ZONA DEWASA‼️
Luna seorang mahasiswa yang berkuliah di universitas elite di ibukota menyembunyikan identitasnya yang seorang putri tunggal dari pengusaha yang diambang kebangkrutan, dia pun melarikan diri dari rumahnya karna hendak di jodohkan.
Di kampusnya ia jatuh cinta dengan Adrian Xander Mahasiswa terpopuler di universitas Legacy.
Namun secara tidak sengaja Luna mengalami sebuah peristiwa yang membuatnya terikat dengan Moreno Xander yang juga merupakan saudara tiri Adrian
Apa yang akan terjadi pada kehidupan Luna setelah dia dihadapkan dengan dua Xander bersaudara???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Wajah Alan seketika menegang, menyisakan raut pucat dipadu kebingungan yang mendalam. Kata-kata "membeli Luna" yang diucapkan pemuda di hadapannya seperti tamparan keras.
Namun, melihat nilai pelunasan utang puluhan miliar di tangannya, Alan benar-benar terkunci—ia tak punya posisi tawar menawar untuk melawan.
"Bagaimana... bagaimana bisa kamu kenal dengan Luna?" tanya Alan dengan suara bergetar, penasaran setengah mati.
Moreno menyunggingkan senyum dingin, lalu mendengkus pelan. "Itu bukan urusan lo."
Ia kemudian menegakkan tubuhnya, melayangkan tatapan penuh ancaman yang sanggup membekukan darah Alan.
"Dengar baik-baik, Tuan Alan Damaris," desis Moreno dengan intonasi rendah namun begitu menekan.
"Jangan pernah coba-coba bermain di belakang gue. Kalau lo sampai berani melanggar kesepakatan ini, gue bisa dengan mudah bikin perusahaan lo yang baru bernapas ini hancur berkeping-keping dalam sekejap."
Alan menelan ludah dengan susah payah. Aura intimidasi pemuda blasteran itu benar-benar mengerikan.
"Nanti malam," lanjut Moreno tanpa kompromi, "serahkan Luna ke gue."
"Nanti malam?!" Alan mendadak panik. "Tapi... saya butuh waktu. Sampai detik ini anak itu belum berhasil ditemukan oleh orang-orang saya. Saya bahkan tidak tahu dia bersembunyi di mana!"
Moreno tak menjawab. Jemarinya yang berhiaskan cincin perak meraih pena di atas meja, lalu mencoret-coret sebuah alamat di secarik kertas memo. Dengan santai, ia melempar kertas itu tepat ke hadapan Alan.
"Nggak usah buang waktu pakai anak buah lo yang tidak berguna itu," sahut Moreno seraya bangkit dari duduknya. "Seret dia dari alamat itu, lalu bawa ke tempat gue nanti malam."
---- ---- ----- -----
Berkat kelincahan Adrian menembus kemacetan, Luna akhirnya terbebas dari ancaman gembok gerbang Pak Alex.
Namun, kelegaan itu tidak bertahan lama. Begitu motor sport mengkilat milik Adrian berhenti di area parkir utama, deru mesinnya langsung menyedot perhatian hampir seluruh penghuni kampus.
Senyum merekah dan napas lega Luna mendadak terhenti. Saat ia turun dan melepaskan helm, berpasang-pasang mata langsung tertuju padanya. Kedatangan Luna yang berboncengan dengan Adrian—seketika memicu kehebohan.
Berbagai reaksi terpancar jelas: ada yang menatap biasa, terkejut, dan tak sedikit mahasiswi menatap mereka dengan iri dan kesal.
Tubuh Luna menegang seketika. Dengan gaya serba canggung dan senyum yang dipaksakan, ia menyerahkan helm pada Adrian.
"Mak-makasih banyak ya, Kak Adrian... kalau nggak ada Kakak, gue pasti udah dikunci di luar," ujar Luna pelan, ingin rasanya segera menghilang dari tempat itu.
Namun, alih-alih hanya mengangguk, Adrian justru tersenyum begitu hangat. Tangan kanannya terangkat, lalu dengan gerakan santai dan gemas, ia mengacak-acak lembut puncak kepala Luna.
"Sama-sama, Luna. Belajar yang rajin, ya," ucap Adrian dengan nada suara renyah yang terdengar melintasi koridor parkiran.
Sensasi hangat di kepalanya membuat hati Luna berbunga-bunga. Jantungnya berdegup tak karuan, terbius oleh perlakuan manis cowok idaman kampus itu. Namun, rasa melayang itu hanya bertahan sepersekian menit.
Kesadaran Luna pulih sepenuhnya saat desas-desus dan bisikan tajam mulai terdengar dari kerumunan mahasiswi di sekitar mereka. Tatapan mata para penggemar Adrian seolah siap menguliti Luna hidup-hidup.
Firasat Luna seketika berubah buruk.
"Mampus gue..." batin Luna meratapi nasibnya sambil menelan ludah.
