Dunia Sasi runtuh dalam semalam. Keputusannya memutuskan Hendrik karena menolak diajak berhubungan badan justru berujung petaka—Hendrik yang gelap mata melecehkannga dan mencapnya sebagai wanita munafik. Belum sembuh rasa traumatik itu, Sasi yang tiba di rumah langsung dihadapkan pada lamaran Adrian Maheswara, putra sahabat ayahnya. Demi menghormati permohonan sang ayah, Sasi yang masih syok hanya mampu mengangguk pasrah.
Pernikahan kilat pun digelar keesokan harinya. Namun, neraka baru menyambut Sasi saat Adrian membawanya pulang. Di sana, berdiri Fitria—istri pertama Adrian. Merasa ditipu dan dijadikan alat semata demi mendapatkan keturunan bagi pasangan tersebut, Sasi harus menelan kenyataan pahit: tersiksa oleh trauma yang belum usai, kini ia terperangkap dalam ikatan poligami tanpa persetujuannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Adrian masuk ke dalam kamar utama dengan langkah berat.
Rasa lelah yang teramat sangat menyelimuti wajahnya setelah menghadapi serangkaian kekacauan sepanjang hari ini.
Ia melihat Fitria yang sedang duduk di atas kursi panjang dekat jendela, melipat kedua tangannya di dada dengan raut wajah penuh kekesalan yang menahan amarah.
"Mas, apa-apaan kamu? Kamu ada rasa sama istri barumu?" tuduh Fitria langsung tanpa basa-basi begitu pintu kamar tertutup.
Matanya menyalang tajam menatap suaminya. "Ingat, dia di sini hanya untuk menghasilkan anak. Tidak lebih!"
Adrian memijat pangkal hidungnya yang berdenyut nyeri, memejamkan mata sejenak berusaha menahan emosinya yang siap meledak.
"Fit, tolong diam. Aku capek, Fit," bisik Adrian dengan suara parau dan mengabaikan tuduhan tak berdasar tersebut.
"Capek?" Fitria berdiri menghentak dari kursinya, melangkah mendekat ke arah Adrian dengan napas memburu.
"Mas, kamu harus segera berhubungan intim dengan wanita itu! Aku tidak mau ada wanita lain terlalu lama di rumah ini!"
Mendengar desakan gila itu di tengah kenyataan pahit tentang trauma keji yang baru saja menimpa Sasi, pertahanan sabar Adrian runtuh seketika.
"FIT, DIAM!" bentak Adrian keras, suaranya menggelegar menembus keheningan kamar.
Fitria terperanjat. Tatapan tajam dan nada suara Adrian yang tak pernah setegas ini membuat nyalinya sedikit menciut.
Dengan raut wajah jengkel yang makin memerah, Fitria langsung kembali duduk di kursi, membuang mukanya ke luar jendela sambil bersedekah dada dan merancung dalam diam.
Adrian tak lagi menghiraukan kekesalan istrinya. Pria itu berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya, mencoba mencerna segala kerumitan yang kini membelit rumah tangganya.
Sementara itu di kamar lain, Sasi perlahan bangkit dari tempat tidurnya.
Meski kepalanya masih terasa sangat berat dan seluruh tubuhnya ngilu, tekad untuk membebaskan diri membakar habis rasa sakitnya.
Ia berjalan jinjit mendekati pintu, mengintip sedikit melalui celah.
Koridor tampak lengang—tidak ada satu pun anak buah Adrian yang berjaga di depan pintunya.
Namun, alih-alih keluar lewat jalur utama yang penuh risiko, pandangan Sasi beralih ke arah jendela kaca di ujung kamar.
Dengan gerakan halus dan tanpa suara, ia membuka kuncinya, melangkah keluar menuju area balkon lantai atas.
Angin malam yang dingin seketika menyapu kulitnya, membuat gaun pengantin yang kusut itu berkibar pelan.
Sasi menatap ke bawah. Jarak balkon ke tanah memang cukup tinggi, tetapi nyalinya sama sekali tak ciut.
Ia tidak peduli dengan ancaman Adrian yang akan menghukumnya jika nekat melarikan diri.
Bagi Sasi, hukuman apa pun tak ada artinya dibandingkan harus bertahan di tempat ini.
Yang terpenting saat ini, ia harus pergi dan meloloskan diri dari sangkar emas terkutuk yang siap merenggut sisa jiwanya.
Dengan jemari menggigil namun penuh kehati-hatian, Sasi memanjat pagar balkon, mencari pegangan untuk merambat turun menuju kegelapan malam.
Jemari Sasi mencengkeram erat pagar besi balkon lantai dua.
Dengan napas terengah-engah dan jantung yang berdegup kencang memukul dada, ia perlahan mengayunkan kakinya menapak pada lis semen luar yang sempit.
Namun, sisa air hujan semalam membuat permukaan semen itu teramat licin.
SRRRFT!
Pijakan Sasi mendadak runtuh! Pijakan kakinya tergelincir hebat, membuat tubuhnya seketika meluncur jatuh ke bawah.
"Ah!"
Dalam refleks ketakutan yang luar biasa, kedua jemari Sasi yang lecet dan memerah menyambar serta memegang erat tiang besi balkon.
