubuh itu adalah Sarah, mantan manajer HRD yang bahkan setelah mati pun masih berpikir tentang SOP, KPI, evaluasi, dan restrukturisasi.
Kini, geng paling berandalan di sekolah punya masalah baru.
Ketua mereka bukan lagi preman.
Ketua mereka adalah HRD.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyvara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Bau pertama yang menyapa indra penciumannya adalah aroma yang sangat ofensif. Bukan bau karbol rumah sakit yang steril, bukan pula aroma kopi espresso di ruang kerjanya. Ini adalah campuran antara bau asap rokok yang mengendap di kain, keringat asam, dan parfum murahan beraroma stroberi sintetik yang menusuk hidung.
Sarah membuka matanya perlahan. Kepalanya berdenyut hebat, seolah ada konser musik rock yang sedang berlangsung di dalam tengkoraknya. Ia mengerjap beberapa kali, mencoba memfokuskan pandangan. Hal pertama yang dilihatnya adalah langit-langit kamar yang penuh dengan tempelan bintang-bintang glow in the dark yang menyala redup, dikelilingi oleh poster-poster usang bergambar tengkorak, naga, dan nama-nama band metal yang formasinya bahkan tidak bisa ia baca karena font-nya yang terlalu liar.
"Di mana... rumah sakit mana ini?" gumamnya serak.
Namun, begitu ia menggerakkan tangannya, ia menyadari kejanggalan yang luar biasa. Tubuhnya terasa ringan. Terlalu ringan. Nyeri kronis di punggung bawahnya yang selalu menemaninya akibat duduk belasan jam sehari hilang tanpa bekas. Sendi-sendinya terasa lentur. Ia mengangkat kedua tangannya di depan wajah. Ini bukan tangannya. Tangan yang sedang ia tatap adalah tangan yang lebih kecil, dengan kulit yang tidak memiliki kerutan penuaan dini. Namun, kuku-kuku tangan itu dicat dengan warna hitam yang sudah terkelupas di sana-sini, terlihat sangat tidak higienis dan tidak profesional. Ada beberapa gelang kulit berduri yang melingkar di pergelangan tangannya.
Dengan panik, emosi yang sangat jarang dialami oleh seorang HRD senior Sarah memaksakan diri untuk bangun. Ia menyingkap selimut yang ternyata bermotif loreng macan tutul, lalu turun dari kasur. Langkah pertamanya nyaris membuatnya jatuh karena ia tersandung sesuatu. Ia melihat ke bawah. Sebuah celana jeans robek-robek berserakan di lantai, bercampur dengan bungkus makanan ringan dan botol minuman bersoda yang sudah kosong.
"Lingkungan kerja macam apa ini?!" insting HRD-nya langsung memberontak melihat ketidakteraturan yang ekstrem ini.
Ia mengedarkan pandangan, mencari cermin. Di sudut ruangan yang berantakan, terdapat sebuah meja rias dengan cermin yang penuh dengan coretan spidol permanen bertuliskan 'PUNK'S NOT DEAD' dan 'REBEL'.
Sarah melangkah mendekati cermin tersebut, menyingkirkan kaleng hairspray kosong yang menghalangi pandangannya, lalu menatap refleksinya. Waktu seolah berhenti berdetak saat itu juga. Napasnya tertahan di tenggorokan. Orang yang balas menatapnya dari cermin bukanlah Sarah Paramitha, wanita karier berusia 38 tahun. Refleksi itu menunjukkan seorang remaja perempuan, mungkin sekitar usia 17 tahun. Rambutnya adalah pelanggaran grooming tingkat dewa, dipotong acak-acakan (shaggy parah) dan diwarnai dengan kombinasi hijau neon di bagian atas dan luntur menjadi merah muda kusam di bagian bawah. Wajahnya tertutup lapisan bedak yang terlalu tebal, dengan eyeliner hitam tebal yang ditarik memanjang hingga ke pelipis, membuatnya terlihat seperti rakun yang kurang tidur. Tidak hanya itu, ada sebuah anting tindik dari besi di alis sebelah kirinya, dan satu lagi menembus bibir bawahnya.
