Lima tahun lalu, Victoria kabur dari pelukan suaminya yang paling ditakuti di pesisir timur—seorang Capo mafia berdarah dingin—sambil menyembunyikan sebuah rahasia di dalam rahimnya. Kini ia hidup sederhana di sebuah kota pesisir kecil, menjahit seragam dan menjual pai lemon, membesarkan dua putra kembar yang… terlalu istimewa. León, si sulung, punya tatapan sedingin es dan naluri seorang pemangsa. Cristo, si bungsu, mampu membaca manusia semudah membaca buku. Mereka rupawan. Mereka jenius. Dan mereka adalah salinan sempurna pria yang paling ingin Victoria lupakan.
Namun sebuah mobil hitam kembali muncul di ujung jalan.
Dante Moretti tak pernah berhenti mencari. Dan ketika ia akhirnya menemukan bukan hanya istri yang meninggalkannya, tapi dua pewaris darah dagingnya yang tak pernah ia tahu ada—dunia yang sudah susah payah dibangun Victoria runtuh dalam semalam. Ia diseret kembali ke istana kaca penuh bayangan, ke dalam perang antara cinta dan kuasa, antara seorang ibu yang bersumpah melindungi anak-anaknya dari kegelapan, dan seorang ayah yang bertekad merebut kembali segala yang menjadi miliknya.
Tapi musuh sesungguhnya bukan hanya di antara mereka berdua. Ada rahasia keluarga yang lebih kelam dari yang Dante kira, pengkhianat di balik setiap pintu, dan sepasang bocah kembar yang—tanpa disadari siapa pun—mulai menyusun langkah mereka sendiri di papan catur para raja.
Antara peluru dan gairah, dendam dan penebusan, satu pertanyaan tersisa: bisakah cinta yang lahir dari kegelapan akhirnya memutus lingkaran itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lobelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Udara di San Vicente terasa berat, sarat listrik statis yang sepertinya hanya dirasakan Victoria. Bagi warga lain, itu sekadar sore Selasa biasa; bagi Victoria, itu awal dari akhir segalanya.
Sementara ia melipat mekanis salah satu kaus katun León, Victoria berhenti mendadak. Jemarinya terbenam ke dalam kain yang sudah usang. Tengkuknya meremang, sensasi menusuk berupa sepasang mata yang terpaku pada punggungnya—mata yang tak ia lihat, tapi ia kenali dengan ketepatan yang mengerikan. Itu tatapan yang ia kenal betul: berat, posesif, tatapan yang tak meminta izin, melainkan menuntut kepemilikan.
Ia meletakkan pakaian itu di ranjang lalu mendekati jendela dapur, menyembunyikan diri di balik bingkai kayunya. Jalanan lengang, kecuali anjing tua milik tetangga yang tertidur di bawah teras. Namun, di ujung jalan, tempat aspal bertemu jalan tanah yang menuju dermaga, berkilau pantulan logam sebuah kendaraan yang tak selaras dengan pemandangan sekitar. Sedan gelap, dengan kaca sehitam yang seolah menyerap sinar matahari.
"Dia sudah di sini," bisiknya, dan suaranya sendiri terdengar seperti derak kaca yang retak.
Kepanikan, musuh lama yang berhasil ia tahan selama enam puluh bulan, meluap seperti sungai selepas badai. Ia tak membuang waktu untuk menangis; ketakutan seorang ibu tak menyisakan ruang bagi air mata, hanya bagi tindakan. Victoria menarik keluar sebuah koper kanvas tua dari kolong ranjangnya. Gerakannya kalut tapi cermat. Ia menjejalkan paspor-paspor palsu yang menghabiskan tabungan dua tahunnya, sepasang pakaian ganti untuk anak-anak, dan sedikit uang tunai yang ia simpan di dalam toples tepung.
Setiap benda yang ia lempar ke dalam koper memicu satu kenangan, satu serpih kehidupan yang ia kira telah ia tinggalkan. Tiba-tiba, aroma pelembut pakaian berganti menjadi bau anyir darah dan wangi melati yang dulu memenuhi taman kediaman Moretti pada malam ia melarikan diri.
Kilas Balik — Lima Tahun Lalu
Hujan turun dengan kekerasan tropis di atas properti keluarga Moretti di Long Island. Victoria, dengan kandungan yang baru berusia delapan minggu dan wajah sepucat mayat, berlari menyusuri koridor-koridor marmer. Kaki telanjangnya tak bersuara, tapi napasnya yang tersengal bergema dalam kesunyian rumah besar itu.
Beberapa menit sebelumnya, ia bersembunyi di balik pintu ruang kerja Dante. Ia datang untuk mencarinya, untuk menyampaikan kabar, untuk memberitahunya bahwa pewaris yang begitu ia dambakan sudah tumbuh dalam rahimnya. Tapi ia berhenti begitu mendengar suara suaminya. Itu bukan suara lembut yang ia gunakan saat menciumnya kala bangun tidur; itu suara sang Capo.
"Aku tak mau ada yang selamat, Marco," ucap Dante, dengan kedinginan yang membuat Victoria mundur teratur. "Keluarga Victoria terlalu lama menjadi jembatan. Kalau mereka tak mampu mengendalikan utang-utang mereka, mereka tak berguna bagiku. Habisi mereka semua malam ini. Buat seolah itu perhitungan dari pihak luar."
