Arthur Summers, mantan Jenderal pasukan elit rahasia, memutuskan pensiun dari dunia pertumpahan darah untuk hidup tenang bersama istrinya, Elena. Ia kembali ke kota metropolis dan mengambil pekerjaan rendah hati sebagai dosen di Universitas St. Jude, tempat Elena bekerja sebagai Dekan.
Namun, kepulangan Arthur disambut dengan kenyataan pahit. Ia memergoki Elena berselingkuh dengan Julian Thorne, putra donatur utama kampus yang arogan. Pengkhianatan ini menghancurkan hati Arthur, apalagi istrinya ternyata lebih memilih bersenang-senang dengan pria lain—sebuah drama pengkhianatan yang mengingatkan pada kekecewaan saat mendengar pasangan bersenang-senang dengan pria bejat di tempat hiburan.
Namun yang lebih buruk, Arthur menyadari bahwa perselingkuhan itu hanyalah puncak gunung es. Julian Thorne ternyata menggunakan universitas tersebut sebagai kedok untuk sindikat kriminal internasional yang berencana mengancam keamanan kota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Pasar Barang Antik
Udara di teras kaca Kafe L'Aura seolah tersedot habis. Cengkeraman tangan Kaelen Sterling di pundak Arthur mendadak terasa kaku saat ia menatap kilatan mata sang Jenderal. Aura membunuh yang memancar dari Arthur begitu pekat, membuat pewaris keluarga farmasi itu tanpa sadar menelan ludah.
Namun, alih-alih mematahkan lengan pria itu seperti yang ia lakukan pada pasukan Spetsnaz di pelabuhan, Arthur perlahan mengangkat tangannya dan menyingkirkan tangan Kaelen dari pundaknya dengan gerakan yang terukur.
Sebagai seorang mantan jenderal militer tertinggi, Arthur sangat memahami bahwa tidak semua konflik harus diselesaikan dengan pertumpahan darah dan kekerasan. Kota metropolis ini memiliki tatanan hukum sipil dan aturan mainnya sendiri. Membunuh seorang pewaris konglomerat di siang bolong di sebuah kafe publik hanya akan membawa masalah yang tidak perlu bagi penyamarannya.
"Kau beruntung kita berada di tempat yang beradab, Tuan Sterling," ucap Arthur dengan suara yang sangat tenang, namun memberikan tekanan psikologis yang membuat lutut Kaelen bergetar. Arthur mengambil sebuah sendok teh perak dari atas meja, lalu dengan hanya menggunakan dua jarinya, ia membengkokkan sendok baja padat itu menjadi simpul yang melilit sempurna, sebelum menjatuhkannya ke dalam cangkir Kaelen.
"Bawa kesombonganmu pergi dari sini," lanjut Arthur tanpa menoleh lagi. "Sebelum aku mengubah tulang rusukmu seperti sendok itu."
Wajah Kaelen pucat pasi. Ia menatap sendok perak yang hancur itu dengan ngeri. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Kaelen berbalik dan berjalan cepat keluar dari kafe, diikuti oleh para pengawalnya yang juga tak berani berkutik.
Setelah gerombolan itu pergi, keheningan kembali menyelimuti teras kaca. Mia Zimmer menghela napas lega, menatap Arthur dengan pandangan penuh kekaguman sekaligus rasa bersalah.
"Maafkan saya atas insiden barusan, Arthur," ucap Mia dengan lembut. "Persaingan antar keluarga kaya di kota ini memang sedang memanas sejak Yayasan Thorne hancur. Keluarga Sterling mencoba memperluas wilayah kekuasaan mereka, dan mereka menargetkan beberapa properti kami."
Arthur menuangkan kembali teh ke dalam cangkirnya dengan tenang. "Kau tidak perlu meminta maaf, Mia. Persaingan bisnis adalah hal yang lumrah. Tapi apakah Keluarga Zimmer kesulitan menghadapi mereka?"
Mia tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya dengan anggun. "Tentu saja tidak. Sejujurnya, Arthur... Keluarga Zimmer yang Anda lihat di kota ini hanyalah sebagian kecil dari kekuatan kami yang sebenarnya. Keluarga utama Zimmer sangat besar, kaya raya, dan memiliki banyak cabang di berbagai negara. Kehadiranku di kota metropolis ini murni hanya untuk pelatihan bisnis dan mengelola cabang kecil kami agar aku siap mewarisi perusahaan utama kelak."
Arthur mengangguk paham. Ia selalu tahu bahwa Mia bukanlah gadis sembarangan.
"Namun, sebesar apa pun Keluarga Zimmer atau Keluarga Sterling, kami semua tahu batasan kami," lanjut Mia, nadanya tiba-tiba berubah menjadi lebih pelan dan hati-hati. Matanya menatap lurus ke arah Arthur. "Kami tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan raksasa yang sesungguhnya... seperti Keluarga Summers di Utara."
Gerakan tangan Arthur terhenti di udara. Suhu di sekitar meja itu mendadak anjlok.
Mia menggigit bibir bawahnya, tahu bahwa ia sedang melangkah ke wilayah yang berbahaya. Sebagai seseorang yang memiliki jaringan intelijen bisnis tingkat tinggi, Mia sebenarnya telah mengetahui sedikit tentang masa lalu pria di hadapannya ini.
