Kecelakaan tragis merenggut orang tua Hana, menyisakan utang menumpuk yang mengandaskan mimpinya.
Demi bertahan hidup, ia rela menjadi office girl tak terlihat di Adhitama Group.
Namun, satu malam kelam merobek takdirnya. Akibat sabotase racun pemicu gairah, Alvaro Adhitama, CEO dingin dan berkuasa kehilangan kendali dan merenggut kesucian Hana secara biadab.
Didera rasa bersalah, Alvaro menuntut pernikahan. Sadar akan jurang kasta di antara mereka, Hana memilih kabur meninggalkan ibu kota.
Sayang, kekuasaan Alvaro sanggup mencegat pelariannya. Ditekan dominasi mutlak sang CEO, Hana akhirnya pasrah diseret kembali dan tanpa menyadari ada benih baru yang mulai tumbuh di rahimnya.
Bagaimana Kelanjutannya???? Ada yang penasaran??
JANGAN LUPA KEPOIN CERITANYA YAAAA!!!
Follow IG @LALA_SYALALA13
SUBSCRIBE YT @NOVELLALAAA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dominasi Mutlak
Sebelum Hana sempat berbalik, gerakan Alvaro terjadi begitu cepat, presisi, dan tak terelakkan. Pria itu meloncat berdiri menggunakan sisa tenaga terakhir yang digerakkan oleh racun pemicu insting liar di dalam darahnya. Dalam satu kedipan mata, tangan kekar Alvaro mencengkeram pergelangan tangan Hana.
Pegangan itu sangat keras, seperti borgol besi yang dingin.
"Aah!" Hana menjerit pelan saat tubuhnya ditarik paksa. Kain pel yang dipegangnya terlepas, jatuh menghantam lantai dengan bunyi yang cukup keras.
Klak.
Hana terhuyung maju dan jatuh berlutut tepat di hadapan pria itu. Aroma asing langsung menyergap indra penciumannya yaitu bau minyak kayu cendana yang mahal, aroma alkohol yang tajam, keringat panas, dan aura bahaya yang murni.
Alvaro menunduk, menatap wajah Hana yang pucat ketakutan di bawah temaram cahaya kilatan badai. Akal sehat pria itu sudah lumpuh sepenuhnya, digantikan oleh halusinasi ketidakpercayaan dan dorongan biologis murni yang membakar setiap inci sarafnya.
Bagi pikiran Alvaro yang teracuni, wanita seragam abu-abu yang berdiri di hadapannya malam-malam begini bukanlah seorang pekerja kebersihan yang tak sengaja lewat melainkan hadiah, atau jebakan lanjutan yang dikirim musuhnya untuk menuntaskan permainan.
"Siapa yang mengirimmu?" bisik Alvaro di dekat telinga Hana. Napasnya panas membakar kulit leher gadis itu, membuat bulu kuduk Hana berdiri tegang.
"Berapa mereka membayarmu untuk masuk ke sini malam ini?" tanya Alvaro begitu merendahkan Hana.
"Pak... tolong, saya Hana... saya office girl yang bertugas di lantai ini..." suara Hana pecah, air mata ketakutan mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Bohong!" potong Alvaro tajam.
Tangan kiri Alvaro naik, mencengkeram kedua pergelangan tangan Hana dan menguncinya ke atas kepala gadis itu dengan satu genggaman yang tak tergoyahkan.
Hana mencoba meronta, mengayunkan kakinya, dan memutar tubuhnya dengan seluruh tenaga kecil yang ia miliki. Namun perbedaan ukuran tubuh dan kekuatan fisik di antara mereka terlalu jauh.
Alvaro adalah pria dewasa bertubuh tegap yang terlatih, sedangkan Hana hanyalah gadis muda yang kelelahan karena kurang tidur dan kurang gizi.
"Lepaskan saya, Pak! Saya mohon... jangan!" jerit Hana. Suaranya yang serak tenggelam oleh suara dentum petir yang menyambar di luar gedung.
Akan tetapi, kata-kata Hana tidak lagi sanggup menembus kesadaran Alvaro yang telah tenggelam sepenuhnya dalam kabut racun pemicu gairah.
Pria itu mendorong Hana hingga punggung gadis itu menghantam sofa kulit hitam yang dingin di sudut ruangan.
Malam itu, di lantai tertinggi gedung pencakar langit yang mengisolasi mereka dari dunia luar, tidak ada kompromi. Tidak ada belas kasihan. Jeritan lirih dan keputusasaan Hana tersapu oleh dinginnya marmer dan guruh badai ibu kota.
Kesucian dan harga diri yang selama ini dijaga Hana dengan pertaruhan keringat dan rasa lelah, direnggut paksa dalam kegelapan yang meninggalkan luka yang tak akan pernah bisa disembuhkan.
