Dunia tersusun atas struktur kosmologi yang agung: tujuh lapis langit yang suci, dunia bawah yang kelam, dan bumi yang terhampar di tengah-tengahnya.
Sejak awal penciptaan, Tuhan telah melahirkan dua entitas yang saling bertolak belakang demi mengisi semesta ras Elf Cahaya yang menguasai dunia langit, dan ras Iblis Kegelapan yang mendiami dunia bawah. Sementara di antaranya, hiduplah umat manusia yang mendiami bumi.
Namun, kedamaian itu runtuh akibat keserakahan manusia. Melalui ambisi tanpa batas, manusia menggali tanah teramat dalam demi mengeruk sumber daya, sekaligus menembak langit menggunakan uji coba senjata pemusnah massal terlarang yang bernama Nuklir.
Tanpa diduga, hantaman destruktif tersebut bergetar hebat hingga menjebol dinding dimensi semesta. Batas dunia runtuh; ras Iblis merangkak naik ke permukaan, sementara ras Elf turun ke bumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RIKI RIFEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kami pergi guru, petualangan kami benar-benar baru saja di mulai
Meskipun dadanya bergemuruh menahan kesal, Cheeta menarik napas dalam-dalam dan berusaha menguasai diri. Sebagai orang yang paling rasional di antara ketiganya, ia tahu betul bahwa membuat keributan lagi di dalam ruang sidang hanya akan memperburuk keadaan mereka. Namun, di dalam benaknya, ia benar-benar bingung dengan jalan pikiran orang-orang di kota ini.
"Baiklah, Yang Mulia. Ini adalah dakwaan terakhir. Bisa saya lanjutkan?" tanya jaksa, memecah keheningan.
"Silakan, Jaksa..." jawab hakim sembari melotot tajam ke arah Cheeta. Tatapan sang hakim seolah-olah menuduhnya sebagai monster kejam yang tega memukuli pria paruh baya tanpa ampun.
Dicap seperti itu, Cheeta hanya bisa memalingkan wajahnya dengan pasrah sekaligus jijik.
Jaksa kini beralih menatap pemuda bertubuh besar di sebelah Cheeta. "Saudara Rheno!" panggil jaksa dengan lantang.
"Anda diduga telah mencopet teman baik Anda sendiri! Seorang sahabat yang rela datang jauh-jauh dari negeri seberang demi mencari Anda. Sahabat yang melompat-lompat kegirangan saat mengetahui kalian bertiga berada di Kota Nova, dan langsung bergegas penuh ketegangan karena ingin segera bertemu!" dakwa jaksa dengan nada yang luar biasa dramatis.
"Saksi ketiga sekaligus pelapor, silakan masuk!" panggil jaksa kemudian.
Pintu aula sidang terbuka lebar. Begitu melihat sosok yang melangkah masuk, Leo, Cheeta, dan Rheno sontak terbelalak kaget setengah mati. Ternyata saksi itu adalah si Bos!
Benar saja, si Bos-lah yang melaporkan mereka bertiga. Padahal kemarin malam si Bos dan pasukannya ditangkap oleh keamanan kota karena mengganggu ketertiban umum. Namun, dengan kelicikannya yang luar biasa, gembong mafia itu berhasil memutarbalikkan fakta di hadapan hukum.
"Terima kasih, Jaksa," ucap si Bos dengan senyuman formal yang dipaksakan.
Ia melangkah ke podium dan menatap hakim dengan wajah yang dibuat se welas asih mungkin. "Yang Mulia yang terhormat... Saya tinggal di Lembah Karat, wilayah yang sama dengan mereka. Kami bertiga... eh, berempat, sangatlah dekat. Persahabatan kami begitu indah, bagaikan kepompong..."
Si Bos menjeda kalimatnya, lalu memasang raut wajah sedih yang sangat palsu. "Namun, sikap tikus-tikus... ehem, maksud saya, sahabat-sahabat saya ini mendadak berubah drastis setelah kami mengalami pertengkaran kecil soal buah. Saya merasa sangat bersalah dan terus mencoba mencari keberadaan mereka..."
"Sampai akhirnya, saya mengetahui lokasi para bajingan... ah, maksud saya, lokasi para sahabat tercinta saya ini di Kota Nova. Tanpa memikirkan waktu istirahat, saya langsung bergegas kemari demi bisa membalas dend... uhuk! Maksud saya, demi meminta maaf atas segala keegoisan saya di masa lalu!" ucap si Bos yang dari tadi berulang kali keceplosan menyuarakan isi hatinya yang penuh dendam.
