Indonesia
NovelToon NovelToon
Gadis Desa Kesayangan Mafia

Gadis Desa Kesayangan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:28.8k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

​“Paman, kenapa ini besar sekali?” tanya Lucia bingung.

​“Kau menyukainya?”

​“Memangnya itu apa?”

​“Jadi kau tidak tahu ini apa? Kau yang membangkitkannya dan kau tidak tahu cara menidurkannya?!”

Lucia polos hanya menggeleng lugu, membuat sang mafia paling ditakuti di seluruh Italia itu menepuk jidatnya kuat-kuat.

****

Disiksa kemiskinan di desa terpencil Calabria dan dijual oleh pamannya sendiri ke sebuah klub malam, Lucia pasrah menunggu takdir kelamnya.

Namun, sebuah penggerebekan menyelamatkannya dan membawanya bekerja sebagai pelayan di mansion megah milik Alessandro Frederick–bos mafia dingin berdarah dingin yang menderita alergi parah terhadap sentuhan manusia.

Satu sentuhan dari orang lain bisa membunuh Alessandro. Tetapi, saat jemari Lucia tak sengaja menyentuhnya, tidak ada rasa terbakar.

Bagaimana bisa seorang mafia kejam menaklukkan hati gadis lugu hingga mengira elusan in-tim adalah usapan rasa kasihan dan ciuman adalah penyembuh rasa sakit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 9

Ruang makan megah bergaya klasik Eropa itu tampak begitu tenang. Cahaya matahari pagi menerobos hangat lewat jendela-jendela kaca, memantul di atas meja makan panjang yang berlapis ukiran emas.

Di ujung meja itu, Alessandro duduk tegap dengan kemeja hitam yang lengannya digulung asal hingga sebatas siku. Pria itu tengah membaca lembaran koran bisnis harian seraya menunggu sarapannya disajikan.

“Kau sudah siap, Lucia? Ingat, tuangkan kopinya perlahan. Jangan membuat kesalahan,” tegur Mila dengan suara pelan.

“Nona Mila, perutku rasanya seperti diaduk-aduk. Bagaimana kalau paman itu tiba-tiba marah dan memaksaku memakan cacing peliharaannya?” bisik Lucia dengan wajah pucat pasi.

Mila memijat pelipisnya cepat. “Berhenti bicara melantur soal cacing, Lucia. Tarik napas mu dan cepat antar sarapan Tuan.”

Langkah kaki yang amat ragu akhirnya terdengar memasuki ruang makan. Lucia berjalan pelan, membawa nampan perak berisi secangkir kopi hitam pekat dan sepiring croissant hangat yang baru keluar dari pemanggang.

Gadis desa itu tampak sangat tidak tenang. Pipinya merona merah matang dan matanya melirik liar ke kanan dan ke kiri seolah mencari jalan untuk kabur.

Bayangan mimpi semalam, tentang Alessandro yang memanggilnya sayang, lalu membelit lidahnya dengan cacing hangat masih berputar dengan sangat brutal dan jelas di kepalanya.

Trang!

Cangkir porselen di atas nampan yang dipegang Lucia berdentang nyaring karena tangannya yang tiba-tiba gemetar hebat saat matanya menangkap siluet Alessandro.

“Lucia, tenang. Pegang yang kuat,” bisik Mila penuh peringatan dari balik pilar pintu dapur, memberi kode lewat matanya agar gadis itu tidak menjatuhkan nampan mahal tersebut.

Lucia menelan ludah dengan susah payah. Ia memaksakan kakinya melangkah semakin dekat ke arah meja Alessandro.

Saat meletakkan cangkir kopi itu di samping koran yang sedang dibaca sang Tuan, Lucia tidak bisa mengalihkan pandangannya.

Matanya terkunci rapat, menatap lurus ke arah bibir tipis Alessandro tanpa berkedip sedikit pun. Ia menatap bibir pria itu dari jarak yang cukup dekat, mengamatinya dengan sangat serius, seolah-olah sedang mendeteksi keberadaan makhluk melata berlendir di balik celah bibir sang bos mafia.

Alessandro yang merasa ditatap sedemikian rupa, perlahan menurunkan korannya. Ia membalas tatapan Lucia dengan dahi berkerut dalam.

