Indonesia
NovelToon NovelToon
Menjerat Hati Sang Ceo Dingin

Menjerat Hati Sang Ceo Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Romansa
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Scrpn

Alexander "Alex" Ar-Rasyid (30 Tahun)

Seorang CEO muda yang dingin, perfeksionis, dan workaholic. Ia memegang kendali penuh atas Ar-Rasyid Group, sebuah konglomerat raksasa di bidang properti dan investasi. Baginya, pernikahan adalah bentuk kerja sama bisnis yang tidak penting, hingga sebuah perjodohan keluarga memaksa hidupnya jungkir balik.

Keisha Azalea Pramesti (25 Tahun)

Seorang fashion designer berbakat, mandiri, dan memiliki idealisme tinggi. Ia pemilik butik haute couture Azalea Label. Di balik senyum lembutnya, Keisha adalah wanita tangguh yang menolak dipandang sebelah mata dan sangat mencintai dunianya—sketsa, kain, dan jarum jahit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14

Mobil sedan hitam eropa berlogo perak itu melambat, lalu berhenti total tepat di hadapan gerbang besi tempa raksasa setinggi lima meter yang dilapisi ukiran lambang keluarga klasik. Di sisi kiri dan kanan gerbang, dinding batu alam menjulang tinggi dikelilingi oleh barisan pohon pinus tua yang lebat, menciptakan kesan bahwa tempat di balik gerbang tersebut bukan sekadar rumah peristirahatan biasa, benteng pertahanan kaum aristokrat modern yang terisolasi dari keriuhan dunia luar.

Kediaman utama keluarga besar Ar-Rasyid di kawasan Puncak, Bogor, terkenal sebagai saksi bisu dari berbagai keputusan bisnis bernilai triliunan rupiah serta intrik keluarga yang mematikan. Dan malam ini, gerbang itu perlahan terbuka lebar menyambut kedatangan sang pewaris utama dan istri barunya.

Keisha Azalea Pramesti duduk di kursi penumpang depan, menatap megahnya bangunan bergaya neo-classical Eropa yang mulai terlihat di ujung jalan setapak berbalut batu andesit. Napasnya ditarik dalam-dalam, berusaha menetralkan debar jantungnya yang mendadak berpacu lebih cepat. Di sampingnya, Alexander Ar-Rasyid mengemudikan mobil dengan satu tangan, sementara tangan kirinya yang bebas sesekali melirik sekilas ke arah sang istri.

"Kau terlihat tegang, Nyonya Ar-Rasyid," suara bariton Alex memecah keheningan kabin mobil. Nada bicaranya terdengar tenang, namun menyiratkan perhatian terselubung.

Keisha menoleh, menepis rasa gugupnya dengan mengangkat dagunya tinggi-tinggi. "Aku tidak tegang. Aku hanya sedang mempersiapkan mental untuk menghadapi pertunjukan sirkus yang akan dimainkan oleh para kerabat ambisiusmu di dalam sana."

Alex terkekeh kecil—sebuah suara rendah yang merdu. Ia memarkirkan mobilnya di pelataran luas tepat di depan pintu utama rumah besar tersebut, di sebelah deretan mobil mewah milik para paman, bibi, dan sepupunya yang sudah lebih dulu tiba.

"Ingat aturan utama kita malam ini," bisik Alex sebelum mereka membuka pintu mobil. "Di hadapan Kakek dan seluruh keluarga besar, kita adalah pasangan pengantin baru yang saling tergila-gila satu sama lain. Jangan beri celah sedikit pun bagi mereka untuk meragukan keabsahan pernikahan kita."

Keisha menatap manik mata hitam pria itu lekat-lekat, lalu mengangguk mantap. "Serahkan padaku. Aku tahu cara bersandiwara dengan baik, Tuan CEO."

Begitu pintu mobil dibuka oleh pengawal pribadi yang bersiaga, udara pegunungan yang dingin dan sejuk langsung menerpa kulit mereka. Alex keluar lebih dulu, melangkah anggun memutari mobil, lalu membukakan pintu untuk Keisha. Ketika wanita itu keluar, Alex tidak menunggu lama untuk menyelamatkan pinggang ramping Keisha dalam rangkulan tangannya, menarik tubuh wanita itu merapat ke sisi tubuhnya secara natural dan penuh kepemilikan.

Keisha sempat terkesiap kecil atas sentuhan tiba-tiba itu, namun ia langsung menyesuaikan diri. Ia melingkarkan tangan kanannya di pinggang Alex, menyunggingkan senyuman paling manis dan hangat di wajahnya, seolah mereka adalah pasangan yang tengah menikmati malam romantis.

Mereka melangkah menaiki tangga marmer putih menuju pintu utama yang dijaga oleh dua pelayan berseragam rapi. Begitu pintu ganda berukuran besar itu didorong terbuka, suara riuh rendah obrolan dari dalam ruang tamu utama langsung menyambut indra pendengaran mereka.

Ruang tamu itu didekorasi secara megah dengan pilar-pilar marmer tinggi, lampu gantung kristal antik, dan perapian menyala yang menghangatkan ruangan. Puluhan anggota keluarga besar Ar-Rasyid tampak berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil, menikmati minuman anggur sambil berbincang. Namun, seketika langkah kaki Alexander dan Keisha menginjakkan kaki di atas lantai ruang tamu tersebut, seluruh obrolan mendadak terhenti total.

