Reno Alvarez (25 tahun) punya visual secakep Yeonjun TXT, tapi statusnya tragis: PEngangguran JAkarta BARat yang hobinya cuma rebahan.
Nasib Reno mendadak korslet setelah nekat membuang golok warisan kakeknya ke tong sampah. Bukannya hilang, golok penuh daki itu malah auto-summon balik ke bawah bantalnya.
Reno resmi terkena kutukan Mbah Golok Sakti! Jiwanya mulai disedot paksa masuk ke berbagai dimensi absurd setiap kali tidur. Mulai dari dikejar zombie modal kolor Doraemon, operasi tenggorokan singa di Afrika, sampai debut dadakan jadi member TXT gara-gara Yeonjun asli lagi diare di toilet!
Setiap misi emang dapet cuan, tapi kalau Reno harus pindah dimensi terus nyawa bisa jadi taruhannya. Mampukah sang beban negara ini bertahan?
Warning: Jangan baca sambil minum, rawan nyembur! 🤣🔥
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26. Nenek Gembel
"DEMI APA PUN DI DUNIA INI MA... KUTUKAN GILA APAAN LAGI INI SEKARANG?! GUE KENAPA BISA BERUBAH WUJUD JADI NENEK-NENEK GEMBEL, WOY?!" teriak Reno histeris.
Namun nahas, jenis suara yang keluar dari tenggorokannya bukan lagi suara bariton maskulin khas pemuda tampan, melainkan sebuah nada suara serak melengking tinggi khas seorang nenek-nenek tua renta yang hobi makan kerikil goreng.
Reno akhirnya baru tersadar sepenuhnya. Kutukan ghaib si kakek botak kali ini tidak hanya sekadar memindahkan lokasi tempat jiwanya berada, melainkan jiwanya dipaksa untuk 'meminjam' raga fisik milik seorang nenek pengemis tua di sebuah gang sempit. Sebuah lokasi gang yang setelah ia amati dengan teliti, sangat ia kenali sebagai daerah kawasan belakang pasar loak Jakarta Barat.
Krucukkk... kruyuuukk... kruuuk!
Bunyi gejolak di dalam lambung perut nenek tua itu mendadak terdengar sangat nyaring membelah keheningan gang. Saking nyaringnya suara lapar tersebut, sampai-sampai ada seekor kucing buduk jalanan yang kebetulan sedang lewat di gang itu sempat menghentikan langkahnya dan menoleh curiga ke arah Reno. Tampaknya si kucing mengira kalau ada sesosok makhluk saingan predator baru yang mau merebut wilayah kekuasaannya.
"Sialan bener dah! Ternyata sistem usus seorang gembel pengemis emang beneran nggak bisa diajak berkompromi sedikit pun. Baru juga semenit jiwa gue dipindahin masuk ke dimensi ini, ini lambung nenek tua udah langsung ngayain aksi demo masak massal!" gerutu Reno kesal.
Ia mencoba memaksa tubuh bungkuknya untuk berdiri tegak, namun sialnya susunan tulang punggung si nenek yang sudah melengkung permanen itu malah mendadak mengeluarkan bunyi krek yang cukup keras.
Bunyi itu sukses membuat Reno meringis ngeri sendirian, membayangkan dirinya bakal terkena penyakit encok stadium akhir.
Sambil kepalanya celingukan ke kanan dan ke kiri demi memastikan tidak ada komandan satpam komplek atau warga sekitar yang mengira dirinya adalah sesosok nenek-nenek gila baru, Reno mencoba menghubungi 'layanan bantuan' pusat gaibnya.
‘Woi, si Botak daki! Eh... maksud gue salah, Wahai Sang Jiwa Penunggu Golok Sakti yang sangat agung, bersinar kilau kepalanya, dan tidak memerlukan sampo rambut seumur hidup! Muncul lo sekarang, keluarlah!’ panggil Reno komat-kamit di dalam dunianya pikiran.
Satu detik... dua detik... tidak ada tanda-tanda pendaran cahaya merah yang muncul. Hanya ada suara bising dari kawanan lalat hijau besar yang sedang asyik saling kejar-kejaran di atas tumpukan sampah basah yang menjawab panggilannya. Reno resmi dikacangin total tanpa ampun.
‘Ck, lo beneran bisa ngambek parah ya cuma gara-gara dari tadi gue panggil pake sebutan botak? Baperan amat sih lo jadi barang tajam! Oke deh, gue di sini minta maaf setulus hati. Minimal kasih tahu gue petunjuk misinya apa sekarang, biar jiwa gue bisa cepet balik lagi ke dalam bodi asli gue yang masih segar bugar dan ganteng selevel Yeonjun TXT itu!’
"Pikirkan saja sendiri lewat otak malasmu itu, Wahai Anak Muda yang gemar mengeluh. Masa jenis misi darurat yang sepele dan gampang begini saja kamu tidak tahu? Misi utamamu siang ini simpel: Buat kondisi raga perut nenek tua yang kamu pinjam ini kenyang sekarang juga!" suara berat si kakek botak akhirnya menyahut singkat, terdengar dengan nada suara dingin, ketus, dan terkesan malas melayani Reno.