Pria itu sudah terbiasa ditatap dengan penuh ketakutan atau kekaguman, tapi gadis ini, menatapnya dengan intens seolah ia adalah spesies langka yang aneh.

“Kenapa kau terus menatap bibirku?” tanya Alessandro.

Lucia tersentak kaget. Ia refleks memegang dada kirinya yang berdetak kencang tak karuan. Lalu, mundur satu langkah ke belakang, namun matanya masih belum bisa lepas dari bibir Alessandro.

“Paman, bibir Paman sebenarnya bagus sekali. Tampak bersih dan kemerahan,” cicit Lucia jujur.

Alessandro menaikkan sebelah alisnya, sedikit terkejut dengan pujian tiba-tiba itu. “Lalu?”

Lucia memiringkan kepalanya, tanpa sadar mencondongkan wajahnya ke arah Alessandro dengan raut super serius dan penuh selidik.

“Tapi di dalamnya tidak ada cacing tanah hidupnya, kan?”

Uhuk!

Alessandro yang baru saja mengangkat cangkir dan hendak menyesap kopi hitamnya, seketika tersedak air liurnya sendiri. Pria berdarah dingin yang paling ditakuti di seluruh daratan Italia itu terbatuk-batuk hebat hingga dadanya naik-turun.

Wajah tampannya yang selalu datar kini mendadak memerah karena syok yang teramat sangat.

“Apa yang baru saja kau katakan?!” geram Alessandro di sela batuknya seraya memegang tenggorokannya, lalu beralih menatap Lucia dengan mata membelalak tak percaya.

Di pojokan ruangan, Mila yang menyaksikan kejadian itu langsung membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan. Pelayan senior itu menahan tawa sampai pundaknya berguncang hebat dan air mata meleleh di sudut matanya.

Ya Tuhan, gadis itu benar-benar masih mengira ciuman adalah cacing?

Lucia malah panik melihat Alessandro terbatuk-batuk.

“Aaaa! Paman! Cacingnya mengamuk ya?! Cacingnya mau keluar dari mulut Paman, ya?!” jerit Lucia histeris.

Dengan kepolosan yang mematikan, Lucia refleks maju mendekat. Ia mengabaikan segala aturan tata krama dan menepuk-nepuk punggung tegap Alessandro dengan telapak tangan kecilnya.

“Jangan batuk lagi, Paman! Tolong ditelan saja, nanti cacingnya lompat ke wajahku!” cerocos Lucia panik.

Alessandro membeku di tempatnya. Gerakannya terhenti seketika. Usapan tangan Lucia di punggungnya terasa begitu hangat dan lembut.

Anehnya, alih-alih merasa gatal, merinding, atau sesak napas akibat trauma sentuhan fisik yang selama ini mengutuknya, napas Alessandro justru perlahan melonggar. Reaksi kontak fisiknya dengan Lucia selalu memberikan efek menenangkan yang sama sekali tak masuk akal bagi medis.

Alessandro memutar tubuhnya, merengkuh pergelangan tangan Lucia, menghentikan aksi tepuk-tepuk konyol gadis itu. Ia menarik tangan itu pelan, menatap lekat ke dalam sepasang mata jernih Lucia.

“Siapa yang mengajarimu omong kosong tentang cacing di dalam mulut, hmm?” bisik Alessandro dengan suara serak, sementara ibu jarinya justru mengusap punggung tangan Lucia dengan lembut.

Lucia mengedipkan matanya polos, jantungnya berdebar makin kencang.

“Nona Mila bilang, kalau pria dan wanita saling menyukai, mereka akan memasukkan daging licin ke mulut... tapi semalam dalam mimpiku, rasanya persis seperti cacing yang menari-nari. Aku takut Paman menyimpannya di dalam sana dan mau memindahkannya padaku!”

“Cacing?” gumam Alessandro, menahan napasnya seraya menepuk memijat pelipisnya pelan

Demi Tuhan, kepolosan gadis ini benar-benar bisa membunuh kewarasannya jauh lebih cepat daripada peluru musuh-musuhnya.

“Apakah rasanya sangat sakit kalau cacingnya menari-nari di mulutmu, Paman?” tanya Lucia lagi.

