Lima tahun lalu, Larasati pergi tanpa penjelasan, meninggalkan Raka dalam kebencian yang tak pernah ia pahami alasannya. Kini takdir mempertemukan mereka kembali—bukan sebagai kekasih, tapi sebagai atasan dan bawahan. Raka yang dingin membalas luka lamanya lewat cara-cara kecil yang menyakitkan, meski diam-diam hatinya masih menyimpan rasa.
Namun ketika kebenaran akhirnya terungkap—bukan dari Laras, melainkan dari orang lain—Raka sadar betapa kejamnya ia selama ini. Sayangnya, penyesalan itu datang terlambat. Laras telah menemukan kebahagiaannya sendiri, bersama seseorang yang benar-benar memilih untuk mendengarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERSIAPAN PERNIKAHAN
Setelah acara lamaran resmi berlangsung, kedua keluarga mulai serius membicarakan detail pernikahan yang akan digelar tiga bulan mendatang. Laras dan Bagas memutuskan untuk mengadakan pernikahan dengan konsep sederhana namun berkesan, menggabungkan unsur tradisional dari kedua keluarga.
"Kita mau venue di gedung atau outdoor?" tanya Bagas suatu sore, ketika mereka berdua duduk di kafe favorit sambil membahas persiapan pernikahan.
"Aku lebih suka outdoor, Bagas. Mungkin di taman atau kebun, biar suasananya lebih hangat dan natural," jawab Laras sambil membolak-balik katalog dekorasi pernikahan yang mereka bawa.
"Setuju banget. Saya juga udah cari beberapa referensi tempat yang cocok. Ada satu kebun di daerah Bogor yang pemandangannya bagus banget."
Mereka menghabiskan waktu berjam-jam mendiskusikan berbagai detail—mulai dari tema warna, undangan, hingga daftar tamu yang akan diundang. Setiap momen perencanaan itu semakin mempererat ikatan emosional di antara keduanya, sebuah proses yang dijalani dengan penuh kebahagiaan dan kesabaran.
Sementara itu, di kantor, suasana kerja mulai kembali normal meski masih ada rasa canggung yang tersisa antara Laras dan Raka. Namun berkat sikap profesional yang dijaga keduanya, interaksi mereka berjalan lancar tanpa ada lagi ketegangan berlebihan seperti bulan-bulan sebelumnya.
"Laras, ini jadwal cuti kamu untuk persiapan pernikahan sudah saya setujui," kata Pak Bayu suatu pagi, menyerahkan dokumen persetujuan cuti. "Pak Raka juga sudah tanda tangan, nggak ada masalah."
"Terima kasih, Pak," jawab Laras, tersenyum lega mendengar kelancaran proses administrasi itu.
Ia tidak menyadari bahwa di balik persetujuan cepat itu, Raka telah berusaha keras untuk tetap bersikap profesional dan mendukung, meski setiap kali menandatangani dokumen yang berkaitan dengan pernikahan Laras, hatinya masih merasakan sedikit nyeri yang tak terelakkan.
Siang harinya, Laras menerima kunjungan mendadak dari neneknya yang datang jauh dari kampung halaman untuk membantu persiapan pernikahan cucunya. Nenek Marni, begitu ia biasa dipanggil, adalah sosok yang sangat dihormati dalam keluarga, dikenal karena kebijaksanaan dan pandangannya yang tajam tentang kehidupan.
"Laras, Nenek denger kamu mau menikah sama orang baik-baik," kata Nenek Marni sambil memeluk cucunya dengan hangat. "Nenek seneng banget akhirnya kamu nemuin kebahagiaan."
"Terima kasih, Nek. Nenek pasti lelah perjalanan jauh dari kampung."
"Nggak apa-apa, demi cucu kesayangan Nenek, jauh juga nggak masalah," jawab Nenek Marni sambil tertawa kecil, kemudian menatap Laras dengan tatapan yang lebih serius. "Tapi Nenek mau tanya sesuatu, boleh?"
