Indonesia
NovelToon NovelToon
Dikhianati di Usia Senja, Dipinang Miliarder

Dikhianati di Usia Senja, Dipinang Miliarder

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Selingkuh / Pelakor jahat / Cinta Lansia / Tamat
Popularitas:748.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anindita Kirana

Ratna Wulandari, dokter desa berusia enam puluh tahun, telah mengabdikan 37 tahun hidup untuk suami Bambang dan seluruh keluarga. Namun sebuah paket terlarang membongkar rahasia gelap suaminya: selama puluhan tahun ia berselingkuh dengan cinta pertama Sari, rutin kirim uang, belikan rumah bahkan pesan kavling makam pasangan untuk berdua. Saat Ratna buktikan semua fakta ke anak-anaknya, mereka justru minta dia diam demi nama keluarga dan harta. Dikhianati suami, diabaikan anak, Ratna akhirnya berhenti bersabar dan berjuang merebut hak hidupnya yang sempat terbuang sia-sia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27

Bab 27 - Batas yang Baru

Hubungan Ratna dan Arman tidak berubah menjadi sesuatu yang jelas setelah makan siang itu.

Justru karena tidak jelas, Ratna merasa lebih aman.

Arman mengirim pesan pagi, tidak setiap hari, tetapi cukup sering untuk membuat Ratna sadar ia mengingat. Pesannya tidak panjang.

Sudah sarapan?

Sidang pertama sudah ada jadwal?

Luka lengan membaik?

Hari ini hujan. Jangan pulang terlalu malam.

Ratna sering membalas pendek.

Sudah.

Belum.

Membaik.

Saya bukan anak kecil.

Arman selalu menjawab dengan tenang.

Saya tahu.

Justru jawaban itu yang kadang membuat Ratna tersenyum.

Bu Rini tentu saja tahu.

"Bu Dokter sekarang sering senyum lihat ponsel."

"Saya membaca pesan distributor obat."

"Distributor obat romantis sekali."

"Bu Rini mau tensi?"

"Tidak jadi."

Di sisi lain, Bambang semakin gelisah.

Ia tidak lagi mengamuk terang-terangan setelah kejadian lengan Ratna. Mungkin karena foto memar sudah ada. Mungkin karena Pak Mahmud memperingatkannya. Mungkin juga karena Raka beberapa kali tidur di klinik sampai larut.

Namun Bambang sering berdiri di teras rumah utama, melihat klinik.

Ratna tahu. Ia memilih tidak menoleh.

Sidang pertama dijadwalkan tiga minggu lagi. Farida datang ke klinik untuk mempersiapkan mediasi.

"Nanti hakim mediator akan bertanya apakah Ibu masih mau rukun," kata Farida.

Ratna mengangguk.

"Jawab dengan tenang. Jangan menyerang. Jelaskan bahwa Ibu sudah kehilangan kepercayaan karena hubungan Pak Bambang dengan Bu Sari berlangsung lama, ada penggunaan harta bersama, dan ada tindakan fisik."

Ratna mencatat.

"Kalau Bambang menangis?"

Farida menatapnya. "Apakah Ibu mudah luluh kalau dia menangis?"

Ratna diam.

Itu jawaban.

Farida berkata lebih lembut, "Menangis tidak selalu berarti berubah. Kadang hanya berarti takut kehilangan kenyamanan."

Kalimat itu Ratna simpan baik-baik.

Malamnya, Arman menelepon.

Biasanya mereka hanya pesan singkat. Ketika nama Arman muncul sebagai panggilan, Ratna menatap layar cukup lama sebelum mengangkat.

"Halo?"

"Mengganggu?"

"Kalau mengganggu, saya tidak angkat."

Arman tertawa pelan. "Baik."

"Ada apa?"

"Saya ingin bertanya soal rumah."

Ratna langsung diam.

Arman cepat menambahkan, "Bukan memaksa. Unit itu masih kosong. Saya hanya ingin tahu apakah Ibu sudah punya rencana lain."

Ratna duduk di tepi tempat tidur klinik.

"Belum."

"Kamar klinik masih terasa aman?"

Ratna melihat pintu.

"Aman, tapi sempit."

"Raka masih sering tidur di sana?"

"Kadang."

"Dia anak yang baik."

"Dia anak yang galak."

"Galak pada orang yang tepat."

Ratna tersenyum kecil.

Arman berkata, "Bu Ratna, saya bisa minta notaris membuat kontrak sewa biasa. Harga sesuai yang Ibu tentukan. Tidak ada fasilitas tambahan tanpa persetujuan Ibu. Kalau suatu hari Ibu merasa tidak nyaman, kontrak dibatalkan. Saya tidak akan memakai rumah itu untuk menuntut apa pun."

Ratna mendengar dengan diam.

"Kenapa Bapak begitu keras kepala soal rumah?"

"Karena saya pernah melihat ibu saya bertahan di rumah besar yang tidak aman secara batin."

