Kael Dravenhart, Pahlawan Perang Kerajaan Valdoria, menagih janji pernikahan dari sang Raja. Ia mengira akan menikahi sang putri tercantik, Liana. Namun, takdir berkata lain ketika Raja memberikannya Virelia; sang putri pertama yang terkenal gila, kasar, dan suka melempar vas ke kepala orang.
Kael mengira rumah tangganya akan menjadi neraka karena harus mengurus istri yang gemar berteriak, menyuruhnya memanjat bulan. Ia tidak tahu bahwa di balik tawa kosong dan lemparan garpunya, sang istri adalah Raven, ketua pembunuh bayaran paling berbahaya sekaligus pemimpin revolusi yang bersumpah untuk menggulingkan sang Raja tiran!
Ketika komedi pernikahan paksa berpadu dengan aksi pembunuhan berantai dan rahasia istana, sang Serigala Perang harus memilih: melaporkan istrinya ke istana, atau ikut membantu sang ratu bayangan menjungkirbalikkan takhta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31. OBROLAN MEREKA
Deru roda kereta kuda berbalut ukiran emas murni berputar mantap, membelah jalanan berbatu putih menuju kompleks Istana Agung Valdoria. Di dalam kabin kereta yang luas, dilapisi beludru merah tua dan diterangi cahaya lampu kristal gantung mini, suasana terasa begitu hangat dan intim.
Virelia duduk bersandar di kursi empuk, merapikan lipatan gaun beludru hitamnya yang berkilauan. Meskipun ia adalah seorang putri berdarah bangsawan, malam ini menandai kali pertama ia menginjakkan kaki di sebuah pesta dansa resmi, terlebih di aula utama istana pusat di mana seluruh mata kaum elit kerajaan akan tertuju padanya.
Menyadari jemari sang istri yang sedikit mengetuk-ngetuk lututnya sendiri, Kael melirik sekilas dari tempat duduknya di seberang.
"Kau gugup?" tanya Kael lembut, suaranya memecah keheningan kabin kereta.
Virelia mendongak, menarik napas pelan untuk meredakan debaran di dadanya. Ia tersenyum tipis, mencoba menyembunyikan kegelisahannya di balik sorot mata peraknya.
"Jujur saja ... iya, aku sedikit gugup. Meskipun aku sudah terbiasa menghadapi pembunuh bayaran, merangkak di atap genting, atau memimpin pasukan bawah tanah, tapi datang ke pesta istana dengan gaun ketat dan korset baja ini rasanya seratus kali lebih menegangkan. Terutama karena statusku sebagai 'Putri Gila' yang dibuang," aku Virelia jujur, jemarinya meremas kain gaunnya sendiri.
Mendengar pengakuan itu, alis tebal Kael langsung berkerut tidak suka. Pria itu mendengus pelan, lalu menatap istrinya dengan sorot mata penuh keyakinan mutlak.
"Tidak ada alasan sedikit pun bagi seorang Duchess Virelia Dravenhart untuk merasa gugup di tempat busuk itu. Kau bisa melakukan apa pun yang kau mau di dalam istana malam ini. Kau bahkan boleh melemparkan kue tart ke wajah Raja Lucien sekali pun, dan tidak akan ada yang berani melarangmu," tegas Kael dengan nada berat dan berwibawa.
Virelia mendadak tertawa renyah, tawa lepas yang langsung mencairkan ketegangan di wajahnya. "Kau bercanda, Kael? Kalau aku berani melempar kue ke wajah Raja di depan para bangsawan, besok pagi kepalaku pasti sudah dipenggal dan digantung di gerbang kota!"
Kael menggelengkan kepalanya perlahan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman miring yang arogan namun sangat mempesona.
"Tidak ada seorang pun di kerajaan ini yang berani menyentuh anggota keluarga Dravenhart, bahkan sejak generasi pertama pendirian kerajaan. Sebaliknya, Raja Lucien justru harus takut pada keluarga kita. Asal kau tahu, keluarga Duke Dravenhart adalah salah satu dari empat keluarga bangsawan agung yang berdiri berdampingan bersama para leluhur untuk membangun Kerajaan Valdoria dari nol," ujar Kael mantap.
Virelia membelalakkan matanya kaget. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan. "Empat keluarga agung?"
