Fitnah keji dan pengkhianatan merebut segalanya dari Nina, seorang gadis desa yatim piatu yang dituduh berzina dan dibuang ke hutan bersama putri kecilnya, Gendis. Di bawah naungan sihir hitam dan racun dendam mertua serta kakak iparnya, Roni, suami yang dulu sangat mencintainya, tega membiarkan mereka ..
Kini, dari kegelapan hutan belakang desa, Nina kembali. Satu per satu, mereka yang terlibat dalam kematian tragisnya akan membayar hutang darah ini dengan nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UmakAy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Setelah perdebatan yang menguras emosi, akhirnya Rukmini pasrah dan menyetujui keputusan untuk menjual rumah besar keluarga tersebut demi melunasi ancaman utang para korban Herman, sekaligus menyetujui rencana untuk pindah menumpang di rumah Roni.
Langkah pertama yang dilakukan Ruhi adalah memulangkan Mbok Siti ke kampung halamannya. Ruhi tidak mau lagi mengeluarkan uang untuk membayar gaji asisten rumah tangga di tengah kondisi seperti ini. Dengan melipat pesangon seadanya.
Sebelum melangkah keluar meninggalkan rumah yang menyimpan banyak kenangan itu, sebuah banner besar betuliskan "RUMAH DIJUAL" lengkap dengan nomor telepon Ruhi resmi dipasang di depan pagar.
Seluruh pakaian dan barang-barang penting yang tersisa dimasukkan ke dalam bagasi mobil. Ruhi duduk di kursi pengemudi, sementara Rukmini duduk di sampingnya dengan wajah layu, tubuhnya masih lemas akibat demam yang belum sepenuhnya reda.
Namun, saat mobil baru di nyalakan, perasan tidak tenang mendesak dada Rukmini. Wanita tua itu memutar kepalanya ke belakang, memandang rumah besarnya untuk terakhir kali melalui kaca jendela mobil.
Mata Rukmini seketika membelalak.
Di balik kaca jendela lantai atas bekas kamar Nina yang gelap, terlihat sosok berdiri mematung. Sosok arwah Nina dengan gaun putihnya yang kusam tampak menggendong balita dalam dekapan erat.
Awalnya, kedua arwah itu tersenyum manis menatap mobil. Namun, hanya dalam hitungan detik, senyuman itu berubah secara mengerikan. Wajah Nina meliuk hancur, bibirnya memanjang membentuk seringai menakutkan yang memperlihatkan deretan gigi berdarah, sementara kepala Gendis terkulai miring menatap Rukmini dengan tatapan mata hitam dan kepalanya yang mengucurkan cairan hitam.
"Aaaaa! Ruhi! Cepat jalankan mobilnya! Cepat!" jerit Rukmini histeris sembari menunjuk-nunjuk kaca belakang dengan tangan gemetar hebat.
Ruhi yang terkejut menginjak pedal gas dalam-dalam. Mobil melaju kencang meninggalkan pekarangan rumah tua itu.
"****
"Ibu, Mbak Ruhi... Tumben kalian ke sini?" tanya Hana dengan nada dingin, matanya melirik tajam ke arah mertua dan kakak iparnya yang baru saja tiba, mereka berdiri di depan pintu membawa koper besar.
Ruhi menarik napas dalam-dalam. Tanpa menunggu dipersilakan masuk, ia menuntun Rukmini melangkah lebar menerobos ambang pintu dan meletakkan koper-koper mereka begitu saja di depan. Hana menghembuskan napas kasar, menyilangkan kedua tangan di dada dengan raut wajah penuh kejengkelan.
"Loh, Ibu sama Mbak Ruhi?" Roni yang sedang duduk beristirahat di kursi ruang tamu mendongak terkejut. "Kok tidak memberi kabar dulu kalau mau ke sini?"
Rukmini yang tubuhnya masih terasa lemas dan pikirannya masih dibayangi teror jendela atas, ia langsung menghempaskan diri di sofa empuk. "Tolong ambilkan kami minum, Hana," ucap Rukmini menyuruh menantunya, seperti ia menyuruh Nina dulu.
Hana menghentakkan kakinya keras-keras ke lantai saat berbalik menuju dapur. Dada wanita itu bergemuruh, sangat tidak suka diperintah secara sewenang-wenang di rumahnya sendiri.
Beberapa saat kemudian, Hana kembali meletakkan dua gelas air putih di atas meja dengan dentingan yang sedikit keras. Setelah Rukmini dan Ruhi meneguk air minum mereka, Ruhi membetulkan posisi duduknya dan membuka percakapan.
"Ibu dan aku sudah memutuskan untuk menjual rumah kami," ucap Ruhi tanpa basa-basi.
Roni dan Hana saling pandang, raut terkejut terpancar jelas di wajah mereka. "Jual rumah? Kenapa? Ada apa, Mbak?" tanya Roni heran.
"Herman dalam masalah," Ruhi menjelaskan dengan singkat namun dingin. "Dia terjebak dalam masalah penipuan besar dan sekarang kami harus mengembalikan uang para klien yang merasa ditipu. Kami tidak punya pilihan lain. Dengan menjual rumah, kami berharap bisa mendapatkan uang untuk membayar mereka... Kalau tidak, aku yang akan dijebloskan ke penjara," lanjut Ruhi, menatap lurus wajah adik dan adik iparnya.
