Indonesia
NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Sang Naga

Reinkarnasi Sang Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Sistem
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Lin Chen adalah pewaris sah dari Keluarga Lin di Ibukota Jingcheng. Namun, karena intrik ibu tirinya dan adik tirinya (Lin Tian), meridiannya dihancurkan, dia dijebak atas kejahatan penggelapan, dan dibuang ke kota kecil Donghai sebagai orang cacat. Tunangannya yang kejam, Ye Mei, akhirnya membunuhnya di gang gelap.
​Namun, takdir berkata lain. Lin Chen terbangun 5 tahun di masa lalu, tepat di hari ia dibuang ke Donghai. Kali ini, ia tidak hanya membawa ingatan masa depannya, tetapi jiwanya telah terikat dengan [Sistem Penguasa Urban Tertinggi]. Mulai dari menyembuhkan tubuhnya, membangun kerajaan bisnis, hingga menguasai seni bela diri kuno, Lin Chen bersumpah akan menginjak-injak mereka yang pernah mengkhianatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: Altar Darah

​Di dalam penthouse yang sunyi, Lin Chen terus memusatkan pikirannya pada layar virtual sistem. Waktu menuju hari ketujuh semakin menipis. Jika prediksi Jenderal Qin Cang benar, Keluarga Lin akan mendatangkan monster sungguhan dari Sekte Pedang Darah.

​"Sistem, aku memiliki 28.000 poin. Apa pilihan terbaikku untuk menghadapi ahli setingkat Tahap Langit Menengah atau lebih?" tanya Lin Chen.

​[Ding!]

​[Menganalisis opsi berdasarkan sisa Poin dan kondisi fisik Host...]

[Saran 1: 'Pil Tembus Batas Bumi' (Harga: 25.000 Poin). Membantu Host menerobos paksa ke Tahap Menengah Tingkat Bumi. Risiko: Fondasi akan goyah selama satu bulan.]

[Saran 2: 'Set Bendera Formasi Penekan Langit' (Harga: 26.000 Poin). Artefak taktis Kelas Bumi Puncak. Jika ditanam di area tertentu, formasi ini akan menekan 30% aliran Qi musuh yang berada di Tahap Langit, sekaligus mengurangi beban konsumsi Qi Host saat menggunakan keterampilan tingkat tinggi.]

​Lin Chen merenung sejenak. Jika ia memilih Pil, kekuatannya memang akan meningkat tajam secara instan, namun itu melanggar prinsip kultivasinya. Memaksakan peningkatan level terlalu cepat hanya akan membuatku berakhir seperti vas porselen yang rapuh di kemudian hari, batinnya. Ia harus melangkah dengan fondasi yang kokoh.

​"Aku pilih opsi kedua. Beli Set Bendera Formasi."

​[Ding!]

​[Pembelian berhasil! Mengurangi 26.000 Poin. Saldo Poin: 2.000.]

[Host menerima: 8x Bendera Formasi Penekan Langit & Manual Pemasangan.]

​Di atas tempat tidurnya, muncul delapan bendera kecil berwarna hitam dengan ukiran rune emas yang memancarkan aura kuno. Lin Chen tersenyum tipis. Ia tidak akan bertarung frontal secara bodoh jika ia bisa mengendalikan arena pertempuran. Gunung Barat akan menjadi kuburan yang sempurna bagi siapa pun yang berani membelanya.

​Di saat yang sama, Kediaman Utama Keluarga Lin.

​Langit di luar mendung, seolah mencerminkan keputusasaan yang menyelimuti keluarga tersebut.

​Setelah dipermalukan oleh Jenderal Besar Qin Cang, sekutu-sekutu Keluarga Lin mulai membelot. Bahkan Keluarga Xiao menutup pintu mereka rapat-rapat, menolak menerima telepon dari Lin Tian. Mereka semua tahu, Keluarga Lin sudah berada di ujung tanduk.

​Di ruang bawah tanah rahasia Kediaman Lin, yang hanya bisa diakses oleh Kepala Keluarga, suasananya sangat mencekam. Ruangan itu hanya diterangi oleh dua buah lilin merah. Di tengah ruangan, terdapat sebuah altar batu hitam dengan ukiran pedang bersilang.

​Lin Zheng, Zhao Yuhua, dan Lin Tian berlutut di depan altar tersebut.

​Wajah Lin Zheng pucat dan dipenuhi keringat dingin. Di tangannya, ia memegang sebuah belati perak.

​"Ayah... apakah kita benar-benar harus melakukan ini?" bisik Lin Tian dengan suara bergetar. "Kudengar bayaran untuk memanggil mereka... sangat mengerikan."

