Indonesia
NovelToon NovelToon
HALAMAN TERAKHIR

HALAMAN TERAKHIR

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Teen School/College / Cinta pada Pandangan Pertama / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Tamat
Popularitas:235
Nilai: 5
Nama Author: T.K. OKVIANDI

Bagi Rindu Setia Wiratman, hidup adalah buku catatan yang penuh dengan aturan ketat, ekspektasi, dan kesempurnaan semu. Sebagai gadis populer yang selalu memegang kendali, ia tidak pernah menyangka bahwa takdir akan menuliskan babak paling menyakitkan di saat ia merasa paling rapuh—ketika keluarganya runtuh dan dunianya hancur perlahan.

Di sisi lain, ada Langit Batara Nugroho, cowok arogan yang kehadirannya selalu berhasil menyulut emosi Rindu. Di balik sikapnya yang menyebalkan, Langit menyimpan luka masa lalu yang belum tuntas dan sebuah rahasia besar yang sengaja dikubur rapat-rapat.

Pertemuan mereka bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari halaman-halaman berat yang harus mereka balik bersama. Ketika badai menerpa hidup Rindu, justru Langit—seseorang yang paling ia benci—menjadi satu-satunya tempat untuk bersandar.

Namun, pertanyaannya: apakah mereka akan bertahan hingga akhir babak cerita, atau justru terhenti di halaman terakhir kisah ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T.K. OKVIANDI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HALAMAN SEMBILAN BELAS

Tidak lama setelah tim cheerleader SMA Padjadjaran 1 meninggalkan lapangan, panitia memanggil tim basket dari SMAN 2 Bandung dan SMA Putra Bangsa menuju lapangan. Terlihat kedua tim basket tersebut memasuki lapangan bersamaan dengan 2 orang wasit yang akan memimpin pertandingan. Kedua tim basket saling berjabat tangan satu sama lain, 5 orang pemain dari masing-masing sekolah tetap berada d lapangan dan 5 pemain lainnya pergi kepinggir lapangan menuju kursi untuk pemain cadangan yang sudah disiapkan.

Di titik tengah lapangan telah bersedia 1 orang dari setiap tim berdiri berhadapan dibatasi oleh seorang wasit yang memegang bola. Peluit telah dibunyikan , menandakan pertandingan telah dimulai, bersamaan pula wasit melemparkan bola keudara hingga diperebutkan oleh 2 orang yang berdiri disana. Setiap tim baik SMAN 2 Bandung maupun SMA Putra Bangsa menampilkan permainan dengan teknik-teknik memukau di tengah lapangan. Kedua tim terlihat tidak ingin sama sekali keranjangnya itu kemasukkan bola.

Dari sisi lapangan, terlihat lelaki bertopi itu sedangn mengamati pertandingan dengan serius bak seorang pelatih. Sementara Rindu masih saja penasaran dengan sosok itu, apa maksudnya datang kemari sengaja untuk dirinyakah? Tapi mengapa kini lelaki itu justru fokus ke pertandingan SMAN 2 Bandung. Lelaki itu beberapa kali terlihat senang dan mengekspresikannya dengan beberapa gerakan disaat tim SMAN 2 Bandung mencetak angka, dan terlihat kecewa jika tim SMAN 2 Bandung kemasukkan bola.

Dari tempat duduknya, Langit dan teman-teman tim basketnya mengamati setiap langkah demi langkah dari tim yang sedang bertanding, merekamemberikan pendapatnya satu sama lain. Berulang kali Langit mengeluarkan pendapatnya setiap kali tim yang sedang bertanding menghilangkan kesempatan yang ada untuk mencetak angka.

"Ah itu kenapa nggak langsung shot dari situ aja, kenapa dioper dulu" gerutu Langit.

"Komen aja lu kayak facebook, biarin aja sih, mungkin dia nggak mau ambil resiko, klu lemparan nya meleset terus musuhnya balik nyerang kan berabe juga" timpa Ferry.

"Iya juga sih, tapi kalau gue liat dari permainan dia sebelumnya, masa iya dia nggak masuk kalau langsung ngeshoot dari situ" ucap Langit.

"Ya udah sih ah, kita nonton aja, cukup perhatiin permainan mereka, kalau kita menang kan nantinya kita lawan salah satu dari mereka" potong Rizky.