Roni dan Hana tersentak hebat mendengar kenyataan pahit itu.
"Jadi, kami berharap bisa tinggal di sini, di rumah kalian, sambil menunggu rumah itu terjual," tambah Ruhi menyampaikan maksud utamanya.
Roni dan Hana kembali saling berpandangan.
"Kenapa kalian tidak ngontrak saja? Kenapa harus tinggal di sini?" tanya Hana, berusaha mengungkapkan keberatannya.
Rukmini terkejut mendengar pertanyaan Hana
seperti itu.
"Hana, Kami keluarga Roni. Kenapa kau bicara seperti itu.?"
Baru saja mulut Hana terbuka lebar hendak menyemburkan penolakan keras, Roni dengan cepat menyenggol lengan istrinya, memberi isyarat agar menahan emosi.
"Baiklah, Bu, Mbak... Tapi kami akan berdiskusi dulu," ujar Roni mencoba bersikap bijak.
Rukmini tersentak kaget, matanya melotot tidak terima. "Apa maksudmu?! Kenapa harus berdiskusi dulu? Kami ini keluargamu, Roni!" berang Rukmini dengan nada tinggi yang biasa ia gunakan untuk menekan putranya.
"Tapi ini rumah kami!" potong Hana ketus dan berani, menatap mertuanya tanpa rasa takut sedikit pun.
Ruhi merasa frustrasi."Jika kau tidak mengijinkan kami tinggal di sini, maka bantu kami mengembalikan uang mereka. Kami tidak punya pilihan."
Mata Hana langsung melotot. "Enak saja mau kita yang bayar. Suami situ yang penipu kenapa harus keluargaku yang repot."
Ruhi emosi mendengarkan perkataan Hana. Ia mendekati wanita itu. " Hei Hana. Kau berada di sini juga berkat bantuan kami. Ingat itu" bisiknya tajam.
Hana memutar bola matanya malas.
Suasana di ruang tamu mendadak memanas dan menegang. Demi menjaga situasi agar tidak meledak menjadi keributan, Roni segera berdiri dan menengahi.
"Sudah, sudah... Ibu, Mbak Ruhi, masuk ke kamar tamu dulu saja untuk istirahat. Nanti kita bicara lagi."
Dengan wajah bersungut-sungut, Rukmini dan Ruhi akhirnya melangkah menuju kamar tamu, sementara Roni menarik tangan Hana menuju kamar mereka.
"Lepasin, Mas! Aku gak mau mereka tinggal di sini!" hempas Hana sembari menghentakkan tangannya kasar begitu mereka sampai di kamar.
"Hana, tolong... Biarkan sementara mereka tinggal di sini," pinta Roni setengah berbisik, memegang kedua bahu istrinya dengan raut memohon.
"Gak!" tolak Hana tegas, memalingkan wajahnya.
Roni menghela napas panjang, mencoba menyabarkan dirinya sebaik mungkin. "Hana, tolong Mas sekali ini saja. Biarkan mereka di sini sampai rumah di kota itu terjual."
"Tapi kenapa harus tinggal di sini?! Kan masih ada Yani, adikmu itu!" cecar Hana tak mau kalah.
"Kamu kan tahu sendiri kalau Ibu ada masalah sama Yani sejak... sejak Ibu tahu Yani pernah mengunjungi aku dan Nina dulu," sahut Roni pelan, menyebut nama almarhumah istri pertamanya.
Hana menghembuskan napas kasar, menyilangkan dada dengan pandangan menghina. "Memang ya, Nina itu benar-benar membuat keluargamu berantakan..."
Wussshhh...
Hawa dingin mendadak bertiup kencang menusuk tengkuk Hana, menyapu bagian belakang lehernya secara tidak wajar.
"Hanaaa... mulutmu sangat busuk..."
Sebuah bisikan lirih, serak, dan tajam bergaung tepat di lubang telinga Hana, menyatu dengan hembusan angin. Hana membeku seketika. Darahnya seakan berhenti mengalir, bibirnya mengatup rapat dengan mata membelalak ketakutan. Tubuhnya merinding hebat, menyadari ada keberadaan gaib yang baru saja menegurnya.
Roni yang tidak menyadari itu terus membujuk, "Plis ya, Dek... Biarkan mereka di sini dulu."
Hana masih terdiam kaku, menelan ludahnya yang terasa pahit. Namun, di tengah ketakutan dan rasa kesalnya, sebuah ide licik mendadak melintas di otak cantiknya. Kalau mereka tinggal di sini, bukankah ini kesempatan emas untuk menjadikan mereka seperti pembantu!
Raut ketakutan di wajah Hana perlahan memudar, berganti menjadi senyuman tipis yang penuh arti.
"Baiklah, aku setuju. Mereka bisa tinggal di sini," ujar Hana akhirnya dengan nada sinis yang sengaja dipasang. "Lebih baik seperti ini daripada nanti kamu malah nekat mengeluarkan uang untuk membantu mereka."
🤨🤨🤨🤨🤨
UDAH, PINDAH AJA KE DESA NINA, RON...
💪💪💪
🤣🤣🤣🤣🤣
Terus, gimana Ruhi (kakaknya Roni) bisa punya calon suami? Lah wong sikapnya aja seperti itu sama adiknya sendiri...
Dan Nina, karakternya langsung bikin meleleh... 🤭🤭🤭