Jawaban itu tidak ia duga.

Arman jarang bicara tentang keluarganya.

"Ibu Bapak?"

"Ayah saya orang baik menurut banyak orang. Menurut keluarga, lebih rumit. Ibu saya tidak pernah kekurangan uang, tetapi sering kekurangan ruang untuk berkata tidak. Saya masih kecil saat menyadari rumah mewah bisa menjadi tempat paling sempit untuk perempuan."

Ratna tidak menyela.

"Jadi saat melihat Ibu tidur di kamar klinik, saya tidak berpikir Ibu lemah. Saya hanya berpikir, jangan sampai setelah berani keluar dari satu ruang sempit, Ibu terpaksa tinggal di ruang sempit lain."

Ratna menunduk.

Ia ingin berkata Arman terlalu pandai bicara. Tetapi kali ini, kata-katanya tidak terasa seperti rayuan. Ada sesuatu yang tua dan pahit di dalamnya.

"Saya akan bayar sewa," kata Ratna.

Di seberang, Arman diam sejenak.

"Baik."

"Harga wajar. Bukan harga kasihan."

"Baik."

"Semua tertulis."

"Baik."

"Dan Bapak tidak boleh datang sembarangan."

"Definisikan sembarangan."

"Pak Arman."

"Baik. Saya tunggu izin."

Ratna menghela napas. "Bapak ini kalau menurut, tetap terasa melawan."

"Itu salah satu bakat buruk saya."

Ratna tertawa kecil.

Setelah telepon, ia mengirim pesan kepada Dimas dan Raka di grup keluarga.

Ratna: Ibu akan menyewa rumah di cluster dekat kecamatan. Kontrak resmi. Bukan hadiah. Ibu bayar sendiri.

Dimas membalas cepat.

Dimas: Dari Pak Arman?

Ratna: Unit perusahaannya. Kontrak sewa.

Raka: Aku baca kontraknya dulu.

Melati: Bu, serius mau pindah?

Ratna: Iya.

Melati: Aku bantu bersih-bersih.

Ratna menatap pesan itu lama.

Melati tidak bertanya apakah itu pantas. Tidak bertanya apa kata orang. Tidak langsung menyinggung Arman.

Ratna membalas:

Ratna: Terima kasih.

Keesokan sore, mereka melihat rumah bersama. Raka memeriksa kunci, pagar, jendela, aliran air, listrik. Dimas membaca draft kontrak seperti auditor. Melati membawa cairan pembersih dan langsung membuka jendela.

Arman datang hanya sebentar bersama notaris. Ia menyapa anak-anak Ratna dengan sopan, lalu berdiri di teras, tidak masuk terlalu dalam.

Raka menghampirinya.

"Pak Arman."

"Ya?"

"Kalau suatu hari Ibu saya merasa tidak nyaman, kontrak selesai. Tidak ada denda."

"Sudah tertulis."

"Kalau Bapak memakai rumah ini untuk menekan Ibu..."

"Raka," tegur Ratna dari dalam.

Arman mengangkat tangan sedikit. "Tidak apa-apa. Dia berhak bertanya."

Raka menatapnya.

Arman berkata, "Kalau saya melakukan itu, kamu boleh mengusir saya dari rumah ini."

Raka terdiam, lalu mengangguk.

"Baik."

Dimas melihat percakapan itu dari ruang tamu, lalu berkata pelan pada Ratna, "Dia pintar mengambil hati."

Ratna menjawab, "Atau dia memang tahu cara menghormati batas."

Dimas tidak membantah.

Kontrak ditandatangani sore itu.

Ketika Ratna menerima kunci resmi, tangannya sedikit gemetar. Melati melihatnya dan menggenggam tangan ibunya.

"Bu, ini rumah Ibu."

"Rumah sewa."

"Tetap rumah Ibu."

Ratna menatap ruang tamu kosong.

Untuk pertama kalinya, kalimat itu tidak terdengar berlebihan.

Malamnya, setelah semua pulang, Ratna berdiri sendirian di tengah rumah baru. Belum ada perabot selain tikar, termos, dan satu kardus gelas. Suara jangkrik terdengar dari halaman belakang.

Ponselnya bergetar.

Arman: Semoga malam pertama di rumah baru tenang.

Ratna membalas:

Ratna: Rumahnya masih kosong.

Arman: Kosong berarti bisa diisi pelan-pelan.

Ratna melihat sekeliling.

Kosong.

Tapi bukan hampa.

Ia mematikan lampu ruang tamu, lalu masuk ke kamar dengan kunci di tangannya.

Batas baru telah dibuat.

Dan kali ini, ia sendiri yang memegang kuncinya.

Keesokan paginya, Ratna bangun lebih awal dari azan subuh.

Ia sempat lupa di mana dirinya berada. Langit-langit kamar berbeda. Tidak ada suara Bambang batuk. Tidak ada bau rokok dari teras. Tidak ada pasien mengetuk pintu klinik terlalu pagi.

