"Aku punya segalanya, kecuali izin untuk mencintaimu." — Arthur
______
"Hi, Mr. Lord! Aku bukan siapa-siapamu, tapi mulutku masih hafal cara memanggilmu." — Snow
_______
Benedictus Arthur Blackwood, pewaris tunggal kerajaan yang dingin dan tegas, terpaksa menikahi sahabatnya—Dixie Savea Lopez—akibat ancaman bunuh diri yang manipulatif.
Meski terikat pernikahan tanpa cinta dan tanpa sentuhan, takdir kembali mempermainkannya saat sang putra butuh asupan ibu susu.
Lima tahun berlalu sejak malam terlarang di Hampshire, wanita tanpa nama yang pergi meninggalkan Arthur tanpa patah kata kini hadir di hadapannya sebagai "Snow"—ibu susu yang dipillih oleh istrinya sendiri.
Di tengah intrik politik istana, kecurigaan Savea, dan rahasia masa lalu yang membakar, Arthur harus berjuang menahan diri dari Rasa kepemilikan mendalam pada Snow.
Sebuah kisah romansa terlarang tentang takdir, dominasi, dan rasa cinta yang terperangkap di balik dinding emas kehormatan kerajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#23
Gema teriakan Arthur masih memantul di dinding-dinding marmer kamar utama Sayap Timur. Udara di dalam ruangan itu mendadak menjadi begitu berat, seolah-olah seluruh oksigen telah tersedot habis oleh ledakan kemurkaan yang tak lagi terbendung.
Urat-urat di leher dan pelipis Pangeran Arthur menegang rapat, memerah hebat seiring dengan napasnya yang memburu kasar.
Di hadapannya, Savea berdiri dengan lingerie sutra yang terkoyak di dada. Bukannya takut melihat wajah suaminya yang telah berubah bagaikan iblis pencabut nyawa, Savea justru menyunggingkan senyum miring yang teramat racun.
Matanya yang sembap dan berbayang hitam berkilat oleh kepuasan.
"Ulangi kata-katamu itu, Savea!" desis Arthur dengan suara rendah yang begitu bergetar, selangkah demi selangkah mengikis jarak hingga aroma kematian menyelimuti mereka berdua.
Savea menengadahkan kepalanya, menantang tepat di depan retina sepasang mata jelaga milik Arthur.
"Anakmu sudah mati, Arthur! Ocean BUKAN putramu!" jerit Savea tanpa ragu, suaranya melengking memecahkan heningnya malam. "Bayi itu adalah putra kandung Snow dengan kekasihnya! Kau hanya pria bodoh yang memungut sisa orang lain!"
DUARRR!
PLAKKK!
Tamparan keras berkecepatan tinggi menghantam pipi kiri Savea dengan daya rusak yang luar biasa. Kepala wanita itu terlempar ke samping, tubuhnya limbung hingga terjerembab ke atas karpet mahal. Sudut bibirnya yang ranum seketika merobek, mengalirkan darah segar yang membasahi dagu dan gaun tidurnya yang robek.
Keheningan seketika menyergap ruangan itu selama beberapa detik, hanya diselingi oleh napas tersengal-sengal dari kedua manusia yang diliputi kegilaan tersebut.
Arthur menatap tangannya sendiri yang gemetaran hebat akibat tamparan tadi. Pria tegap itu sama sekali tidak lagi memikirkan etika atau wibawa bangsawan. Dengan gerakan secepat kilat, ia meraih bathrobe tebal berwarna hitam yang menggantung di sudut lemari, lalu melemparkannya secara kasar menghantam wajah Savea yang masih bersimpuh di lantai.
"Pakai itu!" bentak Arthur dengan jeritan yang serak dan sarat akan ancaman mematikan.
