Indonesia
NovelToon NovelToon
The Silhouette Of Class

The Silhouette Of Class

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Dosen
Popularitas:798
Nilai: 5
Nama Author: Midtwilight03

"Di kelas, dia adalah hukum. Di dunia luar, dia adalah takdir."

Ravian menjalani dua kehidupan yang berbeda. Di siang hari ia adalah dosen dingin di kampus dan setelahnya ia adalah CEO kejam Evander Corp.

Batasan yang ia buat runtuh seketika ketika ia tak sengaja jatuh cinta pada pandangan pertama kepada mahasiswinya.

Kini Ravian terjebak di antara aturan etika akademis, profesionalisme perusahaan, dan getaran dada yang tak bisa ia kendalikan.

Sanggupkah Ravian mempertahankan rahasianya saat batas antara ruang kuliah, ruang rapat, dan hatinya makin menipis?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Midtwilight03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 3 Dua Topeng di Hari Yang Sama

Pukul delapan lewat empat puluh lima menit. Ruang 207 Fakultas Ekonomi Universitas Jagatara menyajikan atmosfer yang jauh berbeda dari hiruk-pikuk lorong kampus. Tampak para penghuni ruangan itu sedang duduk di kursinya masing-masing sembari menunggu dosen yang akan mengajar pagi itu. Udara dingin dari pendingin ruangan menyapu seluruh sudut kelas diiringi bisik-bisik tegang puluhan mahasiswa semester akhir yang sibuk membolak-balik halaman buku teks.

Tepat pukul sembilan, pintu kayu ruangan terbuka. Ravian melangkah masuk dengan gestur tegap yang tenang. Hari ini, kemeja putih katun berserat halusnya digulung rapi hingga ke pertengahan lengan bawah, memperlihatkan jam tangan mewah berdesain klasik berstrap kulit cokelat tua. Kacamata berbingkai tipis tetap setia bertengger di hidungnya yang mancung. Penampilannya tampak begitu bersahaja, berbanding terbalik dengan aura intimidatif yang terpancar dari tatapan matanya, memberikan impresi akademisi yang berjarak, tajam, dan tak tersentuh.

Ia meletakkan spidol dan lembar presensi di atas podium kayu tanpa menimbulkan suara berisik.

"Selamat pagi," sapanya pendek. Suaranya datar namun memiliki bobot yang sanggup membungkam seisi ruangan dalam hitungan detik. "Kita lanjutkan pembahasan mengenai blue ocean strategy. Silakan buka bab empat."

Ravian berbalik, meraih spidol yang tadi ia letakkan di atas podium, lalu mulai menuliskan beberapa bagan alur di papan tulis. Setiap garis dan diagram yang dibuatnya begitu presisi.

"Konsep ini bukan sekadar teori mencari pasar baru yang sepi dari pesaing," ujar Ravian dengan suara yang menggelegar tenang namun tajam seraya memutar tubuhnya kembali menghadap mahasiswa. Pandangannya menyapu seluruh barisan bangku secara acak. "Ini tentang rekayasa nilai (value innovation) yang membuat kompetisi menjadi tidak relevan. Pertanyaan saya: bagaimana sebuah entitas skala menengah memanfaatkan agility mereka untuk meruntuhkan pemain lama tanpa terjebak dalam perang harga?"

Beberapa mahasiswa di barisan depan buru-buru menunduk, pura-pura sibuk mencatat agar tidak bertatapan mata dengan sang dosen killer.

Di barisan ketiga dekat jendela, Liora berusaha menutupi wajahnya di balik buku teks tebalnya. Lingkar hitam tipis membingkai bawah matanya akibat insomnia semalam. Pikiran dan logikanya masih terguncang hebat setelah menyadari fakta gila bahwa dosen killer-nya yang menyebalkan di kampus dan CEO pemilik Evander Corp tempatnya magang adalah orang yang sama.

"Miss Arwen."

Liora tersentak kaget. Namanya dipanggil dengan nada suara yang sangat familier di telinganya. Jemarinya yang memegang pensil sempat tergelincir. Ia mendongak dan mendapati Ravian tengah menatap lurus ke arahnya.

