Indonesia
NovelToon NovelToon
Jatuhkan Talakmu, Gus

Jatuhkan Talakmu, Gus

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Dijodohkan Orang Tua / Penyesalan Suami
Popularitas:21k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

"Satu tahun aku menjaga kehormatan pernikahan ini. Satu tahun aku bersabar menanti kesiapanmu menyentuhku. Namun, di hari jadi pernikahan kita, Allah justru menyentakku dengan kebenaran yang mengoyak dada. Kau tidak menyentuhku bukan karena belum siap, Gus...tapi karena hatimu telah kau habiskan untuk santrimu sendiri."
Demi menjadi istri berbakti bagi Gus Reyhan, Adskhania Nayara melepas impian besarnya menjadi seorang dokter psikiater. Dia mengabdi di pesantren, dicintai mertua, dan dihormati para santri. Namun, predikat 'Ning' ternyata hanya mahkota berduri. Tepat di usia pernikahan yang pertama, Naya mendapati fakta bahwa suaminya telah menikah siri dengan seorang santriwati.
Di hadapan Sang Mertua yang menangis menahan malu atas kelakuan putranya, Naya berdiri tegak dengan sisa-sisa harga dirinya yang hancur. Tidak ada lagi air mata untuk penolakan yang sia-sia.
Dengan lantang, di atas kesuciannya yang masih utuh, Naya bersuara: "Di depan Abi dan Umi, jatuhkan talakmu, Gus!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Suara gemericik air dari pancuran taman tengah ndalem terdengar lebih nyaring malam itu, bersahut-sahutan dengan embusan angin dingin yang memukul-mukul daun jendela kayu.

Usai memimpin jemaah salat Isya di masjid utama, langkah kaki Reyhan terasa jauh lebih berat dari biasanya. Sarung tenun sutra dan jubah abu-abu yang melekat di tubuhnya tak lagi mampu menyembunyikan gestur tubuh yang gelisah.

Tujuannya malam ini bukan ndalem utama, melainkan ndalem barat—sebuah bangunan kayu tua berukir Jawa yang terletak agak terpisah di dekat area asrama santriwati senior.

Di dalam ruangan yang hanya diterangi lampu gantung kekuningan itu, Rani duduk menunduk di atas karpet tipis. Jemarinya terus meremas ujung jilbab keputihan yang ia kenakan. Saat mendengar langkah kaki Reyhan mendekat, gadis itu mendongak. Wajahnya yang tampak rapuh dan sembap memancarkan ketakutan yang nyata.

"Gus..." suara Rani bergetar, nyaris tertelan suara angin pegunungan di luar. "Pintunya sudah terkunci?"

Reyhan mengangguk pelan, lalu mengambil posisi duduk di hadapan Rani dengan jarak yang terpelihara. Tatapan mata Gus muda itu terkesan redup, kehilangan binar percaya diri yang biasanya selalu memancar saat ia memberikan pengajian.

"Rani," panggil Reyhan tenang, namun ada nada berat yang menggantung di pangkal tenggorokannya. "Saya harus memberitahumu. Naya sudah tahu segalanya. Kebohongan kita... pernikahan siri kita... semuanya sudah terbuka sore tadi di hadapan Abi dan Umi."

Rani tercekat. Matanya membelalak, napasnya mendadak berburu cepat. Warna merah di pipinya mendadak sirna, berganti pucat pasi.

"N-Ning Naya sudah tahu? Bagaimana bisa, Gus? Terus... terus sekarang bagaimana? Nanti kalau santri lain tahu, saya harus bagaimana, Gus?"

Kepanikan menyergap tubuh gadis dua puluh tahun itu tanpa ampun. Rani memajukan duduknya, menatap Reyhan dengan raut memohon perlindungan, persis seperti burung kecil yang terancam bahaya.

Melihat kepanikan Rani, ada dorongan naluri dalam diri Reyhan untuk bertindak sebagai pelindung. Pria itu menggeser duduknya mendekat, memegang kedua bahu Rani untuk menenangkannya.

