"Menikahlah dengan saya, utang studio ibumu sudah pasti saya lunaskan"
"Siapa yang sedang Anda lamar, Tuan?"
"Tidak ada perempuan lain di ruangan ini."
"Apa Anda sedang mengajukan pernikahan transaksional?"
"Itu hakmu untuk menyimpulkan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mbu'na Banafsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11. RUANG ARSIP
BAB 11. Ruang Arsip
Mobil meluncur meninggalkan rumah utama keluarga Arshaka dengan kecepatan sedang. Lampu-lampu jalan mulai memenuhi sepanjang kawasan Menteng, memantulkan cahaya kekuningan ke kaca jendela.
Di dalam kabin, tidak ada percakapan. Hagia masih menatap lurus ke depan. Entah mengapa, telapak tangan kirinya terasa belum benar-benar kehilangan sisa kehangatan dari genggaman Kalandra di bawah meja makan tadi. Ia mengembuskan napas pelan.
Malam itu jauh berbeda dari yang dibayangkannya. Ia memang sempat merasa tertekan oleh beberapa pertanyaan Winda, tetapi justru Kalandra yang lebih dulu berdiri di depannya tanpa memberi kesempatan siapa pun terus menekannya.
"Tuan." Suara Hagia memecah kesunyian.
"Hm?"
"Terima kasih."
Kalandra tidak langsung menjawab. Pandangannya tetap lurus mengarah ke jalan.
"Untuk apa?"
"Tadi."
Hagia tidak melanjutkan kalimatnya. Namun, Kalandra memahami maksud itu. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia membuka suara.
"Ibu Winda memang seperti itu."
Hagia menoleh.
"Beliau bukan ibu kandung saya."
Kalimat itu membuat Hagia sedikit terkejut.
"Sejak kecil beliau yang merawat saya."
Nada bicaranya tetap tenang, tanpa emosi yang berlebihan.
"Karena itu saya selalu menghormatinya."
Hagia mengangguk pelan. "Saya mengerti."
Kalandra kembali memusatkan perhatian ke jalan.
"Tapi, tidak berarti kamu harus diam saja kalau tindakannya membuatmu tidak nyaman."
Ia berhenti sejenak. "Kamu tidak perlu memaksakan diri untuk selalu bersikap sama dengan saya."
Hagia menatap pria di sampingnya beberapa saat. Baru kali ini ada orang yang mengatakan hal aneh seperti Kalandra.
Kalandra menyadari ucapannya membuat Hagia bingung. Namun, dia membiarkan ucapannya tadi menguap begitu saja.
***
Satu hari telah berlalu sejak makan malam di rumah utama keluarga Arshaka.
Suasana Arshaka Group kembali dipenuhi ritme kerja yang padat. Presentasi rancangan renovasi Arshaka Mall tinggal satu hari lagi. Sejak pagi, beberapa divisi terus menyempurnakan data pendukung agar seluruh materi yang akan dibawa ke rapat direksi esok hari benar-benar siap. Meski sebagian besar konsep utama telah disetujui, Kalandra tetap memastikan tidak ada satu pun detail yang terlewat.
Sore itu, sebuah rapat mendadak mempertemukan Kalandra dengan beberapa direktur dan kepala divisi di ruang konferensi utama. Awalnya, rapat tersebut diperkirakan selesai sebelum pukul empat sore. Namun, pembahasan mengenai investasi salah satu proyek baru berkembang menjadi pembahasan yang sangat panjang. Perbedaan pendapat antardivisi membuat setiap keputusan harus dibahas lebih rinci sebelum mencapai kesepakatan.
Di tengah jalannya rapat, jam tangan Kalandra bergetar pelan. Pukul 16.00. Tanpa menarik perhatian siapa pun, ia melirik layar jam tangannya sebelum mematikan alarm itu. Sejenak, pikirannya melayang pada percakapannya dengan sang kakek beberapa hari lalu di rumah sakit.
"Hagia kubawa ke dalam keluarga ini bukan untuk kau sibukkan setiap hari. Biarkan dia bernapas. Sesekali ajak dia pulang lebih awal. Dia membutuhkan hidup, bukan hanya pekerjaan."
Kalimat itu masih teringat jelas.
Mulai hari ini dan seterusnya, Kalandra sengaja memasang pengingat setiap pukul empat sore. Bukan karena ia mudah lupa, melainkan karena selama bertahun-tahun dirinya terbiasa mengabaikan waktu. Pekerjaan selalu menjadi prioritas, hingga tanpa sadar ia sering meninggalkan kantor ketika langit sudah lama gelap.
