Indonesia
NovelToon NovelToon
SUAMI TAK DIINGINKAN, CINTA TAK TERDUGA

SUAMI TAK DIINGINKAN, CINTA TAK TERDUGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:636
Nilai: 5
Nama Author: Arman A

"Semua orang bilang dia dingin, kejam, dan tak tersentuh. Tapi hanya aku yang tahu — di balik tatapan dingin itu, tersembunyi hati yang paling lembut dan paling setia."

Su Yi, gadis sederhana yang tiba-tiba dijodohkan dengan pria paling ditakuti, paling kaya, dan paling dingin di kota — Mo Han, CEO Grup Mo yang kekuasaannya merentang ke seluruh negeri. Semua orang kasihan padanya, mengira dia hanya akan menjadi istri piala yang dibuang kapan saja. Namun tak ada yang tahu... Mo Han sudah menunggunya selama sepuluh tahun.

Di balik perjodohan yang dipaksakan itu, tersembunyi cinta yang tak pernah terucap, rahasia masa lalu, dan bahaya yang perlahan mendekat. Saat Su Yi perlahan melihat sisi lain pria itu, hatinya mulai bergetar. Tapi saat dia mulai jatuh cinta... rahasia besar itu mulai terungkap.

Apakah perjodohan ini akan menjadi neraka selamanya? Atau justru menjadi awal dari cinta yang paling indah dan paling abadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arman A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Langkah Pertama Berdampingan

Sarapan berlangsung hening namun tak lagi berat seperti dulu. Tidak ada kebisuan yang menyesakkan dada, tidak ada tatapan dingin yang saling menjauh. Hanya suara sendok menyentuh piring, aroma teh hangat, dan tatapan singkat yang saling bertemu lalu tersenyum malu-malu — seperti dua orang yang baru saja saling mengenal, bukan suami istri yang tinggal serumah bertahun-tahun lamanya.

Setelah selesai makan, Mo Ha bangkit merapikan piringnya sendiri. Su Yi hendak menahan, namun ia hanya tersenyum lembut sambil mengambil piring di hadapannya juga.

"Biarkan aku," katanya pelan. "Dulu kau yang selalu mengurus segalanya sendirian. Sekarang... kita bagi bersama."

Su Yi terdiam mematung melihat punggungnya menghilang ke arah dapur. Jantungnya berdebar halus di dadanya. Hal sekecil ini — sekadar membasuh piring — terdengar sepele, namun baginya... ini adalah bukti nyata bahwa perubahan itu nyata, bukan sekadar janin kosong di tengah malam.

Setelah selesai beres-beres, mereka bersiap berangkat ke kantor pusat keluarga Su. Hari ini pertemuan penting — menyelesaikan urusan yang selama ini tertunda karena alasan-alasan yang tak pernah dijelaskan lengkap. Dulu Su Yi selalu berangkat duluan atau menyewa mobil sendiri, tak mau satu kendaraan pun bersama Mo Ha. Namun pagi ini, Mo Ha membukakan pintu penumpang untuknya, menatapnya lembut sambil memberi isyarat tangan ke dalam.

"Naiklah. Aku antar."

Su Yi menatapnya sejenak, lalu mengangguk pelan masuk ke dalam mobil. Pintu tertutup halus di belakangnya. Saat ia duduk rapi di kursi empuk, hati kecilnya berbisik: Semoga ini bukan mimpi yang terasa terlalu nyata.

Perjalanan menuju pusat kota berlangsung sekitar empat puluh menit. Di dalam mobil tak banyak bicara di awal, namun keheningan itu kini terasa damai, bukan menyesakkan. Mo Ha sesekali meliriknya dari kemudi, bibirnya tersenyum samar setiap kali tatapan mereka tak sengaja bertemu. Su Yi menatap ke jendela, melihat gedung-gedung tinggi bergerak perlahan, namun pikirannya justru tertuju pada pria di sebelahnya.