"Benar, empat keluarga pendiri memegang hak istimewa mutlak dan perlindungan magis kuno yang tidak boleh disentuh sembarangan oleh pemegang takhta. Bahkan seorang Raja sekali pun dilarang keras mengganggu, melecehkan, atau mencoba merusak eksistensi keempat keluarga besar tersebut. Raja Lucien tahu persis aturan itu, dan itulah alasan kenapa ia tidak bisa langsung membunuhku secara terang-terangan," lanjut Kael menjelaskan.
Virelia tertegun. Ia meresapi informasi baru itu dengan cepat. "Jadi alasan Raja menikahkanku denganmu bukanlah sekedar untuk membuangku dari istana, melainkan sebuah bentuk penghinaan terselubung? Raja sengaja menjodohkan panglima perangnya yang paling berpengaruh dengan seorang putri yang dicap gila, semata-mata untuk mempermalukan nama besar keluarga Dravenhart di seluruh negeri?"
"Tepat sekali. Raja mengira dengan memberikan istri yang tidak waras padaku, pengaruh politik dan wibawanya di mata rakyat akan mengungguli keluarga Dravenhart. Tapi sayangnya, raja tua itu tidak tahu bahwa ia justru sedang menyerahkan buronan paling mematikan di dunia hitam ke dalam pelukan musuh terbesarnya," jawab Kael dingin, sorot mata birunya menajam.
Virelia tersenyum tipis mendengar pujian terselubung itu. Namun, detik berikutnya, bayangan masa lalu dan rumor yang sempat ia dengar kembali melintas di kepalanya. Sinar matanya meredup seketika, dan ada kilat kecemburuan kecil yang tanpa sadar terpancar dari balik manik mata peraknya.
Virelia menunduk, memainkan renda di ujung sarung tangannya. "Omong-omong soal pernikahan kita ... apakah kau tidak menyesal, Kael?"
Kael mengernyitkan keningnya. "Menyesal? Menyesal karena apa?"
"Menyesal karena harus menikahiku. Bukankah ... bukankah seharusnya kau menikahi Liana, adik tiriku yang sangat cantik itu? Aku dengar cerita di istana bahwa tiga tahun lalu, kau rela pergi berperang selama tiga tahun penuh di perbatasan utara karena Raja menjanjikan hadiah pernikahan dengan Putri Liana jika kau berhasil memenangkan perang," ucap Virelia lirih, berusaha menyembunyikan getaran di suaranya.
Suasana di dalam kabin kereta mendadak hening.
Kael tertegun menatap istrinya. Sebagai seorang panglima yang peka, ia menangkap dengan jelas kilat kecemburuan dan luka kecil yang coba disembunyikan Virelia di balik nada bicaranya yang datar. Pria itu tidak langsung menjawab; ia justru tersenyum kecil.
Tanpa membuang waktu, Kael bangkit dari tempat duduknya di seberang, lalu berpindah duduk merapat di samping Virelia. Aroma kayu cedar dan wangi maskulin tubuh suaminya langsung menguar, membuat jantung Virelia berdegup kencang.
Kael merangkul bahu ramping Virelia dengan penuh kehangatan, menarik tubuh gadis itu agar bersandar di dadanya, lalu mengecup puncak kepala istrinya dengan lembut.
"Kau cemburu?" bisik Kael tepat di telinga Virelia dengan nada jenaka yang menggoda.
Pipi Virelia langsung merona merah padam hingga ke pangkal telinganya. Ia mendongak, memukul dada bidang Kael pelan dengan tangannya yang bersarung tangan.
"C-Cemburu?! Jangan percaya diri! Aku hanya bertanya fakta yang beredar di istana!" elak Virelia.
Kael tertawa pelan, menangkap pergelangan tangan Virelia dan mengecup telapak tangan gadis itu dengan penuh sayang.
"Dengar, Virelia," ucap Kael dengan suara berat yang berubah menjadi sangat serius dan tulus. "Memang benar, saat itu Raja menawarkan hadiah pernikahan dengan Liana sebagai pancingan agar aku mau memimpin pasukan ke perbatasan utara. Dan ya, aku menerima tawaran itu bukan karena aku mencintai Liana," jelasnya.
