Seluruh keluarga menganggap Ashlyn adalah anak pembawa sial. Sejak kecil ia dihina dan dipukuli hanya karena tak memiliki kecerdasan seperti anak kecil pada umumnya. Demi menyingkirkan Ashlyn untuk selamanya, sang ibu tiri membuang Ashlyn di perbatasan dan berbohong bahwa suami Ashlyn adalah Jenderal Ethan Harold, seorang jenderal perang yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh.
Mereka yakin Ashlyn akan dibunuh saat berani mengaku sebagai istri sang jenderal.
"Suami mu adalah Jenderal Ethan Harold."
"Suami Ashlyn?" tanya Ashlyn dengan polosnya.
"Iya, kalau kamu tersesat, cari saja dia. Katakan bahwa kamu adalah istrinya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IISJ Bab 22 - Menemani
Nadine masih berdiri terpaku di tempatnya. Kalimat Ashlyn terus berputar di dalam kepalanya, seolah-olah tidak ada satu pun kata yang mampu benar-benar ia cerna.
Istri Jenderal Ethan Harold.
Benarkah?
Nadine kembali menatap gadis di hadapannya tersebut. Ashlyn masih tersenyum tanpa beban, bahkan sorot matanya begitu jernih dan polos seolah tidak memahami betapa besar arti dari pengakuan yang baru saja keluar dari mulutnya.
Semakin lama Nadine memperhatikan, semakin banyak kejanggalan yang ia rasakan.
Gadis itu memang cantik, sangat cantik, bahkan kecantikannya membuat Nadine sendiri merasa sedikit tertekan. Namun ada sesuatu yang tidak sesuai.
Cara Ashlyn berbicara.
Cara ia tersenyum.
Cara Ashlyn memiringkan kepala ketika bingung.
Bahkan cara gadis itu berdiri sambil menggenggam beberapa bunga kecil di tangannya membuatnya terlihat seperti seorang remaja yang baru pertama kali mengenal dunia, bukan seorang wanita dewasa yang telah menjadi istri seorang jenderal.
Nadine mengerutkan kening.
Tidak mungkin.
Ethan adalah Jenderal Ethan Harold. Seorang pria yang dikenal memiliki kemampuan luar biasa, disegani di lingkungan militer, memiliki kedudukan tinggi, dan menjadi salah satu sosok yang paling diperhitungkan di Kota Servo.
Wanita yang berdiri di samping Ethan seharusnya seseorang yang mampu berjalan sejajar dengannya. Seseorang wanita yang cerdas, dan memiliki pembawaan yang tenang, dewasa.
Mampu memahami pekerjaannya, mendukung kariernya, dan menjadi pasangan yang dapat membantu Ethan menghadapi berbagai tekanan yang datang dari keluarga maupun dunia militer.
Bukan seorang wanita yang bahkan berbicara seperti anak kecil.
Nadine menatap Ashlyn sekali lagi. Bagaimana mungkin Ethan menikahi wanita seperti ini?
Apalagi selama bertahun-tahun mengenal Ethan, Nadine tahu betul bahwa pria itu sangat selektif terhadap orang-orang yang berada di dekatnya.
Ethan bahkan tidak mudah mempercayai orang lain. Lalu mengapa ia bisa menikahi seorang wanita yang terlihat begitu polos dan... tidak memahami banyak hal?
Nadine mencoba menenangkan pikirannya. Mungkin ada kesalahpahaman yang belum ia mengerti. Mungkin gadis ini hanya seseorang yang memiliki gangguan tertentu sehingga cara berpikirnya berbeda.
Pikiran Nadine benar-benar kacau sekarang dan satu-satunya yang bisa menjelaskan semua ini adalah Ethan.
"Kenapa Kakak melihat Ashlyn seperti itu?" tanya Ashlyn.
Suara polos Ashlyn membuat Nadine tersentak kembali ke kesadarannya. Nadine menatap gadis itu tanpa kata, tapi melihat samain lekat.
Ashlyn tersenyum. "Kakak cantik."
Nadine terdiam.
"Ashlyn suka Kakak," kata Ashlyn lagi, baginya wanita di hadapannya tersebut terlihat seperti boneka Barbie, bibirnya merah sakali.
Dan kalimat itu seharusnya bisa membuat Nadine tersenyum. Namun entah mengapa justru membuat dadanya terasa semakin tidak nyaman. Gadis ini benar-benar tidak memiliki kewaspadaan sedikit pun.
Bahkan setelah bertemu wanita asing yang datang ke rumah suaminya, Ashlyn masih bisa tersenyum dan mengatakan bahwa ia menyukainya.
Nadine belum sempat menjawab ketika dari arah pintu utama terdengar langkah kaki seseorang yang tergesa-gesa.
Seorang pelayan muda datang menghampiri kepala pelayan. Begitu melihat Nadine berdiri di sana, langkahnya sempat terhenti karena terkejut.
