Ophelia Elizhabet de Ceolum adalah seorang biarawati cantik yang tinggal di Grand Temple of Olympus, kuil terbesar sekaligus pusat kekuasaan agama di Kekaisaran Celestia. Ia selalu mengenakan cadar putih untuk menyembunyikan wajahnya yang luar biasa indah, rambut pirang keemasan, dan mata biru jernih. Namun, Ophelia memiliki rahasia aneh: ia dapat melihat layar misterius berisi percakapan para dewa dan dewi. Awalnya ia mengira dirinya gila, sampai para dewa mulai berebut memberinya berkah. Ketika Saintess resmi terpilih dan konspirasi kuil dimulai, Ophelia perlahan menyadari bahwa dirinya adalah Saintess sejati. Sayangnya, para dewa ternyata jauh lebih merepotkan daripada manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fresh Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The Saintess and the Archmage
Ketegangan di koridor dalam Grand Temple of Olympus mencengkeram udara seperti es yang membeku mendadak. Di antara pilar-pilar pualam yang megah, tiga sosok berdiri dalam keheningan yang menyesakkan: sang Komandan Ksatria Suci dengan aura pembunuh yang menguar tipis, sang Imperial Archmage yang memutar-mutar cangkir teh melayang dengan senyum acuh tak acuh, serta seorang biarawati bercadar putih yang jiwanya sedang menjerit histeris dalam diam.
"Komandan Lucien," sapa Cassian Aurelius Valerian lembut, tetapi ada nada provokatif yang amat jelas menyertai setiap suku katanya. "Kurasa tugas utamamu adalah menjaga keamanan gerbang luar kuil, bukan mencampuri urusan interaksi sosial antara seorang penyihir dan seorang biarawati."
Lucien Raphael von Astralis melangkah mendekat. Setiap ketukan sepatu bot zirahnya di atas lantai pualam terdengar bagaikan dentang lonceng kematian. Sepasang mata merah gelapnya yang tajam tidak sedikit pun goyah dari sosok Cassian.
"Tugasku mencakup seluruh area kuil ketika ada ancaman atau potensi penyalahgunaan sihir di tempat suci," balas Lucien, suaranya sedingin angin utara. "Dan menyita barang milik seorang biarawati dengan sihir angin secara paksa jelas memenuhi kriteria gangguan keamanan."
Cassian tertawa kecil, suara kekehannya bergema meremehkan. "Penyalahgunaan sihir? Aku hanya membantu Biarawati Ophelia membawa cangkir tehnya. Sihir angin ini membuat bobot nampannya menjadi lebih ringan. Bukankah itu bentuk kebaikan?"
"Lepaskan sihirmu, Cassian," potong Lucien tanpa minat berdebat. Tangannya yang mengenakan sarung kulit hitam berpelat besi kini beristirahat santai di atas hulu pedangnya.
Di antara kedua pria yang saling melemparkan pandangan membunuh itu, layar sistem keemasan di atas kepala Ophelia berubah menjadi arena kekacauan massal.
╔══════════════════════════════════════════════════════════╗
[DIVINE OBSERVATION SYSTEM]
Target Observation: Ophelia Elizhabet de Ceolum
Divine Attention: CRITICAL OVERLOAD (100%)
Chaos Index: UNMEASURABLE
╚══════════════════════════════════════════════════════════╝
[GOD OF WAR: YA! TEBAS DIA, LUCIEN! Tunjukkan pada penyihir sombong itu bagaimana cara pria sejati menyelesaikan masalah!]
[GODDESS OF BEAUTY: Asterion, hentikan dorongan barbarismu! Jika mereka bertarung di sini, pilar marmer dari abad ketiga itu bisa hancur! Dan lebih penting lagi, rambut indah Ophelia akan terkena debu!]
[GODDESS OF LOVE: OHO! Lihatlah ketegangan mata ke mata ini! 'Lepaskan sihirmu'—kalimat yang sangat posesif! Apakah Lucien cemburu karena Cassian mendapatkan perhatian Ophelia terlebih dahulu?! Aku butuh tinta dan kertas sekarang juga!]
[GOD OF KNOWLEDGE: Secara statistik, probabilitas terjadinya konfrontasi fisik antara Imperial Swordmaster dan Grand Mage di dalam area suci adalah 0,02%. Namun kehadiran Ophelia mengubah konstanta tersebut menjadi 89,4%. Sungguh anomali yang indah.]
