Alesia Fiore mengira hidupnya di Korea Selatan sudah berada di titik paling damai. Demi memperbaiki ekonomi keluarga yang ironisnya hanya peduli pada uang kirimannya Alesia rela bekerja keras bagai kuda selama satu tahun sebagai admin pemasaran di Aetheris Games. Biarpun sering lembur, ia bahagia karena memiliki lingkungan kerja yang sehat dan sahabat-sahabat yang suportif.
Namun, kedamaian itu hancur berantakan saat takdir membawa Dante Luca Alessio masuk ke hidupnya.
Dimulailah hari-hari penuh kesialan, kejengkelan, dan kesalahpahaman kocak bagi Alesia yang harus melayani segala tuntutan ajaib dari bos barunya yang ruthless. Sanggupkah Alesia bertahan demi pundi-pundi won, atau justru benci di antara mereka berubah menjadi benih-benih cinta yang tak terduga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seasoulune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 32
Dante mengamati pergerakan kesal Alesia dengan binar kepuasan yang samar di matanya. Setelah meja itu dirasa bersih, Dante langsung mendudukkan diri di atas kursi lipat besi yang sempit.
Postur tubuhnya yang tegap dan kakinya yang panjang membuat kursi lipat itu tampak sangat kekecilan, memberikan pemandangan kontras yang sangat menggelikan.
Pria itu membuka laptop tipisnya, lalu meletakkannya di atas meja kecil tersebut, mulai mengetik seolah ia adalah karyawan admin baru di divisi pemasaran.
Maka, dimulailah jam-jam paling menyiksa sekaligus konyol dalam hidup Alesia Fiore. Jarak antara kursinya dan kursi dante hanya terpisahkan oleh sekat kubikel setinggi dada yang tipis.
Setiap kali Alesia bergerak, bergeser, atau menghela napas, ia bisa merasakan kehadiran Dante yang sangat intim di sebelahnya.
Wangi parfum maskulin premium milik pria itu bahkan mengalahkan aroma pengharum ruangan rasa jeruk di lantai 35.
Satu jam berlalu dengan penuh ketegangan. Alesia berusaha keras memfokuskan matanya pada layar monitor, namun fokusnya buyar setiap kali mendengar suara ketukan papan ketik Dante yang teratur di sebelahnya.
Sret.
Tiba-tiba, dari balik sekat kubikel, sebuah pulpen mewah berlapis emas meluncur pelan dan berhenti tepat di samping papan ketik Alesia.
Alesia tersentak, menoleh ke samping. Dante sedang menatapnya dari balik sekat dengan ekspresi wajah yang sangat serius.
"Nona Fiore, pulpen saya menggelinding jatuh ke area Anda. Tolong ambilkan."
Alesia melirik pulpen yang jaraknya hanya sepuluh sentimeter dari tangan Dante sendiri. Pria itu hanya perlu mengulurkan jarinya untuk mengambilnya.
Alesia mendengus pelan, mengambil pulpen tersebut, lalu menyerahkannya dengan kaku.
"Ini, Pak."
"Terima kasih," jawab Dante pendek, kembali fokus pada laptopnya.
Dua puluh menit kemudian, kejadian serupa kembali terulang. Kali ini bukan pulpen, melainkan selembar kertas catatan kecil (sticky notes) berwarna kuning yang sengaja dilempar Dante hingga mendarat tepat di atas tetikus (mouse) milik Alesia.
Alesia menarik napas dalam-dalam, menahan emosinya yang mulai mendidih. Ia mengambil kertas tersebut dan membaca tulisan tangan Dante yang sangat rapi di atasnya: 'Nona Fiore, tolong ambilkan botol air minum saya di dalam tas kertas di bawah meja Anda. Tangan saya tidak sampai.'
Alesia menunduk, melihat ke bawah mejanya. Dan benar saja, di sana ada sebuah tas kertas belanjaan berisi botol tumbler milik Dante.
Masalahnya adalah, jarak antara kursi Dante dan tas kertas itu sangat dekat, sementara Alesia harus membungkuk dalam-dalam di bawah kolong mejanya sendiri untuk meraihnya.
Dengan wajah yang sudah merah padam karena jengkel, Alesia membungkuk di bawah kolong meja, mengambil botol minum tersebut, lalu berdiri dan meletakkannya dengan hentakan sedikit keras di meja Dante.
"Ini botol minumnya, Sajangnim yang terhormat!" ucap Alesia dengan penekanan kata yang sangat sarkastis.
Dante menurunkan sedikit kacamatanya, menatap Alesia dengan binar mata jahil yang sangat kentara.