"Bibi."
Kepala pelayan segera menoleh. "Ada apa?"
Pelayan itu mendekat dan berbisik dengan suara cukup pelan, meskipun Nadine masih bisa melihat kegugupan di wajahnya.
"Nona Ashlyn diminta masuk dan bersiap-siap. Sebentar lagi guru akan datang."
Kepala pelayan mengangguk. "Baik."
Ashlyn yang mendengar kata guru langsung menoleh. "Guru?"
"Iya, Nona," jawab kepala pelayan.
Mata Ashlyn seketika berbinar. Ia teringat perkataan Ethan semalam. Hari ini dirinya akan mulai belajar, semakin cepat pintar maka akan semakin cepat mereka mandi bersama.
Ashlyn kemudian menatap Nadine. "Kakak cantik, Ashlyn mau belajar dulu."
Nadine hanya diam, tak memberikan reaksi apapun.
Tapi Ashlyn tetap tersenyum lebar, rasanya wajah cantik sah Barbie sudah cukup tak perlu memberikan jawaban apapun. "Nanti kalau ketemu lagi, Ashlyn mau bermain bersama Kakak."
Nadine tidak langsung menjawab dan Ashlyn tidak menunggu terlalu lama. Ia kemudian mengangkat tangan kecilnya dan melambaikannya. "Selamat tinggal, Kakak cantik."
Setelah itu Ashlyn mengikuti kepala pelayan masuk ke dalam mansion. Langkahnya terlihat begitu riang dan bahagia, seolah-olah tidak ada satu pun masalah di dunia ini yang sedang mengganggu pikirannya.
Beberapa saat kemudian sosok Ashlyn menghilang dari pandangan. Wajah Nadine pun terlihat semakin kusut.
Nadine kembali menatap pintu mansion dengan tatapan penuh pertanyaan.
Istri? Nadine masih sulit mempercayainya.
Kalaupun benar Ethan sudah menikah, mengapa tidak ada seorang pun yang memberitahunya?
Mengapa Tante Aluna masih membicarakan perjodohan mereka?
Dan mengapa Ethan sendiri kemarin mengatakan dengan begitu jelas bahwa ia tidak menginginkan perjodohan tersebut, tetapi tidak pernah mengatakan bahwa dirinya sudah memiliki seorang istri?
Nadine menarik napas panjang, ada sesuatu yang tidak masuk akal.
Dan kini Nadine tidak ingin mengambil kesimpulan hanya berdasarkan perkataan seorang gadis yang jelas-jelas terlihat tidak seperti wanita dewasa pada umumnya.
Namun satu hal yang tidak bisa Nadine abaikan adalah bagaimana cara para pelayan tadi bereaksi.
Tidak ada seorang pun yang langsung mengatakan Ashlyn berbohong. Tidak ada pula yang membantah ketika Ashlyn menyebut dirinya sebagai istri Ethan.
Justru mereka terlihat gugup.
Nadine akhirnya mengalihkan pandangan kepada salah seorang pelayan yang masih berdiri di dekat teras. "Kamu."
Pelayan itu langsung menegakkan tubuh. "Ya, Nona?"
"Sampaikan pada Jenderal Ethan bahwa aku datang menemuinya."
"Baik, Nona."
Pelayan itu segera menundukkan kepala sebelum berbalik untuk menjalankan perintah tersebut.
Nadine tetap berdiri di teras, tangannya perlahan mengepal di sisi tubuh. Ia datang ke mansion ini dengan satu tujuan, yaitu berbicara kembali dengan Ethan dan mencari tahu apakah masih ada kesempatan baginya.
Namun sekarang, sebelum sempat bertemu Ethan ia justru menemukan sesuatu yang mengejutkan.
Seorang wanita asing yang mengaku sebagai istri Ethan.
Dan yang paling membuat Nadine tidak tenang adalah satu hal. Jika Ashlyn benar-benar istri Ethan, maka mengapa Ethan menyembunyikan keberadaan wanita itu dari semua orang?
'Sudah cukup, aku tidak ingin berpikir terlalu jauh,' batin Nadine, akhirnya Nadine mengambil kesimpulan ini.
Setelahnya Nadine pun masuk ke dalam mansion, menuju ruang tengah dengan langkah penuh percaya diri. Karena sajak dulu Nadine selalu percaya bahwa mansion ini akan menjadi miliknya juga.
Lima menit Nadine menunggu tapi Ethan tak juga muncul untuk menemuinya.
Lima belas menit berlalu dan kesabaran Nadine benar-benar menipis.
"Pelayan," panggil Nadine.
Seorang pelayan yang berjaga tak jauh darinya pun dengan cepat mendekat.
"Dimana Jenderal Ethan? Kenapa beliau lama sekali menemuiku."
"Ma-maaf Nona, Jenderal Ethan sedang menemani nona Ashlyn belajar."