"Aku tidak butuh pernikahan. Tak ada satupun wanita yang bisa menggantikan posisi cinta pertamaku.”
Di usianya yang sudah matang, Arsen Winston, pewaris tunggal Winston Group berada di puncak kejayaan. Namun, tekanan keluarga menuntutnya untuk segera berumah tangga. Menolak menyerah pada pendirian sang putra, Adrian, sang ayah, merancang rencana gila dengan menyewa seorang wanita malam demi mendapatkan keturunan.
Namun, sebuah kesalahan fatal terjadi. Wanita yang menghabiskan malam dengan Arsen bukanlah wanita sewaan sang ayah, melainkan seorang gadis misterius yang menghilang tanpa jejak.
Lima tahun berlalu…
Di atas kapal pesiar mewah, sebuah insiden mengerikan hampir merenggut nyawa seorang bocah perempuan. Arsen bertindak cepat untuk menyelamatkannya. Namun, saat tatapan mereka bertemu, jantung Arsen seolah berhenti berdetak.
Anak menggemaskan itu memiliki garis wajah yang sangat identik dengannya, bahkan punya alergi sepertinya.
“Hai bocah, kamu tidak suka kacang?”
“Ndak cuka, bikin gatal-gatal badan Lupia. Paman Endut ndak cuka kacang juga?”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bersedia
BRAK!
BRAK!
BRAK!
Hanya tiga kali hantaman, pintu rumah Bram terbanting keras menghantam dinding. Para anak buah Arsen menyerbu masuk didampingi asisten Mateo.
Namun, rumah tampak kosong. Hanya ada piring kotor menumpuk di wastafel dan bau menyengat dari panci berisi nasi yang tampak gosong.
“Mateo,” panggil Arsen, berdiri tegap di ambang dapur.
Mateo lekas berbalik, lalu melaporkan pada sang CEO. “Sepertinya mereka baru saja meninggalkan tempat ini, Bos.”
“Sial, lagi-lagi lolos! Menyebalkan!”
Arsen melayangkan tinju ke dinding di sebelah kepalanya, membuat para anak buahnya yang berbaris di belakang sontak menunduk ketakutan.
“Apa kita perlu menunggu di sini saja, Bos?” tanya Mateo hati-hati.
“Tidak usah! Lanjutkan pencarian. Kerahkan seluruh orang untuk menyisir restoran-restoran di penjuru kota ini,” titah Arsen penuh geram.
“Restoran, Bos?”
“Mateo, perhatikan panci gosong itu! Mereka pasti keluar mencari makan siang,” tunjuk Arsen ke arah kompor.
Mateo mengangkat sebelah alis, perlahan menangkap logika atas argumen Arsen.
“Ah, baiklah. Kita sisir area terdekat sekarang.”
Tak lama berselang, rumah itu kembali sunyi. Arsen bersama pasukannya lekas mencari ke berbagai titik kuliner di kota.
Dugaan Arsen tidak meleset. Adara kini berada di sebuah restoran kecil bersama kedua buah hatinya. Adrian turut mendampingi guna mengawasi dua bocah itu, sementara Bram sudah pergi bertugas. Misi mendadak dari organisasinya. Ia harap Adara mampu menghadapi sang calon mertuanya sendiri.
“Makanlah yang benar, Adara. Jangan dipikirkan,” ujar Adrian tegas, memecah keheningan di meja makan.
Di sisi lain, Adara merasa canggung. Adrian sudah terlanjur melihat bukti nyata ketidakmampuannya di dapur, nasi gosong tadi adalah saksi bisu betapa ia payah dalam urusan memasak.
“Maaf... saya memang tidak becus urusan dapur,” gumam Adara lirih.
Adrian sama sekali tidak mempersoalkan hal itu. “Tenang saja, di rumah sudah ada Bibi Jum yang mengurus semuanya,” balas Adrian santai.
Toh, jika Adara bersedia mendampingi Arsen, tugasnya hanya tinggal merawat cucu-cucunya. Urusan Arsen? Putra tunggalnya itu sudah cukup besar untuk mengurus dirinya sendiri.
Ehemmm!
Adrian berdehem karena Adara tak kunjung menyentuh makanannya. Suasana itu berbeda dengan Lucky yang makan dengan lahap persis Luvia, sementara Lucian tampak berhati-hati dan anggun selayaknya Elena.
