Sejak kecil, Sekar hanya "anak nomor dua" di rumahnya sendiri.
Semua yang terbaik selalu untuk sang kakak, Laras—si sulung yang sempurna, cerdas, dan dibanggakan. Sekar? Cukup pakai baju bekas kakaknya, tidur di kamar bekas gudang, dan tersenyum saat dilupakan.
Maka ketika Laras membawa pulang tunangannya saat Lebaran—**Damar Wirajaya**, pewaris konglomerat yang dingin, tampan, dan kaya raya—Sekar pikir pria itu tak ada urusannya dengannya.
Ia salah besar.
Karena tatapan datar Damar selalu berhenti terlalu lama… di wajahnya. Karena hadiah, perhatian, dan "kebetulan-kebetulan" itu semua mengarah padanya. Dan pada satu malam yang tak bisa ia ceritakan pada siapa pun, Sekar menyadari kebenaran yang mengerikan:
**Bukan kakaknya yang diinginkan pria itu. Tapi dirinya.**
Damar tak akan melepaskannya. Dengan utang miliaran rupiah, perjanjian pranikah yang mengikat, dan kuasa yang bisa menghancurkan seluruh keluarganya, ia menyeret Sekar ke dalam pernikahan yang tak pernah Sekar inginkan—sementara satu-satunya cinta yang tulus, sahabat kecilnya **Rangga**, hanya bisa menatap dari kejauhi.
Tapi Sekar bukan lagi gadis yang menunduk dan menerima.
Di balik senyum patuhnya, ia menghitung. Ia menunggu. Dan ketika rahasia kelahirannya sendiri terbongkar—bahwa darah yang mengalir di tubuhnya jauh lebih rumit dari yang siapa pun tahu—Sekar berhenti menjadi mangsa.
Kali ini, dialah yang memegang pisau.
*Berapa harga sebuah kebebasan? Sekar siap membayarnya—sampai tetes terakhir.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Bab 18: Retak yang Semakin Lebar
Dua hari kemudian, kalimat Damar masih terngiang setiap kali aku membuka lemari.
Gelang batu giok itu terbungkus saputangan di belakang tumpukan pakaian. Aku belum menyentuhnya lagi, tetapi keberadaannya mengubah kamar sempitku. Dinding tipis terasa lebih mudah ditembus. Lemari yang tidak berkunci terasa seperti undangan.
Aku mengukur bagian bawah meja dan mencari laci kecil yang bisa dikunci lewat toko daring.
"Mau menyimpan emas apa?" suara Ibu muncul dari pintu.
Aku cepat menutup layar. "Dokumen."
Sejak malam arisan, Ibu bicara kepadaku hanya jika ada pekerjaan. Tidak ada permintaan maaf atas tamparan. Menurut versinya, aku kabur dan membuat Ayah kehujanan mencariku, jadi kami sama-sama bersalah.
"Kalau sudah sehat, cuci seprai kamar Mbakmu," katanya. "Minggu depan kita mulai siapkan barang ke Surabaya."
"Aku ada tes kerja."
"Jam berapa?"
"Siang."
"Berarti pagi bisa."
Ia pergi sebelum aku menjawab.
Aku membuka spreadsheet pengeluaran. Jika perusahaan logistik menerimaku, gaji bulan pertama hampir seluruhnya habis untuk uang muka kos, transportasi, dan makan. Tabunganku hanya cukup untuk separuh. Aku bisa meminjam Tania atau menerima bantuan Mbak Laras, tetapi kedua pilihan itu tetap membuat hidup baruku dimulai dengan utang.
Rangga menelepon saat aku sedang membandingkan tiga kamar kos. Ia mengirim tautan tempat yang dikelola kenalan Bu Lina, hanya dua puluh menit dari kantor logistik.
"Ada gerbang, penjaga malam, dan penghuni perempuannya banyak," katanya. "Kamu bisa lihat akhir pekan."
"Aku belum diterima kerja."
"Melihat kamar nggak perlu surat pengangkatan."
"Uang mukanya dua bulan."
"Bisa dicicil. Ibu sudah tanya."
Aku menutup mata. "Kalian bergerak terlalu cepat."
"Karena kalau menunggu kamu minta tolong, mungkin kosnya sudah berubah jadi apartemen lima lantai."
Nada bercandanya tak menutupi kekhawatiran. Ia juga menawarkan obeng dan gembok kecil setelah kubilang ingin memasang laci. Tidak bertanya apa yang akan kusimpan.
"Besok kuantar," katanya.
"Taruh di warung. Aku ambil sendiri."