"Tenangkan dirimu," ujar Reyhan halus, mengusap bahu Rani dengan penuh kehangatan. "Membawamu ke dalam ikatan yang tersembunyi ini adalah keputusan saya. Maka, tanggung jawab atas badai ini juga ada di tangan saya. Kamu tidak perlu panik."

"Tapi... tapi Kiai dan Bu Nyai pasti murka pada saya, Gus," cicit Rani dengan air mata yang mulai menetes melintasi pipinya. "Ning Naya itu orang yang sangat baik. Beliau selalu perhatian sama saya, selalu mengajari saya di madrasah... Saya merasa sangat bersalah sudah menyakiti perempuan seagung beliau. Saya takut, Gus..."

Kalimat Rani yang menyebut Naya sebagai 'perempuan seagung beliau' mendadak menusuk ulu hati Reyhan. Ada rasa ngilu yang asing menyelusup halus di balik dadanya. Namun, melihat air mata Rani yang kian deras, Reyhan menepis perasaan asing itu. Pria itu merengkuh tubuh rapuh Rani ke dalam pelukannya, melingkarkan lengan jubahnya rapat-raptar untuk memberi rasa aman.

Rani menyandarkan kepalanya di dada Reyhan, menyembunyikan wajahnya di sana. Di balik sandaran itu, ada keresahan mendalam yang tak bisa ia sembunyikan. Bukan sekadar takut pada kemarahan sang Kiai, namun ada kegelisahan lain yang menggerogoti benaknya—sebuah kecemasan atas apa yang akan terjadi besok pagi.

"Nanti, jika Abi atau Umi memanggilmu," bisik Reyhan di atas kepala Rani yang tertutup kain, "jawablah dengan jujur, sesuai apa yang ada di hati dan pikiranmu. Jangan ada yang ditutupi lagi. Biar saya yang menanggung semua konsekuensinya di depan Abi."

Setelah mengantarkan Rani kembali hingga ke batas pagar asrama putri dengan pengawasan ketat dari kejauhan, Reyhan menyusuri jalan setapak berkerikil menuju ndalem utama.

**

Malam semakin larut. Kabut tipis dari lereng Welirang mulai merayap melintasi halaman luas pesantren, membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Namun, yang membuat tubuh Reyhan menggigil malam ini bukanlah suhu udara Pacet, melainkan keheningan yang menyambutnya begitu ia mendorong pintu depan ndalem utama.

Suasana di dalam rumah besar itu amat asing. Tak ada lagi lentera gantung yang menyala terang di ruang tengah, tak ada aroma wewangian kayu gaharu yang biasanya menyapa indra penciumannya. Dulu, setiap kali ia melangkah pulang seusai mengajar atau mengisi pengajian di luar, Naya selalu sudah berdiri di sana.

Wanita itu akan menyambutnya dengan senyuman anggun, mengambil kitab dari tangannya, lalu bertanya dengan suara lembut yang menenangkan:

"Mas mau makan malam dulu, atau mau istirahat sambil minum teh hangat di taman belakang?"

Malam ini, suara itu menghilang. Yang ada hanyalah derit lantai kayu dan desir angin yang menerobos celah ventilasi.

Reyhan membawa langkah kakinya menaiki tangga kayu berukir menuju lantai dua—area privat yang selama satu tahun ini menjadi saksi bisu pernikahan mereka. Ruang tamu kecil di lantai dua tampak sangat sunyi. Kursi jati dekat pintu balkon, tempat Naya biasa duduk tekun membaca kitab atau mengoreksi lembar tugas santri di bawah pendar lampu baca, kini kosong melompong.

Perlahan, Reyhan mendorong pintu kamar tidur utama.

Aroma lembut campuran bunga melati dan vanila—harum khas yang selalu melekat pada mukena dan pakaian Naya—seketika menyeruak menyambut inderanya. Begitu akrab, namun malam ini terasa begitu menyiksa.