Hanya rumah kosong, napasnya sendiri, dan kunci di meja kecil.

Ratna duduk di tepi tempat tidur, lalu tertawa pelan.

"Aku benar-benar pindah," gumamnya.

Ia membuat teh di dapur, duduk di lantai karena meja makan belum ada. Teh itu terlalu pahit karena ia lupa menakar gula. Namun ia meminumnya sampai habis.

Ponsel bergetar.

Arman: Selamat pagi. Apakah rumahnya masih terasa asing?

Ratna melihat sekeliling.

Ratna: Iya.

Arman: Bagus. Yang asing bisa dikenali pelan-pelan. Yang terlalu lama menyakiti kadang justru terasa biasa.

Ratna membaca pesan itu sambil memegang gelas teh.

Ia tidak membalas cepat.

Kalimat itu terlalu dekat dengan kebenaran.

Akhirnya ia mengetik:

Ratna: Teh saya kepahitan.

Arman: Itu masalah yang lebih mudah diatasi. Tambah air panas.

Ratna tersenyum.

Di rumah lama, ia selalu menyesuaikan rasa untuk orang lain.

Pagi itu, ia menambah air panas untuk dirinya sendiri.

Setelah teh itu terasa pas, Ratna membawa gelas ke teras.

Matahari baru naik. Satpam cluster menyapu pos, seorang ibu muda mendorong stroller, dan tukang sayur lewat pelan sambil membunyikan klakson kecil.

Tidak ada yang tahu sejarah rumah tangganya. Tidak ada yang menunjuk rumah utama Bambang. Tidak ada yang bertanya apakah ia sudah memasak untuk suami.

Di tempat baru ini, Ratna belum menjadi cerita siapa pun.

Kesadaran itu membuatnya menarik napas panjang.

Mungkin inilah arti mulai lagi: bukan langsung bahagia, hanya diberi kesempatan untuk tidak langsung dikenali dari luka lama.

1
Anonim
awal cerita masih masuk nalar, tp mulai ketemu Arman dan Sari selalu tau gerak gerik Ratna, cerita mulai agak aneh…, setiap ada kejadian pd Ratna, Arman sll ada begitu jg dg Sari sll tau apa gerak gerik Ratna kaya pd punya CCTV sendiri…😂
Anonim
kok Sari bisa langsung tau sih ? katanya Sari tinggal nya di kampung sebelah, kok semua tentang Ratna si Sari langsung tau ya ? aneeh….
Anonim
diusia 60 thn adlh usia pensiun, dari kerja kantoran (kecuali dokter, pengacara) krn diusia itu fisik kita jg sdh tdk muda lg, tinggal menikmati hsl kerja dan menikmati hari tua dg bahagia, tp seperti dr Ratna kasus nya beda, masa tua bersama pasangan (suami) yg sehrs nya menikmati kebahagiaan, malah menjd masa tua yg menyakitkan, lbh ikhlas ditinggal mati pasangan drpd ditinggal krn perselingkuhan dan perceraian 😢
Tien Tien
merasakan rasaaanya .masuk banget ..kita ditinggal atw juta meninggalkan .semoga yg tersisa kebaikan. dan tidak ada penyesalan .
dwi sulastri
episode sebelumnya bu ratna pakai jilbab, ini kok disanggul ya
Wirly Pena
Semangat thor, karya yang bagus 👍

halo temen2, dukung dan baca " aku istrimu, bukan babu mu "

terimakasih 🙏
AlviAlva
coba kamu Mita ke bapakmu Mel
Amarilys
dari muda sampai tua masih plin plan seperti itu?? /Drowsy/
echa purin
👍👍👍
ceyee
bahasanya kayak terjemahan. apa ini novel terjemahan? berarti copas
Rochsdha Andriani
nah itu dia...
Sabrina Sheron
novel paling bagus yg pernah saya baca.
semua ada di kisah nyata bukan khayalan layaknya dunia novel biasa. semangat buat penulisnya💪
Rochsdha Andriani
kebaya ?
Surati
Bagus ceritanya
Mama lilik Lilik
ceritanya bagus dan seperti real banget,cuma kadang alamat rumah kadang pindah² semula diklinik lalu pindah ,ke rumah sewa tiba² di klinik dekat kampung cempaka, terakhir ke apartemen, tetap semangat KK dn terimakasih 🙏
Zakia Ulfa
ayolooohhh Bu dokter calon jodohmu dataaaaang
Zakia Ulfa
kereeeennn Lo ceritanya
Aji Priatun
suka banget alur ceritanya, keren Author, terima kasih
Kukun Sabarno
kenapa pemikiran nelati terlalu jauh tentang pak arman,seakan memanfaatkan kesempatan ya. apa aku salah??
Ema Susanti
sama seperti mantan suamiku. semoga Allah berikan jodoh yang baik dan tepat., 🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!