Kini, ia berusaha mengubah kebiasaan itu. Bukan untuk dirinya.
Melainkan demi memenuhi amanat sang kakek. Sayangnya, sore itu keadaan tidak berpihak kepadanya.
Diskusi di ruang rapat justru semakin panjang. Setiap keputusan memunculkan pembahasan baru yang tidak bisa ditunda. Kalandra beberapa kali melirik jam tangannya. Pukul empat lewat dua puluh. Empat lewat lima puluh.
Lima lewat sepuluh.
Rahangnya mengeras tipis. Seharusnya, pada jam seperti ini ia harusnya sudah mengajak Hagia pulang. Setidaknya, wanita itu tidak perlu lagi menemaninya bekerja hingga larut malam seperti hari-hari sebelumnya. Namun, sebagai CEO, meninggalkan rapat di tengah pembahasan bukanlah pilihan.
"...jadi keputusan akhirnya tetap berada di tangan Anda, Pak Kalan."
Suara salah seorang direktur mengembalikan fokusnya. Kalandra menarik napas pelan.
"Lanjutkan."
Sementara itu, setelah hampir satu jam menunggu, Hagia akhirnya menyelesaikan seluruh pekerjaannya. Ia memeriksa kembali daftar tugas di tablet kerjanya. Tidak ada lagi catatan yang harus diselesaikan hari itu.
Pandangannya bergeser ke arah ruang rapat yang pintunya masih tertutup rapat. Pertemuan internal para direksi rupanya belum juga usai.
Hagia melirik jam dinding.
Hampir pukul lima sore. Daripada hanya duduk menunggu, Hagia memutuskan keluar menuju pantry untuk mengambil segelas air hangat. Koridor lantai eksekutif mulai lengang. Beberapa staf sudah bersiap pulang, sementara sebagian lainnya masih berlalu-lalang membawa berkas menuju ruang rapat. Baru beberapa langkah dari pantry, pintu lift terbuka. QSeorang pria keluar dengan langkah cepat sambil memeriksa jam tangannya. Di adalah Danu.
"Selamat sore, Pak."
Danu menghentikan langkahnya.
"Sore."
Pandangannya langsung tertuju ke arah ruang rapat yang masih tertutup.
"Rapatnya masih berlangsung?"
"Masih, Pak."
Danu mengembuskan napas pelan.
"Syukurlah. Saya kira sudah selesai."
Ia merapikan map di tangannya sebelum kembali menatap Hagia.
"Saya terlambat karena harus menemui salah satu rekanan proyek di luar."
Hagia mengangguk sopan.
"Oh ya." Danu kembali menoleh ketika kakinya sudah kembali melangkah menuju ruang rapat. Ia terdiam beberapa saat sebelum melanjutkan. "Saya bisa minta tolong?"
"Silakan, Pak."
"Saya membutuhkan arsip topografi Arshaka Mall tahun 1998."
Hagia mendengarkan dengan saksama.
"Dokumen itu masih berbentuk cetak. Seingat saya belum sempat dipindahkan ke sistem digital." Danu melanjutkan, "Besok kita akan mengadakan rapat direksi untuk presentasi renovasi mall. Saya ingin mencocokkan beberapa data lama sebelum rapat dimulai."
Ia melirik jam sekali lagi. "Saya tidak ada waktu untuk mencarinya sendiri. Karena itu, saya butuh seseorang untuk mengambilnya di ruang arsip."
Hagia berpikir sejenak. Seluruh pekerjaannya hari itu telah selesai. Lagi pula, ia memang hanya sedang menunggu Kalandra menyelesaikan rapat.
"Kalau Pak Danu tidak keberatan," ujarnya pelan, "biar saya saja yang mengambilnya."
Danu tampak berpikir beberapa detik. "Kamu... yakin?"
Hagia mengangguk. "Pekerjaan saya sudah selsai."
Danu akhirnya menyerahkan secarik memo kecil. "Rak empat belas, sektor B." Ia menunjuk tulisan pada memo itu. "Map kulit cokelat bertuliskan 'Arshaka Mall 1998'. Ambil saja seluruh berkasnya."
"Baik, Pak."
"Terima kasih."