Tanpa terasa, 4  kali 12 menit telah berlalu. Akhir dari pertandingan itu terlihat jelas dengan selisih nilai yang lumayan terpaut jauh yaitu 113 berbanding 96 dengan kemenangan untuk SMAN 2 Bandung. Terlihat rona kebahagiaan terpancar dari seluruh pemain SMAN 2 Bandung , begitu juga dengan sosok laki-laki bertopi itu, dia terlihat sangat bahagia karena kemenangan SMAN 2 Bandung. Sepertinya lelaki itu ingin sekali turun merangkul dan mengucapkan selamat kepada tim SMAN 2 Bandung namun semua itu dilarang.

Dari tempat duduknya Rindu terus mengamati lelaki itu, Rindu melihatnya dengan rasa heran kenapa lelaki itu begitu senangnya, ada apadia dengan SMAN 2 Bandung. Sesaat Rindu sedang melihat ke arah lelaki itu, tiba-tiba lelaki itu menoleh ke arah rindu, lelaki itu tersenyum lalu memberikan salam dengan meletakkan dua jari dibibirnya lalu melambaikan ke arah Rindu. Rindu yang melihat hal itu langsung menjadi salah tingkah, ingin dia membalas salam itu namun gengsinya terlalu tinggi.

Di saat Rindu sedang menatap lelaki itu dengan penuh tanya, hingga membuat dirinya melamun, tanpa sadar panitia telah memanggil tim cheerleader SMA Merah Putih. Rindu terlihat melamun menatap ke arah lelaki itu, hingga lamunannya sekejap hilang saat teman tim cheerleader menyadarkannya.

"Kak Rindu, ayo udah dipanggil kita, kak , woi Kak Rindu" panggil rekan tim chearleder Rindu.

"Eh iya kenapa, bikin kaget aja" terkejut Rindu sambil mengelus dadanya.

"Kakak ngelamun aja sih, udah dipanggil kita" ucap rekan tim chearleder Rindu.

Rindu segera bangun dari duduknya, bersama rekan cheerleadernya , Rindu berjalan menuruni tribun sekolahnya menuju ke tengah lapangan. Setibanya dilapangan, seluruh tim bergerak diposisinya masing-masing. Beberapa saat akan dimulai, Rindu mengangkat tangan kanannya sebagai tanda ada beberapa yang akan dia sampaikan. Panitia mempersilahkan Rindu untuk menyampaikan hal tersebut langsung kepadanya. Rindupun segera berlari menuju panitia tersebut.

"Begini bu sebelumnya saya minta maaf, boleh tidak kalau nanti disaat saya memberikan isyarat tepukkan tangan 3 kali, lampu utama dipadamkan, soalnya nanti ada yang mau saya tampilkan dalam keadaan gelap" pinta Rindu.

Panitia segera mendiskusikan permintaan tersebut , setelah beberapa menit berdiskusi akhirnya panitia mengabulkan permintaan dari Rindu tersebut. Rindu merasa senng dan akhirnya pergi menuju lapangan kembali dengan sebelumnya tak lupa mengucapkan terima kasih. Rindu segera kembali ke timnya, mereka berkumpul sejenak , hingga beberapa anggota tim ke sisi lapangan mengambil beberapa berlengkapan untuk pertunjukkannya. Ada yang berbeda dengan penampilan kali ini, mereka meletakkan sebuah meja berkaki satu dengan taplak diatasnya dan sebuah lilin berwadah lugam diatas tamplak meja tersebut, mereka juga menyiapkan sebuah paper bag berwarna coklat di sisi meja dan sebuah kantung yang terbuat dari kain disisi meja satunya.

Penonton dan para juri terlihat heran dengan semua yang dipersiapkan oleh tim SMA Merah Putih, karena itu semua terasa aneh untuk sebuah pertunjukkan cheerleader. Banyak dari para siswa yang menyaksikan itu terlihat memperbincangkan satu sama lain termasuk Langit dengan teman-temannya.

"Itu kira-kira buat apa ya? Mau nampilin surprise apa sih si Rindu?menurut lu pada apa hayo?" tanya Langit dengan bingung.

"Udah sih kita lihat aja nanti, yang pasti kayaknya ini bikin sekolah kita jadi viral di lumba ini" jawab Rizky.