"S-saya, Pak?" Liora buru-buru berdiri. Gerakan mendadak itu membuat kacamatanya melorot pelan yang refleks langsung ia benarkan dengan menjepit pangkal gagang kacamatanya menggunakan jempol dan jari telunjuk.

Ravian menopang kedua tangannya di tepi podium. Menatap Liora lurus dari depan podium. Tak ada sisa kehangatan samar, tak ada binar panik saat insiden tumpahan kopi di kantor kemarin pagi. Di sini, pria itu sepenuhnya menggunakan topeng Pak Ravian, sang dosen tanpa kompromi.

"Gunakan analisis studi kasus yang pernah Anda pelajari,” tegas Ravian, tatapannya tak teralihkan. “Bagaimana sebuah perusahaan startup bisa menggeser dominasi pemain lama tanpa perang harga?"

Liora menelan ludah yang terasa kesat di tenggorokannya. Ia tahu persis Ravian sedang mengujinya di depan umum secara sengaja untuk mempertegas batas antara kampus dan kantor. Liora menarik napas panjang, merapikan kacamata dengan telunjuknya, lalu menegakkan bahu dan memperbaiki posisi berdirinya.

"Dengan melakukan diferensiasi produk secara radikal pada core technology dan menguasai supply chain dari hulu ke hilir, Pak," jawab Liora. Suaranya yang awalnya ragu berubah menjadi mantap, tenang dan fokus. "Pemain lama sering kali terjebak dalam bureaucratic inertia dan biaya operasional yang membengkak. Startup atau perusahaan berkembang dapat memanfaatkan kelincahan eksekusi dan integrasi teknologi kepemilikan, seperti yang dilakukan Evander Corp pada masa awal ekspansinya lima tahun lalu."

Suasana kelas mendadak makin hening. Beberapa mahasiswa menoleh ke arah Liora dengan mata membelalak heran sekaligus kagum, sementara Rhea yang berada di sebelahnya dengan cepat menyikut pinggang sahabatnya itu.

Ravian tidak langsung menjawab. Telunjuknya bergerak pelan mengetuk tepi podium. Di balik lensa kacamata tipisnya, matanya berkilat samar mengagumi kecerdasan dan ketajaman analisis mahasiswinya yang tidak mudah tergertak. Namun, raut wajah Ravian tetap datar tanpa ekspresi.

"Jawaban yang cukup runtut, meskipun analisis supply chain-nya masih terlalu generik. Silakan duduk kembali, Miss Arwen," tanggap Ravian dingin.

Liora bernapas lega seraya mendaratkan kembali tubuhnya di kursi kayu. "Dasar Pak Ravian kaku… nggak di kantor, nggak di kampus, tetap aja galak," gumam Liora tanpa didengar oleh siapapun.

“Gila, Ra… muka Pak Ravian langsung kicep pas lu nyebut Evander Corp,” bisik Rhea tepat di samping telinga Liora. “Tapi kok bisa lu hapal banget sejarah ekspansi perusahaan itu?”

Liora hanya menyengir kaku menanggapi pertanyaan Rhea. 'Gimana nggak hapal, orang bos besarnya aja tiap hari ada di depan mata gue,’ Batin Liora menjerit pasrah.

"Tapi jawaban lu keren banget, Ra, sumpah! Lu bahkan bawa-bawa nama Evander Corp," bisik Rhea kagum sambil menaikkan kedua jempolnya di depan dada.

***

Pukul lima sore di Lantai empat puluh dua Evander Corp.

Liora berjalan menyusuri koridor kaca membawa tumpukan dokumen analisis pasar kuartal ketiga. Punggung dan matanya terasa pegal luar biasa setelah seharian membagi fokus antara jadwal kuliah yang padat dan tugas-tugas magang dari Helena. Karena mengejar deadline laporan, ia sampai tidak sempat menyantap makan siangnya.

Tok, tok, tok.

"Masuk," sahut suara berat dari dalam ruangan.

