Indonesia
NovelToon NovelToon
Syarat Dan Ketentuan Berlaku

Syarat Dan Ketentuan Berlaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:465
Nilai: 5
Nama Author: Lady Airen

Gwen Aditya cuma butuh kerja keras dan logika buat sukses. Urusan siapa yang naksir? Itu di luar spreadsheet-nya.

Sialnya, atasannya sendiri gak masuk kalkulasi.

Madoc Rhydian Kane—CEO Kane Group yang bikin ruang rapat sunyi—gak pernah nyangka bisa jatuh gara-gara satu manajer operasional yang rapi, blak-blakan, dan sama sekali gak keder dihadapannya.

Madoc jatuh duluan. Jatuh lebih dalam. Sementara Gwen bahkan gak sadar sedang diperhatikan, sampai seluruh kantor tahu lebih dulu.

Di antara laporan kuartalan, kopi yang selalu "kebetulan" ada di meja, dan satu papan catur, mereka belajar bahwa dua orang paling kompeten pun bisa gagap soal cinta.

Bukan sekadar "aku terima kamu", tapi tentang terus memilih satu sama lain—bahkan setelah semua syarat dan ketentuan terpenuhi.

📌 Workplace romance | Slow burn | Oblivious female lead | CEO x Manager

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Airen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gaun Hijau Tua

Ballroom hotel itu sudah penuh dengan tamu jam tujuh malam, lampu kristal di langit-langit memantulkan cahaya keemasan ke seluruh ruangan, dan Madoc berdiri di dekat panggung utama, menyapa tamu satu per satu dengan senyum profesional yang sudah dia latih bertahun-tahun.

Dia baru saja melepaskan jabatan tangan dengan salah satu investor asing ketika matanya, tanpa sengaja, tertarik ke arah pintu masuk—dan seketika itu juga, kalimat yang sedang dia siapkan untuk investor berikutnya menguap begitu saja dari kepalanya.

Gwen berdiri di ambang pintu, mengenakan gaun hijau tua panjang yang jatuh sederhana tapi elegan, rambutnya yang biasa diikat sekarang dibiarkan tergerai sebagian, disematkan sedikit jepit di satu sisi. Tidak ada yang berlebihan dari penampilannya—tidak ada perhiasan mencolok, tidak ada riasan tebal—tapi entah kenapa, dia terlihat sangat berbeda dari versi Gwen yang biasa dia lihat di balik meja kerja dengan blazer netral dan kacamata baca yang sering lupa dilepas.

"Pak Kane?"

Suara investor di depannya memanggil, dan Madoc tersentak, sadar dia sudah diam terlalu lama menatap ke arah yang salah.

"Maaf," katanya, cepat, mencoba mengumpulkan kembali fokusnya. "Tadi Bapak bilang soal ekspansi ke pasar Asia Tenggara?"

Dia melanjutkan percakapan dengan investor itu, tapi separuh perhatiannya masih tertinggal di pintu masuk, mencuri pandang sesekali ke arah Gwen yang sekarang sudah masuk ke ruangan, berjalan menuju meja registrasi untuk memastikan semua berjalan sesuai rencana.

---

Elias, yang berdiri beberapa meter dari Madoc dengan tablet di tangan untuk mengoordinasikan jalannya acara, menyaksikan seluruh kejadian itu dengan mata yang tidak berkedip.

Dia sudah melihat banyak hal aneh dari bosnya sepanjang beberapa bulan terakhir, tapi yang barusan terjadi—jeda percakapan yang cukup lama sampai investor asing itu harus memanggil namanya dua kali—adalah level baru yang belum pernah dia saksikan sebelumnya.

Dia mendekat perlahan, berpura-pura mengecek sesuatu di tabletnya, sambil memperhatikan Madoc dari sudut mata.

"Pak," bisiknya, begitu investor tadi sudah pergi menjauh, "Bapak tadi kenapa?"

"Gak apa-apa," kata Madoc, cepat, terlalu cepat.

"Bapak diem lama banget tadi. Investor sampe manggil dua kali."

"Lagi mikir jawaban aja."

Elias mengikuti arah pandangan Madoc yang, sekali lagi, tanpa sadar sudah kembali tertuju ke arah meja registrasi tempat Gwen berdiri, berbicara dengan salah satu vendor katering soal penataan meja makan.

"Oh," kata Elias, menahan senyum. "Itu yang Bapak pikirin."

Madoc menoleh cepat, wajahnya sedikit memerah. "Bukan."

"Pak, Bapak baru aja lupa jawab pertanyaan investor gede karena natap ke arah situ."

"Saya cuma mastiin acara berjalan lancar."

"Dari jarak dua puluh meter sambil ngelupain percakapan bisnis penting?"

Madoc tidak menjawab, memilih untuk mengambil segelas champagne dari nampan pelayan yang lewat, seolah tindakan itu bisa mengalihkan topik pembicaraan. Elias tersenyum kecil, memutuskan untuk tidak mendorong lebih jauh—dia sudah cukup puas dengan bukti yang baru saja dia saksikan langsung dengan mata kepalanya sendiri.

---

Gwen sendiri sepenuhnya tidak menyadari kekacauan kecil yang barusan terjadi di seberang ruangan, terlalu fokus dengan tanggung jawabnya sebagai bagian dari tim penyelenggara.

"Meja delapan belum lengkap kartu namanya," katanya ke salah satu anggota event organizer, memeriksa daftar tamu di tangannya. "Tolong dicek lagi, ada beberapa VIP yang belum dikonfirmasi tempat duduknya."