"Iya udah, gue yakin Rindu nggak bakal bikin jelek nama sekolah kita, dia pasti jaga nama baik sekolah kita di perlumbaan ini, buktinya dari kemaren aja dia keliatan baik ke lu kan el" sambung Robby.

Langit yang mendengar ucapan dari Robby, merasa seperti dirinya sedang ditusuk oleh belati yang sangat tajam tepat di dadanya dan mengenai jantung. Langit jadi merasa bahwa perasaan buruk selama ini benar adanya, Rindu bersikap seolah baik dengan dirinya hanya karena ingin menjaga baik nama sekolah.

"Kalau dipikir-pikir bener juga apa kata Robby, Rindu nggak mungkin menampilkan sesuatu untuk menjatuhhkan nama sekolahnya, dia pasti jaga nama baik SMA Merah Putih, termasuk dengan dia hilangkan kebencian terhadap gue selama di Bandung" pikir Langit dalam hatinya.

Dari tengah lapangan terlihat Rindu dan temannya sudah bersiap, musik pengiring mulai terdengar bersamaan dengan tim cheerleader SMA Merah Putih melakukan beberapa gerakan kecil. Dengan penuh semangat mereka mulai melakukan gerakan-gerakan yang memukau, Rindu yang berlaku sebagai flyer dilembar ke udara berulang-ulang kali, mereka membentuk piramida dengan Rindu sebagai puncaknya. Saat berada dipuncak piramida, seorang rekan Rindu mengambil sehelai sapu tangan dari dalam paper bag lalu dilempar ke arah Rindu.

Rindu awalnya memperlihatkan bahwa itu hanyalah sebuah saputangan biasa berwarna merah, hingga akhirnya dia melempar ke udara dan berubah menjadi sebuah tongkat. Dipuncak piramida, Rindu memainkan tangannya kesana kemari membuat tongkat itu melayang diudara sesuai gerakan tangannya atau kalau didunia sulap disebut dancing cane. Dengan gemulai dia memainkan gerak tangannya seolah menari dengan tongkat tersebut. Seluruh penonton dan panitia termasuk Langit terlihat berdiri dan memberikan tepuk tangan atas pertunjukan Rindu tersebut.

"Tuh kan gue bilang juga apa , pasti surprise deh" ucap Ferry.

"Iya sumpah nggak nyangka gue, dia sengaja belajar sulap buat nampilin beginian" kagum Langit menanggapi Ferry.

Di tengah lapangan, salah seorang rekan Rindu yang berada dibawah berlaga bagaikan memegang sebuah senapan. Dengan gayanya, dia pengarahkan tangannya yang dibentuk sebuah senapan ke arah Rindu dan berlaga bagaikan menembak Rindu dipuncak piramida. Sambil memegang tongkat itu, Rindu berlaga bagai tertembak dan terjatuh hingga akhirnya ditangkap oleh rekannya yang sudah bersiap dari tadi.

Piramida akhirnya dibubarkan, setiap siswa melakukan gerakan masing-masing, sementara Rindu berjalan kearah meja langsung menyalakan lilin diatasnya, dengan memegang kedua ujung taplak meja tersebut, Rindu membuat seolah Meja itu melayang dan menari bersama dengannya mengikuti irama yang ada. Lagi-lagi penonton terkejut melihat pertunjukkan itu, mereka terpukau hingga suara gemuruh tepuk tangan memenuhi seisi ruangan.

Seorang rekan Rindu mengambil kantung yang terbuat dari kain, dia membuka seleting bawah kantung tersebut dan menyunjukkan bahwa isinya kosong. Rindu yang sedang menari dengan mejanya langsung meletakan kembali meja ke lantai. Seorang anggota cheerleader terlihat mengambil selembar in hitam polus dari paper bag, lalu menunjukkan ke penonton bahwa itu kain hitam polus biasa, sementara yang lain berlaga bak sebuah patung. Semua terlihat sama sekali takbergerak termasuk Rindu yang sedang memegang meja.

Setelah menunjukkan bahwa itu hanya kain hitam polus biasa, anggota cheerleader tersebut memasukkan kain hitam ditangannya kedalam kantong kain yang dipegang anggota lainnya. Tiga orang anggota terlihat mendekati rindu dan berdiri disetiap sisi meja. Beberapa saat kemudian terlihat Rindu meniup lilin yang berada diatas meja, seketika itu juga lampu utama dalam GOR dipadamkan, hingga seisi ruangan menjadi gelap hanya diterangi oleh beberapa lampu kecil. Semua yang berada didalam ruangan itupun terkejut dengan lampu yang tiba-tiba mati, tapi ya memang itulah permintaan dari Rindu.