Liora mendorong pintu kayu mahoni ganda. Di balik meja kerjanya, ia mendapati Ravian kembali dalam persona Pak Evander tanpa kacamata dan mengenakan jas charcoal grey bernuansa tajam sedang fokus menatap layar monitor komputer yang menampilkan grafik pergerakan saham.

"Permisi, Pak Evander. Ini berkas analisis pasar yang Bapak minta," ujar Liora pelan seraya meletakkan tumpukan dokumen yang dibawanya di ujung meja mahoni, menjaga jarak aman sesuai instruksi kemarin.

Ravian tidak langsung menyentuh berkas itu. Tatapan matanya berpindah dari monitor ke arah Liora. Ia memperhatikan wajah gadis itu yang tampak lesu, warna bibir yang sedikit memucat, dan lingkar hitam tipis di bawah matanya.

Kruuuk...

Suara halus namun jelas dari perut Liora bergema di dalam ruangan kedap suara itu.

Liora membelalak panik, kedua tangannya dengan cepat menutupi perutnya, rona wajahnya langsung berubah merah padam hingga ke ujung telinganya karena rasa malu luar biasa.

"M-maafkan saya, Pak! Saya... permisi keluar dulu," Liora panik dan buru-buru berbalik arah.

"Diam di tempatmu, Miss Arwen," potong Ravian pendek sebelum Liora sempat menyentuh gagang pintu.

Ravian berdiri dari kuris kulitnya, meraih kotak makan berdesain ukiran elegan berbahan kayu yang terletak di meja konsol samping. Makanan mewah porsi besar dari restoran bintang lima yang baru saja diantarkan pihak eksekutif untuk rapat direksi yang mendadak ditunda.

Ia melangkah mendekati Liora, kemudian meletakkan kotak makan yang dipegangnya tepat di atas tumpukan berkas.

"Bawa ini," ujar Ravian datar seraya menggeser kotak makan tersebut ke arah Liora.

Liora mengeriputkan dahi bingung, menatap kotak kayu itu bergantian dengan wajah atasannya. "Tapi Pak… bukankah itu makan siang Anda?"

"Restoran salah mengantarkan pesanan dan saya tidak suka makanan yang terlalu manis," sahut Ravian berbohong tanpa mengedipkan mata, membuang pandangannya ke arah dinding kaca raksasa. "Daripada terbuang dan menjadi sampah di ruangan saya, lebih baik kamu habiskan di meja kerjamu. Saya tidak butuh asisten yang pingsan karena kelaparan saat menyusun laporan."

Liora menatap kotak makan itu, lalu memperhatikan profil samping wajah sang CEO yang berusaha keras untuk terlihat kaku dan dingin. Di balik sikap oragan dan kata-katanya yang tajam, Liora bisa merasakan sebuah perhatian kecil.

Senyum tipis dan hangat tanpa sadar terukir di bibir Liora.

"Terima kasih banyak, Pak Evander," ucap Liora tulus, meraih kotak makan itu. "Saya janji laporan kuartal ini akan selesai tepat waktu sebelum pukul tujuh malam."

Ravian hanya berdeham pelan tanpa menoleh, berpura-pura merapikan dasi kemejanya. "Kembali bekerja, Miss Arwen."

Begitu pintu mahoni itu tertutup rapat, Ravian perlahan menyandarkan punggungnya pada tepi meja kayu. Ia melepaskan napas panjang yang sejak tadi ditahannya, menatap pintu yang baru saja tertutup, lalu menyunggingkan senyum tipis yang tak pernah dilihat oleh siapapun di kantor ini.

✨✨✨

Kalau kalian sudah membaca karya ini, jangan lupa untuk bantu dukung dengan memberikan like, komentar, dan vote. Dukungan kecil dari kalian sangat berarti dan menjadi semangat aku untuk terus melanjutkan cerita ini. Terima kasih.🌷

Semoga kalian menikmati ceritanya!💚📖

1
Sandiakala_
Ceritanya menarik, sukakkk😌🫰🏻
Sandiakala_
Lanjutannya mana Thor?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!