Keluarga Adrian dikenal sebagai salah satu keluarga paling terpandang dan kaya.
Di mata publik, mereka adalah keluarga sempurna.
Kaya.
Terhormat.
Bahagia.
Namun di balik rumah besar itu, tersimpan banyak rahasia.
Persaingan bisnis, pengkhianatan, iri hati, dan orang-orang yang ingin menghancurkan keluarga Adrian mulai bermunculan.
Semuanya berubah ketika lahir seorang gadis kecil bernama Adeline Adrian Wijaya.
Sejak kecil, Adeline memiliki kemampuan aneh:
dia dapat mendengar suara hati manusia.
Dia bisa mendengar kebohongan yang tidak pernah terucapkan.
Dia bisa mengetahui seseorang yang tersenyum tetapi sebenarnya membenci.
Dia bisa mendengar rasa sakit yang disembunyikan seseorang.
Awalnya keluarga menganggap itu hanya imajinasi anak kecil.
Namun perlahan, kemampuan Adeline menyelamatkan keluarganya.
Ketika seseorang berpura-pura baik.
Ketika ada anggota keluarga yang diam-diam berkhianat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
Pagi itu, Adrian terbangun dengan perasaan tidak enak. Firasatnya jarang salah, dan hari ini firasat itu lebih kuat dari biasanya. Dia segera memeriksa ponselnya dan menemukan puluhan pesan dari rekan-rekan bisnis yang panik. Saham Wijaya Corporation tiba-tiba merosot tajam tanpa alasan yang jelas.
"Apa yang terjadi?" gumam Adrian sambil cepat-cepat mengenakan jasnya. Dia berlari menuju ruang kerja dan menghubungi Daniel. Suara Daniel terdengar sama paniknya dari seberang telepon.
"Adrian, ada berita palsu yang menyebar di media," kata Daniel cepat. "Seseorang menyebarkan informasi bahwa perusahaan kita akan bangkrut. Investor panik dan mulai menjual saham mereka. Kita harus segera melakukan konferensi pers untuk meluruskan semua ini."
Adrian mengerutkan kening. "Berita palsu? Siapa yang menyebarkannya?"
"Aku sedang menyelidiki," jawab Daniel. "Tapi aku yakin ini ulah Victor. Dia pasti sudah merencanakan ini sejak lama."
Adrian menutup telepon dengan wajah gelap. Dia berjalan keluar ruangan dan menemukan Elena yang sudah menunggu dengan wajah cemas. "Apa yang terjadi, Adrian? Ada apa dengan perusahaan?"
"Victor," jawab Adrian singkat. "Dia menyebarkan berita palsu untuk menjatuhkan saham kita."
Elena menggenggam tangannya erat. "Apa yang bisa kita lakukan?"
"Aku akan mengadakan konferensi pers secepat mungkin," kata Adrian. "Tapi aku butuh waktu untuk mengumpulkan bukti bahwa semua ini adalah kebohongan."
Di sudut ruangan, Adeline mendengar percakapan orang tuanya dengan telinga batin yang tajam. Gadis kecil itu bisa mendengar ketakutan dan kemarahan di hati ayahnya. Dia juga bisa mendengar suara lain, suara yang datang dari jauh, mungkin dari rumah Victor.
Ini baru permulaan. Kehancuran Adrian hanyalah langkah pertama. Setelah perusahaan jatuh, aku akan mengambil alih semuanya. Lalu aku akan memastikan bahwa keluarga Wijaya tidak akan pernah bangkit lagi. Mereka semua akan menderita seperti yang aku alami.
Adeline merasakan dadanya sesak. Suara hati Victor berbicara tentang rencana yang jauh lebih besar dari sekadar menjatuhkan perusahaan. Dia ingin menghancurkan seluruh keluarga, membuat mereka kehilangan segalanya, dan memastikan mereka tidak pernah bisa bangkit kembali.
"Ayah," bisik Adeline, mendekati ayahnya. "Aku mendengar suara Paman Victor. Dia tidak hanya ingin menjatuhkan perusahaan. Dia ingin menghancurkan kita semua. Ini baru awal dari rencananya."
Adrian menatap putrinya dengan mata penuh kekhawatiran. "Kamu mendengar semua itu?"
Adeline mengangguk. "Dia sangat marah, Ayah. Dia membenci kita semua. Dia ingin membuat kita menderita."
Adrian memeluk putrinya erat. "Ayah tidak akan membiarkan itu terjadi, Sayang. Ayah akan melindungi keluarga kita."
Sepanjang hari itu, Adrian sibuk menelepon investor dan mitra bisnis, mencoba meyakinkan mereka bahwa berita itu palsu. Daniel bekerja tanpa henti mengumpulkan bukti bahwa Victor adalah dalang di balik penyebaran informasi palsu. Sementara itu, Elena menjaga rumah dan berusaha menenangkan Adeline yang terlihat semakin gelisah.
Nathan yang melihat adiknya gelisah, duduk di sampingnya dan menggenggam tangannya. "Ade, kamu tidak sendiri, ya. Kakak ada di sini."
Adeline menatap kakaknya dengan mata berkaca-kaca. "Kak, aku takut. Paman Victor sangat jahat. Aku mendengar rencananya. Dia tidak akan berhenti sampai kita semua hancur."
Nathan memeluk adiknya erat. "Dia tidak akan berhasil, Ade. Kita punya Ayah yang kuat, Ibu yang sabar, Kakek yang bijaksana, dan kita berdua. Tidak ada yang bisa menghancurkan kita selama kita bersama."
Malam itu, ketika semua orang sudah lelah dan mulai beristirahat, Adeline tidak bisa tidur. Dia duduk di dekat jendela kamarnya dan mendengarkan suara-suara yang datang dari kejauhan. Victor masih berbicara, merencanakan langkah-langkah selanjutnya. Marissa ikut serta, menambahkan ide-ide licik yang semakin memperumit rencana mereka.
Adeline memeluk boneka beruangnya dan berbisik, "Aku tidak akan membiarkan mereka menghancurkan keluargaku. Aku akan mendengar setiap rencana mereka dan memberitahu Ayah. Kami akan menang."
Di ruang kerja, Adrian masih duduk termenung di balik meja. Dokumen-dokumen berserakan di hadapannya, tetapi pikirannya jauh melayang. Dia memikirkan putrinya, gadis kecil yang terus berjuang melindungi keluarganya meskipun usianya masih sangat muda. Dia memikirkan semua yang telah dia pelajari tentang kemampuan Adeline dan bagaimana dia telah menyelamatkan mereka berkali-kali.
"Aku tidak akan mengecewakanmu, Sayang," bisik Adrian pada foto putrinya di atas meja. "Aku akan melindungi keluarga ini. Aku akan menghentikan Victor."
Besok, dia akan mengadakan konferensi pers. Besok, dia akan membuka semua bukti yang Daniel kumpulkan. Besok, Victor akan melihat bahwa rencananya gagal lagi. Dan Adrian berjanji pada dirinya sendiri, dia tidak akan pernah membiarkan siapapun mengancam keluarganya lagi.
Di luar jendela, malam semakin larut. Rumah besar Wijaya berdiri tegak di bawah cahaya bulan, siap menghadapi badai yang akan datang. Dan di dalam rumah itu, sebuah keluarga bersatu, siap melawan siapapun yang mencoba menghancurkan mereka.