Tanpa menunggu Savea merapikan pakaiannya, jemari tegap Arthur mencengkeram lengan atas Savea dengan begitu kuat, menarik wanita itu bangkit secara paksa hingga Savea meringis kesakitan. Arthur menyeret tubuh Savea keluar dari kamar, mengabaikan jubah mandi yang hanya tersampir longgar di tubuh istrinya.
Langkah kaki Arthur terdengar amat berat dan menghentak sewaktu melintasi koridor utama Sayap Timur.
"Lelucon sampah apa yang baru saja kau katakan, Savea?!" jerit Arthur penuh kemurkaan di sepanjang koridor, suaranya bergema menusuk malam. "Kau benar-benar sudah tidak waras! Kau pikir kau siapa, ha?! Kau berani mempermainkan keluargaku?! Kau berani mempermainkan garis keturunan darah Ashford?!"
"Arthur... lepas! Kau menyakitiku!" cicit Savea, berusaha melepaskan cengkramannya meski tenaganya tak ada seujung kuku dibanding kekuatan pria militer di hadapannya.
Arthur tidak mempedulikan jeritan itu. Rasa dihina, dibohongi, dan ketakutan mendalam akan kebenaran dari ucapan Savea membuat akal sehatnya hangus terbakar. Ia menyeret Savea hingga tiba di pelataran balkon lantai dua—area pembatas megah berpagar ukiran besi tempa yang langsung menghadap ke arah aula utama di bawah sana.
Dengan gerakan brutal, Arthur membanting tubuh Savea hingga punggung wanita itu menghantam pagar pembatas besi. Belum sempat Savea memproses rasa sakit di punggungnya, cengkram naga jemari Arthur telah mengunci rapat leher Savea.
Brak!
Arthur menekan leher Savea kuat-kuat, membuat separuh tubuh bagian atas Savea terdorong ke belakang, menggantung berbahaya di atas pembatas lantai dua.
"Argggg...!" Savea tercekik hebat. Matanya membelalak lebar saat pasokan udara ke paru-parunya terputus seketika. Kedua tangannya mencengkeram pergelangan tangan Arthur yang mengunci lehernya, namun jemari pria itu bagaikan besi tempa yang tak tergoyahkan.
"Mati saja kau, Savea!" desis Arthur tepat di depan wajah Savea yang mulai membiru. Matanya merah membara, dipenuhi oleh racun dendam yang telah memuncak.
"Beraninya kau bilang Ocean—putraku yang sah—adalah milik orang lain?! Beraninya kau bilang anak itu adalah milik kekasih Snow?! Kau pantas membusuk di neraka!"
Savea tak bergeming untuk meminta ampun. Di tengah sesaknya tenggorokan dan bayangan kematian yang kian mendekat, wanita itu justru menyunggingkan senyum tercekik. Ia menikmati ketakutan dan kehancuran psikologis yang kini merusak wajah suaminya.
"ARTHUR!"
Sebuah teriakan melengking penuh wibawa dan kepanikan mendadak memecah ketegangan di pelataran lantai dua.
Dari ujung tangga marmer utama, Yang Mulia Ratu Baxeena berlari terburu-buru didampingi oleh beberapa pengawal kerajaan dan dayang-dayang yang tampak pucat pasi. Sang Ratu baru saja hendak menuju kamarnya ketika mendengar percekcokan liar di Sayap Timur. Dan pemandangan di hadapannya kini membuat jantung sang Ratu serasa berhenti berdetak.
"Arthur! Hentikan! Apa yang kau lakukan pada istrimu?!" jerit Ratu Baxeena, suaranya bergetar hebat saat memerintahkan para pengawal untuk maju. "Lepaskan dia sekarang juga! Kau bisa membunuhnya!"
"Jangan mendekat!" gertak Arthur tanpa menoleh, mencengkeram leher Savea makin erat hingga wanita itu batuk-batuk tercekik. "Wanita gila ini telah menghina darah keturunan kita, ibu! Dia bilang Ocean bukan anakku!"
