Seorang wanita cerdas dengan sejuta keahlian, yang tidak pernah takut dengan apapun, bahkan dengan kematian sekalipun. Bagaimana jadinya saat jiwa nya tiba-tiba terbangun di tubuh Aleta Volis, seorang wanita bangsawan dengan reputasi paling busuk di seluruh kekaisaran.
Marquez Liam Volis, seorang Jendral Perang sekaligus penguasa wilayah Volis yang terkenal dingin, kejam di medan pertempuran, dan memiliki prinsip hidup yang keras. Bagi Liam, hidup hanyalah soal tugas, pedang, dan darah, dia tidak punya waktu ataupun ruang di hatinya untuk urusan cinta.
"Kau berubah, apa yang sebenarnya sedang kamu rencanakan?" tanya Liam, dingin.
"Oh ayolah suami ku, apa pantas pernyataan itu kamu tunjukkan pada istri mu ini," jawab Aleta, tersenyum miring, merapikan kerah pakaian Liam.
Mampukah Liam mempertahankan prinsipnya, atau justru dia bertekuk lutut dan menyerahkan seluruh hidupnya pada wanita yang tadinya paling dia benci?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEHIDUPAN BARU
"Bulan lalu, Ibu membawa semua sisa uang kediaman ini dan hasil penjualan permata terakhir untuk membeli gaun mewah dari ibu kota. Ayah juga sedang tidak mengirim uang karena pasukannya tertahan di perbatasan," jawab Julian jujur.
Aleta menyipitkan matanya, otak genius nya langsung bekerja cepat.
Jadi, selain suami yang miskin dan sibuk perang, dia juga mewarisi tumpukan utang? Sungguh kombinasi yang sangat sempurna untuk diselesaikan oleh seorang mantan agen rahasia.
"Sialan memang si Aleta asli," gumam Aleta pelan, menggelengkan kepalanya.
Tok
Tok
Tok
Suara ketukan pintu yang terdengar ragu-ragu menghentikan percakapan mereka.
"Masuk!" seru Aleta tanpa mengubah posisinya.
Ceklekk
Pintu terbuka pelan, mira masuk dengan kepala menunduk, membawa sebuah nampan berisi beberapa potong roti gandum keras dan segelas air putih hangat.
"N-nyonya, cuma ini sisa bahan makanan yang ada di dapur, jatah untuk minggu ini benar-benar belum dikirim, karena Marquez belum membayar tagihan bulan lalu," ucap Mira terbata-bata, melirik takut-takut ke arah Aleta.
Aleta melirik nampan di atas meja, lalu menatap Mira dari ujung kepala sampai kaki.
"Cuma ini?" tanya Aleta, dingin.
"Demi Dewa, tidak ada lagi makanan lain di gudang!" jawab Mira panik, langsung berlutut.
"Bagus kalau begitu, keluar sana, jangan bikin aku risih melihat wajah kalian!" ucap Aleta mengibaskan tangannya pelan
"B-Baik, Nyonya! Terima kasih, Nyonya!"
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Mira bangkit dan langsung berlari keluar kamar.
Aleta beralih menatap nampan berisi roti gandum keras itu, lalu menoleh ke arah Julian yang menelan air liur melihat makanan itu.
Bocah itu tampak sangat kelaparan, tetapi tidak berani menyentuhnya sebelum diperintah.
"Makan, biar badanmu tidak sekecil lidi begit," ucap Aleta, menyerahkan sepotong roti pada Julian.
Julian menerima potongan roti itu dengan tangan gemetar, lalu menggigitnya pelan.
Meski rasanya hambar dan keras, binar kelaparan di mata anak itu tidak bisa disembunyikan.
Aleta berdiri dari tempat tidur, berjalan melangkah ke arah jendela kamar yang menghadap langsung ke halaman depan Marquis yang tampak tandus dan sepi, dia melipat kedua tangannya di dada, menatap lurus ke luar jendela dengan tatapan penuh perhitungan.
"Marquez miskin, wilayah tandus, pelayan kurang ajar, dan utang menumpuk..." gumam Aleta pelan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman penuh tantangan.
"Menarik, mari kita lihat seberapa jauh aku bisa bertahan dan membalikkan keadaan di tempat ini," gumam Aleta, menatap tajam ke arah dengan
Tiba-tiba, sebuah sensasi hangat menjalar di pergelangan tangan kanannya, membuat dia menghentikan lamunannya.
Aleta menunduk, melihat tato berbentuk rantai bunga matahari melingkar tipis di kulit pergelangan tangannya yang sama sekali tidak ada di tubuh aslinya tadi.
"Eh?" gumam Aleta pelan, memandangi tato itu dengan kening berkerut.
Sebuah ruangan luas yang penuh dengan tumpukan barang-barang dan bahan pangan dengan jumlah yang sangat besar.
"Menarik," batin Aleta tersenyum miring, menyadari dirinya memiliki harta Karun tersembunyi.
"Julian, habiskan rotimu, setelah itu ikut aku ke halaman belakang," ucap Aleta dengan senyum mengembang.
