Seorang gadis tanpa bakat.
Menjadi aib bagi sebuah keluarga sihir api yang berkuasa.
Sebuah pengkhianatan yang menjatuhkannya ke jurang maut.
Tapi di kegelapan jurang, takdir memilihnya.
Kontrak dengan naga kuno mengubahnya menjadi wadah dari seluruh elemen.
Dari sampah keluarga ... menjadi ancaman bagi dunia.
Dari yang dibuang ... menjadi yang ditakuti.
Ini kisah tentang kebangkitan.
Ini kisah tentang KONTRAK NAGA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28 Kuil Yang Menolak
KUIL BINTANG SIHIR.
Tempat paling suci, sekaligus paling berbahaya di seluru benua dunia Aethervan. Mereka bertiga berdiri di depan gerbang kuil yang sudah lama tak digunakan lagi itu.
Menatap jauh ke sana, pada pilar-pilar tua yang masih berdiri kokoh meski telah banyak goresan di setiap sisinya.
"Di sini Cahaya dan Kegelapan terlahir secara bersamaan, tidak saling bertabrakan, tidak saling menyerang. Menjadi satu kekuatan besar bagi siapa yang mendapatkannya. Satu tempat. Dua kutub." Rayn bergumam pelan sembari mengamati setiap sudut tempat itu.
Kael meludah kesal, teringat akan latihannya di tempat tersebut.
"Tempat sialan. Aku pernah gagal di sini," katanya gemas, nada suaranya mengandung kesan mendalam terhadap tempat tersebut.
Eliya mengernyit saat melihat dua sosok bayangan di kejauhan, lebih dekat dengan gerbang kuil. Kedua manusia itu menyadari kedatangan rombongan Eliya. Mereka berbalik dan berjalan mendekat.
Salah satu dari mereka, berambut emas, memakai jubah putih khas penyihir cahaya. Ia tersenyum seperti malaikat.
Elio Lumina. Putra Jenius Cahaya dari kerajaan Cahaya Langit.
Satu orang lagi, bertubuh tinggi, berotot, memiliki mata yang tajam. Di dadanya terdapat lambang pegunungan Terravon.
Darian Terravon. Putra Jenius Tanah.
Kedua pemuda itu mendekat dan berhadapan dengan kelompok Eliya. Menatap Kael dan Rayn dengan remeh.
"Oh, kukira siapa yang datang. Ternyata putra jenius lemah dari Venthora dan si pecundang dari Ignis," ucap elio sembari mencibirkan bibir.
Kata-katanya itu sukses membuat Eliya terperangah tak percaya. Seorang penyihir cahaya yang dianggap suci bisa berkata dengan perkataan merendahkan seperti itu.
Kael tercengang, mulutnya terbuka, tapi tak ada kata yang terucap. Tangannya bergerak menunjuk diri sendiri, kemudian menunjuk Rayn yang tetap bersikap tenang.
"Gila! Jika kau si pecundang, lantas aku ini apa?" sengit Kael merasa direndahkan oleh dua orang itu.
"Itu lebih baik. Aku lebih suka kata-kata itu dari pada kalimat putra jenius," sahut Rayn tersenyum tipis.
Kael menggelengkan kepala sembari menatap Rayn yang tetap tenang. Seandainya dia belum melihat kekuatan Rayn, mungkin ia juga akan meremehkan.
Kedua pemuda itu beralih pandangan pada sosok Eliya yang diam membisu. Memutar badan berhadapan dengannya.
"Eliya," ucap Eliya singkat.
Elio tersenyum mencibir, memindai Eliya dari atas hingga bawah. Tatapannya merendahkan, meremehkan gadis itu.
"Kau yang dikabarkan itu? Sang Penyelamat. Tapi, aku hanya melihatmu sebagai orang yang lemah. Yang tidak memiliki dasar. Bagaimana mungkin kau bisa membuat kehebohan sampai empat kerajaan di empat benua ketakutan mendengarnya" kata Elio. Matanya menyipit tajam.
"Aura mu ... sangat kotor, kau tidak pantas berada di sini," lanjutnya setelah mengendus Eliya.
'Pemuda yang sangat sombong. Bagaimana kerajaan Cahaya Langit bisa menobatkannya sebagai putra jenius.'
Eliya mencibir di dalam hati, tak peduli. Ia melangkah maju melewati Rayn dan Kael. Tatapan Elio terasa menusuk kulit. Senyumnya tampak ramah, tetapi di matanya hanya ada penghinaan.
Di samping pemuda sombong itu, sosok Darian berdiri kokoh bagai dinding batu. Dia melipat tangan di dada dengan angkuh.
"Mereka tidak tahu batas diri. Tidak tahu siapa yang sedang dihadapi. Padahal, baru sihir tingkat pertama. Dibandingkan pemuda api itu, mereka tidak ada seujung kukunya pun."
Suara Zharvion menggeram tertahan. Eliya tersenyum samar, tahu betul bagaimana keadaan pemuda di depannya.
"Kotor atau bersih itu sama sekali bukan urusanmu," jawab Eliya tenang.
Ia berusaha menyembunyikan getaran di tangannya. Tanda mahkota di pergelangan tangannya merespon emosi Eliya. Namun, ia memilih menyembunyikan semua itu.
"Singkirkan tubuh kalian dari gerbang. Kami harus masuk," katanya lebih tegas.
Darian tertawa dingin. Suaranya berat bagai benturan batu besar.
"Masuk? Kuil ini adalah tempat suci. Hanya mereka yang terpilih yang bisa menginjakkan kaki di dalam. Orang cacat energi sepertimu hanya akan menjadi abu jika menyentuh pintunya."