Alessandro menatap bibir tipis dan ranum Lucia yang sedari tadi terus mengeluarkan kata-kata absurd itu. Sudut bibirnya yang dingin perlahan terangkat tipis, membentuk senyuman miring yang begitu menawan dan mendominasi.

“Itu bukan cacing, Gadis Bodoh,” ucap Alessandro seraya menarik pinggang Lucia, memaksa gadis itu melangkah maju hingga tubuh mereka merapat.

Jarak wajah mereka kini hanya tersisa beberapa sentimeter saja.

“Kalau kau mau tahu bagaimana rasanya, kau harus merasakannya sendiri di alam nyata. Bukan cuma di dalam mimpimu.”

Lucia menelan ludah ludah dengan susah payah ketika aroma mint dan maskulin pria itu menyapu wajahnya.

“Hah? Di rasakan langsung? Memangnya... kita tidak usah minum sirup obat cacing dulu, Paman?”

Mila yang mengintip di pojokan pintu akhirnya tidak sanggup lagi menahan diri. Ia buru-buru berbalik badan dan berlari kecil keluar dari ruangan sambil memegangi perutnya yang kram karena menahan tawa.

Tinggallah mereka berdua. Dan hanya berdua.

“Tidak. Kalau diobati, cacingnya bisa mati,” ucap Alessandro tepat di depan bibir Lucia, mengikis jarak inci demi inci.

Ketika bibir Alessandro tinggal berjarak kurang dari satu milimeter, kedua mata Lucia tanpa sadar perlahan terpejam, menunggu cacing itu benar-benar menyerangnya di dunia nyata.

1
tinie
dia menyukaimu karna kamu baik
makanya sekolahkan dia
biarkan dia cerdas
dia pasti akan memilihmu ,, dalam keadaan apapun
Ita rahmawati
jgn geer kamu Alesandro,, semua yg baik SM dia pasti akan disukain 🤣
Senja: /Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
zhelfa_alfira
keren
Ita rahmawati
polosnya lucia lebih ke bodoh 😂
jd aku rasa perlu belajar deh dia biar pinter 🤭
tinie
yaya Alesandro datang
🇦 🇵 🇷 🇾👎
sngt keren aq sk
🇦 🇵 🇷 🇾👎
biar aq perjls... yaaaa yaaaa yaaaa yaaaa di sk kau🙂
🇦 🇵 🇷 🇾👎
😅😅😅😅😅😅😅😅ya allah mules
🇦 🇵 🇷 🇾👎
gk ada kapok" manusian durjana ni
Sri Rahayu
untung Alessandro datang dan bisa nenyelamatkan Lucia dari Jhoni dan anak buah Marco....lanjut Thorr😘😘😘
+82
ular aman 🌚
Endang Sulistiyowati
Makanya Alesandro, itulah perlunya Lucia untuk belajar. Lucia kan baik, ga bakal khianatin kamu. Biar Lucia jg tahu caranya bertahan hidup di kota, dan ga terjebak karna kepolosannya itu.
Muft Smoker
sumpah kak ,, kram perut aq tuh ,,
bnr2 saling melengkapi ni si Lucia dg Ale Ale rasa 🍌 ,, 🤭🤭🤭
kasihan Vincent yg trus nahan ketawa ,, takut kembung Dy tuh ,,
semoga Lucia selalu aman dsna jgn sampai ini cuma jebakan biar si ale2 keluar mansion sdang kn target sebenarnya Lucia ,,
Muft Smoker
undangan blum sampe k rumah aq loo kak senja ,, udh jd suami aj niih🤭🤭
Muft Smoker
hmmmm mencari kesempatan dlm kesempitan anda Ale😼😼😼😼😼😼
Ita rahmawati
ya gpp Lo dia belajar kan biar jd pinter 🤣
Ita rahmawati
aku jd kyk orang gila baca cerita ini 😂
Muft Smoker: udh paling sbar AQ tuh ,,
🤭🤭😭😭
total 4 replies
Anbu Hasna
kapan nikahnya? kok aku g diundang?
Bunda SalVa
wahhhh menang banyak dong kamu Ale 😄😄😄
Adinda
🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!