‘Terus? Habis perut nenek ini kenyang, langkah selanjutnya apa lagi? Apa gue harus melakukan aksi gerakan joget TikTok dulu di pinggir jalan raya baru bisa di-izinkan balik pulang ke bodi asli?’ tanya Reno cepat.
Hening kembali. Si Jiwa Golok Sakti sepertinya sudah kembali melakukan aktivitas meditasi ghaib atau mungkin sedang sibuk menyisir rambut janggut putih panjangnya yang selevel tali jemuran baju komplek.
Reno mendengus kesal dengan suara seraknya. Ingin rasanya ia mencukur habis sampai licin seluruh bulu jenggot gaib milik hantu itu kalau saja tangan keriputnya punya alat gunting pemotong dimensi.
Dengan memasang ekspresi wajah jijik yang setinggi langit, Reno terpaksa mulai membongkar isi dari buntalan kain kumal berminyak milik si nenek pengemis.
"Ini sebenarnya benda apaan sih di dalem? Aroma busuk baunya beneran kayak perpaduan maut antara terasi basi sisa kemarin, sama kain kaos kaki milik pemain bola yang nggak pernah dicuci setahun penuh," gumamnya sambil tangan keriputnya sibuk menutup lubang hidung.
Di dalam benak mata duitannya, ia sempat berharap penuh bisa menemukan tumpukan uang lembaran merah ratusan ribu atau minimal ada beberapa keping recehan emas kuno yang berharga di dalam buntalan.
Tapi sayang, segala harapan fananya seketika langsung ambyar runtuh rata dengan tanah.
"Ck! Isi di dalemnya cuma ada tumpukan baju rombeng bekas yang teksturnya lebih mirip kain lap dekil daripada pakaian layak pakai. Terus... objek keras ini apaan?"
Jemari tangan keriput Reno tampak meraba dua buah bungkusan kain hitam kecil yang teksturnya terasa sangat keras. Ia mulai membuka ikatan kain itu dengan kobaran semangat membara.
"Lah?! Ini kan cuma ubi mentah?! Masa di dimensi ghaib ini gue dipaksa harus makan ubi mentah yang keras begini kayak kelakuan babi hutan di tengah belantara?!"
Karena emosi jiwanya sudah mencapai tingkat maksimal, dengan sebuah gerakan tangan yang kasar, ia menjejalkan kembali dua buah ubi mentah keras beserta tumpukan baju lecek dekil itu ke dalam buntalan kain hitam, lalu mengikatnya kembali sekuat tenaga.
Namun, demi menyelamatkan kondisi perut si nenek yang di dalam sana sudah mulai menggelar konser musik rock massal yang brutal, Reno akhirnya terpaksa membuang jauh-jauh rasa gengsi tingkat tingginya yang setinggi menara Monas langsung ke dalam selokan air got. Suka atau tidak suka, ia siang ini harus belajar cara mengemis di pinggir jalan.
Namun nahas, baru saja kaki kecil keriput si nenek melangkah berjalan sejauh lima langkah ke arah depan, embusan napas Reno sudah tampak terengah-engah satu-satu.
Detak organ jantung di dalam dadanya berdegup sangat kencang, seolah-olah tubuh ringkihnya baru saja dipaksa ikut lomba lari maraton keliling stadion Gelora Bung Karno.
"Astaga... sial kuadrat bener dah ah nasib hidup gue! Kenapa sih takdir perpindahan dimensi gue harus selalu nyangkut di dalam bodi nenek peot yang pasokan oli sendi kakinya udah abis total begini?! Kenapa kek kutukannya nggak bikin gue jadi seorang model internasional kek, atau minimal jadi artis idol K-Pop lagi yang pergerakan tubuhnya lincah?! Kalau kondisi raga ini mah jangankan diajak lari kabur, diajak jalan santai sedikit aja ini paru-paru gue rasanya udah mau mengajukan surat pensiun dini!"
Reno akhirnya terpaksa menghentikan langkah, lalu menyandarkan tubuh bungkuknya di sebuah tiang listrik besi yang sudah berkarat parah di pinggir jalan. Napas seraknya terdengar bengek megap-megap, dan seluruh persendian tubuh nenek itu tampak gemetar hebat akibat didera rasa kelelahan yang luar biasa.
Pandangan dunianya sore itu seketika terasa berputar-putar ekstrem, sebuah gejala medis yang kemungkinan besar terjadi karena kadar gula darah di dalam tubuh si nenek pengemis sudah merosot drastis di bawah angka nol.
"Gue... gue nggak boleh pasrah mati konyol dengan status sebagai gembel kelaparan yang tewas di tiang listrik berkarat ini. Gue sekarang harus segera bergerak cepat mencari mangsa... eh salah maksud gue, mencari sesosok manusia dermawan kaya. Begitu isi perut nenek tua ini berhasil kenyang makan, misi darurat dinyatakan beres, dan gue bisa langsung check-out cabut dari dimensi terkutuk ini!"