[GOD OF FORTUNE: Jangan bertarung! Jangan ada ledakan! Denda kerusakan properti kuil sangat mahal! Siapa yang akan membayar ganti ruginya?!]
[UNKNOWN GOD: ...Ophelia is uncomfortable. Stop it.]
Ophelia memejamkan mata di balik kain cadarnya. Komentar para dewa yang membanjiri pandangannya membuat kepalanya berdenyut nyeri. ‘Nyaman? Tentu saja aku tidak nyaman!’ jeritnya dalam hati. ‘Dua orang paling berbahaya di kekaisaran sedang berdiri satu meter dariku dan siap menghancurkan koridor ini!’
Menyadari bahwa situasi akan makin tidak terkendali jika ia terus berdiam diri, Ophelia melangkah satu pijakan ke depan. Gerakan kecil itu seketika menarik perhatian Lucien dan Cassian.
"Mohon maaf atas kelancangan hamba, Yang Mulia Komandan dan Yang Mulia Grand Mage," ucap Ophelia, menyatukan kedua tangannya di depan dada dengan gestur tubuh yang amat sopan dan tenang. "Tidak ada gangguan keamanan di sini. Grand Mage Cassian hanya sedang menunjukkan kemahirannya dalam mengendalikan sihir tingkat tinggi."
Lucien mengernyitkan dahi, matanya bergetar tipis. "Biarawati Ophelia, kau tidak perlu membelanya jika dia menekanmu."
"Hamba tidak merasa ditekan, Yang Mulia," lanjut Ophelia dengan nada deadpan yang datar. "Hamba justru merasa sangat kagum karena seorang Grand Mage yang agung mau melupakan tenggat waktu penelitiannya hanya untuk mengantarkan se cangkir teh herbal biasa."
Cassian membeku seketika. Senyum acuh tak acuh di wajah tampannya perlahan luntur saat ia memproses kalimat Ophelia. Meski kata-katanya terdengar seperti pujian yang sangat santun, intonasi dan pilihan kata biarawati itu dengan jelas menyindir betapa penganggurannya sang Archmage saat ini.
PING!
[GODDESS OF WISDOM: Pfft—Sarkasme yang sangat halus dari Ophelia. Dia benar-benar tahu cara memukul gengsi seorang jenius.]
[GOD OF KNOWLEDGE: Analisis tepat. Cassian mengalami kerusakan mental sebesar 15% akibat sindiran implisit tersebut.]
Sudut bibir Lucien terangkat sangat tipis—sebuah gestur yang hampir tak terlihat jika orang tidak memperhatikannya dengan saksama. Ksatria dingin itu memindahkan pandangannya kembali ke arah Cassian.
"Mendengar itu, Grand Mage?" ujar Lucien dingin. "Tampaknya bantuan sihirmu tidak terlalu dibutuhkan di sini. Kembalikan cangkir teh itu."
Cassian mengepalkan jarinya pelan. Rasa gengsinya sebagai penyihir terhebat di benua tergores dalam oleh kombinasi kepolosan sarkastik Ophelia dan tatapan mengejek Lucien. Namun, alih-alih marah, mata ungunya justru memancarkan binar ketertarikan yang kian liar.
"Baiklah, baiklah," sahut Cassian seraya mengibaskan tangannya santai.
Sihir angin yang menopang cangkir teh perlahan memudar, mendudukkan cangkir pualam itu kembali ke atas nampan kayu yang dipegang Ophelia tanpa menyisakan riak di permukaan airnya. Kendali sihir yang luar biasa presisi.
"Aku akan mengalah hari ini karena Biarawati Kecil kita meminta dengan sangat manis," lanjut Cassian dengan senyuman menggoda yang kembali terkembang di wajahnya. Ia melangkah mendekati Ophelia, menyisakan jarak hanya beberapa inci dari bahu sang biarawati. "Namun, penelitian kita belum selesai, Ophelia. Cadar putihmu itu... aku pasti akan menemukan cara untuk melihat apa yang ada di baliknya."
Sebelum Lucien sempat menarik pedangnya untuk menghalangi, Cassian menyentuh keningnya sendiri dengan dua jari, melambaikan tangan, lalu menghilang dalam kilatan cahaya perak sihir teleportasi jarak pendek.
Keheningan kembali menyelimuti koridor. Lucien mengembuskan napas perlahan, menetralkan aura membunuhnya sebelum berbalik sepenuhnya menghadap Ophelia.