Enam tahun yang lalu, kisah hidup Arthur sangatlah tragis; Arthur adalah pewaris sah dari Keluarga Summers di Utara. Namun, kematian ibunya yang penuh konspirasi telah memicu pertengkaran hebat antara Arthur dan ayahnya. Menyadari kebusukan para tetua keluarga yang menutupi kebenaran, Arthur muda yang penuh dendam memilih pergi dan membuang nama keluarganya, sebelum akhirnya ia membangun Istana Phantom dari nol di perbatasan.
"Aku tahu bahwa kepergianmu dari Utara adalah karena pertengkaran dengan ayahmu dan para tetua yang—"
"Cukup, Mia."
Suara Arthur memotong kalimat gadis itu dengan sangat tajam. Tatapan matanya yang tadi hangat kini berubah menjadi benteng es yang tak tertembus.
"Aku tidak punya keluarga di Utara," ucap Arthur dingin, tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. "Jangan pernah mengungkit masa lalu itu lagi. Aku tidak ingin mengingat bahwa aku pernah memiliki ikatan darah dengan mereka yang telah mengkhianati ibuku."
Melihat perubahan drastis pada raut wajah Arthur, Mia merasa jantungnya mencelus. Ia telah melakukan kesalahan besar dengan menyentuh luka lama sang Jenderal. Dengan cepat, gadis cerdas itu mengubah arah pembicaraan.
"Maafkan saya, Arthur. Saya berjanji tidak akan pernah membicarakannya lagi," ucap Mia dengan nada tulus dan penuh penyesalan. Ia berpikir keras mencari cara untuk mencerahkan kembali suasana hati pria itu.
Sebuah ide terlintas di benaknya. "Arthur... kudengar Anda sangat menyukai barang-barang antik dan sejarah. Hari ini, ada pameran dan pasar barang antik bawah tanah yang digelar di Distrik Lama. Jika Anda tidak keberatan, maukah Anda menemani saya ke sana? Saya berniat mencari sebuah hadiah untuk kakek saya."
Arthur menatap Mia sejenak. Ia bisa melihat penyesalan dan usaha keras gadis itu untuk menghiburnya. Perlahan, kepalan tangan Arthur mengendur. Ia menghela napas panjang, menyingkirkan bayangan gelap dari masa lalunya.
"Baiklah," jawab Arthur, suaranya kembali melembut. "Sebuah pasar barang antik terdengar jauh lebih baik daripada memikirkan politik keluarga konglomerat."
Satu jam kemudian, mereka tiba di Distrik Lama. Suasana di tempat ini sangat berbeda dengan pusat bisnis yang modern. Jalanan berbatu koral dipenuhi oleh kios-kios kayu dan toko-toko tua yang memajang berbagai macam peninggalan masa lalu, mulai dari keramik Dinasti Ming, pedang abad pertengahan, hingga perhiasan kuno bernilai tinggi.
Arthur dan Mia berjalan berdampingan menyusuri lorong pasar yang ramai. Suasana di antara mereka terasa sangat natural. Mia tidak bertingkah manja atau menuntut kemewahan layaknya Elena dulu; ia justru mendengarkan dengan penuh minat saat Arthur menjelaskan sejarah dari sebuah vas porselen kuno yang mereka lewati.
Sesekali, bahu mereka bersentuhan di tengah keramaian pengunjung pasar. Setiap kali hal itu terjadi, ada rona merah tipis yang muncul di pipi Mia, sementara Arthur merasa ada kenyamanan aneh yang sudah lama tidak ia rasakan. Ini bukan cinta yang meledak-ledak dan membutakan, melainkan rasa percaya dan ketenangan yang mengalir perlahan yang menenangkan jiwanya yang lelah.
Langkah mereka terhenti di depan sebuah toko barang antik yang terlihat paling tua dan berdebu di ujung jalan. Mata Arthur, yang sangat terlatih untuk mengenali artefak bernilai tinggi dari masa perangnya, langsung tertuju pada sebuah kotak kayu kecil berukir naga yang diletakkan sembarangan di sudut etalase.
Arthur melangkah masuk, diikuti oleh Mia. Ia meminta pemilik toko yang sudah tua untuk mengeluarkan kotak tersebut. Begitu Arthur menyentuh ukiran kayu itu, insting militernya seketika berdesir. Kotak ini bukan sekadar barang antik biasa. Ada kompartemen rahasia di dalamnya, dan aura samar yang tertinggal di kayu itu mengingatkannya pada sesuatu yang sangat spesifik dari perbatasan Utara.
Tepat saat Arthur hendak membuka kotak tersebut, seorang pria gemuk dengan pakaian mencolok dan diapit oleh dua pengawal tiba-tiba masuk ke dalam toko. Ia langsung menunjuk ke arah kotak di tangan Arthur.
"Hei, Pak Tua! Aku akan membeli kotak rongsokan itu dengan harga lima kali lipat. Suruh pemuda miskin itu meletakkannya!" seru pria gemuk itu dengan arogan.
Mia mengerutkan keningnya, merasa kesal karena momen damai mereka kembali diganggu. Namun Arthur hanya tersenyum tipis. Ia tahu persis bahwa pria gemuk ini bukanlah kolektor biasa, melainkan seseorang yang juga menyadari rahasia di dalam kotak tersebut.
Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.
Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.
TERIMA KASIH.... ✌️
kira2 kultivasi arthur sudah kaisar bumi minimal...