Tubuhnya kini tergantung bebas di udara malam yang dingin menusuk tulang.
Gaun pengantin putihnya yang robek melambai-lambai dihantam hempasan angin kencang.
Perih yang amat sangat menjalar dari jemarinya. Rasa sakit di persendian serta memar fisik akibat pemerkosaan semalam menguras seluruh sisa tenaga di tubuhnya.
Satu per satu jemarinya yang mulai kebas dan licin oleh keringat dingin tergelincir, tak lagi sanggup menahan beban tubuhnya.
Di bawah, seorang pengawal malam yang sedang berpatroli di area halaman tak sengaja mendongak ke atas.
Matanya membelalak sempurna saat menangkap bayangan gaun putih yang tergantung bergoyang di tepi balkon lantai dua.
"TOLONG! ADA YANG MAU JATUH! NON SASI!!"
Pengawal itu berteriak histeris menembus keheningan malam, panik menyuruh Sasi bertahan sembari berlari kencang mendekati bawah balkon.
"TAHAN, NON! TAHAN!! TOLONGGG!"
Suara jeritan pengawal itu menggema keras. Suasana rumah megah yang tadinya tenang dan sunyi seketika pecah menjadi kegaduhan yang amat mencekam.
Di kamar utama, Adrian yang belum sempat tidur langsung bangkit berdiri dari tempat tidurnya begitu mendengar teriakan gaduh para anak buahnya menggelegar dari luar.
Jantungnya seketika berdegup kencang, firasat buruk langsung menyergap benaknya.
Fitria ikut terperanjat dari duduknya. Namun, bukannya khawatir, raut wajah wanita itu justru dipenuhi rasa sinis.
"Cari perhatian banget sih cewek itu! Paling cuma sandiwara biar dikasihani!" cetusnya tajam.
Adrian mengabaikan Fitria sepenuhnya. Tanpa membalas sepatah kata pun, ia melangkah lebar dan berlari kencang keluar dari kamar utama.
Langkah kakinya membentur lantai marmer dengan kasar saat ia membelah koridor rumah yang sepi.
Adrian melompat menerobos lorong menuju kamar Sasi, lalu mendobrak pintunya yang tak terkunci.
Di dalam, kamar itu sudah kosong melompong. Adrian mendapati jendela besar di ujung ruangan terbuka lebar.
Angin malam yang dingin berembus kencang masuk ke dalam, melambaikan gorden putih yang berkibar liar—menandakan petaka yang tengah berlangsung di luar sana.
Tepat saat jemari Sasi yang lemas kehilangan tumpuan dan mulai terlepas sepenuhnya dari besi balkon, tangan kekar Adrian meluncur deras menembus pagar dan berhasil mencengkeram pergelangan tangan Sasi.
Sasi yang tergantung menengadah, menatap mata Adrian dalam kegelapan malam.
Di antara rasa takut jatuh mati dan rasa benci yang mendalam pada Adrian, Sasi berteriak histeris meminta dilepaskan: "Biarkan aku jatuh! Biarkan aku mati!"
"Tidak akan, Sasi!!" jerit Adrian dengan suara menggelegar.
Adrian menarik tubuh Sasi ke atas dengan sekuat tenaga.
Wajah Adrian tegang kencang, urat-urat di lehernya bertonjolan.
Luka gigitan dalam di arm-nya kembali merembeskan darah segar yang membasahi lengan kemejanya akibat tekanan otot yang teramat keras saat menarik Sasi kembali menembus pagar balkon.
BRUGH!
Keduanya ambruk bertumpukan di atas lantai balkon.
Sasi terengah-engah, tangannya mencengkeram lantai dingin sembari menangis histeris, meratapi kegagalannya meloloskan diri dari tempat terkutuk itu.
Tiba-tiba pintu kamar terbanting keras. Fitria tiba di kamar dan langsung berseru dengan nada penuh kebencian begitu melihat kekacauan di balkon.
"Mas! Cewek ini sudah keterlaluan! Masukkan dia dan kunci di basement, atau beri pelajaran keras! Dia sudah membahayakan nama baik keluarga kita!"
"Fit, keluar!" tegas Adrian tanpa menoleh, suaranya pelan namun menusuk.
"Mas!!" tumpah kekesalan Fitria, tak percaya suaranya diabaikan lagi.
"KELUAR!!" bentak Adrian menggelegar, memotong habis perlawanan Fitria.
Fitria terperanjat mundur, menghentakkan kakinya dengan gusar lalu memutar tubuh meninggalkan kamar dengan kekecewaan dan amarah yang membakar.
Keheningan yang mencekam kembali menyelimuti balkon.
Adrian berdiri perlahan dengan napas memburu dan dada naik-turun.
Darah dari lengannya menetes pelan menimpa ubin.
Tatapan matanya berubah dari rasa panik menjadi sangat dingin, tajam, dan mengintimidasi.
Mengingat ancaman yang pernah diucapkannya sebelumnya—aku akan menghukummu jika kamu kabur—Adrian melangkah perlahan mendekati
Sasi yang masih menggigil kaku di lantai, siap mengeksekusi tindakannya.