Indonesia
NovelToon NovelToon
Saniya, Ibu Tiri Luar Biasa

Saniya, Ibu Tiri Luar Biasa

Status: tamat
Genre:Ibu Tiri / Orang Disabilitas / Perjodohan / Tamat
Popularitas:1.9M
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

Saniya Syamira, tak memiliki pilihan lain selain menerima perjodohan amanah dari almarhum kakeknya.

Terlebih sang ibu mengkhawatirkan dirinya jadi perawan tua dikarenakan memiliki kekurangan. Saniya penyandang disabilitas fisik, kaki kanannya diamputasi sedari dia berumur 8 tahun.

Mampukah Saniya menjalani biduk rumah tangga bersama pria berstatus duda yang pernah gagal menikah sampai dua kali dengan wanita sama yakni, cinta pertamanya?

Lantas, bagaimana dengan sepasang anak tirinya, bisakah mereka menerima wanita lain selain ibu kandung?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dipaksa menjaga nama baik : 31

Fahmi dan Saniya sama-sama terperanjat oleh pekikan suara mereka kenali.

Saniya mengubah posisi duduk sedikit menyamping. Ia termangu, dalam hati menggerutu setelah berhasil menguasai diri dari rasa terkejut.

‘Dari banyaknya manusia, serta jarak membentang, kenapa harus bertemu mereka disaat seperti ini?’ sesalnya dalam hati.

Belum apa-apa, Saniya sudah dapat menebak drama yang akan terjadi setelah ini.

Gustav Hadi memanggil ulang putrinya berikut nama belakang keluarga suami Saniya. Mengingatkan jika si sulung sudah menikah, tak pantas pergi berduaan dengan pria lain.

Pria berambut telah memutih diantara helaian hitam itu tidak mencoba menahan diri, tak peduli pada pengunjung lain yang duduk di gazebo bersebelahan meski saling berjarak satu meter.

Dia dan putri bungsunya juga baru saja selesai makan di restoran ini, tetapi memilih duduk di lain tempat, berjarak cukup jauh dengan gazebo Saniya.

Fauzia Serla juga penyuka olahan seafood, dia sering makan di sini.

Ketika Zia mengatakan kalau dia melihat Saniya tengah makan bersama Fahmi, awalnya Gustav Hadi tidak mempercayai sebelum melihatnya sendiri.

“Cepat pulang! Sebelum Papa hubungi suamimu!” serunya lantang.

Fauzia Serla berpura-pura terkejut. Tangan membekap mulut diturunkan, pupil mata membesar, dan ia berseru mempermalukan sang kakak yang duduk tidak bersentuhan dengan pria idamannya.

“Mbak Saniya, kamu lupa ya kalau udah bersuami? Apa gak kasihan sama mas Yarash, dia lelah bekerja demi mencari nafkah, malah dirimu asik makan siang dengan mas Fahmi.”

“Om, Zia, kami hanya sekedar makan siang. Sungguh. Kalian bisa melihat posisi duduk, apa ada bersentuhan?” elaknya membela diri sendiri dan wanitanya.

“Tetap saja salah!” sentak Gustav, enggan menerima penjelasan putra sang sahabat sekaligus rekan bisnisnya. “Saniya sudah menikah, seharusnya kamu bisa menjaga kehormatan dirinya!”

“Dan kamu!” Pandangannya beralih ke putri yang duduk tenang, pasrah, sama sekali tidak terlihat berkeinginan membela diri. “Sebagai seorang istri, wajib hukumnya menjaga nama baik keluarga suami, Nak!”

“Papa kecewa, Niya — Papa yakin kamu paham tentang marwah seorang wanita terlebih berstatus istri, mengapa malah kalah oleh nafsu?” suaranya menarik perhatian pengunjung di gazebo sebelah. Bisik-bisik pun terdengar berisik, tetapi tidak ada yang berani merekam video maupun suara.

Di belakang pria memakai kemeja polos putih, Fauzia tersenyum miring. ‘Itu akibatnya kalau kamu masih suka menggoda mas Fahmi ku Mbak.’

Saniya mempertahankan sikap diam, enggan menyanggah, mencoba menjelaskan, tak pula mau mengiba. Dia berbicara pelan ke pria masih berusaha terus menasehati bagaimana harusnya menjaga nama baiknya sebagai seorang wanita.

“Mas, aku pulang duluan ya, terima kasih traktiran makan siangnya.” Telapak tangannya menekan meja, dijadikan penopang badan agar mudah berdiri.

“Saniya, Mas antar kamu pulang,” Fahmi tetap bersikap pria bertanggung jawab.

“Fahmi Basya, seharusnya begitu sampai bandara, kamu langsung ke kantor. Ada banyak pekerjaan menanti!” tegur Gustav.

Pintu hati ayah tiga orang anak tersebut tak terketuk ketika melihat putrinya sedikit kesulitan menuruni tangga, memakai sepatu datar.

Saniya berdiri dengan postur tenang, ia dekati sang ayah dan mengulurkan tangan, menunggu beberapa detik baru Gustav Hadi mau menyambut.

