Indonesia
NovelToon NovelToon
Pengawal Spiritual: Penakluk Loka Gaib

Pengawal Spiritual: Penakluk Loka Gaib

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Epik Petualangan / Penyeberangan Dunia Lain / Fantasi Isekai
Popularitas:134
Nilai: 5
Nama Author: PLEMIK

Galih, seorang remaja SMA 17 tahun yang lugu dan penyendiri karena dianggap aneh memiliki kemampuan indigo, mendadak tersedot ke dalam lubang hitam misterius di tengah kelas bersama teman-temannya. Ia terbangun seorang diri di Hutan Wanasari, sebuah dunia fantasi berlatar era keemasan Majapahit yang dipenuhi ancaman sarang monster dimensi lain (Loka Gaib). Diselamatkan oleh Ki Wira, seorang pendekar sepuh, dan dibawa ke rumah panggungnya, Galih bertemu dengan Sekar, cucu angkat Ki Wira yang cantik, tegas, dan lincah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PLEMIK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Persiapan Tiga Pemburu

Secangkir teh hangat mengepul di atas meja kayu rendah, aromanya bercampur dengan wangi kayu segar dari perabotan baru yang menghiasi ruang tamu rumah sewa Larasati. Meski baru ditempati beberapa hari, ruangan itu sudah terlihat rapi dan hangat, dihiasi beberapa hiasan sederhana khas sentuhan seorang gadis yang terbiasa hidup teratur.

Galih, Sekar, dan Larasati duduk melingkar di atas tikar anyaman, mengelilingi meja kecil berisi tiga cangkir teh dan sepiring kue kering sederhana. Ini adalah pertemuan resmi pertama mereka bertiga sebagai kelompok lengkap, sebuah suasana yang terasa jauh berbeda dari kekacauan pertempuran yang mempertemukan mereka beberapa hari lalu. Rak kayu kecil di sudut ruangan sudah tertata rapi dengan beberapa buku mantra dan botol ramuan, tanda bahwa Larasati sudah mulai menetap sepenuhnya di rumah barunya.

"Sebelum kita mulai strategi," kata Sekar, meletakkan cangkirnya perlahan, "aku masih penasaran satu hal, Larasati. Kau bilang kau merasakan sesuatu yang aneh dari Galih sebelum semua ini terjadi. Maksudnya apa sebenarnya?"

Larasati terdiam sejenak, jarinya memutar tepi cangkirnya sendiri, seolah mencari kata yang tepat untuk menjelaskan sesuatu yang bahkan bagi dirinya sendiri masih sulit dipahami sepenuhnya.

"Sejak pertama kali melihat Galih di pasar," mulainya pelan, "aku merasakan energi yang benar-benar asing. Bukan energi jahat, bukan pula energi biasa seperti yang dimiliki manusia pada umumnya. Rasanya seperti... melihat sesuatu yang belum sepenuhnya terbentuk, tapi menyimpan potensi luar biasa besar. Aku sampai tidak bisa tidur nyenyak beberapa malam memikirkannya."

Galih mengerjap, sedikit canggung menjadi pusat perhatian pembicaraan itu. "Aku sendiri tidak tahu apa-apa soal itu."

"Makanya aku penasaran," lanjut Larasati, matanya berbinar antusias. "Malam itu, ketika kau membantai seluruh Bayangkara sendirian, aku menyaksikan sesuatu yang bahkan tidak pernah kubaca di buku-buku sihir mana pun. Aku ingin melihat lebih dekat, memahami kekuatan macam apa yang kau miliki, Galih."

Sekar mengangguk setuju, meski wajahnya tetap menunjukkan sedikit kekhawatiran. "Aku juga penasaran. Tapi yang lebih penting sekarang, kita harus mulai membangun kerja sama tim yang solid. Kekuatan individu saja tidak cukup kalau kita tidak bisa bergerak sinkron di lapangan."

Mereka mulai membahas pembagian peran dasar, Sekar sebagai petarung jarak dekat dengan parangnya, Larasati sebagai pendukung sihir jarak jauh, dan Galih yang posisinya masih belum sepenuhnya jelas mengingat kekuatannya yang tidak terduga dan tidak bisa dikendalikan sesuka hati.

Namun begitu mereka mencoba menyusun formasi sederhana di atas kertas, menggambar posisi masing-masing dengan ranting kecil di atas tanah, koordinasi mereka terasa kaku dan janggal. Gaya bertarung Sekar yang mengandalkan kecepatan dan jarak dekat sama sekali berbeda dengan gaya Larasati yang membutuhkan jarak aman untuk merapal mantra, membuat kedua gadis itu sering berdebat kecil soal siapa yang harus bergerak lebih dulu dalam skenario pertarungan. Bahkan istilah yang mereka gunakan pun berbeda, Sekar terbiasa dengan bahasa pertarungan fisik sementara Larasati lebih akrab dengan terminologi mantra dan durasi cooldown sihir.

