Indonesia
NovelToon NovelToon
Bayu Dan Batu Kali Ajaib

Bayu Dan Batu Kali Ajaib

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: ex

Bayu hanyalah siswa SMA miskin sebatang kara yang terpaksa memancing di sungai setiap sore agar perutnya bisa diisi makanan.

Nasib malangnya berubah total saat sebuah sambaran petir misterius menyatukan tubuhnya dengan sebuah batu kali yang mendadak berubah menjadi batu giok hijau yang bercahaya.

Batu ajaib itu langsung menjejalkan ribuan pengetahuan tabib dewa dan ilmu pengobatan kuno ke dalam kepalanya, sekaligus memancarkan aura pemikat yang membuat wanita mana pun tak berdaya di dekatnya.

Kini, berbekal ilmu medis di luar nalar dan pesona mematikan, Bayu siap membungkam para murid kaya yang sering menghinanya dan membangun jalan pintas menuju puncak dunia kedokteran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 Batu Sialan

Dimalam yang hujan deras, sebuah mobil berguncang dengan hebat... suspensi mobil mahal itu naik turun dengan irama yang teratur. Kaca film mobil itu gelap, tapi tidak cukup gelap untuk menyembunyikan siluet dua manusia di dalamnya.

Mulai terdengar sebuah suara. Suara yang menunjukan keindahan dunia.

Slurppp...

"Argghh... sialan, mulutmu enak sekali..." suara berat seorang pria terdengar samar, tapi penuh kepuasan.

"Mmmhh... nghhh..."

Suara lenguhan wanita. Suara yang sangat seksi. Suara yang sama yang biasa membisikkan kata 'aku mencintaimu' pada Bayu, kini sedang sibuk menghisap anunya di dalam mobil sempit itu.

Guncangan mobil semakin hebat.

Plak! Plak! Plak!

Suara daging beradu dengan daging terdengar berirama, semakin cepat dan semakin kasar.

"Ah! Ahh! Tuan Muda... Aaaahhh! Terus! Terusss!"

Desahan perempuan itu kini terdengar jelas, tidak lagi tertahan. Dia mendesah seperti pelacur murahan yang sedang mencapai puncak kenikmatan.

"Keluar! Aku mau keluar di dalam mulutmu, Jalang!"

Uarghhh!

Mobil itu berguncang hebat untuk terakhir kalinya, lalu diam. Hening. Hanya terdengar napas terengah-engah dari dalam sana.

Bayu... Pemuda yang kini menjelma menjadi Tabib Dewa yang dipuja-puja oleh para perempuan cantik dan para janda, beberapa waktu lalu hanyalah seorang anak sma miskin penerima beasiswa yang harga dirinya diinjak-injak oleh teman sekolahnya.

Semua kenikmatan dunia yang dialami Bayu... bermula dari kesialan sore hari saat memancing.

Angin sore di pinggir sungai berhembus membawa bau lumpur basah. Bayu menatap kosong ke arah pelampung pancingnya yang diam tak bergerak di atas air kecokelatan.

Sudah tiga jam lebih dia berjongkok di sana. Perutnya berbunyi nyaring, rasanya melilit seperti diremas dari dalam.

"Sial, air keran dari sekolah tadi siang jelas tidak cukup untuk mengganjal perut," batin Bayu menahan perih.

Dia mengusap wajahnya yang kusam dan dipenuhi keringat. Kehidupan memang sangat kejam bagi remaja yatim piatu sepertinya.

Jika sore ini dia tidak mendapat ikan, maka malam ini dia harus tidur dengan perut kosong lagi. Bayu memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan rasa laparnya.

Namun, yang muncul di kepalanya justru kejadian menyebalkan di sekolah tadi siang. Ingatannya kembali pada jam istirahat di kantin SMA elit tempatnya bersekolah.

Saat itu, Bayu sedang memakan bekal nasi putih dan tempe sisa kemarin yang dia bawa dari rumah.

Brak! Meja kantinnya digebrak dengan sangat keras.

Bayu mendongak dan melihat Kevin, anak donatur terbesar di sekolah, berdiri sambil tersenyum meremehkan. Di belakang Kevin, dua temannya ikut tertawa.

"Woi, anak miskin," panggil Kevin dengan nada mengejek. "Ngapain lo makan makanan sampah di kantin elit ini?"