Ratu Baxeena membelalakkan mata, mematung di tempatnya berdiri. Para pengawal kerajaan pun terhenti kaku, tak berani mengambil satu langkah pun melihat sang Pangeran Blackwood yang berada di puncak kegilaannya.
"Lepaskan dia dulu, Arthur..." mohoh Ratu Baxeena dengan nada suara yang melunak namun bergetar penuh ketakutan akan skandal yang makin meluas. "Kita bicarakan ini di dalam... Jangan biarkan emosimu menghancurkan nama baik Ashford..."
Arthur menatap wajah Savea yang makin pucat dengan lidah sedikit terjelur. Rasa benci yang amat sangat dan sisa-sisa kesadaran hukum akhirnya membuat Arthur menghentakkan tangannya, melepaskan cengkeramannya dari leher Savea secara kasar.
Uhuk! Uhuk! Khek!
Savea merosot jatuh ke lantai marmer yang dingin, memegangi lehernya yang memerah bekas cengkraman jemari Arthur. Ia terbatuk-batuk hebat, meraup udara sebanyak-banyaknya ke dalam paru-parunya yang tersiksa, sembari menyunggingkan senyum kejam di antara tetesan darah di sudut bibirnya.
•••••
Suasana di ruang sidang internal malam itu berubah menjadi tempat pembantaian mental. Tidak ada Raja Alistair kali ini—hanya ada Ratu Baxeena yang duduk di kursi utama dengan wajah sepucat kertas, Arthur yang berdiri dengan jubah mandi hitam melipat kedua tangannya di dada dengan aura membunuh yang kental, serta Savea yang terduduk di lantai berselimutkan bathrobe tebal.
Ratu Baxeena mengurut pelipisnya yang berdenyut kencang. Tatapannya tertuju lurus pada menantunya yang tampak tak lagi memiliki sisa-sisa wibawa seorang Duchess.
"Jelaskan padaku, Savea..." suara Ratu Baxeena terdengar amat dingin dan bergetar menahan ledakan emosi. "Apa arti dari semua tuduhan gila yang kau lontarkan pada Arthur di koridor tadi?"
Savea menyapu darah di bibirnya dengan punggung tangan, lalu mendongak menatap sang Ratu tanpa rasa takut sedikit pun.
"Saya tidak bertuduhan tanpa dasar, Ibu..." bisik Savea dengan suara parau bekas tercekik. "Saya hanya menyampaikan kebenaran yang selama ini ditutupi oleh putramu itu dan ibu susu murahan."
"Tutup mulutmu, Savea!" bentak Arthur tajam, matanya berkilat membunuh.
"Biar dia bicara, Arthur!" potong Ratu Baxeena tegas, menghentakkan tangannya ke pegangan kursi. Sang Ratu berpaling kembali pada Savea. "Bicara yang jelas! Jangan bersilat lidah lagi seperti sebelumnya!"
Savea menyunggingkan senyum tipis, menikmati setiap detik dari kekacauan yang ia ciptakan.
"Bayi Kami telah meninggal," ucap Savea datar, melontarkan bom waktu pertama ke tengah ruangan.
Ratu Baxeena tersentak kaget. "Apa?!"
"Bayi Kami meninggal ibu" lanjut Savea dengan nada melankolis yang dipaksakan.
Savea menunjuk ke arah Arthur yang berdiri membeku. "Bayi kami telah meninggal Karena Arthur tidak pernah mencintai ku...Dan sekarang dia Berselingkuh Dengan Ibu susu murahan!"
Deg.
Pernyataan itu meremukkan ketenangan di dalam ruangan. Ratu Baxeena membelalak lebar, memandangi suasananya dengan napas tertahan.
Namun, kegilaan Savea tidak berhenti di situ. Senyum miringnya makin melebar saat ia menatap wajah Arthur yang mulai pucat pasi.
