Tiga tahun lalu, Reno Wijaya dijebak dan difitnah oleh keluarga angkatnya sendiri demi menyelamatkan putra kandung mereka. Dipaksa melarikan diri dalam keadaan terluka, Reno terpaksa menyembunyikan identitas aslinya dan menjadi menantu numpang yang dihina di keluarga Pramudya. Di mata ibu mertua dan orang-orang kota, ia hanyalah pria miskin tak berguna yang hanya bisa mencuci piring dan menerima makian.
Namun, tidak ada satu orang pun yang tahu bahwa penyamaran miskin itu adalah cara Reno menguji hatinya sekaligus memulihkan teknik kultivasi kuno "Sutra Naga Kuno" demi menyelesaikan ujian kesembilan dari organisasinya.
Puncaknya terjadi ketika keluarga mertuanya yang matrealistis memaksa Alya untuk menceraikan Reno demi menikahkan wanita itu dengan seorang tuan muda kaya yang sombong, Brandon Pratama. Di hari yang sama ketika surat cerai dilemparkan ke wajahnya, masa pengasingan Reno resmi berakhir! Kelompok elit terkaya dan terkuat di dunia—Grup Naga Hitam—berlutut menyambut kembali
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deddy kris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: SEGEL YANG PECAH
Reno berdiri kaku di tengah ruang tamu keluarga Pramudya.
Suasana rumah mewah itu mendadak dingin dan mencekam.
"Masih berani berdiri di situ, Hah?!" bentak Maya sambil menunjuk muka Reno.
Mata ibu mertuanya itu berkilat penuh kebencian.
"Lihat tuh Brandon! Datang bawa hadiah perhiasan berlian seharga ratusan juta!" teriak Maya lagi.
'Ck, perhiasan murah kayak gitu aja dipamerin,' batin Reno sinis.
Reno cuma bisa mengelus dada, menahan gejolak di hatinya.
Brandon tersenyum licik sambil melangkah maju. Dia memutar-mutar kotak perhiasan di tangannya.
"Tahu diri dong. Lu cuma anjing kurus yang cuma bisa numpang makan di rumah ini!" ledek Brandon dengan nada hina.
"Betul itu! Nggak tahu malu banget!" timpal Hendra dari kursi sofa.
Alya berdiri terdiam di sudut ruangan. Matanya berkaca-kaca, tapi dia tidak bisa berbuat banyak di depan orang tuanya.
"Reno, kamu... kamu minta maaf aja ya sama Mama," bisik Alya pelan.
Suaranya bergetar menahan kesedihan.
Reno menatap istrinya itu dengan tatapan lembut. Dia paham betul posisi Alya yang serbasalah.
"Gue nggak salah, Alya. Kenapa gue harus minta maaf sama pria murahan ini?" sahut Reno tenang.
"Apa lu bilang?! Pria murahan?!" teriak Brandon murka.
Plak!
Brandon melempar sebuah map tebal tepat ke dada Reno.
Map itu memantul dan jatuh ke lantai.
"Itu surat cerai! Tanda tangan sekarang juga!" bentak Maya tak sabar.
"Lu nggak pantas bersanding sama Alya. Lu cuma beban!" tambah Hendra menyumpah.
Brakkkk!
Maya memukul meja kaca di depannya.
'Sabar... sebentar lagi jam sepuluh malam lewat,' batin Reno sambil menatap jam dinding.
Reno menunduk, melihat surat cerai yang berserakan di dekat kakinya.
Brandon tertawa terbahak-bahak melihat posisi Reno.
"Gimana, Anjing? Lu mau tanda tangan atau gue suruh orang buat patahin kaki lu?" ancam Brandon arogan.
Reno tidak menjawab. Dia memejamkan mata.
Di dalam tubuhnya, ada energi raksasa yang tersumbat selama tiga tahun terakhir.
Sutra Naga Kuno yang dia pelajari memang menuntut pantangan berat. Dia harus menahan diri dari segala bentuk pertarungan dan hubungan fisik hingga masa pengasingannya genap.
Jika melanggar nafsu atau membalas emosi sebelum waktunya, saluran intinya akan hancur seketika.
Itulah alasan utama kenapa selama ini Reno memilih diam diinjak-injak.
Namun, malam ini adalah malam terakhir.
Satu menit lagi menuju tengah malam.
Srek... Srek...
Detak jarum jam dinding terdengar sangat nyaring di telinga Reno.
*Tick... Tock...*
"Woy! Dengar nggak lu, Banci?!" teriak Brandon semakin menjadi-jadi.
Brandon mengangkat tangannya, hendak menampar wajah Reno.
Deggg...!
Tepat saat jarum panjang dan pendek menyatu di angka 12, jam berdentang keras.
*Brammm!*
Pukul 00:00!
Energi Qi spiritual di dalam meridian tubuh Reno mendadak bergetar hebat.
Suara ledakan halus terdengar dari dalam dadanya.
*Crakkk!*
Segel kultivasi tingkat sembilan resmi pecah!
Aliran Qi murni membumbung tinggi, mengalir deras ke seluruh pembuluh darahnya seperti air bah yang jebol.
Mata Reno mendadak terbuka lebar.
Pupil matanya berkilat memancarkan warna emas yang sangat mengintimidasi.
Tekanan aura yang luar biasa kuat mendadak memenuhi seluruh ruangan.
Hembusan angin dingin bertiup keras entah dari mana, menghempaskan kertas-kertas di meja.
"L-Loh? Kok mendadak dingin gini?!" gumam Hendra ketakutan.
Brandon yang tadinya mau menampar Reno, mendadak menghentikan tangannya di udara.
Tubuhnya gemetar hebat.
Ada rasa takut luar biasa yang menguasai batinnya secara insting.
'Perasaan apa ini?! Kenapa tatapan matanya bikin gue mau mati?!' batin Brandon panik setengah mati.
Reno melangkah maju satu langkah.
Brakkk!
Lantai keramik di bawah pijakan kaki Reno retak begitu saja.
Maya dan Hendra terperanjat mundur hingga tersungkur di sofa.
Alya menutupi mulutnya dengan kedua tangan, tidak percaya dengan aura ketakutan yang dipancarkan suaminya.
Reno menatap Brandon dengan dingin.
"Lu bilang gue anjing kurus?" tanya Reno pelan, tapi suaranya bergema seperti petir.
"G-Gue..." Brandon gagap, melangkah mundur ketakutan.
Tiba-tiba...
Dzzzzt... Dzzzzt...
Ponsel tua milik Reno di dalam saku celananya berdering nyaring.
Reno merogoh sakunya perlahan. Dia mengangkat ponsel jadul bertombol fisik itu.
Di layarnya, muncul sebuah nama kontak yang sudah tiga tahun tidak pernah menghubungi nomor ini.
Nama pemanggil: **Bagas - Jenderal Naga Hitam**.
Reno menekan tombol hijau dan menggeser ponsel itu ke telinganya.
"Bicara," ucap Reno singkat.
Suara tegas di ujung telepon terdengar sangat bergetar karena emosi dan rasa hormat yang mendalam.
Bahkan terdengar suara benturan lutut yang menghantam lantai secara kasar di balik telepon.
"Salam Tuan Muda! Masa pengasingan Anda resmi selesai!"
"Seluruh pasukan Naga Hitam siap menunggu komando Anda untuk meratakan kota ini!"