Bayu memilih diam dan melanjutkan makannya. Dia tahu meladeni Kevin hanya akan membuang tenaganya yang berharga.

"Bisu lo?" bentak Kevin karena merasa diabaikan. "Gue lagi ngomong sama lo, gembel!"

Kevin tiba-tiba menendang kursi Bayu hingga remaja itu terjatuh ke lantai. Kotak bekalnya ikut terpelanting. Nasi dan satu-satunya tempe milik Bayu berceceran di lantai kantin yang kotor.

"Hahaha, mampus!" tawa salah satu teman Kevin meledak. "Cocok banget tuh posisi lo di bawah meja."

Bayu menatap makanannya yang hancur dengan tatapan kosong. Dadanya sesak menahan amarah, tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

"Tahan, Bayu, tahan," batinnya berkali-kali menyemangati diri sendiri. "Kalau kau pukul dia, beasiswamu akan dicabut dan kau tidak akan pernah bisa masuk fakultas kedokteran."

"Kenapa diam saja, anak miskin?" ejek Kevin lagi sambil berjongkok di depan Bayu. "Mau nangis?"

"Tinggalkan aku sendiri, Kevin," balas Bayu dengan nada sedatar mungkin.

"Oh, sudah berani menjawab lo sekarang?" Kevin langsung mencengkeram kerah seragam Bayu yang sudah lusuh dan menguning di bagian kerahnya.

"Dengar ya, anak beasiswa sialan. Kalau bukan karena belas kasihan bapak gue yang nyumbang ke yayasan, lo udah jadi pengemis di lampu merah."

"Lepasin," ucap Bayu pelan.

"Gue nggak akan lepasin sampai lo mungut nasi itu pakai mulut lo sendiri."

Beberapa murid lain di kantin hanya menonton, tidak ada yang berani ikut campur. Termasuk Natasha, siswi paling cantik dan populer di sekolah itu yang duduk tak jauh dari mereka.

"Udah dong, Kevin," ucap Natasha tiba-tiba, meski nadanya terdengar malas. "Bikin males makan aja lihatnya."

Kevin menoleh ke arah Natasha dan langsung tersenyum manis. "Sori, Nat. Anak ini emang ngerusak pemandangan."

Kevin melepaskan cengkeramannya dengan kasar hingga kepala Bayu membentur kaki meja.

Duk!

"Kali ini lo selamat," bisik Kevin di telinga Bayu. "Tapi awas lo kalau berani deket-deket Natasha lagi pas jam biologi."

Setelah geng orang kaya itu pergi, Bayu memungut kotak bekalnya yang kosong. Dia tidak menangis, karena air matanya sudah habis bertahun-tahun lalu sejak orang tuanya meninggal.

Wushh!

Suara angin di pinggir sungai membuyarkan lamunan pahit Bayu. Dia kembali ke realita yang sama menyedihkannya.

Langit mulai berubah warna menjadi jingga kemerahan. Pancingannya masih saja diam, tidak ada tanda-tanda ikan yang menyambar.

"Bahkan ikan pun malas berurusan dengan orang miskin," gumam Bayu sambil tertawa kecil. Kakinya mulai terasa kebas dan kesemutan karena terlalu lama berjongkok.

Bayu memutuskan untuk bergeser sedikit agar aliran darahnya lancar. Saat telapak tangannya menumpu pada tanah berpasir, dia merasakan sesuatu yang keras dan tajam.

Benda itu mengganjal telapak tangannya hingga terasa sakit. 

"Aduh," keluh Bayu sambil melihat ke bawah.

Dia menyingkirkan sedikit pasir lumpur di sana. Ternyata ada sebuah batu kali berwarna hitam pekat, ukurannya hanya sebesar kelereng.

Bayu memungut batu itu dengan perasaan jengkel yang memuncak. "Gara-gara Kevin makananku hancur, gara-gara ikan sialan aku kelaparan."

"Dan sekarang batu sialan ini ikut-ikutan membuat tanganku sakit," gerutu Bayu dengan napas memburu.

Emosinya yang sudah ditahan sejak siang akhirnya tumpah sedikit demi sedikit. Bayu berdiri, menggenggam batu kali itu kuat-kuat.