"Tentu, Nek."
"Apa kamu udah bener-bener ikhlasin masa lalu kamu? Nenek denger cerita dari ibumu soal kejadian lima tahun lalu."
Pertanyaan itu membuat Laras terdiam sejenak, memikirkan jawaban yang tepat. "Saya rasa udah, Nek. Saya udah maafin semuanya, dan saya bener-bener bahagia sama Bagas sekarang."
Nenek Marni mengangguk pelan, namun matanya masih menyimpan kebijaksanaan yang mendalam. "Bagus kalau begitu, Nak. Tapi ingat, keikhlasan itu bukan cuma soal memaafkan orang lain, tapi juga memaafkan diri sendiri atas semua keputusan yang pernah diambil, meski itu menyakitkan. Jangan sampai ada penyesalan tersembunyi yang nanti malah mengganggu kebahagiaan pernikahanmu."
Kata-kata bijak itu membekas dalam hati Laras, membuatnya merenung sejenak tentang perjalanan panjang yang telah ia lalui hingga sampai pada titik kebahagiaan ini.
Sore harinya, Raka menerima telepon dari Ibu Retno yang mengabarkan bahwa ia berencana mengunjungi Laras untuk memberikan hadiah pernikahan secara pribadi, sebagai simbol permintaan maaf yang lebih konkret dari sekadar kata-kata.
"Raka, Ibu pengen ketemu Laras langsung, memberikan sesuatu sebagai tanda penyesalan Ibu," kata Ibu Retno melalui telepon. "Apa itu ide yang baik, menurutmu?"
Raka terdiam sejenak, mempertimbangkan permintaan ibunya dengan hati-hati. "Saya rasa itu keputusan yang baik, Ma. Tapi pastikan Ibu melakukannya dengan tulus, bukan sekadar formalitas."
"Ibu janji, Raka. Ibu bener-bener pengen memperbaiki kesalahan Ibu, meski Ibu tau itu nggak akan pernah cukup untuk menghapus semua penderitaan yang telah Ibu sebabkan."
Keesokan harinya, Ibu Retno mengunjungi Laras di kantor, membawa sebuah kotak berisi perhiasan yang telah disiapkan khusus sebagai hadiah pernikahan. Pertemuan itu berlangsung dengan penuh kehati-hatian, namun akhirnya mencair berkat ketulusan yang ditunjukkan Ibu Retno.
"Laras," kata Ibu Retno, suaranya bergetar menahan haru dan penyesalan yang mendalam, "Ibu tau kata maaf aja nggak akan pernah cukup buat menebus semua kesalahan Ibu. Tapi Ibu berharap, kamu bisa menerima ini sebagai tanda penyesalan yang tulus, dan doa restu Ibu untuk pernikahanmu."
Laras menerima kotak itu dengan tangan yang sedikit gemetar, air mata mulai menggenang di matanya mendengar ketulusan yang terpancar dari kata-kata wanita yang dulu pernah menjadi sumber penderitaan terbesar dalam hidupnya. "Terima kasih, Bu. Saya menghargai ketulusan Ibu, dan saya sudah memaafkan semua yang telah terjadi."
"Terima kasih sudah mau memaafkan Ibu, Nak," jawab Ibu Retno, air matanya mulai mengalir tanpa bisa ditahan lagi. "Ibu berharap kamu dan Bagas akan hidup bahagia selamanya, jauh dari bayang-bayang kelam yang pernah Ibu ciptakan."
Pertemuan itu berakhir dengan pelukan hangat antara kedua wanita yang pernah terpisah oleh kebencian dan kesalahpahaman, namun kini bersatu dalam pengertian dan pengampunan yang tulus, menandai babak baru yang penuh kedamaian bagi semua pihak yang telah lama terluka oleh peristiwa masa lalu yang begitu kompleks dan menyakitkan.