Indonesia
NovelToon NovelToon
Sistem Dewa Hoki : Aku Bukan Pembawa Sial

Sistem Dewa Hoki : Aku Bukan Pembawa Sial

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Sistem
Popularitas:10.2k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Selama bertahun-tahun, Akbar dicap sebagai pembawa sial oleh seluruh warga kampung, bahkan disalahkan atas kecelakaan tragis yang merenggut nyawa kedua orang tuanya. Kelelahan dengan hidup yang penuh penderitaan dan cemoohan, Akbar memutuskan untuk mengakhiri segalanya dengan melompat dari atas jembatan. Namun, tepat sebelum tubuhnya jatuh, sebuah layar hologram mendadak muncul dan memberinya "Sistem Dewa Hoki". Kini, berbekal keberuntungan absolut dari sistem tersebut, Akbar siap membalikkan keadaan, membungkam mulut orang-orang yang merendahkannya, dan membongkar rahasia kelam di balik kematian orang tuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Brummm.

Suara mesin Scoopy hitam milik Akbar menderu halus membelah kemacetan parah khas jalan raya Sudirman Jakarta.

Udara malam ibu kota terasa cukup gerah dan dipenuhi asap knalpot kendaraan yang merayap pelan.

Jam tangan digital di panel motornya menunjukkan pukul setengah delapan malam tepat saat dia berbelok ke sebuah area mewah.

Cittt.

Akbar mengerem motornya perlahan tepat di depan lobi utama Hotel Grand Jakarta yang menjulang tinggi menembus langit malam.

Lobi hotel bintang lima itu terlihat sangat megah dengan puluhan lampu kristal gantung yang menyilaukan mata dari luar kaca.

Deretan mobil mewah plat B seperti Alphard, Mercedes, dan Porsche tampak berbaris rapi di area parkir khusus tamu VIP.

Hanya motor matic hitam plat daerah milik Akbar saja yang terlihat nyempil bagaikan anak ayam di tengah kawanan naga.

Akbar mematikan mesin motornya dan melepas helm dengan gerakan sangat santai tanpa peduli tatapan orang.

Malam ini dia hanya memakai kemeja hitam polos berlengan panjang dan celana bahan warna gelap yang dibelinya di pasar.

Harganya tidak lebih dari dua ratus ribu rupiah, tapi postur tubuhnya yang tegap karena efek sistem membuat baju murah itu terlihat sangat pas.

Tap tap tap.

Akbar berjalan tenang menaiki anak tangga berlapis karpet merah menuju pintu kaca lobi hotel mewah tersebut.

"Berhenti di situ Mas, maaf Anda tidak bisa masuk lewat pintu ini," cegat seorang petugas keamanan bertubuh kekar.

Petugas berseragam safari hitam itu menatap Akbar dari atas sampai bawah dengan pandangan sangat meremehkan.

"Pintu masuk untuk kurir pengantar barang atau ojek online ada di sebelah belakang gedung hotel ini," lanjut satpam itu dengan nada mengusir.

Akbar sama sekali tidak marah mendengar hinaan itu.

Dia malah tersenyum tipis menghadapi perlakuan standar orang-orang ibu kota bermental kerdil ini.

"Saya bukan kurir barang Pak, saya adalah salah satu peserta acara lelang barang antik di lantai tiga," jawab Akbar dengan nada sangat sopan.

Satpam itu mendengus kasar dan bersedekap dada menutupi jalan masuk utama lobi.

"Jangan bercanda Mas, semua tamu undangan VIP lelang malam ini memakai jas mahal dan turun dari mobil mewah."

"Tolong tunjukkan kartu undangan resminya kalau Mas memang benar-benar tamu VIP kami malam ini."

Akbar merogoh saku kemejanya dan baru teringat kalau Clara belum memberinya kartu undangan fisik sama sekali.

Clara hanya menyuruhnya datang langsung ke hotel ini dan menghubunginya lewat pesan jika sudah sampai di lobi.

"Saya belum punya kartu undangannya Pak, tapi penilai ahli bernama Clara yang mengundang saya ke mari secara langsung," jelas Akbar santai.

"Hahaha, alasan basi macam apa itu," tawa satpam itu memecah keheningan lobi yang elegan.

"Nona Clara itu penilai utama dari Jakarta, mana mungkin dia mengundang orang berpakaian gembel seperti Anda ke acara elit ini."

"Lebih baik Mas pergi dari sini sekarang sebelum saya panggil teman-teman satpam lain untuk menyeret Mas keluar ke jalan raya."

Sreet.