"Kalau aku maju duluan, kau tidak akan sempat memberi buff," protes Sekar, menunjuk sketsa formasi yang baru saja mereka gambar di atas tanah dengan ujung ranting.

"Tapi kalau kau menunggu buff dulu, monsternya keburu menyerang lebih dulu," balas Larasati, tidak mau kalah, ikut menunjuk sketsa yang sama dengan ujung jarinya sendiri.

Galih hanya bisa duduk diam mendengarkan perdebatan kecil itu, merasa dirinya tidak punya cukup pengalaman untuk ikut memberikan pendapat berarti.

Akhirnya mereka memutuskan pindah ke halaman belakang rumah Larasati yang cukup luas, mencoba mempraktikkan langsung formasi yang selama ini hanya ada di atas kertas. Sekar mengambil posisi paling depan dengan parang kayu latihan, Larasati berdiri agak jauh di belakang dengan tongkat sihirnya, sementara Galih ditempatkan di posisi tengah, berfungsi sebagai penghubung sekaligus penjaga garis pertahanan jika salah satu dari mereka terdesak oleh serangan mendadak.

"Coba sekarang," instruksi Sekar, mengambil kuda-kuda menghadap musuh imajiner di depannya.

Larasati mengangkat tongkatnya, melepaskan pancaran cahaya kecil sebagai simulasi buff, sementara Sekar melangkah maju melancarkan serangkaian tebasan pada target latihan kayu yang sudah lama menjadi saksi bisu latihan mereka.

Gerakan mereka masih terasa terputus-putus, tidak sinkron, sering kali Larasati melepaskan buff terlalu cepat atau terlalu lambat, membuat Sekar harus menyesuaikan ritme serangannya berkali-kali. Sesekali cahaya buff dari Larasati mengenai Sekar tepat saat gadis itu sedang melompat mundur, membuat momentum serangannya justru buyar alih-alih menguat. Galih di tengah berusaha membaca situasi, mencoba menempatkan diri di titik yang tepat, namun lebih sering terlihat bingung harus bergerak ke mana.

"Maaf, aku masih belum terbiasa," ujar Galih, menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal, merasa dirinya jauh tertinggal dibandingkan kedua gadis yang sudah terbiasa bertarung sejak lama. Perasaan minder kembali menyeruak, mengingatkannya betapa lemahnya fisik dan pengalamannya dibandingkan Sekar yang sudah terlatih bertahun-tahun, atau Larasati yang menguasai sihir sejak kecil. Ia menunduk sedikit, tidak berani menatap langsung kedua rekan setimnya.

"Tidak apa-apa," Sekar menghela napas, namun nadanya tidak terdengar kesal, lebih ke arah maklum. "Kita semua masih belajar. Bahkan aku dan Larasati juga baru pertama kali latihan bersama. Butuh waktu untuk saling menyesuaikan."

Larasati mengangguk setuju, tersenyum menenangkan ke arah Galih. "Justru ini yang membuatnya menarik. Kita membangun sesuatu dari nol, bukan mewarisi sistem yang sudah jadi seperti di Naga Selatan. Itu jauh lebih berarti."

Mereka melanjutkan latihan hingga matahari mulai condong ke barat, mencoba berbagai kombinasi formasi, gagal berkali-kali namun perlahan mulai menemukan ritme yang lebih baik meski masih jauh dari sempurna. Setiap kesalahan mereka diskusikan bersama, setiap keberhasilan kecil dirayakan dengan tawa singkat yang mencairkan ketegangan latihan. Peluh membasahi pakaian ketiganya, namun suasana yang terbangun jauh lebih ringan dibandingkan latihan-latihan berat yang biasa dijalani Galih dan Sekar berdua saja.

Menjelang senja, ketika mereka akhirnya memutuskan mengakhiri sesi latihan hari itu, Larasati duduk di anak tangga beranda rumahnya, memandangi Sekar dan Galih yang masih membahas evaluasi kecil formasi mereka dengan antusias.

Senyuman puas terukir di wajahnya, sebuah kepuasan yang jauh melampaui sekadar hasil latihan hari itu. Keputusannya meninggalkan Naga Selatan, keputusan yang sempat membuat banyak orang meragukannya, kini terasa begitu tepat setiap kali ia menyaksikan kejujuran dan kerja keras yang ditunjukkan kedua rekan barunya, sesuatu yang tidak pernah ia temukan sepanjang waktu bergabung dengan kelompok besar yang penuh gengsi itu. Ia menyeka peluh di dahinya sambil memandangi langit senja yang mulai berubah warna, merasa untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama benar-benar berada di tempat yang tepat.

1
quancyberx studio
untuk novel nya lumayan dan perlu peningkatan dari segi kata paragraf dan lain nya
quancyberx studio
semangat ya
PLEMIK: Kamu juga semangat
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!