Puluhan pasang mata dari berbagai usia serentak menoleh ke arah pintu masuk. Ada tatapan kagum, tatapan menilai, namun yang paling mendominasi adalah sorot mata penuh kecurigaan dan rasa tidak suka dari para sepupu serta bibi-bibi Alex yang selama ini mengincar posisi puncak korporasi.

Di ujung ruangan, duduk seorang pria paruh baya berambut perak dengan postur tubuh yang masih sangat tegap dan berwibawa—Raden Ar-Rasyid, sang patriark sekaligus kakek Alexander. Beliau menatap cucu dan istri cucunya itu dengan tatapan tajam setajam elang dari balik kacamata berbingkai emasnya.

"Akhirnya pengantin baru kita tiba," suara menggelegar sang Kakek memecah kesunyian ruangan dengan penuh wibawa, memecah ketegangan yang sempat membeku.

Alex tidak membuang waktu. Ia membawa Keisha berjalan mendekati kursi sang Kakek dengan langkah tegap dan penuh percaya diri, mempertahankan rangkulan erat di pinggang istrinya.

"Selamat malam, Kakek," ucap Alex dengan nada hormat namun tetap tegas. "Maaf kami terlambat, lalu lintas di tol tadi cukup padat."

Keisha membungkuk anggun, memberikan senyuman santun kepada pria tua yang memegang kendali penuh atas takhta keluarga tersebut. "Selamat malam, Kakek. Senang bisa hadir di acara keluarga ini."

Kakek Raden mengamati mereka berdua dari atas sampai bawah secara saksama, seolah sedang menimbang keaslian dari interaksi di antara cucu kesayangannya dan wanita pilihan sang cucu. Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang mendebarkan, sebelum akhirnya sebuah senyuman tipis terukir di bibir sang Kakek.

"Baguslah kalau kalian datang," ujar Kakek Raden dengan suara berat. "Semua orang di sini sudah tidak sabar ingin berkenalan dengan desainer muda yang berhasil meruntuhkan tembok es cucuku yang paling keras kepala ini."

Ucapan itu langsung memancing bisik-bisik tertahan di antara kerumunan kerabat. Seorang wanita paruh baya berkalung berlian mencolok—bibi Alex yang bernama Nirmala—maju selangkah dengan senyuman masam yang dipaksakan.

"Ah, benar sekali," ucap Nirmala dengan nada suara yang sengaja dibuat manis namun sarat akan racun terselubung. "Kami semua tadinya sempat meragukan berita pernikahan mendadak ini, mengingat Alexander tidak pernah tertarik pada wanita mana pun sebelumnya. Senang akhirnya bisa melihat langsung... wanita yang berhasil 'menjerat' hati CEO kita."

Penekanan pada kata menjerat diucapkan dengan intonasi menyindir yang sangat kentara, mengarah langsung pada rumor miring atau status sosial Keisha yang dianggap tidak selevel dengan keluarga besar Ar-Rasyid.

Keisha merasakan darahnya mendidih, namun ia mempertahankan senyuman manisnya dengan sempurna. Sebelum ia sempat melontarkan balasan telak, Alex sudah bergerak lebih dulu.

Tangan Alex yang merangkul pinggang Keisha bergerak semakin erat, menarik wanita itu sedikit lebih dekat ke sisinya, sementara tatapan matanya berubah menjadi dingin menusuk saat menatap sang bibi.

"Bibi Nirmala sepertinya terlalu sibuk mengurusi urusan rumah tangga orang lain hingga lupa pada posisinya sendiri," balas Alex dengan suara rendah namun dingin mutlak yang langsung membuat sang bibi meneguk ludahnya kaku. "Keisha bukan hanya istri sah saya di mata hukum dan keluarga, tapi ia adalah ratu di dalam rumah tangga saya. Jaga ucapan Anda."

Suasana di ruangan itu mendadak kembali membeku. Tidak ada seorang pun yang berani membantah ketika Alexander sudah mengeluarkan nada bicara mutlak seperti itu.

Kakek Raden terkekeh pelan di kursinya, seolah terhibur melihat bagaimana cucunya secara terbuka membela sang istri di hadapan seluruh keluarga besar. "Cukup, Nirmala. Jangan mulai membuat keributan di malam perayaan keluargaku."

Sang bibi langsung menunduk patuh, menelan rasa malunya mentah-mentah sambil melemparkan tatapan penuh kebencian secara sembunyi-sembunyi ke arah Keisha.

Keisha melirik Alex dari sudut matanya, merasakan gelombang kehangatan yang tidak biasa menyusup ke dalam dadanya. Pria itu berdiri di sisinya, menjadi perisai kokoh yang melindungi harga dirinya dari serangan verbal para kerabat yang toksik.

"Mari, aku kenalkan pada beberapa orang penting lainnya, meskipun aku yakin kau tidak akan menyukai sebagian besar dari mereka," bisik Alex lembut tepat di dekat telinga Keisha, suaranya berubah menjadi jauh lebih hangat ketika berbicara hanya kepada istrinya.

Keisha mengangguk kecil, membalas bisikan itu dengan senyuman tulus. "Selama kau ada di sisiku untuk menangkis serangan mereka, aku tidak takut pada siapa pun, Tuan CEO."

Dan di tengah malam pertama mereka di kediaman utama keluarga Ar-Rasyid itu, perang urat saraf yang sesungguhnya di hadapan para kerabat resmi dimulai—membuktikan bahwa ikatan di antara mereka kini bukan lagi sekadar sandiwara kontrak di atas kertas, melainkan sebuah persekutuan hati yang mulai diuji oleh badai keluarga yang sebenarnya.

1
Exo L
kakk tulisannya, fashion gak sih?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!