"Terima kasih, Nona Fiore. Pelayanan Anda sebagai admin penanggung jawab proyek sangat memuaskan."
Alesia rasanya ingin menggigit sekat kubikel saat itu juga karena gemas melihat tingkah ajaib bos besarnya.
Hana dan Min-ji yang sejak tadi mengamati interaksi konyol itu dari balik kubikel mereka hanya bisa menyembunyikan wajah mereka di balik telapak tangan, menahan tawa sampai bahu mereka berguncang hebat.
Mereka tahu betul, sistem AC kantor Aetheris Games tidak mungkin rusak di lantai atas, dan aksi "pindah kubikel" ini murni adalah modus tingkat tinggi dari sang CEO singa untuk mengganggu dan mendekati Alesia.
Pukul 16.30 sore, rasa lelah dan kantuk mulai menyerang Alesia akibat ketegangan batin selama berjam-jam duduk di sebelah Dante. Untuk mengusir rasa kantuknya, Alesia mengambil sebuah permen karet rasa stroberi dari laci mejanya, membukanya, lalu memasukkannya ke dalam mulut.
Ia mulai mengunyah dengan santai, sesekali meniup permen karet itu hingga membentuk balon kecil lalu meletuskannya dengan suara pop pelan.
Dante yang sejak tadi diam-diam mengawasi setiap gerak-gerik Alesia dari balik layar laptopnya kembali menghentikan ketukan jarinya. Pria itu menengok dari balik sekat kubikel.
"Nona Fiore," panggil Dante, membuat Alesia yang baru saja meniup balon permen karetnya langsung terkejut hingga balon itu pecah dan menempel di sekitar bibirnya.
Alesia buru-buru membersihkan sisa permen karet di bibirnya dengan panik, wajahnya kembali merona malu.
"I-iya, Pak? Ada apa lagi? Pulpen Bapak jatuh lagi?" tanya Alesia ketus, sudah kehilangan mode formalnya karena terlalu lelah dijahili.
Dante menatap bibir Alesia yang sedikit kemerahan akibat bekas permen karet, lalu menaikkan sebelah alisnya.
"Permen apa yang sedang kamu makan?"
Alesia mengedipkan matanya bingung.
"Ini... permen karet rasa stroberi, Pak. Memangnya kenapa? Bapak mau melarang saya makan permen karet juga di kantor?"
Tanpa diduga, Dante justru mengulurkan tangan kanannya yang terbuka di atas sekat kubikel, menatap Alesia dengan pandangan menuntut yang aneh. "Bagi saya satu."
"Ha??" Alesia melongo untuk kesekian kalinya hari itu.
"Bapak... mau permen karet murahan begini? Ini belinya di minimarket bawah, Pak, harganya cuma seribu won. Lidah kelas atas Bapak tidak akan cocok."
"Saya tidak peduli harganya, Fiore. Berikan saya satu," ulang Dante, suaranya merendah dengan nada mutlak yang tidak menerima bantahan, namun matanya menatap Alesia dengan binar kehangatan yang intim.
Alesia mengembuskan napas pasrah, merogoh lacinya, mengambil satu butir permen karet bungkus merah muda yang tersisa, lalu meletakkannya di atas telapak tangan besar Dante.
"Ini, Pak. Habis ini tolong jangan ganggu saya dulu, kerjaan saya masih banyak."
Dante menerima permen karet itu, membuka bungkusnya dengan gerakan tangan yang sangat elegan, lalu memasukkannya ke dalam mulut.
Ia mulai mengunyah perlahan, merasakan sensasi rasa manis stroberi yang sangat pekat di lidahnya. Sambil menatap Alesia yang sudah kembali fokus mengetik dengan wajah cemberutnya yang menggemaskan, Dante menyunggingkan sebuah senyuman lebar yang sangat menawan sebuah senyuman tulus yang membuat ketampanannya meningkat berkali-kali lipat.
'Manis,' batin Dante, bukan hanya merujuk pada rasa permen karet di mulutnya, melainkan pada kehadiran gadis keras kepala di sebelahnya yang kini telah sukses menjungkirbalikkan seluruh dunia dinginnya menjadi jauh lebih penuh warna.
Siasat konyol pindah kubikel siang itu mungkin membuat Alesia jengkel setengah mati, namun di balik omelan dan kepanikan konyol di lantai 35, benih-benih romansa di antara sang bos ruthless dan staf admin setianya justru semakin tumbuh subur dan mengakar kuat, bersiap menghadapi badai rencana tiga bulan yang sesungguhnya di masa depan.