​"Kita tidak punya pilihan lain!" desis Lin Zheng dengan rahang mengeras. "Militer telah meninggalkan kita. Dunia bawah dikuasai oleh pengawal Lin Chen. Jika besok kita tidak memenggal kepala bajingan kecil itu di Gunung Barat, Keluarga Lin akan dicoret dari peta Ibukota!"

​Lin Zheng menarik napas panjang, lalu menyayat telapak tangan kirinya dengan belati perak itu.

​Darah segar menetes deras ke atas altar batu hitam. Zhao Yuhua dan Lin Tian juga maju, menyayat telapak tangan mereka sendiri dan membiarkan darah mereka bercampur di atas altar.

​"Kami, keturunan Keluarga Lin dari dunia sekuler, membakar darah dan jiwa, memohon kehadiran para Dewa dari Sekte Pedang Darah!" seru Lin Zheng.

​WUSSH!

​Seketika, darah di atas altar itu mendidih dan menguap, menciptakan kabut berwarna merah pekat yang berbau anyir. Kabut itu berkumpul di udara, perlahan membentuk proyeksi wajah seorang pria tua dengan rambut merah panjang dan mata yang sepenuhnya berwarna putih kosong.

​Itu adalah salah satu Penatua Tingkat Tinggi dari Sekte Pedang Darah di Dunia Tersembunyi.

​"Keluarga Lin," suara pria tua itu terdengar menggema dari segala penjuru ruangan, menggetarkan gendang telinga mereka hingga berdarah. "Kalian telah membangunkan kultivasiku. Di mana anjing penjaga yang kami kirimkan untuk kalian, Tetua Huang? Mengapa dia membiarkan kalian memanggilku?"

​Lin Zheng bersujud hingga dahinya membentur lantai batu. "T-Tetua yang Agung! Tetua Huang... beliau telah dibunuh!"

​Mata putih proyeksi itu tiba-tiba memancarkan kilatan petir merah. Suhu di ruang bawah tanah itu turun drastis hingga napas mereka membeku.

​"Dibunuh?! Siapa di Ibukota rendahan ini yang berani membunuh murid dari Sekte Pedang Darah?!" raungnya marah.

​"Seorang pemuda bernama Lin Chen, Tuan!" jawab Zhao Yuhua cepat. "Dia adalah anak buangan, namun entah bagaimana dia kembali dengan ilmu pedang misterius yang sangat kuat. Dia merobek Domain Tetua Huang dan membunuhnya! Pemuda itu juga mengancam akan menghancurkan kami, perpanjangan tangan Sekte Pedang Darah di Ibukota, jika kami tidak berlutut padanya besok!"

​Penatua berambut merah itu terdiam sejenak. Amarahnya perlahan berubah menjadi kedinginan yang mematikan.

​"Bisa membelah Domain Qi... Itu berarti anak itu memiliki teknik rahasia tingkat tinggi, atau artefak kuno," gumam Penatua itu. "Beraninya dia menantang keagungan kami. Baiklah. Besok pagi, aku akan mengirimkan dua 'Utusan Pedang Berdarah' ke Gunung Barat. Mereka berdua berada di Tahap Menengah Tingkat Langit. Tidak peduli trik apa yang dimiliki pemuda itu, dia akan dicincang menjadi makanan anjing."

​"T-Terima kasih, Tetua yang Agung!" Lin Zheng dan keluarganya menangis lega. Tahap Menengah Tingkat Langit! Dua orang sekaligus! Itu adalah kekuatan yang bisa meratakan sebuah divisi militer bersenjata lengkap!

​"Namun ingat, Lin Zheng," suara Penatua itu berubah menjadi serak dan rakus. "Sesuai perjanjian leluhur, harga dari pemanggilan dua Utusan ini... adalah separuh dari seluruh total aset Keluarga Lin saat ini, dan lima puluh pemuda dari garis keturunan cabang kalian untuk dijadikan 'kantung darah' kultivasi kami."

​Mendengar syarat itu, Lin Tian nyaris pingsan. Menyerahkan lima puluh anggota keluarga cabang untuk dikorbankan secara brutal?

​Namun Lin Zheng, yang matanya sudah digelapkan oleh dendam dan keputusasaan, langsung menyetujuinya tanpa ragu. "Hamba mengerti, Tetua! Semuanya akan disiapkan!"

​Kabut merah itu perlahan menghilang. Lilin kembali menyala normal.

​Lin Zheng bangkit berdiri, membebat tangannya yang berdarah. Ia menatap istri dan putranya dengan senyum kegilaan.