Ia diam sebentar. "Kamu menghindari aku?"
"Aku menghindari pertanyaanmu."
"Baik. Obengnya kutaruh di bawah meja kasir. Tapi satu pertanyaan saja: kamu aman di rumah?"
Aku melihat pintu kamar yang tidak bisa dikunci dari luar, lalu lemari tempat gelang Damar tersembunyi.
"Untuk sekarang."
"Kalau jawaban itu berubah, telepon. Jam berapa pun."
Setelah sambungan berakhir, kusimpan alamat kos di peta. Rencana pergi kini punya harga, lokasi, dan gerbang sungguhan. Tinggal menunggu pekerjaan yang bisa membayarnya.
Sebuah surel dari Bu Maya masuk beberapa menit kemudian. Aku lolos ke tahap pemeriksaan referensi, keputusan akhir akan dikirim minggu depan. Kubaca kalimat itu tiga kali, lalu memperbarui spreadsheet. Angka-angka masih sempit, tetapi untuk pertama kalinya tidak mustahil.
Kutandai tanggal perkiraan mulai kerja dengan lingkaran biru kecil di kalender, agar aku berani berharap sedikit lagi.
"Menghitung biaya kabur?"
Ayah berdiri di pintu dengan dua cangkir teh hitam. Sejak melihatku menolak teh bunga di rumah Mbak Laras, ia tidak pernah lagi membuatkan minuman yang sama.
"Bukan kabur. Pindah secara terhormat."
"Bedanya apa?"
"Bawa koper."
Ia tertawa pelan lalu duduk di ujung kasur. Pipiku sudah tidak merah, tetapi tatapannya masih turun ke bekas yang tak ada.
"Ibumu salah malam itu," katanya. "Ayah sudah bicara."
"Lalu?"
"Dia belum mau mengaku."
"Berarti nggak ada yang berubah."
Ayah menunduk pada cangkir. "Ayah seharusnya lebih tegas dari dulu."
Aku tak ingin menghiburnya. Bukan hari itu. Namun ketika ia mengeluarkan amplop lebih tebal dari saku, dadaku tetap terasa nyeri.
"Untuk kos," katanya. "Kalau kamu benar-benar sudah nggak tahan."
"Ayah dapat uang dari mana?"
"Tabungan kecil. Bukan uang rumah."
"Simpan untuk obat Ayah."
"Ayah lebih sakit lihat kamu pulang tanpa sandal."
Aku menerima amplop itu dengan kedua tangan. Bukan karena ingin mengambil uangnya, melainkan karena menolak akan menyakiti satu-satunya cara Ayah tahu melindungiku.
"Yah, tentang Mas Damar..."
Ayah langsung menatapku.
"Dia bagaimana?"
Aku membuka catatan di ponsel. Daftar peristiwa memenuhi layar. Untuk pertama kalinya, aku siap menunjukkan setidaknya tiga baris.
"Dia sering muncul di tempat aku berada. Waktu itu di mobil, dia sempat mengunci pintu. Terus kemarin dia kasih sesuatu tanpa sepengetahuan Mbak Laras."
Wajah Ayah mengeras. "Sesuatu apa?"
Suara langkah mendekat.
"Pak, kamu di sini?" Ibu membuka pintu tanpa mengetuk. Matanya turun ke amplop di tanganku. "Kasih uang lagi?"
Ayah cepat berdiri. "Ini uangku."
"Uangmu, uang rumah juga. Pantas Sekar berani mau pindah. Kamu terus mendukung dia melawan istrinya."
"Aku nggak melawan Ibu," kataku. "Aku cuma mau hidup sendiri."
"Belum punya pekerjaan sudah bicara hidup sendiri."
Kesempatan itu tertutup lagi. Aku mengunci layar ponsel sementara Ayah mengikuti Ibu keluar agar pertengkaran tidak terjadi di kamarku.
Sore harinya, laci pesanan tiba. Kupasang sendiri di bawah meja dengan obeng pinjaman Rangga. Gelang giok, salinan foto, dan bungkusan sisa teh kumasukkan ke dalam. Kunci kecilnya kupasang pada rantai di leher, tersembunyi di balik baju.
Amplop Ayah kusimpan di bagian lain. Uangnya tidak akan kupakai kecuali terpaksa.
Setelah laci terkunci, aku mencoba menariknya tiga kali.
Tidak terbuka.
Namun ketika lampu dipadamkan, aku masih membayangkan tangan Damar menyentuh pengait gelang dengan keyakinan bahwa tidak ada pintu, penolakan, atau kunci yang mampu benar-benar menghalanginya.