Julian menelan sisa roti di mulutnya, lalu mendongak menatap Aleta penuh kebingungan.
"Ke halaman belakang, Bu? Mau ngapain?" tanya Julian, matanya mengerjap-ngerjap polos.
"Udah, ikuti saja, jangan banyak tanya," jawab Aleta, tersenyum misterius.
Julian buru-buru menghabiskan sisa air putih di gelas, lalu bergegas turun dari ranjang dan mengikuti langkah Aleta yang berjalan keluar kamar.
Sesampainya di halaman belakang kediaman Marquez, yang terlihat hanyalah tanah tandus, kering, dan dipenuhi rumput liar yang mati kekeringan.
Julian menunduk lesu menatap tanah lapang yang gersang itu.
"Tanahnya jelek, Bu, tidak ada yang bisa tumbuh di sini, dulu ayah sudah pernah coba menanam gandum, tapi semuanya mati," keluh Julian dengan suara pelan.
Aleta melipat kedua tangannya di dada, mata tajam nya menatap tanah di hadapannya dengan jeli.
Dari ingatan tubuh aslinya, wilayah Kerajaan Salova memang terkenal kering dan tidak subur.
"Siapa bilang tanah ini tidak bisa ditanami?" ucap Aleta, tersenyum miring penuh percaya diri.
"Tapi kata ayah, tanah di wilayah kita dikutuk, Bu, makanya tidak subur," ucap Julian polos.
Aleta terkekeh pelan mendengar ucapan bocah itu.
"Kutuk dari mana, itu mah karena emang yang ngurusnya males," jawab Aleta santai.
Aleta lantas berjongkok, pura-pura merogoh kantong bajunya, padahal dia sedang mengambil bibit buah stroberi, jeruk dan apel kualitas tinggi dari dalam ruang dimensi miliknya.
Julian yang melihat biji-biji aneh di tangan Aleta langsung mendekat, matanya berbinar penasaran.
"Wah... biji apa itu, Bu?" tanya Julian sambil menunjuk biji di tangan Aleta.
"Ini namanya bibit buah istimewa," jawab Aleta sambil menunjukkan biji-biji tersebut pada Julian.
"Kalau kita tanam dan rawat dengan benar, hasilnya nanti manis, segar, dan harganya mahal," lanjut Aleta tersenyum kecil.
"Benarkah?" tanya Julian berbinar
"Tentu saja, buah-buahan ini nanti yang akan membuat keluarga kita keluar dari kemiskinan, dan membungkam mulut kotor orang-orang yang selama ini meremehkan kita," jawab Aleta penuh percaya diri.
"Aku mau bantu! Apa yang harus aku lakukan, Bu?" teriak Julian bersemangat.
Aleta tersenyum lebar melihat perubahan drastis pada anak tiri nya itu.
"Bagus! Sekarang ambil cangkul di pojok sana, kita mulai membalikkan tanah ini sekarang juga!" perintah Aleta, siap memulai langkah pertama menuju kekayaan.
Julian langsung berlari, mengambil cangkul berukuran kecil yang sudah hampir lapuk karena lama tidak dipakai.
"Ini cangkulnya, Bu!" seru Julian sambil menyerahkan cangkul itu dengan kedua tangan kecilnya.
Aleta menerima cangkul tersebut, lalu menimbang-nimbangnya sebentar di tangan.
"Bagus, sekarang kamu minggir sedikit, biar ibu yang rapikan tanah keras ini dulu," perintah Aleta, bersiap memasang kuda-kuda.
Julian menurut, mundur beberapa langkah sambil memperhatikan Aleta dengan mata berbinar-binar.
"Wah... kekuatan Ibu hebat banget!" teriak Julian takjub.
Aleta berhenti sejenak, mengibaskan tangannya yang sedikit berdebu lalu melirik Julian dengan sebelah alis terangkat.
"Udah, jangan bengong saja, ambil sekop kecil di dekat sumur sana," ucap Aleta sambil tersenyum miring.
"Siap, Bu!" jawab Julian penuh semangat, langsung berlari mencari sekop kecil.
Tidak butuh waktu lama bagi Aleta untuk menggemburkan sepetak tanah di halaman belakang itu.
Berkat bantuan ruang dimensi miliknya yang mengeluarkan pupuk kompos khusus secara diam-diam, kualitas tanah yang tadinya gersang kini berubah menjadi subur dan gembur dalam sekejap mata.
Julian kembali membawa sekop kecil, lalu berjongkok di samping Aleta yang sedang meratakan tanah.
"Ayo Jendral kecil, sekarang tugasmu menanam bibit ini ke lubang-lubang kecil yang sudah ibu buat, jangan sampai terbalik arahnya, ya," ucap Aleta, semangat.
Julian menerima bibit-bibit kecil itu dengan sangat hati-hati seolah sedang memegang permata berharga.
"Baik, Bu, aku akan menanamnya dengan benar supaya cepat tumbuh!" janji Julian antusias.