Tiba-tiba pintu kaca lobi terbuka otomatis dari arah dalam menampilkan sosok wanita cantik yang berlari kecil dengan panik.

"Ada apa ini Pak Satpam? Kenapa tamu kehormatan VIP saya ditahan di luar begini?" tegur suara wanita yang sangat merdu namun bernada dingin.

Satpam kekar itu langsung menoleh ke belakang.

Tubuhnya seketika membungkuk hormat sembilan puluh derajat melihat siapa wanita yang baru saja datang menegurnya.

Gadis itu adalah Clara, dia memakai gaun malam berwarna merah marun yang sangat elegan menempel di tubuh rampingnya.

Rambut panjangnya disanggul rapi ke atas memperlihatkan leher jenjangnya yang dihiasi kalung mutiara putih mengkilap.

"No... Nona Clara, maafkan saya, saya sama sekali tidak tahu kalau pemuda ini adalah tamu Nona," jawab satpam itu terbata-bata dengan wajah pucat pasi.

"Lain kali gunakan matamu untuk menilai orang dari kualitasnya, bukan dari seberapa mahal bajunya," sindir Clara tajam memarahi satpam tersebut.

Clara langsung beralih menatap Akbar dan tersenyum sangat manis penuh rasa bersalah yang mendalam.

"Maafkan insiden memalukan ini Mas Akbar, penjagaan hotel di Jakarta ini memang kadang terlalu kaku menilai penampilan orang."

"Tidak apa-apa Clara, aku sudah sangat kebal dengan tatapan merendahkan seperti ini sejak dulu di kampung," jawab Akbar acuh tak acuh.

"Ayo kita langsung naik ke atas saja, lelangnya sudah mau dimulai lima belas menit lagi kan."

Clara langsung mempersilakan Akbar masuk dan berjalan berdampingan membelah lobi hotel yang mewah tersebut.

Para tamu hotel lain yang sedang duduk di lobi langsung berbisik-bisik keheranan melihat pemandangan ganjil di depan mata mereka.

Seorang wanita elit dari balai lelang ternama terlihat sangat menghormati pemuda berpenampilan pas-pasan.

Ting.

Pintu lift terbuka di lantai tiga, menampilkan lorong panjang berkarpet tebal yang menuju ke sebuah ballroom raksasa.

Suara dentingan gelas kaca dan alunan musik klasik terdengar sayup-sayup dari dalam ruangan berpintu ganda tersebut.

Klek.

Clara mendorong pintu ballroom itu dan membawa Akbar masuk ke dalam sarang para miliarder ibu kota.

Di dalam sana, puluhan pria dan wanita berjas serta bergaun mahal sedang berdiri berkelompok memegang gelas minuman anggur.

Mereka tertawa pelan saling memamerkan kekayaan dan koneksi bisnis mereka masing-masing di sudut ruangan.

Begitu pintu terbuka, beberapa pasang mata langsung tertuju pada Clara yang memang menjadi primadona acara malam ini.

Namun pandangan memuja mereka langsung berubah menjadi kerutan dahi penuh rasa jijik saat melihat sosok Akbar di sebelah Clara.

"Hei Clara sayang, gembel dari pinggiran mana yang kau bawa masuk ke acara suci kita malam ini?" sapa seorang pemuda berjas putih mahal yang berjalan mendekat.

Pemuda itu memiliki rambut klimis yang disisir rapi ke belakang layaknya bos muda.

Dia sengaja memamerkan jam tangan emas yang sangat mencolok di pergelangan tangan kirinya saat berbicara.

Di belakang pemuda itu, ada dua orang pria berbadan besar yang sepertinya adalah pengawal pribadinya.

"Jaga bicaramu Reyhan, dia ini adalah Mas Akbar, klien VIP paling spesial milikku malam ini," balas Clara dengan nada suara yang sangat dingin.

"Klien VIP apanya? Paling dia cuma mau numpang makan gratis di meja prasmanan kita," tawa Reyhan keras sengaja memancing perhatian tamu lain.

Beberapa konglomerat Jakarta yang mendengar ejekan Reyhan ikut tertawa tertahan sambil menutupi mulut mereka.

Reyhan adalah anak tunggal dari salah satu pengusaha properti terkaya di Jakarta Selatan, tidak heran dia sangat arogan.

Clara sudah bersiap membuka mulutnya untuk membalas hinaan Reyhan dengan argumen profesional.

Tapi Akbar lebih dulu menahan bahu Clara dengan tangan kirinya sebagai isyarat agar gadis itu diam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!