Lu Chen adalah seorang pemuda berusia dua puluhan yang hidup terasing di pinggiran Desa Qingfu. Di balik penampilannya yang sederhana sebagai peracik obat herbal yang pendiam, ia menyimpan sebuah rahasia besar dan mengerikan: garis keturunan gila yang menggabungkan tiga unsur sekaligus, yaitu darah manusia yang fana, cahaya dewa yang suci, dan kutukan siluman kegelapan.
Secara fisik, Lu Chen memiliki daya tarik yang kuat dengan garis wajah tegas, namun tubuhnya menyimpan ketidakseimbangan yang berbahaya. Matanya memiliki dua warna yang berbeda; mata sebelah kanan memancarkan cahaya keemasan yang hangat dan tenang, melambangkan sisa-sisa kekuatan dewanya, sementara mata sebelah kiri sering kali berubah menjadi ungu legam yang dingin saat emosinya tak terkendali. Di leher hingga sebagian wajahnya juga tersembunyi rajah alami berupa sulur-sulur hitam yang menandakan segel kutukan siluman purba.
Dari segi sifat dan kepribadian, Lu Chen adalah sosok yang sabar, lembut, dan sangat peduli
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 — SEGEL RETAK
Hujan turun sejak petang. Bukan hujan biasa; airnya dingin, menusuk tulang, dan membawa bau tanah serta darah yang samar. Desa Qingfu yang biasanya tenang malam itu mendadak gaduh ketika suara gong dari balai desa dipukul bertubi-tubi.
"Pencuri! Bandit Gunung Langit Kelabu turun!"
Lu Chen baru saja menutup kedai obatnya. Di atas meja masih ada tumbukan akar Ginseng Naga dan bubuk kulit pohon yang belum ia bereskan. Tangannya terhenti ketika mendengar teriakan panik itu. Ia mengintip dari balik pintu kayu dan mendapati sepuluh orang bertopeng kain hitam membawa golok serta obor, tertawa sambil menendang pintu rumah warga. Anak-anak menangis histeris sementara para perempuan diseret.
"Di mana perbekalan kalian? Serahkan semua beras dan uang!" bentak salah satu bandit.
Kepala Desa maju dengan tubuh gemetar. "Tolong... kami hanya petani. Tidak punya apa-apa..."
Jawaban yang ia terima adalah tendangan keras ke perut yang langsung memuntahkan darah. Lu Chen mengepalkan tangan erat-erat. Di dadanya, ada sesuatu yang bergerak panas. Rajah di lehernya, yang selama ini hanya berupa garis hitam tipis, tiba-tiba terasa seperti bara api.
Jangan. Ayah berpesan. Jangan gunakan itu.
Tapi di hadapannya, seorang bandit mengangkat golok ke arah Xiao Mei, anak berusia tujuh tahun yang merupakan putri tukang roti desa. Gadis kecil itu terjatuh dan menangis ketakutan. Waktu seakan melambat.
"BERHENTI!" Suara Lu Chen pecah. Ia berlari keluar dari kedainya tanpa memikirkan keselamatannya sendiri.
Bandit itu menoleh. "Oh? Mau jadi pahlawan, bocah peracik obat?"
Lu Chen berdiri di depan Xiao Mei. Tubuhnya kurus dan tidak bersenjata, hanya ada karung obat di punggungnya. "Jangan sentuh dia," ucap Lu Chen dengan suara bergetar namun tatapannya tajam.
Golok diayunkan. Di detik itulah segel di dadanya retak. Rasa sakit yang luar biasa meledak, seakan ada rantai di dalam tubuhnya yang putus satu per satu. Rajah di lehernya menyala merah, dan dari dalam dadanya, energi hitam keemasan menyembur keluar seperti kabut.
DUAR!
Angin kencang berputar seketika. Obor-obor padam, dan bandit yang menyerang terhempas sejauh tiga meter ke dinding tanpa bernyawa lagi. Semua orang terdiam di tengah guyuran hujan. Lu Chen menatap tangannya sendiri yang ujung jarinya menghitam. Di genangan air, matanya sesaat berubah menjadi emas vertikal seperti mata ular.
"Monster..." bisik salah satu warga.
Kata itu menyambar bagai petir. Lu Chen tersentak, buru-buru menutup mata untuk menahan energi yang mengamuk meminta darah. Tidak. Tidak boleh. Dengan sisa tenaganya, ia menekan segel di dadanya hingga kulitnya terbakar panas. Perlahan, cahaya merah meredup dan matanya kembali normal.
"Lu Chen..." panggil suara tua dari belakang. Ayah angkatnya, Chen Bo, berjalan mendekat dengan tongkat yang bergetar hebat.
"Ayah..."
Chen Bo menatap leher Lu Chen. Rajah itu kini memiliki retakan bercabang seperti akar. "Sudah berapa lama?" tanyanya lirih.
"Sejak usia 12 tahun, Ayah. Tapi aku selalu bisa menahannya..." jawab Lu Chen menunduk.
"Kau bodoh, Nak!" potong Chen Bo dengan suara gemetar. Ia melihat para warga desa mulai berbisik ketakutan menyebut 'anak kutukan' dan 'darah iblis'. "Besok, utusan Istana Langit akan datang karena keributan ini. Mereka akan membunuhmu tanpa bertanya."
Lu Chen merasakan dingin yang menusuk. "Lalu apa yang harus kulakukan?"
Chen Bo mengeluarkan liontin giok kusam dari jubahnya dan memakaikannya ke leher Lu Chen untuk menutupi rajah yang retak. "Ambil ini dan pergilah dari Desa Qingfu malam ini juga. Cari tempat di mana kau bisa belajar mengendalikan kekuatan ini sebelum itu menghancurkan tiga alam."
Didorong oleh sang ayah angkat yang menangis getir, Lu Chen berlari menembus hujan dan gelap. Sepanjang malam ia berlari hingga fajar menyingsing, membawanya ambruk di mulut sebuah gua di lembah. Darah keluar dari mulutnya, rajahnya berdenyut kesakitan, dan sebelum pandangannya menjadi hitam total, ia sempat melihat sosok putih beraroma bunga es turun dari langit.