"Tapi yang tidak dipikirkan oleh Arthur..." desis Savea dengan racun yang kian pekat, "...adalah bahwa Snow memanfaatkan nya ibu!!"
"JALANG BOHONG!" raung Arthur. Pria itu melepaskan lipatan tangannya dan menerjang maju hendak menerkam Savea kembali, namun dua pengawal senior kerajaan dengan sigap menahan dada dan lengan tegap Arthur.
"Lepaskan aku! Biar kubunuh wanita gila ini!" bentak Arthur histeris, berusaha melepaskan diri dari tahanan para pengawal.
Ratu Baxeena bangkit berdiri dari takhtanya, tubuhnya bergetar hebat menghadapi pengakuan paling mengerikan dalam sejarah keluarganya. "Savea... Apakah kau sadar dengan apa yang baru saja kau ucapkan?! Jika ucapanmu ini bohong, hukuman mati atas tuduhan pengkhianatan kerajaan menunggu kepalamu!"
"Saya berani bersumpah demi nyawa saya sendiri, Ibu!" jerit Savea, menyatukan kedua tangannya di dada. "Lakukan tes darah! Lakukan tes DNA pada Ocean dan Arthur! Lihat saja sendiri apakah bayi haram itu memiliki pertalian darah dengan keluarga Ashford!"
Ruangan itu mendadak menjadi begitu hening dan mencekam.
Arthur yang ditahan oleh para pengawal mendadak menghentikan perlawanannya.
Peluh dingin membasahi pelipis dan dadanya yang bidang. Kata-kata Savea membalas dendam di dalam benaknya bagaikan mimpi buruk yang menjadi kenyataan. Tes DNA...? Kenapa Savea begitu berani menantang tes DNA jika ia hanya membual?
Pikiran Arthur mulai kacau balau. Bayangan tawa Snow di bawah balkon, sikap dingin wanita itu yang selalu menolak ajakannya untuk menikah secara rahasia, hingga penolakan Snow untuk disentuh tadi siang... semuanya mendadak terhubung menjadi sebuah spekulasi liar yang amat mengerikan di kepala Arthur.
Apakah benar... Snow hanya memanfaatkanku? Apakah benar Ocean bukan anakku?!
Ratu Baxeena menghembuskan napas berat yang sarat akan rasa jijik dan kehancuran. Sang Ratu menatap Arthur dan Savea secara bergantian dengan tatapan dingin yang tak berdasar.
"Besok pagi..." suara Ratu Baxeena terdengar bagaikan vonis dari neraka. "...Dokter utama Istana Kerajaan akan mengambil sampel darah Pangeran Ocean dan Arthur secara tertutup."
Sang Ratu melangkah pergi meninggalkan ruangan, namun menghentikan langkahnya sejenak di ambang pintu tanpa berbalik.
"Jika Ocean memang bukan keturunan Ashford..." bisik Ratu Baxeena amat lirih, "...maka Snow, bayi itu, dan kau Savea... tidak akan pernah keluar dari dinding istana ini dalam keadaan bernyawa."
Brak!
Pintu ruang sidang tertutup rapat.
Di dalam ruangan yang temaram, Savea perlahan bangkit berdiri. Di balik bathrobe tebal yang menutupi luka-lukanya, ia menyunggingkan senyum kemenangan paling mengerikan.
Rencananya berjalan tanpa cela. Ia telah melempar Snow dan Arthur ke dalam jurang kematian yang sama.
Sementara itu, Arthur merosot berlutut di atas lantai marmer. Pria tegap yang biasanya ditakuti di medan perang itu kini menundukkan kepalanya dalam-dalam, meremas rambut gelapnya dengan kedua tangan.
Air mata keputusasaan dan kebingungan membasahi tangannya. Di dalam dadanya yang sesak, nama wanita yang paling dicintainya bergaung berulang kali bagaikan kutukan mematikan:
Snow... benarkah kau mendustaiku...?