Sadhana Abhiseva, seorang Jenderal muda yang mendapat misi atau tugas besar Negara yang sangat berbahaya begitu selesai melaksanakan proses pelantikannya. Hampir 4 tahun lamanya, ia menyamar sebagai salah satu anggota klan mafia tersebut. Akan tetapi, ia tidak pernah menggapai inti klan mafia tersebut.
Hingga akhirnya ia terpilih menjadi salah satu orang kepercayaan yang akan selalu berada di sisi Revaldo Arsenalio, sang pemimpin atau ketua klan mafia Black Gold. Namun, rupanya harga kepercayaan itu begitu mahal untuk ia bayar.
"Untuk menjadi salah satu tanganku. Aku ingin kau melaksanakan sebuah tugas khusus untukku."
"Saya siap."
"Aku ingin kau menghamili istriku."
“….”
Ya, ia diperintahkan untuk menghamili istri sah Reval, Jenara Elendria. Saat itulah, untuk pertama kalinya Dhana ragu untuk melanjutkan misinya atau memilih berhenti.
Akankah Dhana melaksanakan perintah Reval dan menyelesaikan misi Negaranya? Atau mungkin sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Dalam Pengawasan Ketat
Ya, Dhana yang berdiri tak jauh dari sana tanpa sadar mengalihkan pandangan kepada Jenara. Ada sesuatu dalam tatapan perempuan itu yang membuatnya lupa pada penyamarannya sendiri. Bukan sekadar kebencian. Itu adalah tekad seseorang yang sudah kehilangan terlalu banyak hal dan tidak lagi takut kehilangan apa pun.
Dan rupanya, tatapan Dhana tertangkap. Jenara menoleh, hingga mata mereka bertemu. Untuk sesaat, Dhana merasa jantungnya berhenti berdetak. Namun Jenara tidak mengatakan apa-apa. Tidak bertanya mengapa pria itu memandanginya. Tidak menunjukkan kemarahan. Bahkan tidak memberi isyarat bahwa ia peduli.
Ia hanya berbalik. Kemudian berjalan menuju kamarnya. Pintu tertutup tanpa suara keras. Dhana masih berdiri di tempatnya selama beberapa detik sebelum tersadar.
“Sial.” Ia segera mengalihkan perhatian kepada Reval yang telah lebih dahulu meninggalkan ruangan.
Dhana bergegas keluar dari mansion, mengejar langkah Reval yang semakin jauh menuju lorong depan. "Tuanku."
Reval berhenti seketika itu juga Dhana menundukkan kepala, kembali memainkan perannya sebagai bawahan yang patuh. "Ada perintah?"
Reval menatapnya sekilas sebelum melanjutkan berjalan. "Kau tetap di sini."
Reval memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jasnya. "Aku ingin kau mengawasinya. Pastikan dia tidak meninggalkan mansion tanpa sepengetahuanku."
"Dan sampai kapan?"
Reval tersenyum tipis. "Sampai nanti malam yang sudah kutentukan."
Ada sesuatu dalam nada suaranya yang membuat tengkuk Dhana terasa dingin. Bahkan tanpa menanyakannya, Dhana tahu persis dengan malam yang dimaksudkan oleh Reval. Namun, siapa sangka pria itu malah kembali mengingatkan kepadanya.
Reval mendekat satu langkah. "Kau akan tetap berada di sisinya. Aku akan mengawasi semuanya sendiri."
Dhana mengepalkan tangan di balik punggung. Ia tahu apa yang dimaksud Reval. Jenara tidak diberi pilihan. Malam itu bukan tentang keinginan dua orang. Reval telah menjadikannya sebuah rencana, sebuah transaksi, bahkan sebuah kewajiban yang hendak dipaksakan demi mendapatkan keturunan.
"Jangan membuat kesalahan, Dhana." Tatapan Reval menusuk. "Untuk sementara, kau hanyalah penjaga di mansion ini. Ingat posisimu."
Dhana menundukkan kepala. "Dimengerti."
Setelah mendengar jawaban dari Dhana, Reval pun langsung pergi. Sementara Dhana tetap berdiri di tempatnya, menatap punggung pria itu sampai mobil yang dinaiki Reval menghilang di balik gerbang. Barulah ia mengangkat wajah. Tatapannya kembali menuju jendela lantai atas… jendela kamar Jenara.
Tirai di sana telah tertutup rapat. Dhana terdiam sesaat, tetapi pikirannya terus berkecamuk hebat. Sebagai seorang jenderal yang selama ini hidup dengan strategi, ia tahu bahwa setiap perintah memiliki tujuan. Dan sebagai seorang pria yang baru saja melihat kebencian di mata Jenara, ia tahu satu hal lain.
Perempuan itu tidak akan menyerah begitu saja. Mungkin Reval mengira dirinya sedang memegang kendali atas papan permainan. Tetapi Dhana mulai bertanya-tanya… bagaimana jika malam yang telah ditentukan itu justru menjadi awal dari kehancuran Reval sendiri?
...****************...