Kael menggeram. Tangannya mengepal, aura sihir yang kuat menguar dari sela-sela jarinya. Tak terima dengan ucapan pemuda bertubuh besar itu.
"Jaga mulutmu, Darian. Sebelum aku memotong lidahmu lagi seperti di turnamen tahun lalu," sengitnya mengingatnya pemuda sombong itu pada hal memalukan yang pernah terjadi.
Suasana mendadak menjadi sangat tegang. Angin malam di reruntuhan bertiup kencang. Debu-debu kuno beterbangan di udara. Rayn menahan pundak Kael dengan tenang. Dia menggelengkan kepala pelan.
"Jangan terpancing. Fokus kita adalah ujian kuil, bukan mereka," katanya pelan.
Elio melangkah satu tapak ke depan. Jubah putihnya berkilau karena energi cahaya yang mulai keluar dari tubuhnya.
"Darian benar. Kuil ini menolak siapa saja yang tidak murni. Mari kita buktikan siapa yang diakui oleh Kuil Bintang ini," tantangnya tak ingin memperpanjang masalah Kael dan Darian.
Elio berbalik dan berjalan menuju pintu gerbang batu raksasa. Pintu itu dipenuhi ukiran kuno tentang rasi bintang. Tangan kanannya menyentuh permukaan batu kelabu tersebut.
Seketika, ukiran di pintu menyala terang benderang dengan warna emas. Gerbang batu itu bergetar hebat. Pintu besarnya perlahan terbuka lebar demi memberi jalan. Energi hangat mengalir keluar dari dalam ruangan menerpa kulit wajah mereka.
"Kuil menyambutku," ucap Elio bangga. Dia menoleh ke arah Eliya dengan senyum kemenangan. "Sekarang giliranmu, Sang Penyelamat palsu," katanya jumawa.
Darian menyusul Elio masuk ke dalam. Dia menatap Eliya sekilas dengan pandangan meremehkan. Mereka berdua berjalan melewati koridor gelap yang diterangi cahaya emas dari langkah kaki Elio.
"Giliranmu," bisik Rayn pada Eliya. "Percayalah pada kekuatan yang ada di dalam dirimu," katanya lagi memberi semangat.
Eliya mengangguk kecil. Ia berjalan mendekati gerbang yang terbuka. Setiap langkah terasa sangat berat. Seolah-olah udara di sekitar menghimpit dadanya hingga sesak.
Saat ia berdiri tepat di ambang pintu, aura kuil berubah drastis. Cahaya emas yang tadi hangat tiba-tiba meredup. Ruangan di dalam menjadi sangat gelap gulita.
Eliya mengangkat tangan kanannya, lalu menempelkannya pada dinding batu gerbang.
BZZZZT!
Sebuah ledakan energi hitam legam keluar dari dinding kuil. Kekuatan itu menghantam telapak tangan Eliya dengan sangat keras. Tubuhnya terlempar ke belakang hingga berguling di atas tanah berbatu.
"Ugh!" Ia mengerang kesakitan. Telapak tangannya terasa terbakar dan berwarna kehitaman.
"Kuil ini menolaknya!" teriak Darian dari dalam koridor. Dia tertawa puas melihat Eliya terjatuh.
Elio menggelengkan kepala dari kejauhan.
"Sudah aku katakan sebelumnya. Tempat ini menolak kegelapan. Dan tubuhmu penuh dengan hal itu," katanya lagi sambil tersenyum merendahkan.
Kael dan Rayn langsung berlari menghampiri Eliya. Kael membantu gadis itu berdiri, sementara Rayn memeriksa luka di tangannya.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Kael khawatir. Mata merahnya menyala penuh amarah ke arah dalam kuil.
"Aku baik-baik saja," sahut Eliya sambil menahan perih.
Ia menatap telapak tangannya yang terluka. Energi hitam di kulitnya bukan untuk menghancurkan, melainkan sedang terserap masuk ke dalam nadinya. Kuil ini tidak menolak Eliya karena lemah. Kuil ini bereaksi karena dia mengenali sesuatu di dalam dirinya. Sang Wadah.
"Kau yakin?" Kael memastikan.
Eliya melepaskan pegangan Kael. Ia kembali berjalan menuju gerbang dengan tatapan lurus ke depan.
"Hei! Apa yang akan kau lakukan? Kau bisa hancur!" seru Kael cemas.
"Biarkan dia," sela Rayn dengan mata berbinar. "Lihat tandanya." Ia menatap tanda mahkota yang berkedip di pergelangan tangan Eliya. Rayn tahu apa yang terjadi.
Eliya tidak lagi menggunakan tangan untuk menyentuh gerbang. Ia melepaskan seluruh pelindung energi di tubuhnya. Lalu, membiarkan energi kegelapan dari segel kuno di jantungnya mengalir bebas ke luar.
Saat kakinya melangkah melewati batas gerbang, petir hitam menyambar dari langit-langit kuil. Namun, kali kedua itu ia tidak terlempar. Petir itu justru mengitari tubuhnya bagai pelindung.
Pintu batu kuil berguncang dua kali lebih hebat dari sebelumnya. Ukiran bintang yang tadi berwarna emas kini berubah menjadi hitam pekat dengan api ungu di tepinya.
Senyum di wajah Elio langsung menghilang seketika. Wajah Darian ikut menjadi pucat pasi.
Kuil ini tidak menolaknya. Kuil ini sedang bersujud menyambut pemilik aslinya.