Tiba-tiba, nada suara si Bos meninggi, berganti menjadi luapan amarah yang meledak-ledak. "Tapi tega-teganya mereka justru mencopet saya! Padahal, saya hanya ingin memberi mereka pelaja... eh, maksud saya, saya hanya ingin memberi tahu mereka bahwa saya sangat menyesal dan ingin meminta maaf! Hanya itu, Yang Mulia!"
Mendengar kesaksian yang penuh dengan salah ucap itu, Cheeta dan Leo hanya bisa melongo heran. Entah apa yang salah dengan otak orang-orang di Kota Nova ini, mengapa tidak ada satu pun dari mereka—termasuk jaksa dan hakim—yang menyadari bahwa pria di podium itu adalah seorang bos mafia yang sedang balas dendam?
Seketika itu juga, gemuruh hujatan dari bangku penonton kembali meledak riuh, memenuhi seisi aula sidang.
"Harusnya manusia-manusia tidak tahu diri seperti mereka diasingkan saja dari dunia!" teriak penonton dari barisan tengah.
"Bersyukurlah kalian punya sahabat berhati malaikat seperti si Bos!" sahut yang lain penuh simpati yang salah sasaran.
"Penjarakan mereka seumur hidup!" lengking sebuah suara dari sudut kiri ruangan.
Di tengah kegaduhan itu, Rheno tiba-tiba mengangkat tangannya. "Yang Mulia, saya mau mengajukan prosedur praduga tidak bersalah," ucap Rheno dengan wajah lempeng tanpa dosa.
Mendengar permintaan dari terdakwa yang kelewat lempeng itu, hakim justru semakin membelalakkan matanya dengan urat-urat kemarahan yang menegang di dahinya.
Tok! Tok! Tok!
"Cukup kalian semua!" bentak hakim, suaranya menggelegar memutus drama air mata di dalam aula.
Ia menunjuk trio gubuk itu dengan palunya yang bergetar. "Tersangka Leo, Cheeta, dan Rheno! Kejahatan kalian sudah sangat jelas! Bagaikan menggerebek sebuah rumah dan langsung menemukan emas seberat empat puluh tujuh kilogram di dalamnya, bukti kejahatan kalian ini sudah mutlak tak terbantahkan!"
"Apakah kalian masih punya muka untuk meminta praduga tidak bersalah di bawah hukum kerajaan?!" jelas hakim dengan nada geram, menganggap level kejahatan trio ini sudah masuk kategori gila dan tidak berotak.
Si Bos di podium saksi langsung menyeringai puas, sementara Cheeta hanya bisa mengumpat dalam hati meratapi perbandingan emas empat puluh tujuh kilogram yang luar biasa lebay itu.
"Dengan ini, pengadilan memutuskan kalian bersalah atas semua dakwaan, dan kalian akan dipenjara seumur hidup!" vonis hakim dengan lantang.
Tok! Tok!...
Belum sempat ketukan palu terakhir mengakhiri nasib mereka...
WUUUSSS...
Atmosfer di dalam aula sidang mendadak berubah drastis. Ruangan seketika menjadi sangat berat, seolah udara dikompresi oleh kekuatan raksasa tak kasatmata. Sebuah aura magis yang luar biasa kuat mengguncang seluruh aula peradilan, menekan kesadaran siapa pun yang berada di sana hingga membuat banyak penonton dan petinggi sidang langsung tumbang pingsan di kursi mereka. Sementara yang tersisa hanya bisa membatu, tidak mampu menggerakkan seujung kuku pun.
"Altur!" ucap Cheeta setengah berbisik, matanya membelalak seketika saat menyadari karakteristik energi magis yang sangat ia kenali sebagai milik sang guru.
Bersamaan dengan ledakan aura tersebut, tubuh Leo, Cheeta, dan Rheno mendadak bereaksi. Mereka langsung menyerap pasokan energi magis alam yang sedang melimpah ruah di sekitar mereka.
Dalam hitungan milidetik, kekuatan fisik ketiganya meningkat drastis melampaui batas normal manusia biasa. Otot mereka mengencang, dan dengan sekali gerakan sentakan yang kompak...
PRAAAKK!
