Raka nekad syuting di Kampung Pitu meski dilarang Laras dan karena ia merasa ada kekuatan gaib yang memilih tempat itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah Kaki di Halaman
Suara itu belum hilang. Masih terngiang di telinga setiap orang yang ada di ruangan itu lembut, namun penuh kesedihan yang begitu mendalam, seakan datang dari tempat yang jauh sekaligus sangat dekat. Budi masih berlutut di lantai, tubuhnya gemetar hebat, wajahnya pucat pasi seakan baru saja melihat sesuatu yang tidak seharusnya dilihat. Kata-katanya tadi bahwa suara itu mirip dengan Bu Isma, ibu dari keluarga Candra Wijaya kini bergema di benak semua orang, menimbulkan rasa takut yang perlahan merayap masuk ke dalam tulang. Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin suara seseorang yang sudah lenyap bertahun-tahun itu bisa terdengar lagi, begitu jelas, begitu hidup, di tengah malam di Kampung Pitu?
Raka segera berjalan mendekati Budi, menolongnya berdiri. Tangannya menggenggam bahu pemuda itu erat-erat, berusaha menyalurkan kekuatan. "Kendalikan dirimu," bisiknya pelan namun tegas. "Kita tidak boleh takut, karena rasa takut itu yang akan mengundang hal-hal yang tidak kita inginkan. Kau mendengar itu, aku juga mendengar itu, kita semua mendengarnya. Tapi itu bukan berarti kita harus menyerah pada ketakutan. Tarik napas dalam-dalam. Kita bersama-sama. Kita tidak sendirian."
Namun kata-kata itu, meskipun menenangkan, tidak mampu menghapus kenyataan yang sedang mereka hadapi. Laras berdiri di dekat jendela, wajahnya tertutup bayangan, matanya menatap lurus ke arah kegelapan di luar. Ia tidak bergerak, tidak berkedip, seakan sedang berkomunikasi dengan sesuatu yang tidak kasat mata.
"Suara itu berhenti," ucapnya tiba-tiba, suaranya pelan namun terdengar jelas di ruangan yang hening itu. "Tapi ia tidak pergi. Ia berhenti memanggil... dan mulai berjalan ke bawah. Ke arah sini."
Seketika, napas semua orang tertahan. Tidak ada yang berani bergerak, tidak ada yang berani bernapas terlalu keras. Raka berjalan perlahan ke arah jendela, tidak berani membukanya lebar-lebar, hanya mengintip dari celah tirai tipis. Di luar sana, bulan sedang bersinar remang, menerangi halaman rumah Bu Wiyati yang luas. Pohon-pohon di pinggir halaman berdiri tegak, bayangannya jatuh memanjang di tanah. Namun tidak ada siapa-siapa. Tidak ada sosok perempuan, tidak ada bayangan yang bergerak. Hanya kegelapan dan keheningan yang pekat.
"Tidak ada siapa-siapa," gumam Raka, namun hatinya berdebar kencang. "Laras, tidak ada orang di luar sana."
"Tubuhnya tidak ada di sana," jawab Laras tanpa mengalihkan pandangannya. "Tapi langkah kakinya ada. Dengarkan. Dengarkan baik-baik."
Semua orang terdiam. Mereka memejamkan mata, memusatkan pendengaran ke arah luar ruangan. Dan perlahan, sangat perlahan, terdengar suara itu suara langkah kaki yang pelan, teratur, lembut, namun begitu jelas terdengar di atas tanah kering dan kerikil halus di halaman rumah Bu Wiyati. Tap... tap... tap... setiap langkah terdengar berat, seakan pemiliknya membawa beban yang sangat berat di hatinya, beban yang sudah dipikulnya selama bertahun-tahun tanpa ada yang bisa dibaginya.
Langkah kaki itu berhenti tepat di depan pintu utama rumah Bu Wiyati.
Semua orang di dalam ruangan itu menahan napas. Jantung mereka berdegup serentak, begitu keras hingga seakan bisa terdengar di luar sana. Tidak ada yang berani bergerak, tidak ada yang berani mengucapkan sepatah kata pun. Mereka tahu sesuatu sedang berdiri di sana, tepat di balik pintu kayu itu, menunggu. Menunggu untuk dipersilakan masuk, atau menunggu sampai ketakutan mereka cukup besar untuk membukanya sendiri.
Dimas berdiri di dekat pintu, tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya. Ia tumbuh besar di kampung ini, ia mendengar cerita-cerita tentang hal-hal seperti ini, namun mendengar cerita dan merasakannya secara langsung adalah dua hal yang sangat berbeda. Ia tahu bahwa di kampung ini, batas antara dunia yang terlihat dan yang tidak terlihat itu sangat tipis. Dan kadang-kadang, mereka yang pergi secara tiba-tiba dan tidak tenang, tidak langsung pergi. Mereka tetap berada di tempat yang pernah mereka tinggali, berkelana, mencari sesuatu yang tertinggal, mencari jawaban yang tidak pernah mereka dapatkan saat masih hidup.