Matahari mulai meninggi ketika Reval tiba di kediaman Caelis. Mansion mewah yang menjadi tempat tinggal kekasihnya, Selvara Caelis. Namun, tidak seperti biasanya, langkahnya tidak disambut dengan raut wajah lega dari perempuan itu. Vara justru berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan terlipat di dada, seolah sudah mengetahui bahwa kedatangan Reval kali ini membawa sesuatu yang tidak menyenangkan.
"Kau akhirnya ingat untuk menemuiku."
Reval tersenyum tipis. "Maafkan aku, Vara! Aku…."
Vara mendengus kecil, lalu berbalik masuk tanpa menunggunya. Mengabaikan permintaan maaf dan penjelasan yang akan Reval berikan kepadanya. Dan siapa sangka, Pria itu tidak tersinggung sama sekali. Reval malah mengikutinya dengan niat membujuk.
"Aku datang untuk memberitahumu sesuatu."
"Kalau soal pekerjaan, aku tidak mau dengar."
"Ini bukan soal pekerjaan."
Vara berhenti membuat Reval menghela napas sebelum akhirnya berkata, "Beberapa hari ke depan, aku tidak bisa menginap di sini."
Vara menoleh perlahan. "Kenapa?"
"Ada urusan di Mansion Utama."
"Urusan apa?"
Reval terdiam sesaat, ia sedikit ragu untuk mengatakannya. Karena sepertinya Loreana juga belum sempat memberitahu Vara tentang rencana mereka. Reval tidak menyalahkannya, ia sedikit memahami kalau Rea sedang sangat sibuk dengan perintah yang ia berikan belakangan ini.
"Mengawasi Jenara."
Senyum di wajah Vara lenyap. "Jenara?"
"Ya."
"Untuk apa kau mengawasinya?"
Reval mendekat, lalu mencoba meraih tangan Vara. Namun perempuan itu segera menarik tangannya. "Jangan sentuh aku sebelum kau mengatakan yang sebenarnya."
"Vara."
"Aku tidak suka mendengar nama perempuan itu setiap kali kau datang ke sini."
Reval menghela napas. "Ini bukan tentang perasaanku kepada Jenara."
"Lalu tentang apa?"
"Keluarga Arsenalio membutuhkan keturunan."
Kalimat itu berhasil membuat Vara terdiam menunggu Reval melanjutkan ucapannya. Sebab Vara sadar bahwa sampai kapanpun dirinya tidak akan bisa memberikan keturunan untuk Reval. Rahimnya yang telah diangkat akibat kecelakaan tragis yang menimpanya saat dirinya mengetahui tentang pernikahan Reval dan Jenara menjadi alasannya.
“Kau tidak akan menyentuh wanita itu, bukan? Bukankah kau bilang hanya mencintaiku seorang? Lalu kenapa…”
Reval tahu apa yang kekasihnya pikirkan saat itu. Ia pun segera menyelanya, “Vara, dengarkan aku! Tentu saja aku tidak akan pernah menyentuhnya, karena hanya dirimu yang aku inginkan.”
“Lalu… bukankah kau baru saja mengatakan bahwa keluarga Arsenalio membutuhkan keturunan. Sedangkan aku tidak bisa memberikannya, apakah kau akan membiarkan wanita itu melahirkan anakmu.”
“Ya, tapi bukan aku yang akan menyentuhnya.”
“Maksudmu?” Vara tidak bisa memahaminya.
“Aku telah memerintahkan salah satu anak buah kepercayaanku untuk menjadi benih dari anak yang akan dikandung Jenara. Keluarga Arsenalio memang membutuhkan keturunan dari rahim wanita itu, tetapi tidak harus dengan benihku, bukan?”
“Jadi…”
Reval melanjutkan dengan suara lebih rendah. "Ya, Aku harus memastikan semuanya berjalan sesuai rencana."
"Apa perlu kau harus berada di sana untuk melihatnya?"
"Ya."
Vara memalingkan wajah. "Kalau begitu pergilah."
Nada suaranya terdengar datar, tetapi Reval mengenal perempuan itu terlalu baik. Ia tahu Vara sedang merajuk. Namun, tidak ada pilihan lain lagi untuk menutup semua celah yang akan menjadi rahasia terbesar dalam hidupnya itu.
Jika ia tidak berada didalam kamar yang sama dengan Jenara, maka akan sulit menjelaskan bagaimana Jenara bisa mengandung anaknya. Sedangkan dirinya tidak pernah tidur satu kamar dengan Jenara selama lima tahun pernikahannya.
Reval tersenyum kecil, memaklumi kekasihnya yang tengah merajuk."Kau marah."
"Aku tidak marah."
"Kau cemburu."
"Aku juga tidak cemburu. Lagi pula apa yang perlu aku cemburui, sementara bukan kau yang akan meniduri wanita itu."
"Baiklah." Reval mendekat lagi. "Kalau begitu aku akan pergi sekarang."
Vara langsung menoleh dengan wajah cemberutnya sampi membuat Reval hampir tertawa karena merasa gemas dengan tingkah kekasihnya. Ia hanya ingin menggoda kekasihnya, sebab ia akan kembali ke Mansion Utama saat menjelang malam nanti.
"Kau menyebalkan."
"Aku tahu." Ia meraih tangan Vara kali ini dan menggenggamnya erat. "Hanya beberapa hari."
Bersambung….