Virelia berkedip cepat, menatap suaminya penuh tanda tanya. "Lalu untuk apa kau menerimanya?"
"Karena aku tahu Liana adalah putri kesayangan Raja Lucien. Jika aku berhasil mengikat Liana dalam ikatan pernikahan, aku memiliki sandera politik terkuat untuk mengendalikan sisi psikologis Raja yang terkenal gila hormat itu. Aku mengira Liana adalah wanita bangsawan manja yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan strategi militer," jawab Kael tenang.
Kael menatap lurus ke dalam manik mata perak Virelia, sorot matanya melembut luar biasa.
"Tapi, di tengah-tengah semua rencana politik itu, takdir justru mengirimkan seorang putri gila yang melompat dari jendela, melempar vas bunga, dan menjadi pembunuh berdarah dingin di malam hari. Jujur saja aku jauh lebih menyukai wanita yang pandai bertarung dan menantang maut dibandingkan wanita bangsawan yang hanya bisa bersolek di depan cermin. Dan aku tidak pernah menyangka wanita petarung terhebat itu justru menjadi istri sahku," lanjut Kael dengan senyuman paling manis yang pernah ia tunjukkan.
Wajah Virelia, yang jarang sekali tersipu sepanjang hidupnya sebagai pembunuh bayaran, kini benar-benar merah padam seperti kepiting rebus. Jantungnya bergemuruh hebat seolah ada ribuan genderang perang yang ditabuh di dalam dadanya.
"Kau ... kau ini ... kau pintar sekali merayu wanita, ya!" cicit Virelia salah tingkah, meninju pelan perut Kael menggunakan kepalan tangannya, meskipun tentu saja tinju itu sama sekali tidak bertenaga dan justru terasa seperti elusan manja.
Kael kembali tertawa lepas, menikmati ekspresi salah tingkah istrinya yang sangat langka itu. Ia mencium sekilas pipi kiri Virelia yang merona merah.
"Kau manis sekali saat cemburu, Ratu Awan," goda Kael lembut.
Virelia mendengus kesal, mengangkat tinjunya lagi untuk memukul suaminya. "Awas ya, kalau kau terus menggoda-!"
BRUK!
Belum sempat tinju Virelia mendarat, laju kereta kuda mendadak melambat, lalu berhenti total dengan sentakan kecil.
Suara derap ratusan pasukan pengawal istana dan alunan musik orkestra megah yang sayup-sayup terdengar dari luar menandakan satu hal: mereka telah tiba di halaman utama Istana Agung Valdoria.
Di luar kabin, kusir kereta membukakan pintu kayu dengan hormat, sementara cahaya lampu ribuan lampion istana menyilaukan mata dari celah pintu yang terbuka.
Kael merapikan kerah jas militer formalnya, mengancingkan lencana emas di dadanya, lalu memasang kembali ekspresi wajahnya yang dingin, berwibawa, dan mematikan; wajah sang Serigala Perang Valdoria yang ditakuti kawan maupun lawan.
Kael menoleh ke arah Virelia, mengulurkan tangan kanannya dengan senyuman penuh percaya diri.
"Ayoo ..." ucap Kael mantap, menatap lurus ke mata istrinya. "... kita mulai kegilaan kita malam ini, Istriku."
menjadikan aku lebih tegar dan terlihat serba bisa .
siapapun yg selalu didorong kepinggir jurang setiap saat,pastinya mekanisme perlindungan diri nya lebih aktif 🥹🥹
" menjadi seorang perempuan harus serba bisa
bahkan ketika kita memakai gaun yg cantik,kita harus bisa berdiri tegak di dalam sebuah pertempuran."
ratu awan lu
Elaine mana?
syok ga liat boneka Barbie nya bisa begitu🤣🤣🤨
sweet banget si mereka😍😍
dah kayak Mak Mak komplek
pas bgt itu🤣🤣
ga usah malu
bangga donk ah
ajaran siapa itu🤣🤣🤣
gara gara siapa tu woiiii🫣🤣🤣🤣
lama lama virusnya akan kah nyampe ke Julian???🤨
othor.....tolong
kok lebih menjiwai mereka si
aku jadinya percaya sama siapa???
🫣🤣🤣🤣🤣