"Kau tadi bilang ada urusan tertunda," ucap Mo Ha tiba-tiba memecah keheningan, suaranya tenang dan rendah. "Bisa ceritakan padaku? Agar aku tahu apa yang akan kuhadapi nanti."

Su Yi menarik napas panjang, memeluk tasnya di pangkuan erat sedikit. "Dua tahun lalu ayahku menandatangani kerja sama pengembangan lahan di kawasan utara. Nilainya sangat besar — hampir separuh aset keluarga dipertaruhkan di sana. Namun sejak ayah jatuh sakit, proyek itu terhenti. Uang macet, izin tak kunjung keluar, dan mitra kerja... mulai menagih janji." Ia menelan ludah susah payah, menatap jendela buram bayangannya sendiri. "Selama ini aku urus sendiri. Tak mau merepotkanmu... dan takut kau menolak membantu karena bukan urusan keluargamu."

Mo Ha menghela napas pelan, satu tangannya melepaskan kemudi sejenak menyentuh punggung tangannya yang dingin di pangkuan. Sentuhannya hangat dan menenangkan seketika.

"Su Yi," panggilnya lembut namun tegas. "Dulu mungkin benar. Tapi sejak kemarin malam... keluargamu adalah keluargaku. Bebanmu adalah bebanku. Tak ada urusan milikmu dan milikku di antara kita lagi. Ingat?"

Su Yi menoleh perlahan menatapnya, matanya berkilat basah tertahan di pelupuk mata. Ia mengangguk pelan tak mampu bicara, membalikkan telapak tangannya menggenggam tangan Mo Ha erat di atas kulit kemudi. Dan begitulah mereka berkendara sambil bergandengan tangan sisa perjalanan — jemarinya saling bertaut erat, hangat, dan tak terpisahkan.

Sesampainya di gedung perkantoran keluarga Su, Mo Ha memarkir mobil lalu membukakan pintunya sendiri. Ia turun bersamanya, berjalan berdampingan masuk ke lobi megah yang selalu sepi dan dingin baginya dulu. Karyawan yang melihat mereka berdua serentak tertegun — nyaris tak ada yang pernah melihat Nyonya Mo Ha datang bersama suaminya, apalagi berjalan sedekat ini sambil bergandengan tangan. Tatapan mereka penuh keterkejutan, rasa ingin tahu, namun tak satu pun berani bersuara.

Su Yi merasakan tatapan itu, ingin menarik tangannya pergi karena terbiasa menyembunyikan diri. Namun Mo Ha tak melepaskan genggamannya — justru menggenggam lebih erat seakan memberi kekuatan lewat sentuhan itu. Ia menoleh padanya sekilas, senyumnya tenang dan meyakinkan: Jangan takut. Aku di sini.

Mereka masuk ke ruang rapat utama di lantai dua puluh. Di sana sudah berkumpul para direktur dan penasihat lama keluarga Su — wajah-wajah yang selama ini sering menyulitkan langkah Su Yi, menekannya, memaksanya mengambil keputusan yang tak ia inginkan. Saat melihat Mo Ha masuk di belakangnya, ruangan seketika hening senyap seakan udara berhenti mengalir.

Paman Li, wakil direktur tertua yang paling sering menentang keputusan Su Yi, berdeham keras mencoba menguasai keadaan.

"Mo Ha... kedatanganmu ke sini ada urusan apa?" tanyanya dingin dan waspada. "Rapat keluarga Su bukan tempat bagi orang luar."

Su Yi hendak maju menjawab, namun Mo Ha lebih dulu melangkah ke sampingnya, berdiri tegak setengah depa di depannya seakan membentengi dari segala arah. Tatapannya tenang namun tajam menatap satu per satu wajah di meja panjang itu.

"Orang luar?" ulangnya pelan namun tegas, suaranya rendah bergema memenuhi ruangan luas itu. "Su Yi adalah istriku. Di mana dia berada, di sanalah tempatku. Dan urusannya... adalah urusanku."