“Bagaimana, Adara? Keputusan ada di tanganmu,” ucap Adrian sekali lagi memastikan apakah Adara mau menikahi Arsen. Jika iya, ia bisa langsung ikut pulang ke rumahnya demi bisa berkumpul kembali dengan Luvia.
Tanpa diduga, Lucky menyahut antusias, menyatakan ingin ikut bersama sang Kakek meski berbicara dengan pipi yang masih menggembung penuh kentang goreng.
“Lucky ikut, Kakek!”
Lucian turut mengangguk, memberikan persetujuan serupa. “Aku juga ikut, demi Luvia.”
Keduanya menoleh pada Adara yang hanya tertunduk dalam diam. Kedua bocah itu lantas menggenggam jemari sang ibu dan membujuknya agar mau pindah demi kebaikan Luvia.
“Ayo, Mommy... pindah ya?” bujuk Lucian lembut dengan senyuman manisnya.
Adara tersenyum getir, lalu berbisik.
“Kalian tidak takut pada Ayah kalian?”
Lucky dan Lucian kompak menggeleng. “Daddy gendut, tapi dia masih bisa kurus, Mommy. Tinggal kasih obat cacing sepuluh tablet saja!” celetuk Lucky tanpa beban.
Byurssss! Uhuk! Uhukkkk!
Adrian tersedak dan menyemburkan minumannya mendengar saran nyeleneh dari sang cucu. Arsen hanya kelebihan berat badan, bukan cacingan!
Rasanya Adrian ingin menjitak kepala Lucky yang suka bicara ceplas-ceplos tanpa berpikir panjang itu. Namun, rasa gemas itu mengalahkan kekesalannya.
Pada akhirnya, Adara terpaksa mengangguk setuju untuk pindah dengan satu syarat mutlak. Ia menolak berbagi kamar dengan Arsen.
“Aku mau menjadi istrinya, tapi... aku tidak mau sekamar dengannya,” ucap Adara tegas.
“Kenapa, Mommy?” tanya Lucian dengan nada datar.
Lucky menimpali cepat, “Mommy pasti takut dihimpit badan raksasa Daddy!”
Wajah Adara merona merah padam, buru-buru membekap mulut Lucky yang semakin melantur.
“Sstt, Lucky, diam!” bisik Adara panik.
Sementara itu, Adrian tertawa lepas. Apa yang dikatakan cucunya tadi memang masuk akal, mengingat postur tubuh Arsen kini jauh berbeda.
“Mommy tenang saja, nanti kita bantu Daddy diet sampai langsing lagi! ujar Lucky penuh keyakinan.
Adara hanya bisa tertawa pasrah mengikuti arus keinginan anak-anaknya.
“Iya, terserah kalian saja,” cicit Adara. Di sisi lain, Adrian bernapas lega, lantas mengajak mereka semua kembali ke kediaman utama keluarga Winston.
“Mommy, ayo cepat! Lucky tidak sabar main sama Luvia,” seru Lucky masuk ke dalam taksi, disusul Adrian dan Lucian.
“Iya, iya! Sabar!” pekik Adara bergegas masuk dan tanpa ia ketahui di seberang jalan seseorang terkejut saat melihatnya.
“Itu kan Kak Ipar… eh maksudku.. Adara! Siapa laki-laki yang barusan bersama dia? Apa suami barunya?”
Itu adalah Edwin, adik Erlangga yang kebetulan lewat di sana. Edwin sudah tahu mantan istri Kakaknya belum meninggal.
“Wah, aku harus lapor ke Kak Erlangga! Perempuan itu ternyata ada di kota ini!”
BRUMMM…!
___
Adara tiba di kediaman Winston pada saat matahari mulai condong ke arah barat. Hamparan bunga yang indah serta embusan angin sepoi-sepoi meredakan ketegangan di dadanya.
Adara turun dari mobil bersama Adrian dan kedua putranya. Ia terus jalan mengekor di belakang pria tua itu yang memimpin jalan menuju pintu utama.
Huft… semoga saja Nyonya besar tidak membenci anak-anakku.
Walaupun Adara mendapat perlindungan dari Adrian, tetap saja ia khawatir Elena akan mengusir mereka.
ntah lah, padahal cerita nya sgttt bagus dan kami para pembaca sgttt menikmati dan slalu menunggu update yg byk,,, semoga lancar yea thourr 👍👍👍💪💪💪💪🥰🥰🥰🥰🥰