Tanpa menunggu lebih lama, Danu langsung berbalik menuju ruang rapat. Sementara Hagia melipat memo kecil itu, memasukkannya ke dalam saku blazer, lalu berjalan menuju lift yang akan membawanya ke lantai dua puluh delapan.
Lift berhenti di lantai dua puluh delapan dengan denting pelan.
Begitu pintunya terbuka, suasana yang jauh berbeda langsung menyambut Hagia. Lantai itu jauh lebih sepi dibandingkan lantai eksekutif. Sebagian besar ruangan sudah gelap karena jam kerja hampir berakhir. Hanya lampu-lampu koridor yang masih menyala redup, memantulkan cahaya kekuningan di lantai marmer yang lengang.
Hagia mengeluarkan secarik memo dari saku blazernya, memastikan kembali petunjuk yang diberikan Danu.
Ruang Arsip Fisik. Rak 14. Sektor B. Lemari 3. Map kulit cokelat bertuliskan Arshaka Mall 1998.
Setelah memastikan semuanya sesuai, ia melangkah menuju ruang arsip di ujung koridor. Ruangan itu cukup luas dengan deretan rak besi yang menjulang hampir menyentuh langit-langit. Bau khas kertas tua bercampur debu memenuhi udara. Di salah satu sudut masih menyala lampu baca yang menerangi meja administrasi, tetapi tidak tampak seorang petugas pun berada di sana.
Mungkin mereka sudah pulang.
Hagia tidak terlalu memikirkannya. Ia kembali melihat memo sebelum berjalan menyusuri lorong di antara rak-rak arsip. Rak empat belas tidak sulit ditemukan. Di sisi rak terpasang label logam yang masih terbaca jelas. Hagia memasuki sektor B, kemudian menghitung nomor lemari sesuai petunjuk.
"Satu... dua... tiga."
Ia berhenti di depan lemari ketiga.
Begitu pintunya dibuka, puluhan map kulit tersusun rapi berdasarkan tahun. Jemarinya bergerak perlahan menyusuri punggung map hingga akhirnya berhenti pada tulisan yang dicarinya. Arshaka Mall 1998.
"Ketemu."
Senyum tipis terbit di wajahnya.
Ia mengeluarkan map itu perlahan. Isinya ternyata cukup tebal, terdiri atas gambar topografi, hasil pengeboran tanah, hingga laporan survei awal pembangunan mal.
Baru saja Hagia menutup kembali pintu lemari, terdengar suara logam dari arah luar.
Klik.
Suara itu begitu pelan hingga nyaris tidak terdengar. Hagia menghentikan langkahnya sejenak.
Ia menoleh ke belakang. Lorong di antara rak-rak arsip tetap kosong.
Mungkin hanya suara pintu yang tertiup embusan pendingin ruangan. Ia kembali berjalan menuju pintu keluar sambil memeluk map di dadanya. Namun, belum sempat mencapai ujung lorong, seluruh lampu di ruang arsip mendadak padam.
Tak!
Ruangan seketika tenggelam dalam kegelapan. Hagia refleks berhenti.
Beberapa detik kemudian, suara mesin pendingin ruangan ikut menghilang. Kesunyian mendadak terasa begitu pekat. Instingnya langsung bekerja. Ini bukan sekadar lampu mati. Dengan perlahan ia meraba dinding di sampingnya, berusaha mengingat arah menuju pintu masuk. Langkahnya tetap tenang, meski jantungnya mulai berdetak lebih cepat.
Beberapa saat kemudian, telapak tangannya menyentuh permukaan pintu besi. Hagia segera menekan gagang pintu. Tidak bergerak. Ia mencoba sekali lagi dengan tenaga lebih besar. Tetap tidak terbuka. Alisnya berkerut. Tangannya kini mendorong pintu itu lebih keras.
Masih sama. Pintu tersebut benar-benar terkunci dari luar. Untuk pertama kalinya sejak memasuki ruang arsip, dada Hagia terasa mengencang. Ia menarik napas panjang, berusaha mempertahankan pikirannya tetap jernih. Lalu kepalan tangannya menghantam pintu besi itu.
"Permisi!" Suara benturannya menggema memenuhi ruang arsip yang gelap. "Apakah ada orang di luar?"
Tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang semakin menyesakkan.
Next--->
semoga bukunya sukses
semoga saja ada yang menolong 😔🤲
pada penasaran dengan sosoknya, tapi dia ada didepan orang² yang penasaran padanya 🤭
enak dibaca.. ❤️❤️❤️❤️❤️
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