"Apa ini... lelucon divisi IT? Virtual reality?" Sarah mencubit pipinya sendiri dengan keras. Rasa sakit yang tajam menyengat. "Bukan. Ini nyata."
Otak Sarah yang terbiasa menangani krisis perusahaan mulai berputar dengan kecepatan maksimum. Ia menekan tombol panik, lalu mematikannya kembali. Panik tidak akan menyelesaikan masalah. Analisis data dan observasi adalah kunci.
Ia mulai menggeledah kamar itu layaknya seorang auditor internal yang sedang melakukan sidak (inspeksi mendadak). Ia butuh identitas. Ia membuka laci meja yang macet karena penuh sesak oleh barang. Di antara tumpukan komik dan kotak rokok yang disembunyikan, ia menemukan sebuah dompet kulit berwarna hitam dengan rantai besi. Ia membuka dompet itu dan menarik sebuah kartu identitas. Kartu Pelajar.
Nama: Bella Anastasia.
Sekolah: SMA Garuda.
Tempat/Tanggal Lahir: Jakarta, 14 Mei (17 tahun).
"Bella Anastasia," Sarah membaca nama itu keras-keras. Suaranya terdengar berbeda, lebih melengking dan bernada lebih tinggi dari suara aslinya yang berat dan berwibawa. Sarah berjalan ke tengah kamar, menyilangkan lengannya, lalu memandangi sekeliling ruangan dengan pandangan menilai yang mematikan. Sebagai seorang perekrut dan evaluator sejati, ia mulai memperlakukan tubuh dan kehidupan Bella ini layaknya sebuah Curriculum Vitae (CV) dari seorang kandidat yang melamar pekerjaan.
Observasi Pertama: Kamar yang sangat berantakan menunjukkan manajemen waktu yang hancur, kurangnya disiplin diri, dan ketidakmampuan untuk mengorganisir prioritas. Ini adalah red flag terbesar bagi seorang karyawan.
Observasi Kedua: Atribut punk yang berlebihan (tindik, rambut neon, pakaian robek) bukanlah representasi ideologi, melainkan indikasi kuat adanya masalah psikologis—kemungkinan besar kompensasi atas rasa insecure, pencarian validasi, atau pemberontakan terhadap figur otoritas (orang tua/guru).
Observasi Ketiga: Di atas meja belajar yang tertutup poster majalah, ia menemukan setumpuk buku pelajaran yang masih dibungkus plastik rapi, di sebelahnya terdapat kertas ujian yang diremas dengan nilai angka '30' tertera dengan tinta merah. Performa akademik yang gagal total.
Sarah memijat pelipisnya. Secara rekam jejak, kandidat bernama Bella ini adalah bencana. Jika ini adalah wawancara kerja, Sarah akan merobek CV Bella dalam waktu lima detik dan memasukkannya ke mesin penghancur kertas tanpa ampun.
"Ini adalah CV terburuk yang pernah kulihat sepanjang hidupku," desis Sarah. "Anak ini adalah contoh nyata dari inefisiensi sumber daya manusia, produk dari manajemen parenting yang cacat dan tidak adanya pengawasan berjenjang (KPI)."
Namun, sebuah realitas pahit menghantamnya. Ia tidak bisa menolak kandidat ini. Ia sekarang berada di dalam tubuh kandidat ini. Secara misterius, jiwanya telah dipindahtugaskan (transmigrasi) ke dalam wadah atau "perusahaan" baru bernama Bella Anastasia. Menyerah bukanlah kosa kata yang ada dalam kamus seorang Sarah Paramitha. Jika perusahaan Adidaya Makmur yang nyaris bangkrut saja bisa ia restrukturisasi dalam waktu tiga bulan, maka merestrukturisasi kehidupan seorang remaja ababil berusia 17 tahun seharusnya menjadi proyek skala mikro baginya. Matanya yang sebelumnya diliputi kebingungan, kini menajam, memancarkan aura kepemimpinan yang dingin.
"Baiklah, Bella Anastasia," ucap Sarah pada refleksinya di cermin. "Mulai detik ini, perusahaan 'Kehidupan Bella' resmi diambil alih oleh manajemen baru. Dan langkah pertama dari setiap takeover perusahaan adalah: likuidasi aset rongsokan dan bersih-bersih besar-besaran."