Dia berjalan dari satu titik ke titik lain, memastikan setiap detail sesuai rencana—lampu sorot untuk sesi lelang amal, mikrofon yang harus diuji sebelum sambutan pembuka, katering yang harus disajikan tepat waktu sesuai jadwal acara.

Beberapa tamu yang sempat berpapasan dengannya memuji penampilannya malam itu—"Cantik banget, Gwen," kata salah satu kolega dari divisi finance—dan dia menerima pujian itu dengan senyum sopan, tapi tidak menganggapnya lebih dari basa-basi biasa yang wajar terjadi di acara formal semacam ini.

"Makasih," katanya, singkat, sebelum kembali fokus ke daftar tugasnya. "Permisi, saya harus cek meja lelang dulu."

Dia tidak sempat memperhatikan bahwa dari seberang ruangan, ada sepasang mata yang terus mengikuti setiap langkahnya, dengan intensitas yang jauh melampaui sekadar perhatian atasan terhadap kinerja bawahan.

---

Sesi networking berlangsung selama satu jam, dan Madoc, meski berhasil mengontrol dirinya cukup baik untuk melanjutkan percakapan dengan berbagai investor dan mitra bisnis, tetap menemukan dirinya terus mencari alasan untuk berjalan mendekat ke arah Gwen—memeriksa progress acara, katanya pada diri sendiri, meski sebenarnya dia bisa mendapat informasi yang sama lewat radio komunikasi internal yang biasa dipakai tim event.

"Gimana progress lelangnya?" tanyanya, waktu akhirnya berhasil mendekat, mencoba terdengar sekadar peduli soal urusan teknis acara.

Gwen menoleh, sedikit kaget melihat Madoc berdiri di dekatnya—biasanya di acara formal seperti ini, CEO cenderung sibuk dengan tamu-tamu penting, bukan mengecek detail operasional langsung ke panitia.

"Lancar, Pak. Barang lelangnya udah dipajang semua, tinggal nunggu sesi utama dimulai jam sembilan."

"Bagus." Dia berhenti sebentar, mencari topik lain untuk memperpanjang percakapan. "Kamu udah makan?"

"Belum sempat, Pak. Masih banyak yang harus dicek."

"Nanti sempetin makan," katanya, nadanya lebih lembut dari yang dia rencanakan. "Jangan sampe kelaparan pas acara masih panjang."

Gwen tersenyum, menganggap itu perhatian standar seorang atasan terhadap kesejahteraan timnya. "Siap, Pak. Nanti saya sempetin."

Dia melanjutkan langkahnya menuju meja lelang, meninggalkan Madoc yang berdiri sebentar, menatap punggungnya yang menjauh dengan ekspresi yang sulit dibaca—campuran antara kekaguman dan kekecewaan karena percakapan itu, sekali lagi, tidak berhasil melampaui batas formalitas kerja yang biasa mereka jaga.

---

Menjelang tengah malam, ketika sebagian besar tamu sudah mulai pulang dan gala itu perlahan mendekati akhir, Elias menemukan Madoc berdiri sendirian di dekat balkon hotel, memandang keluar ke arah lampu kota yang berkelap-kelip.

"Acaranya sukses, Pak," katanya, mendekat. "Lelangnya dapet donasi lebih dari target."

"Bagus," kata Madoc, tanpa benar-benar menoleh.

"Bapak kenapa? Dari tadi keliatan agak... jauh."

Madoc diam sejenak, menyandarkan kedua tangannya ke pagar balkon. "Elias, lo pernah gak, ngerasa hal sesimpel liat seseorang aja udah cukup buat bikin lo lupa segalanya?"

Elias menahan senyum, mencoba tetap terlihat profesional. "Sering, Pak. Biasanya itu tandanya lagi jatuh cinta."

"Saya gak nanya soal itu."

"Tapi itu jawabannya, Pak."

Madoc menghela napas panjang, tidak membantah kali ini, membiarkan keheningan mengisi ruang di antara mereka sementara suara musik dari dalam ballroom masih samar terdengar sampai ke balkon.

"Dia bahkan gak sadar," katanya akhirnya, pelan, lebih ke diri sendiri daripada ke Elias, "betapa dari tadi saya hampir lupa cara ngomong sama investor cuma gara-gara liat dia jalan masuk ke ruangan."

"Iya, Pak. Saya liat tadi." Elias tidak bisa lagi menahan senyumnya. "Investor sampe manggil dua kali."

"Malu banget."

"Untungnya gak ada yang notice selain saya."

Madoc menoleh, menatapnya dengan ekspresi lelah yang jarang dia tunjukkan. "Ini bahaya, Elias."

"Bahaya kenapa, Pak?"

"Karena kalau segampang ini dia bikin saya kacau cuma dengan jalan masuk ruangan," katanya, suaranya pelan tapi jujur, "saya gak tau lagi berapa lama saya bisa tahan sebelum semua orang di kantor juga notice kayak lo."

Elias tidak menjawab langsung, memilih untuk membiarkan bosnya menikmati keheningan sejenak sebelum harus kembali ke dalam ballroom untuk menutup acara secara resmi. Tapi dalam hati, dia sudah cukup yakin—berdasarkan semua yang dia saksikan malam itu, dan berbulan-bulan sebelumnya—bahwa waktu yang tersisa sebelum seluruh kantor benar-benar sadar sepenuhnya, sudah tidak akan lama lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!