Victoria menutup mulutnya agar tak menjerit. Kedua orang tuanya, paman-pamannya… orang-orang yang disebut Dante "keluarga" pada makan malam hari Minggu itu tengah divonis mati oleh pria yang ia cintai. Pada saat itu, penutup mata terlepas dari matanya. Ia bukan menikahi seorang pengusaha dengan metode yang meragukan; ia menikahi seorang monster yang tak bisa membedakan cinta dari kuasa.
Malam itu, di bawah badai, Victoria tak membawa perhiasan atau gaun. Ia hanya mengambil kunci salah satu mobil dinas lalu kabur ke dalam kegelapan, jantungnya menghantam-hantam tulang rusuknya dan tangannya melindungi perutnya yang masih rata. Aku tak akan membiarkan anak-anakku menghirup udara mati ini, sumpahnya dalam hati sambil menatap lewat kaca spion bagaimana cahaya rumah besar itu memudar perlahan.
Masa kini menghempaskannya kembali ketika ia mendengar teriakan León dari teras.
"Mama! Lihat mobil itu! Sama seperti yang di foto!"
Victoria menutup koper dengan sekali sentak. Tangannya begitu gemetar sampai ia nyaris tak mampu menarik ritsletingnya. Ia mengintip ke pintu depan. León berdiri di halaman depan, bahunya tegak, dagunya terangkat, mengamati sedan hitam yang kini merayap perlahan menyusuri jalan. Cristo berdiri di sisinya, lebih kecil, mencengkeram ujung baju kakaknya.
"Masuk sekarang juga!" perintah Victoria, dengan urgensi yang membuat kedua bocah itu terlonjak.
"Tapi Mama, aku cuma mau lihat…" León memulai.
"Sudah Mama bilang sekarang!" Victoria mencengkeram lengan mereka dan menyeret mereka ke dalam rumah, mengunci pintu dengan tiga putaran kunci. Jantungnya berdegup begitu keras sampai ia merasa jantung itu akan melompat keluar dari mulutnya.
"Apa itu pria jahat?" tanya Cristo, matanya berkaca-kaca. Nalurinya, yang selalu lebih tajam daripada anak-anak seusianya, menangkap teror murni yang memancar dari sang ibu.
Victoria berlutut di hadapan mereka, mencoba mengatur napas. Ia menggenggam tangan mereka, merasakan kehangatan kepolosan mereka menempel pada kulitnya yang dingin.
"Dengarkan Mama baik-baik," katanya sambil merendahkan suara. "Kita akan main sebuah permainan. Namanya 'Perjalanan Rahasia'. Kita akan keluar lewat pintu belakang dan tak boleh bersuara sedikit pun. Mengerti? Kalau ada yang menghentikan kita, kalian jangan bilang apa-apa. Cukup lihat Mama saja."
León menatapnya lekat-lekat. Tatapan sedingin esnya tak menyisakan jejak ketakutan, melainkan secercah pemahaman yang mengisi hati Victoria dengan campuran kebanggaan dan kengerian. Ia tahu. Di usianya yang lima tahun, si kecil Moretti tahu bahwa perang telah tiba di ambang pintunya.
"Aku akan melindungi kalian, Mama," kata León, mengepalkan tinju kecilnya. "Aku tak akan membiarkan mereka membawa kita."
Victoria memeluknya erat, membenamkan wajah di leher anak itu. Tuhan, kumohon, jangan biarkan dia jadi semakin mirip dengannya, mohonnya dalam diam.
Ia menyampirkan koper di bahu dan menuntun anak-anak ke dapur. Dari sana, ada pintu keluar yang mengarah ke hutan di pinggir desa. Itu satu-satunya kesempatan mereka untuk mencapai terminal bus sebelum Dante menutup seluruh perimeter.
Tapi begitu membuka pintu belakang, Victoria berhenti mendadak.
Aroma pohon pinus dan garam laut disela oleh sesuatu yang tak pada tempatnya. Aroma yang seketika membawanya kembali ke kamar lamanya di rumah besar itu: wangi cerutu merek eksklusif dan cologne kayu yang mewah.
Tak ada siapa-siapa yang tampak, tapi jejaknya ada di sana. Dante Moretti bukan sekadar menemukannya; ia sedang menandai wilayah. Ia sedang mempermainkannya, membiarkannya percaya bahwa ia punya kesempatan untuk kabur, hanya demi menikmati saat jaring itu mengatup sempurna.
"Lari," bisik Victoria pada anak-anaknya, mendorong mereka ke arah semak belukar. "Jangan menoleh. Lari."
Sementara mereka menerobos masuk ke kelebatan hutan, Victoria merasa hutan itu sendiri punya telinga. Ia tahu setiap langkah yang ia ambil dipantau oleh orang-orang yang tak bisa ia lihat.
Dante selalu menjadi pemburu yang sabar. Ia tak ingin menangkapnya di tengah jalan; ia ingin perempuan itu menyadari bahwa, sejauh apa pun ia berlari, seluruh dunia adalah sangkarnya.
Victoria dan anak-anaknya tiba di tepi hutan, memandang jalan raya utama di kejauhan, tepat ketika lampu beberapa kendaraan hitam mulai menyala dalam sinkronisasi yang sempurna, memblokade seluruh jalan keluar desa. Jebakan telah siap. Sang raja kaca telah datang untuk merebut mahkotanya.