Lantai marmer yang dingin dan sofa kulit hitam di sudut ruangan CEO itu menjadi saksi bisu dari malam yang berubah menjadi neraka bagi Hana.
Bau alkohol yang tajam dari wiski yang pecah di lantai bercampur dengan aroma minyak kayu cendana dan bau keringat panas yang memenuhi udara ruangan.
Di luar, hujan deras masih terus menampar dinding kaca raksasa Adhitama Group, tetapi suara badai di luar tak ada apa-apanya dibandingkan dengan badai keganasan yang berkecamuk di dalam ruangan tersebut.
Alvaro tidak lagi bertindak sebagai seorang manusia yang berakal sehat. Racun kimia konsentrasi tinggi yang menjalar di dalam aliran darahnya telah merusak seluruh kendali diri, mengubah pria dingin dan penuh kalkulasi itu menjadi sosok predator yang hanya digerakkan oleh insting liar dan gairah murni yang membakar.
"Pak... tolong, Pak Alvaro! Saya mohon... ini saya, Hana!" jerit Hana dengan suara yang hampir habis, tersengal-sengal di bawah impitan tubuh tegap Alvaro.
Kedua pergelangan tangan Hana terkunci rapat di atas kepalanya, dicengkeram oleh satu tangan kekar Alvaro yang bertato tipis di pergelangan. Cengkeraman itu begitu keras hingga terasa seperti borgol besi yang siap mematahkan tulang-tulang kecilnya.
Hana berusaha memutar tubuhnya, mencakar, dan menendangkan kakinya dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki. Namun, perbedaan ukuran tubuh dan kekuatan fisik di antara mereka terlalu semesta jauhnya.
Hana hanyalah seorang gadis muda kurus yang kelelahan karena kerja keras saban hari, sementara Alvaro adalah pria bertubuh kekar, tinggi, dan terlatih.
Rontaan Hana justru semakin memicu keganasan di dalam diri Alvaro. Dalam ketidaksadarannya yang teracuni, setiap gerakan perlawanan dari Hana dipersepsikan oleh otak Alvaro sebagai ancaman atau godaan dari musuh yang mencoba menjebaknya.
"Diam!" geram Alvaro, suara serak dan berat bergetar tepat di leher Hana. Napasnya yang sangat panas membakar kulit halus gadis itu.
Dengan kasar, Alvaro menindih kedua kaki Hana menggunakan bobot tubuhnya, mematikan seluruh ruang gerak gadis itu seketika.
Tangan bebas Alvaro mencengkeram kain seragam abu-abu murah yang dikenakan Hana. Suara kain katun yang robek terdengar nyaring di tengah remang kegelapan ruangan, menyisakan Hana yang makin tak berdaya dan gemetar hebat di atas sofa.
"Jangan... saya mohon... demi tuhan, jangan, Pak!" Hana menangis histeris.
Air mata ketakutan mengalir deras membasahi pipinya, bercampur dengan keringat dingin yang membasahi keningnya. Rasa takut yang begitu pekat merayapi seluruh badannya.
Ia mencoba menggigit bahu lebar Alvaro ketika wajah pria itu mendekat. Gigi Hana berhasil menembus kain kemeja putih Alvaro, meninggalkan rasa asin darah di lidahnya.
Namun, bukannya melepaskan, rasa sakit itu justru membuat Alvaro menggeram lebih keras. Pria itu menyergap leher Hana, mengunci gerakan kepalanya, dan menekan tubuhnya lebih dalam tanpa belas kasihan sedikit pun.
Malam itu, Alvaro bergerak bagaikan tak kenal lelah, digerakkan oleh racun pemicu gairah yang terus memompa adrenalin dan hormonnya ke titik puncak. Jeritan, isakan, dan rontaan Hana sama sekali tak mampu menembus kabut kegelapan yang menguasai akal sehat Alvaro.
Pria itu terus melampiaskan seluruh dorongan liarnya, berulang kali menyiksa fisik dan jiwa gadis yang tak berdaya itu tanpa peduli betapa Hana menjerit kesakitan dan memohon ampuh agar perbuatan kejam itu dihentikan.
Setiap kali Hana mencoba mengumpulkan sisa tenaganya untuk mendorong dada Alvaro, pria itu akan mencengkeram jemari Hana, menekannya ke sofa, dan melipatgandakan tekanannya.
Tidak ada kelembutan, tidak ada kesadaran, yang ada hanyalah dominasi mutlak dan keputusasaan yang meremukkan.
Hana merasa jiwanya perlahan-lahan tercabut dari raga. Pandangannya mulai kabur diselimuti air mata dan rasa pusing yang luar biasa.
Suara badai di luar, suara mesin pendingin ruangan, dan erangan bernapas berat dari Alvaro perlahan menyatu menjadi satu deru bising yang menyiksa pendengarannya.
.
.
Cerita Belum Selesai.....