Dijodohin sama Kian, sahabat dari kecil yang pernah nempelin permen karet di rambut gue itu sebuah bencana.
Gue tahu betul bobroknya Kian dari A sampai Z, tahu cara mikirnya yang ajaib sampai rekor kencannya yang melebihi jumlah anggota DPR. Kalau dipikir secara logika, harusnya tanpa pikir panjang gue langsung nolak.
Tapi masalah utamanya satu, Gue suka sama Kian.
Sialan emang.
Kini, demi gengsi Kian yang terluka gara-gara ditolak di meja makan, gue jadi terjebak masa percobaan 6 bulan jadi pasangan PDKT resmi. Masa di mana gue harus bertahan di antara dada yang deg-degan parah, dan dorongan kuat buat ngeplak kepala Kian saban hari.
Sanggupkah gue bertahan tanpa kehilangan akal sehat ini?😭
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Sinyal Bahaya
Efek kecupan kilat di perpustakaan hari itu ternyata berbuntut panjang. Kian beneran shutdown hampir sepuluh menit, sibuk mengacak-acak rambutnya sendiri sambil pura-pura menatap layar laptop yang padahal udah masuk mode sleep.
Gue yang ngelihat cowok se-pede Kian bisa mendadak gagap dan salah tingkah cuma gara-gara ulah nekat gue sendiri, mendadak merasa menang telak. Rasa gengsi yang selama ini menumpuk rasanya terbayar tuntas.
Tapi tentu aja, kedamaian di antara kami gak pernah bertahan lama kalau gak ada kerikil yang nyangkut.
Sore harinya, setelah revisi Bab 3 gue beres diiketik ulang, Kian mengajak gue nongkrong di kafe biasa dekat kampus. Kali ini bukan cuma kami berdua, tapi gabung sama Bima, Naya, dan Abel.
"Anjir, seriusan Bab 3 lu dikelarin Kian dalam sejam?" tanya Abel dengan mata melotot kagam sambil menyendok red velvet cake-nya. "Gue minta tolong sama cowok gue kemarin malah diajak berantem gara-gara beda rumus!"
"Kian mah kalau soal statistik emang rada gila, Bel," celetuk Bima yang lagi sibuk milih lagu di joystick PS portabelnya. "Tapi tumbalnya Elora mau nurut aja disuruh-suruh."
Gue cuma menyeringai tipis sambil menyedot es kopi susu gue, sementara Kian yang duduk di sebelah gue cuma tersenyum miring sambil merangkulkan tangan santainya di sandaran kursi tempat gue duduk. Posisinya kelewat protektif, seolah-olah ngirim sinyal ke seluruh pengunjung kafe kalau cewek di sebelahnya ini udah ada yang punya.
Di tengah-tengah obrolan seru kami, pintu kafe berdenting pelan.
Seorang cewek bertubuh tinggi semampai dengan rambut bergelombang hitam pekat melangkah masuk. Dia pakai blazer kasual warna krem dan celana kulot, kelihatan sangat elegan dan berkelas. Matanya mengedarkan pandangan ke sekeliling kafe sebelum akhirnya tertuju ke meja kami.
Gue menyadari perubahan drastis pada gestur tubuh Kian. Tangan Kian yang tadinya bertengger santai di belakang kursi gue mendadak kaku. Rangkulannya merapat sedikit, menarik bahu gue lebih dekat secara refleks.
"Loh... itu bukannya Farra?" bisik Naya pelan, matanya melotot ke arah cewek itu.
Gue mengerutkan dahi. Farra?
Nama itu asing di telinga gue. Gue kenal hampir semua mantan Kian, mulai dari Sisca, Dea, sampai cewek-cewek angkatan bawah yang pernah dekat sama dia. Tapi nama Farra sama sekali gak ada di daftar arsip ingatan gue.
"Siapa Farra?" bisik gue ke Naya.
Belum sempat Naya menjawab, cewek bernama Farra itu sudah berdiri tepat di samping meja kami. Dia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat tenang, tapi punya aura intimidasi yang kuat banget.
"Hai, Ki. Hai, Bim," sapa Farra dengan suara halus dan teratur.
Bima mendadak kikuk. Dia menaruh PS portabelnya dan mengangguk kaku. "Eh... Farra. Baru balik dari Bandung?"
"Iya, kemarin malam," jawab Farra. Matanya lalu mengalih menatap Kian, lalu turun ke tangan Kian yang masih merangkul bahu gue erat-erat. Tatapannya bertahan di sana selama beberapa detik sebelum kembali menatap mata Kian.
"Aku nyari kamu di lab komputasi tadi, kata anak-anak kamu ke kafe ini," kata Farra tenang. "Bisa ngobrol sebentar? Soal proposal riset gabungan dosen kita."
Atmosphere di meja kami yang tadi penuh tawa mendadak turun drastis sampai minus sepuluh derajat Celsius. Naya dan Abel saling lempar tatapan penuh kode panik.
Gue melirik Kian. Ekspresinya mendadak berubah dingin, bukan dingin bercanda kayak pas dia cemburu sama Rendy, tapi dingin yang bener-bener penuh benteng pertahanan.
"Soal proposal kan bisa dibahas di grup chat, Ra," jawab Kian datar, tanpa ada nada ramah sedikit pun. "Gue lagi nongkrong sama cewek gue dan temen-temen."
Kata 'cewek gue' yang keluar dari mulut Kian sengaja ditekankan.
Farra gak kelihatan emosi atau kaget. Dia cuma tersenyum tipis, lalu menatap gue secara langsung. Tatapannya meneliti gue dari atas sampai bawah, bukan tatapan benci, tapi tatapan menilai yang bikin rumit dan gak nyaman.
"Oh... ini Elora?" tanya Farra halus. "Sahabat kamu dari kecil yang sering kamu ceritain itu?"
Sahabat dari kecil.
Kata-kata itu terlempar begitu tenang, tapi rasanya kayak jarum halus yang menusuk tepat di ulu hati gue. Farra menyebutnya seolah-olah dia udah tahu seluruh seluk-beluk hidup Kian, termasuk keberadaan gue yang 'cuma' sebatas sahabat dari kecil.
"Calon istri gue," potong Kian cepat, suaranya makin rendah dan berbahaya. "Bukan cuma sahabat."
Farra mengangguk-angguk pelan, senyumnya tetap terpasang rapi di wajah cantiknya. "I see. Sori ya kalau mengganggu momen kalian. Ki, aku tunggu file revisinya di email malam ini ya. Bye."
Farra berbalik dan melangkah pergi keluar kafe dengan langkah anggun, meninggalkan keheningan mencekam di meja kami.
Gue mengepal jemari di atas pangkuan. Rasa hangat dan bahagia yang menyelimuti gue sejak dari Puncak mendadak menguap, digantikan oleh rasa curiga dan gelisah yang membuncah.
Gue menoleh ke Kian yang masih menatap lurus ke arah pintu keluar.
"Ki," panggil gue pelan. "Farra itu... siapa?"
Kian menoleh menatap gue. Pendar mata jernih dan hangat yang tadi pagi ada di sana mendadak tertutup rapat oleh bayangan masa lalu yang belum pernah dia ceritakan sama gue.