​"Kita selamat," tawa Lin Zheng parau. "Besok, mari kita kenakan pakaian duka. Kita akan pergi ke makam Gunung Barat... bukan untuk berlutut, tapi untuk mengantarkan anak haram itu menemui ibunya di neraka!"

​Malam Hari Keenam. Sehari sebelum Ultimatum.

​Di saat Keluarga Lin sedang bersorak dalam kegilaan mereka, Lin Chen telah berada di lokasi yang akan menjadi titik penentuan besok pagi.

​Gunung Barat Ibukota adalah kompleks pemakaman kuno yang sangat sunyi dan dikelilingi oleh hutan pinus yang lebat. Angin malam berhembus membawa udara dingin yang menusuk tulang.

​Lin Chen berjalan menyusuri jalan setapak berbatu, ditemani oleh Paman Bai yang membawa sebuah lentera.

​Mereka berhenti di depan sebuah makam yang terletak agak jauh dari makam-makam megah keluarga elit lainnya. Batu nisannya terlihat sederhana, namun sangat bersih. Ah Fei dan anak buahnya telah datang lebih dulu untuk membersihkan area ini dari gulma.

​Di nisan itu tertulis: Makam Shen Yan. Istri, Ibu, dan Wanita Terkuat.

​Lin Chen berlutut di depan makam itu. Ia meletakkan sebuket bunga lili putih—bunga kesukaan ibunya—dan menuangkan secawan arak berkualitas tinggi ke atas tanah.

​Paman Bai mundur beberapa langkah, memberikan ruang bagi Tuan Mudanya.

​"Ibu," panggil Lin Chen pelan, suaranya bercampur dengan desir angin. "Anak nakalmu akhirnya pulang. Maaf aku butuh waktu lima tahun untuk datang kemari."

​Lin Chen mengusap debu dari batu nisan tersebut.

​"Dulu, kau selalu menyuruhku untuk bersabar, menyuruhku untuk menyembunyikan taringku di keluarga ini. Aku mendengarkanmu, tapi mereka menganggap kebaikan kita sebagai kelemahan. Besok, aku tidak akan bersabar lagi. Aku akan membuat mereka berlutut dan meminta maaf di depanmu atas semua penderitaan yang mereka berikan padamu."

​Lin Chen menatap nisan itu lekat-lekat. Dalam benaknya, peringatan dari Jenderal Qin Cang tentang 'Dunia Bela Diri Tersembunyi' terngiang kembali.

​"Aku tahu musuh sejatimu bukan hanya Keluarga Lin. Siapa pun yang bersembunyi di balik bayangan, yang memaksamu untuk memalsukan kematianmu atau membunuhmu... aku akan menyeret mereka keluar. Satu per satu."

​Lin Chen berdiri. Ia berbalik dan menatap area tanah lapang yang cukup luas di depan makam tersebut.

​"Paman Bai," panggil Lin Chen.

​"Ya, Tuan Muda."

​"Keluarga Lin pasti sudah memanggil sekutu mereka dari Dunia Tersembunyi. Besok, level pertarungan akan melampaui apa yang bisa kalian tangani. Pagi-pagi sekali, bawa Ah Fei dan delapan belas pengawal turun ke kaki gunung. Blokir semua jalan akses. Jangan biarkan polisi, wartawan, atau warga sipil naik kemari."

​"T-Tapi Tuan Muda, Anda akan menghadapi mereka sendirian?!" Paman Bai tampak cemas.

​Lin Chen tersenyum tipis. "Aku tidak pernah sendirian."

​Lin Chen mengeluarkan delapan Bendera Formasi Penekan Langit dari dalam mantelnya. Ia kemudian melesat dengan ilmu meringankan tubuh, menanamkan kedelapan bendera itu di titik-titik krusial yang membentuk formasi segi delapan (Ba Gua) raksasa, mengelilingi seluruh area pemakaman.

​Begitu bendera terakhir ditancapkan ke tanah, sebuah riak energi transparan memancar ke udara dan menyatu dengan lingkungan sekitar, menjadi benar-benar tak terlihat oleh mata telanjang.

​"Arena sudah siap," gumam Lin Chen. "Kini, kita hanya tinggal menunggu para aktornya datang."

1
Arinto Ario Triharyanto
Wokeee 😎
Arinto Ario Triharyanto
yoooiiiii muantaffff ini ☕😎
Arinto Ario Triharyanto
muantaffff ini 😎👍
Arinto Ario Triharyanto
yoaiii
Arinto Ario Triharyanto
muantaffff 😎
Arinto Ario Triharyanto
mantap ini 😎 ☕☕☕
Arinto Ario Triharyanto
yoiii lanjutken..😎
Arinto Ario Triharyanto
yoiii😎
Arinto Ario Triharyanto
yoi😎
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!