Ruangan hening seketika. Tak ada yang menyangka Mo Ha akan bicara demikian, apalagi dengan keyakinan sedalam itu. Paman Li tertegun sejenak sebelum mencoba mempertahankan posisinya.

"Ini soal keuangan keluarga besar, bukan urusan rumah tangga—"

"Justru soal keuangan," potong Mo Ha tenang namun tak terelakkan. Ia meraih berkas tebal dari tasnya, meletakkannya perlahan di atas meja hingga suara itu terdengar jelas di setiap telinga. "Saya sudah meninjau seluruh dokumen proyek lahan utara. Ada ketidakberesan besar di sana — dana dialihkan, kontrak ada klausul tersembunyi, dan izin yang dikatakan belum keluar... sebenarnya sudah ditolak setahun lalu."

Su Yi terbelalak menatap punggungnya. Ia tak menyangka Mo Ha sudah mempersiapkan segalanya bahkan sebelum mereka berangkat pagi tadi. Ia... ia sudah bekerja untuknya sepanjang malam kemarin.

"Siapa yang menandatangani perubahan dana itu?" tanya Mo Ha dingin, matanya menatap tajam tepat ke arah Paman Li yang perlahan memucat wajahnya. "Nama tanda tanganmu tertera jelas di halaman tujuh. Tanpa sepengetahuan direktur utama maupun pewaris sah keluarga Su."

Kegemparan melanda ruangan. Para direktur saling pandang tak percaya. Paman Li gemetar hebat berdiri dari kursinya, berusaha membela diri namun kata-katanya terputus-putus tak menentu. Mo Ha terus menguraikan bukti demi bukti, tajam, lugas, tak memberi celah kebohongan sedikit pun — hingga pria tua itu akhirnya terduduk lemas, tak mampu lagi menyangkal kebenaran yang terbentang jelas di atas meja.

Saat rapat usai, urusan diserahkan ke tim hukum dan pihak berwenang. Langkah berat yang memikul bahu Su Yi bertahun-tahun... perlahan terangkat seketika.

Mereka berjalan keluar gedung berdampingan. Langit di luar cerah, angin segar berhembus lembut menerpa wajahnya. Su Yi berhenti sejenak di trotoar, menarik napas panjang menghirup udara bebas yang rasanya baru pertama kali seutuhnya ia hirup selama bertahun-tahun. Ia menoleh ke arah Mo Ha yang berdiri di sampingnya menatapnya lembut menunggu pendapatnya.

"Kau begadang semalaman untuk ini..." katanya pelan, matanya berbinar hangat tak henti-hentinya. "Bukan?"

Mo Ha tersenyum sedikit malu, menggaruk pelan belakang lehernya — gerakan polos yang membuatnya terasa begitu manusiawi dan dekat. "Aku janji tak ada lagi rahasia. Tapi kali ini... aku ingin memberimu kejutan baik." Ia menggenggam kedua tangannya di udara, menatapnya dalam-dalam. "Bagaimana rasanya? Beban berkurang sedikit?"

"Banyak sekali," Su Yi tersenyum lebar hingga matanya menyipit cantik, cahayanya menyilaukan mata Mo Ha lebih dari matahari siang. "Terima kasih, Mo Ha. Terima kasih untuk semuanya."

"Terima kasih telah memberiku kesempatan," balasnya lembut, mendekat perlahan mengecup punggung tangannya dengan penuh hormat. "Mau makan siang sekarang? Aku tahu tempat yang tenang dan enak."

Su Yi mengangguk mantap, menggenggam lengannya erat saat melangkah menuju mobil bersama-sama. Langkah mereka ringan, hati mereka damai — dan masa depan yang dulu kelabu tak berujung... kini perlahan terang terbentang luas di depan mata mereka berdua.

 

1
Alia Chans
suka sama gendre perjodohan begini🤭🤭
salam interaksi thor😉
Arman: makasih kak
salam interaksi
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!