Ditatapnya ranjang berukuran besar bergaya Jawa klasik di tengah ruangan. Sprei katun berwarna putih gading itu tampak amat rapi, licin tanpa lipatan. Tak ada jejak kehidupan di sana.

Sore tadi, usai badai pengakuan itu meledak di depan orang tuanya, Naya telah mengemas sebagian besar barang-barangnya dan memindahkan diri ke ndalem timur.

Reyhan menghela napas berat. Tubuhnya terasa begitu layu. Ia berjalan mendekati ranjang, lalu duduk di tepiannya dengan pandangan mengarah pada jendela kaca yang memperlihatkan kegelapan kebun belakang.

Ingatannya melayang pada kejadian seusai salat Magrib tadi. Dengan sisa keberanian yang dimilikinya, Reyhan sempat menyusuri lorong penghubung menuju ndalem timur. Ia berdiri di depan pintu kayu tebal kamar sementara Naya, mengetuknya berkali-kali dengan memanggil nama wanita itu secara halus.

"Naya... tolong buka pintunya, Nay. Mas cuma mau bicara sebentar..."

Namun, tidak ada jawaban. Ketukan jarinya hanya disambut keheningan dingin. Naya tidak mengusirnya dengan teriakan, tidak pula memaki. Wanita lulusan psikologi itu hanya membiarkan keberadaan Reyhan menguap begitu saja di luar pintu, mengabaikannya seolah pria itu tak lebih dari tiang kayu di teras.

Sikap dingin Naya justru ribuan kali lebih menyakitkan daripada kemarahan yang meledak-ledak.

Reyhan menunduk, menyatukan kedua telapak tangannya di depan wajah. Wajah tegar Naya sore tadi saat menyodorkan bukti-bukti pernikahan sirinya kembali berputar di benaknya.

Dalam ingatan Reyhan, Naya adalah sosok istri yang tak pernah menuntut, selalu patuh, tenang, dan memahami posisi dirinya sebagai seorang Putra Mahkota pesantren yang sibuk. Ketika selama satu tahun ini ia menolak menyentuh Naya dengan dalih "belum siap secara spiritual" seusai pulang dari Mesir, Naya menerimanya dengan kesabaran yang luar biasa. Naya bahkan mencoba mendekatinya secara perlahan dengan gaya bicara yang penuh empati.

Ia mengira Naya akan selalu ada di sana. Ia mengira ketenangan Naya adalah bentuk kepasrahan seorang wanita yang tidak akan pernah meninggalkannya.

Namun sore tadi, Reyhan melihat sendiri bagaimana pertahanan logis wanita itu hancur. Ia melihat bulir bening menetes dari mata cerdas Naya—sebuah air mata luka yang diusap wanita itu dengan keteguhan luar biasa.

Ada rasa bersalah yang teramat sangat mendadak membumbung tinggi, mencengkeram dada Reyhan hingga terasa sesak. Pria itu meremas rambutnya sendiri. Hatinya terombang-ambing dalam dilema yang mencekik.

Di satu sisi, ada Rani—wanita muda yang merasa ia selamatkan, wanita yang memujanya tanpa syarat dan membuatnya merasa dibutuhkan sebagai seorang lelaki panutan. Namun di sisi lain, ada Naya—permata bernilai tinggi yang selama ini ia sia-siakan, wanita berpendidikan, berprinsip kuat, dan berwibawa yang sebenarnya merupakan bagian utuh dari jiwanya.

Mengapa baru sekarang, saat bayangan kehilangan Naya benar-benar berdiri nyata di depan mata, hatinya merasa sehampa ini? Mengapa penyesalan itu justru baru datang menghantam egonya tatkala Naya menatapnya dengan pandangan asing dan tanpa rasa?

Reyhan memejamkan mata rapat-rapat di dalam kamar yang dingin itu, membiarkan keheningan malam Pacet merayapi penyesalannya yang mulai merayap naik.

Suara kentongan kayu dari pos penjagaan pesantren berdentang tiga kali, menandakan pukul tiga dini hari. Angin malam bertiup makin kencang, menggoyangkan dahan-dahan pohon pinus di sekitar komplek Al-Anwar.