Dia bersiap melempar batu hitam itu sejauh mungkin ke tengah sungai untuk melampiaskan kemarahannya.

Baru saja tangannya terayun ke belakang, langit sore yang tadinya cerah mendadak berubah gelap gulita. Awan hitam pekat menggulung di atas kepalanya dengan kecepatan tidak wajar.

Jdarrr!!!

Suara ledakan yang luar biasa keras menghantam gendang telinga Bayu. Sebuah kilat putih kebiruan menyambar tepat dari atas langit, langsung menghantam tubuh kurusnya.

Semuanya terjadi terlalu cepat. Bayu bahkan tidak sempat berteriak.

Tubuhnya terpental beberapa meter dan mendarat keras di atas lumpur di pinggir sungai. Rasa panas yang sangat brutal membakar seluruh kulitnya.

Namun, yang paling mengerikan adalah rasa sakit di telapak tangan kanannya yang masih menggenggam batu tersebut.

"Panas... tanganku rasanya hamcur..." rintih Bayu dalam hatinya yang mulai kehilangan kesadaran.

Seolah belum cukup, rasa sakit itu kini menjalar naik dari tangannya menuju kepalanya. Otaknya terasa seperti ditusuk oleh ribuan jarum panjang secara bersamaan.

Lalu, informasi asing mulai mengalir masuk ke dalam pikirannya layaknya banjir bandang.

Bukan ingatan miliknya, melainkan teks-teks kuno, gambar anatomi tubuh manusia, hingga racikan ribuan jenis tanaman herbal. 

Nama-nama titik akupunktur yang sangat rumit dan cara mengalirkan energi kehidupan tergambar jelas di dalam kepalanya.

Bayu tidak kuat menahan rasa sakit yang merobek kewarasannya itu. Pandangannya memudar, dan dunia akhirnya berubah menjadi gelap total.

...

Entah berapa lama waktu berlalu. Rasa dingin dari air sungai yang menyapu ujung kaki Bayu membuatnya perlahan tersadar.

Dia terbatuk pelan, mengeluarkan sedikit air berlumpur dari mulutnya.

Uhuk! Uhuk!

Bayu membuka matanya perlahan. Pandangannya masih kabur, namun dia sadar langit sudah sepenuhnya gelap dan dipenuhi bintang.

Suara jangkrik malam terdengar nyaring di sekitarnya.

"Aku... belum mati?" gumamnya serak.

Dia mencoba duduk, tubuhnya terasa kaku tapi anehnya sangat ringan. Rasa lapar yang sedari tadi menyiksanya tiba-tiba hilang entah ke mana.

Bayu memijat pelipisnya yang masih berdenyut. "Tadi sore aku tersambar petir saat mau membuang batu," batin Bayu mengingat-ingat kejadian mengerikan itu.

Dia menunduk, melihat ke arah telapak tangan kanannya dengan perasaan was-was. Bayu mengira tangannya pasti sudah hangus atau hancur.

Namun, matanya langsung melebar kaget.

Tangan kanannya masih utuh, bahkan kulitnya terlihat lebih bersih dari sebelumnya. Dan yang paling gila, batu kali hitam sebesar kelereng itu masih ada di sana.

Batu itu kini tertanam setengahnya di tengah-tengah telapak tangan Bayu. Warnanya bukan lagi hitam pekat, melainkan berubah menjadi giok hijau murni yang memancarkan cahaya redup menenangkan.

"Apa-apaan ini..." bisik Bayu tak percaya.

Dia menyentuh batu giok itu dengan jari kirinya. Sensasi hangat dan nyaman langsung mengalir ke seluruh pembuluh darahnya.

Seiring dengan sentuhan itu, ribuan pengetahuan tentang teknik pengobatan tabib dewa kembali terlintas jelas di kepalanya.

Bayu, murid miskin yang hanya ingin masuk kedokteran untuk mencari uang, kini menggenggam keajaiban yang bisa membalikkan seluruh dunia medis!

1
syarif ibrahim
👍👍👍💪
syarif ibrahim
tidak perlu jendral, karena cucumu sdh jadi milikku... 🤣🤣🤣🤣🤣
syarif ibrahim
terbalik bab nya
Yui: Terimakasih atas koreksinya kak😊😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!