Rindu dan ketiga rekannya yang berada disekeliling meja mulai melangkah mundur menjauhi meja. Ditengah anggota lainnya berdiam bagai patung, Rindu dan ketiga rekannya mulai menunjukkan pertunjukkannya, mereka mengeluarkan sebuah bola bercahaya dengan warna yang berbeda di jemari tangan mereka masing-masing. Mengikuti irama musik yang sedang diputar dengan irama yang sluwly, mereka bergerak dengan gemulai sembari memainkan cahaya itu, dioper cahaya tersebut dari tangan satu ke tangan satunya. Dengan berbagai trik Rindu membuat seolah cahaya itu masuk kedalam mulutnya dan dikeluarkan dari hidungnya dengan bersin. Dimasukkan melalui telinga kiri lalu keluar melalui telinga kanan. Layaknya seorang pesulap handal , Rindu memainkan trik trik dengan cahaya tersebut.

Seorang anggota cheerleader yang memegang sebuah kantung kain bergerak dari posisi patungnya, dia berjalan menuju kearah depan didampingi 2 anggota lain disisi kanan dan kirinya. Dengan meletakkan kantong kain tersebut didepannya, anggota cheerleader tersebut kembali mematung termasuk 2 anggota yang berada disisinya. Dengan lihai Rindu bersama 3 rekannya memainkan cahaya di tangannya, mereka seolah memasukkan cahaya-cahaya 4 warna tersebut kedalam kantong kain yang dipegang oleh anggota cheerleader lainnya.

Setelah terlihat seolah banyak bola-bola cahaya masuk kedalam kantong kain tersebut, selurung anggota cheerleader yang mematung kembali bergerak dan membentuk sebuah formasi disekitar kantong kain tersebut. Hingga akhirnya, 2 anggota cheerleader yang semenjak tadi berada disisi pemegang kantong kain memasukkan tangan kedalam kantong kain tersebut, kemudian dari dalam kantong kain, mereka merdua menarik sebuah kain hitam lalu membentangkannya, kain hitam tersebut adalah kain hitam yang semula ppolus sekarang menjadi kain hitam dengan cahaya 4 warna bertuliskan…

"WE LOVE SMA MERAH PUTIH"

Dalam keadaan ruangan yang masih gelap, hanya terlihat samar-samar seluruh yang berada didalam sana berdiri dan memberikan tepuk tangan yang meriah. Dari tribun SMA Merah Putih terlihat seluruh siswa SMA Merah Putih yang berdiri, mengeluarkan handphonenya masing-masing, dengan penuh kekompakkan mereka menyalakan layar handphone mereka secara bersamaan dan bergerah bagaikan gelumbang secara teratur. Cahaya yang ditimbulkan oleh layar handphone itu bergerak dengan indah seolah menjadi sebuah gerakan gelumbang frekuensi.

Tidak lama lampu utama ruangan segera dinyalakan oleh panitia, ditengah lapangan terlihat Rinda beserta tim cheerleadernya berkumpul membentuk sebuah barisan kesamping, sambil saling menggenggam tangan satu sama lain untuk memberikan penghormatan terakhirnya kepada panitia. Rindu menyempatkan melihat kearah tribun penonton dimana laki-laki bertopi itu berada. Dari posisinya, Rindu melihat lelaki itu tersenyum di tempatnya duduk.

Sesaat berlalu Rindu menoleh ke arah tribun SMA Merah Putih, dari sana terlihat dalam posisi berdirinya Langit mengacungkan kedua jempol ditemani dengan senyuman kepada Rindu, melihat hal tersebut Rindu tak sungkan membalas dengan sebuah senyuman dan gerakan tangan menandakan kebahagiaan buatnya.

Ingin rasanya Rindu berlari kearah Langit dan memeluknya, tapi itu tak mungkin, pertama dia masih dalam waktu pertunjukkannya , kedua disana ada lelaki bertopi yang dalam pikiran Rindu dialah lelaki yang menjadi pengagum rahasianya selama di Bandung. Dialah yang selama ini mengirimkan kata-kata indah yang menusuk jiwa Rindu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!