Gelisah dan tak sanggup memejamkan mata di atas ranjang yang hampa, Reyhan akhirnya bangkit. Pria itu menyambar selendang kain sarungnya, menyampirkannya di bahu, lalu berjalan melintasi lorong lantai dua menuju balkon depan ndalem utama.

Dari ketinggian balkon, ia bisa melihat hamparan komplek pesantren putri yang remang-remang diselimuti lampu taman. Matanya tertuju pada bangunan ndalem timur yang lampunya masih menyala redup dari balik jendela kaca.

***

1
Tining Revi
tidak akan ada kebahagiaan yg di awali dari menyakiti orang lain.
Lala lala
iya raihan yg salah dr awal..
apalah arti perasaan anak dara liat cowok ganteng pasti ada suka..tggl cowoknya aja ngeladeni atau cuekin..🤔
Lala lala
kebanyakan novel gitu ya..disuruh jaga malah dikawini .. heran deh ahh.
dibikin ruwett nyesal akhirnya 🤭😄
Lala lala
gus betingkah tu emg bnyk sih
Lala lala
makanya saat mau jodohin anak tuh ditanya mau gak dijodohin sama dia..ada calon sendiri gak..anaknya diem berarti ga enakan..dlm klg jg hrs keterbukaan. demokrasi..drpd anak org disakiti kyk cerita2 yg sdh bnyk
falea sezi
enak ya si pelakor
Agnezz
ah itu karena diminta Kyai untuk menjemput Rani, awalnya bukan kemauan Gus Rayhan.
Mundri Astuti
yah resikonya mang begitu kan Rani...jangan pura" polos dah...

sepolos"nya org pasti masih punya hati dan akan berfikir sblm mengambil keputusan yg menyangkut org lain.
kalau kamukan ...begitu dah
Nurminah
miris emang banyak wanita zaman now dengan kepolosan dan kelembutan tapi sanggup merusak rumah tangga orang lain terkadang banyak kepingin hidup enak akhirnya membuang harga diri marwah sebagai wanita mulia jadi pelakor bergaya syar'i yg hubungan katanya karena Allah rapi diawali dengan zina dan perselingkuhan
Nurminah: setuju pelakor mana ada malu miris memang itulah ketika iman mereka semakin tinggi setan menyenggol ego kesombongan untuk menjerumuskan nya nauzubillah
total 2 replies
Mamah'e Andhika Rizky
💝💝💝lanjut kak semangat 💪💪💪💪
Uyen Uyen
nikah siri tanpa izin dari istri sah itu termasuk dalam perzinahan lho, katanya lulusan Mesir kok tak tahu hukum sih
sunaryati jarum
Sungguh lapang dada dan bijaksana Pak Kyai , sesuai dirinya yang sebagian panutan yang harus bisa memberikan contoh yang benar dan salah.Sekarang Gus khianat Reyhan belajarlah jadi orang yang bertanggung jawab seperti yang kau ucapkan pada Naya.
Tini Uje
mamposss..nikmati tuh wanita polosss 😄
Agnezz
mungkin jangan Rayhan jangan terlalu didikte Kyai. Berikan dia pilihan dan konsekwensi tanggung jawabnya. Kalo gak gitu gak dewasa2 dia.
Anonim
Heeeeremmm
Mundri Astuti
nurun siapa tu si Rayhan, Abi n uminya mah bijak, anaknya...
Nurminah
bijaksana pak kyai walaupun nyatanya wanita itu bukan harapan nya tapi dia tetap berusaha menerima perbuatan anak nya selamat menikmati penyesalan mu gus 🤭🤭🤭
Agnezz: si Gus biar belajar menjadi dewasa
total 3 replies
dyah EkaPratiwi
selamat menikmati kebodohanmu Reyhan
Mukeseh
rasakan🤣🤣🤣🤣
Sri Murtini
Ingat Reyhan keputusan bodohmu harus dipertaggung jawabkan🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!