"Apakah kau baik-baik saja?" tanya Lucien, suaranya melunak beberapa tingkat dibandingkan saat ia berbicara dengan Cassian tadi.
"Hamba baik-baik saja, Yang Mulia Komandan. Terima kasih atas bantuan Anda," jawab Ophelia seraya membungkukkan badan sedikit.
Lucien menatap cadar putih Ophelia untuk beberapa saat. Mata merah gelapnya memancarkan keraguan dan kecurigaan yang mendalam. "Penyihir itu tidak salah dalam satu hal. Ada terlalu banyak misteri yang mengelilingimu, Biarawati Ophelia. Mengapa energi ilahi di sekitarmu selalu berfluktuasi setiap kali seseorang mendekatimu?"
Ophelia menahan napasnya. ‘Itu karena para dewa sedang berkumpul di atas kepalaku sambil berteriak-teriak!’ jeritnya dalam hati. Namun, secara lahiriah, ia hanya menunduk lebih dalam.
"Hamba hanyalah pelayan kuil yang selalu berdoa setiap hari, Yang Mulia. Mungkin itu hanyalah sisa berkah dari ruang doa," sahut Ophelia rasional.
Lucien tidak tampak sepenuhnya percaya, tetapi ia tidak mendesak lebih jauh. Ksatria itu menyilangkan tangannya di dada. "Tetaplah waspada. Kuil ini tidak seaman yang terlihat, terutama dengan kedatangan Saintess resmi dan konspirasi yang mulai bergerak di balik layar. Jika penyihir itu mengganggumu lagi, panggil aku atau ksatria suci mana pun."
"Hamba mengerti, Yang Mulia."
Dengan satu anggukan tegas, Lucien berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan koridor dengan langkah kaki berdentang yang perlahan menghilang di kejauhan.
Ophelia berdiri sendirian di tengah koridor yang sunyi. Ia menarik napas panjang, meresapi detik-detik ketenangan yang akhirnya ia dapatkan. Nampan kayu di tangannya terasa sedikit lebih berat, tetapi pikirannya jauh lebih berat.
PING!
Layar transparan terakhir muncul tepat di depan matanya.
╔══════════════════════════════════════════════════════════╗
[DIVINE OBSERVATION SYSTEM]
Target Observation: Ophelia Elizhabet de Ceolum
Status: Survived Male Lead Collision #1
Sanity Level: 12% (CRITICAL)
╚══════════════════════════════════════════════════════════╝
[GODDESS OF LOVE: Waaaa! Interaksi yang sangat intens! Komandan Ksatria yang protektif dan Archmage yang obsesif! Siapa yang akan memenangkan hati Saintess kita?!]
[GOD OF WAR: Jelas Lucien! Dia punya pedang!]
[GOD OF KNOWLEDGE: Berdasarkan tren naratif, peluang hubungan mereka masih seimbang pada tahap awal ini.]
[UNKNOWN GOD: ...Good job, Ophelia.]
Ophelia menatap baris tulisan terakhir dari dewa misterius itu, lalu menggelengkan kepalanya perlahan dengan helaan napas pasrah.
"Aku hanya ingin menyajikan teh..." bisiknya lirik pada udara kosong, sebelum akhirnya melangkah melanjutkan tugasnya yang tertunda.
kak fresh tea terima kasih Karna menerima pendapat saya dan memberikan jawapan... maaf kalau sekira nya pendapat saya agak terburu-buru dalam berpendapat pada karya kakak... semangat kak berkarya nya aku akan selalu mendukung karya kakak yang ini dan mengusahakan untuk sampai pada end cerita🤗🤗
waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh 🤗🤗 semangat 😁✊
cerita dan gendre Kakak bagus dan unik tapi cerita nya agak berbelit dan ada beberapa episod yang hampir mirip dari segi cerita dan dialog hanya beda karakter saja dan setelah baca dari eps 1 sampai 40 aku belum menemukan inti dari cerita nya awal dari ceritanya juga sulit aku fahami tidak ada keterangan atau penjelasan lebih kenapa Ophelia yang di pilih para dewa mungkin pendapat ku ini agak terburu-buru Karna baru 40 eps sekarang inti dari cerita nya juga belum keluar tapi sebagai pembaca aku hanya mengutarakan pendapat aku saja kepada kakak penulis aku enjoy juga kok dengan cerita nya😁😁 semangat kakak penulis😁✊
semangat thor up nya 🤗🤗🤗