"Habis ini hidup gue di kampus gak bakalan tenang, mahasiswi sinting pemuja Kak Adrian pasti bakalan neror gue!"
Dan benar saja, begitu Luna melangkahkan kaki menembus pintu ruang kuliah, atmosfer kelas yang tadinya riuh mendadak berubah drastis. Puluhan pasang mata mahasiswi seketika tertuju padanya.
Bisik-bisik riuh bertiup kencang bak angin puyuh, diiringi tatapan maut dari deretan pemuja Adrian.
Luna berusaha memasang wajah tembok. Dengan pura-pura santai, ia melangkah cepat menuju bangkunya di barisan tengah. Namun, ujian sesungguhnya baru dimulai begitu ia mendaratkan tubuhnya di kursi.
Dita, teman sebangkunya yang punya rasa kepo tingkat tinggi langsung memutar tubuhnya seratus delapan puluh derajat. Matanya membelalak lebar, berbinar-binar seperti baru saja menemukan harta karun.
"Luna! Gila lo ya! Demi apa lo berangkat bareng Kak Adrian?!" cerocos Dita tanpa jeda sedikit pun, menepuk-nepuk lengan Luna dengan heboh.
"Terus tadi di parkiran... itu beneran Kak Adrian usel-usel kepala lo?! Lo pakai pelet apa, Lun?! Jawab gue! Sejak kapan lo dekat sama pangeran kampus?!"
Luna hanya bisa menatap Dita dengan pandangan kosong tanpa ekspresi. Bibirnya terkatup rapat, sementara di dalam hati ia merutuki nasib dan nasibnya yang makin penuh drama.
Duh, Gusti... belum juga pantat gue nempel sempurna di kursi, udah diserbu wartawan infotainment, batin Luna menjerit pasrah.
"Dit, bernapas dulu, tolong," potong Luna akhirnya dengan nada pasrah, memegang kedua bahu Dita agar cewek itu berhenti mengguncang tubuhnya.
"Gue cuma kebetulan ketemu di jalan gara-gara mau terlambat. Kak Adrian cuma kasihan, enggak lebih."
"Nggak ada ceritanya Kak Adrian kasihan sama cewek sampai segitunya!" cercel Dita tak percaya, memicingkan mata penuh selidik.
"Lo beruntung banget, Lun! Setengah populasi cewek di kampus ini siap bikin petisi buat menumbalkan lo hari ini!"
Di satu sisi kecil hatinya, Luna memang merasa beruntung dan ada rasa kembang-kempis diperlakukan begitu manis oleh cowok idaman kampus.
Tapi di sisi lain, ketenangannya benar-benar mulai terusik total. Tatapan permusuhan dari sudut-sudut kelas membuat bulu kuduknya berdiri.
Kemalangan Luna—ternyata belum berhenti sampai di situ.
Jam istirahat tiba, dan Luna berusaha mencari ketenangan di kantin kampus. Ia dan Dita baru saja hendak menikmati semangkuk bakso hangat dan es jeruk kesukaan mereka.
Namun, tidak ada angin tidak ada hujan, suasana kantin yang tadinya riuh mendadak hening begitu Adrian melangkah masuk.
Tanpa ragu sedikit pun, sang pangeran kampus berjalan melintasi deretan meja, membawa nampan berisi makanannya langsung menuju meja Luna dan Dita.
"Boleh gue duduk di sini bareng kalian?" tanya Adrian polos dengan senyum ramah yang sanggup meluluhkan hati siapa pun.
Dita speechless seketika. Tangan yang sedang memegang sendok bakso membeku mengambang di udara. Sementara Luna yang sedang menyedot es jeruknya hampir saja tersedak hebat.
Tanpa sanggup mengeluarkan patah kata, Luna dan Dita kompak menganggukkan kepala secara bersamaan seperti robot.
Adrian duduk di samping Luna dengan santai. Namun, atraksi yang sebenarnya baru saja dimulai. Adrian menatap wajah Luna yang tampak belepotan, lalu secara alami jemarinya terangkat mengusap tipis noda saos di ujung bibir Luna menggunakan jarinya sendiri.
"Makan bakso aja sampai belepotan gini," goda Adrian renyah.
Tubuh Luna mematung seketika. Jantungnya serasa melompat keluar, matanya berkedip kaku. Melihat reaksi shock Luna yang menggemaskan, Adrian justru terkekeh geli.
Di saat yang sama, Moreno yang baru saja melintas di koridor luar kantin secara tidak sengaja menghentikan langkahnya. Matanya menangkap dengan jelas adegan manis di antara Luna dan Adrian.
Tatapan mata Moreno seketika mengeras—dingin, dan tajam, seperti tatapan seorang pembunuh yang sedang mengunci targetnya.
Rahangnya mengatup rapat, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman yang terkesan berbahaya.
"Nikmati masa-masa manis lo sama dia hari ini, Luna..." desis Moreno dengan suara rendah dan sarat ancaman, lalu berbalik pergi meninggalkan area kantin.
"Karena nanti malam, lo cuma punya gue."