"Jangan buka pintunya," bisik Dimas, suaranya bergetar namun tegas. "Siapa pun yang ada di luar sana, jangan dibukakan pintu. Kalau ia memang orang yang hidup, ia akan mengetuk. Kalau ia tidak mengetuk... berarti ia tidak perlu masuk untuk bisa berada di sini."
Seakan menjawab kata-kata itu, terdengar suara ketukan di pintu pelan, lembut, tiga kali, berirama. Tok... tok... tok...
Ketukan itu begitu lembut, namun terasa seperti guntur yang menggelegar di tengah keheningan malam itu. Budi yang tadi sempat tenang, kembali gemetar. Beberapa orang kru wanita mulai menahan isak tangis, air mata mulai menetes di pipi mereka karena ketakutan yang tidak bisa lagi ditahan.
Raka menatap Dimas, lalu ke arah pintu. "Kalau ia mengetuk... berarti ia meminta izin," katanya pelan. "Menurut adat, kita tidak boleh menolak tamu yang mengetuk. Tapi kita juga harus berhati-hati."
"Jangan dibuka," ulang Dimas, kali ini lebih tegas. "Bukan berarti ia jahat. Tapi karena kita tidak tahu apa yang ia bawa. Kesedihan yang terlalu dalam, kemarahan yang terpendam, rasa ingin tahu yang tak terpuaskan — itu semua bisa menumpuk menjadi sesuatu yang berat, dan kita tidak tahu apakah kita siap menerimanya."
Ketukan itu terdengar lagi, kali ini lebih pelan, seakan pemiliknya mulai lelah. Dan diikuti suara suara yang sama seperti tadi, lembut dan penuh kesedihan namun kali ini terdengar lebih jelas, lebih dekat, seakan mulutnya menempel tepat di balik pintu kayu itu.
"Permisi..." suaranya bergetar, penuh kerinduan yang tak terlukiskan. "Saya mencari anak saya... Ardita... apakah dia ada di dalam? Saya hanya ingin melihatnya sebentar... hanya sebentar..."
Hati semua orang yang ada di ruangan itu hancur mendengar suara itu. Bukan karena takut semata, tapi karena ada kelembutan dan kepedihan yang begitu tulus di dalamnya. Suara seorang ibu yang kehilangan anaknya, dan tidak tahu di mana harus mencarinya. Namun di balik kelembutan itu, ada sesuatu yang lain rasa putus asa yang begitu dalam, yang bisa mengubah kasih sayang menjadi sesuatu yang lain, sesuatu yang tidak lagi bisa dikendalikan.
Laras perlahan berjalan mendekati pintu, tanpa disadari oleh orang lain. Tangannya terangkat perlahan, hendak menyentuh gagang pintu yang dingin itu. Matanya kosong, tatapannya jauh, seakan ada sesuatu yang menariknya ke luar, memanggilnya dengan kekuatan yang tidak bisa ia tolak.
"Laras!" seru Raka segera menangkap tangannya sebelum sempat menyentuh gagang pintu. "Apa yang kau lakukan? Jangan!"
Laras tersentak, seakan baru terbangun dari mimpi panjang. Ia menatap Raka dengan tatapan bingung, lalu melihat tangannya yang hampir menyentuh pintu itu. Wajahnya pucat kembali. "Aku... aku tidak tahu... ia memanggilku... ia bilang aku mirip dengan putrinya... Ardita... ia bilang aku mirip sekali..."
Raka menarik Laras menjauh dari pintu, memeluk bahunya erat-erat. "Itu bukan panggilan untukmu, Laras. Itu bukan milikmu. Kita harus kuat. Kita tidak boleh terpengaruh."
Di luar, keheningan kembali menyelimuti. Tidak ada ketukan lagi, tidak ada suara panggilan. Namun mereka semua tahu ia belum pergi. Ia masih berdiri di sana, menunggu. Dan mungkin, ia tidak akan pergi sebelum mendapatkan apa yang ia cari.
Malam semakin larut, namun tidak ada satu pun dari mereka yang berani tidur. Mereka berkumpul di satu ruangan, lampu tetap menyala terang, dan saling berpegangan tangan sebagai tanda bahwa mereka masih bersama, bahwa mereka masih hidup, dan bahwa mereka tidak sendirian. Dan di luar sana, di halaman rumah Bu Wiyati, sesosok bayangan berdiri diam di bawah remang bulan, menatap pintu yang tertutup rapat itu. Menunggu. Menunggu sampai pagi datang, atau sampai seseorang lupa pada janjinya sendiri.