Borgol besi premium yang mengikat tangan mereka hancur berkeping-keping menjadi serpihan logam tak berguna.
Bebas dari kekangan, mereka tidak membuang waktu satu detik pun. Ketiganya langsung melesat memotong aula menuju meja barang bukti. Di sana, senjata baru pemberian Altur yang terbuat dari campuran batu magis murni dan baja tempaan khusus tampak berpendar terang.
Senjata-senjata itu merespons aliran energi magis di tubuh mereka, membuat trio ugal-ugalan ini dengan sangat mudah menemukan dan menyambar milik mereka masing-masing dalam sekali lewat.
"Lari!" seru Leo heboh sembari menyandang tas senjatanya.
Mereka berlari kencang membelah aula, melompati barisan kursi, lalu mendobrak pintu utama gedung pengadilan hingga hancur terbelah dua. Langkah kaki seribu langsung dikerahkan untuk meninggalkan gedung terkutuk itu secepat mungkin.
Namun, pelarian mereka tidak berjalan mulus begitu saja. Begitu kaki mereka menginjak halaman luar, suara raungan sirine dan alarm keamanan kota langsung menyala dengan nyaring, memecah ketenangan IKN.
TOT... TOT... TOT!
Seluruh armada keamanan dan pasukan zirah berat kerajaan bergerak serentak dari segala penjuru untuk mengepung jalan keluar.
"Rheno! Pasang barikade sekarang!" teriak Cheeta melihat kepungan ratusan tombak di depan mereka.
Tanpa banyak bicara, Rheno melompat ke depan sembari menghantamkan knuckle-nya ke tanah, memicu dinding pelindung energi vertikal yang tebal.
Memanfaatkan barrier magis milik Rheno sebagai tameng berjalan di barisan paling depan, trio gubuk itu maju menerjang barisan tentara kerajaan layaknya banteng liar yang lepas dari kandang.
Kombinasi kekuatan penghancur Rheno, kelincahan Leo, dan kecepatan belati Cheeta sukses membuat barisan zirah perak itu kocar-cair tersapu ke samping, membuka jalan pelarian konyol namun mematikan menuju gerbang luar kota.
Ketika sudah mendekati gerbang luar, Leo, Cheeta, dan Rheno mendadak berhenti. Mereka memutar balikkan tubuh mereka, lalu membungkuk hormat dengan takzim sebelum akhirnya melambaikan tangan ke arah atap gedung pengadilan yang masih terlihat samar dari kejauhan.
Altur yang berdiri di atas atap tersenyum melihat tingkah laku murid-muridnya, walau di dalam hati ia mulai merasa khawatir.
"Apakah benar mereka orangnya?" gumam Altur lirih pada dirinya sendiri. Namun tepat di saat itu, sesosok gadis Elf tiba-tiba menghampirinya.
"Kak Altur! Di sini rupanya," ucap gadis Elf tersebut.
Altur menoleh sedikit. "Hah! Ada apa? Ayah menugaskan untuk mencari ku?" jawab Altur.
"Iya, begitulah!" sahut gadis Elf itu santai.
"Apakah kamu mau melaporkan bahwa aku ada di sini?" tanya Altur balik. "Aku baru akan pulang kalau dia sudah siap pensiun," lanjut Altur memberi syarat tegas mengenai takhta kerajaan.
"Tidak! Aku tidak mau ikut-ikutan urusan politik begitu," sahut sang gadis elf sembari melipat tangan. "Lagipula... Kakak sebenarnya sedang ngapain sih di dunia manusia ini?" tanya gadis Elf itu penasaran.
Memandang ke arah jalur pelarian trio gubuk yang kini mulai menjauh, pikiran Altur mendadak melayang kembali pada ingatan kalimat terakhir yang diucapkan Leo saat mereka berpisah di bengkel.
"Bagaimana menurutmu, Ely... jika suatu hari nanti manusia, iblis, dan Elf bisa duduk dan makan bersama?" gumam Altur lirih.
Ely hanya terdiam membisu, sama sekali tidak mengerti apa maksud absurd dari pertanyaan kakak kandungnya itu.
Melihat kebingungan adiknya, Altur perlahan membalikkan tubuh dan menarik napas panjang. "Apa yang aku lakukan ya... Mungkin! Hanya untuk menyelesaikan tugas sebuah ramalan," jawab Altur pelan sarat misteri.
Bersambung