“Pa, maaf kalau aku sudah mengecewakan. Permisi.” Dilepasnya jabat tangan mereka, lalu mundur agar bisa berjalan sedikit berjarak melewati ayahnya.

“Mbak,” panggil Zia dalam balutan setelan blouse dan rok span ketat.

“Ya?” jawab Nia tanpa bertatap muka.

“Malam Minggu depan, di rumah kita ada acara keluarga seperti biasanya. Kamu harus datang bersama mas Yarash, jangan cuma sendirian nanti dikira rumah tangga kalian gak harmonis,” ucapnya lemah lembut.

“Aku usahakan.” Saniya melanjutkan langkah tanpa sekalipun menoleh ke belakang.

.

.

“Mas Fahmi mau ke kantor, kan? Aku nebeng ya, soalnya Papa masih ada urusan lain,” mulai terang-terangan Zia melakukan pendekatan dengan pria yang didambakannya.

“Gak bisa, Zia. Saya mau pulang ke rumah, besok baru ngantor,” tolaknya.

“Fahmi, orang tuamu mendidik kamu menjadi pria bertanggung jawab bukan? Lantas kenapa enggan mengantarkan Zia?” tanya pria yang beberapa menit lalu menyuruh putrinya yang lain agar pulang sendirian.

Fahmi mengambil bill yang hendak dibawa untuk membayar tagihan pesanan tadi, lalu mengenakan sepatu.

“Kenapa Om tidak mengatakan hal serupa teruntuk Saniya? Dia juga wanita, dan karena titah Om tadi, aku merasa jadi pria pecundang — membawanya kesini, tapi membiarkannya pulang sendirian,” balasnya telak.

Gustav terhenyak, cepat-cepat kembali memasang ekspresi tegas meski rasanya baru saja tertampar oleh kalimat sarkas. “Dia sudah bersuami, harus bisa menjaga batasan dengan lawan jenis terlebih kamu mantan kekasihnya.”

“Ngomong-ngomong, saya dan Saniya belum pernah memutuskan hubungan. Kami dipaksa berpisah oleh para manusia yang mengatasnamakan diri mereka sebagai orang tua, namun tidak paham kewajiban tentang melindungi buah hatinya baik secara maupun psikis. Permisi, Om.” Fahmi mengangguk singkat, lalu berlalu dengan langkah lebar.

Zia kesal luar biasa, khayalannya duduk berdua di dalam mobil bersama Fahmi, pupus sudah.

“Papa!” Lengan ayahnya diremas demi menyalurkan rasa kesal hatinya.

“Zia, Fahmi gak suka sama kamu, yang dia cintai adalah kakakmu,” Gustav Hadi menasehati.

Dia sudah lama mengetahui perasaan putri bungsunya yang mencintai kekasih kakaknya sendiri.

“Aku gak mau tau, Papa harus bisa menyatukan kami!” Zia mencebik, tetap menginginkan pria yang jelas-jelas selalu menunjukkan respon penolakan.

Menasehati putri bungsunya adalah perbuatan sia-sia. Jika Fauzia sudah berkeinginan, maka akan dikejar sampai dapat.

Mereka pun kembali ke kantor yang berada cukup jauh dari sini.

***

Menjelang sore, dan sinar matahari tidak lagi menyengat kulit, Saniya baru saja tiba di hunian keluarga barunya. Dia pulang naik taksi.

Belum juga menginjakkan kaki di teras, lengkingan Ardan Wilman menarik atensinya.

Balita sudah berpakaian bepergian tetapi kusut pada bagian perut, punggung dan lengan itu berlari keluar dari dalam rumah. Berkacak pinggang, melototi Saniya. “Ibu tili kok balu pulang, hah?! Mau jadi bang Toyib, iya?!” hardiknya kesal, menunjukkan amarah besar.

Belum juga menjawab pertanyaan Ardan, Yarash pun ikutan bertanya, dia berdiri di ambang pintu dengan sorot mata berbeda. “Kamu dari mana saja, Saniya? Kenapa panggilan saya tidak direspon, pesan pun tidak ada yang dibalas?”

.

.

Bersambung.

1
bibuk Hannan & Afnan
ndadak tanya ke Mbah google dulu bunga ylang-ylang jebule kenanga toh 😄😄😄😄
bunga kenanga kan pdhl identik dgn berbau mistis
bibuk Hannan & Afnan
Saniya kamu menderita sedari kecil sakit rasanya jd kamu 😭😭😭
bibuk Hannan & Afnan
🤦🤣🤣🤣🤣🤣
maaf 🙏 ya Tatiana aku ketawa diatas sakitmu 😄😄😄 soalnya gak kuat sama polae Ardan
bibuk Hannan & Afnan
tersebut miring maksudnya tersenyum miring mungkin ya thor
Priskha
dasar ibu gendheng, gak hbs pikir aq sm jln pikirannya tuch nenek sihir....
bibuk Hannan & Afnan
ini pasti ulah Tatiana
bibuk Hannan & Afnan
trauma pasca kecelakaan wkt kecil umur 8 th ternyata belum hilang meski sudah 18 tahun silam kejadiannya,
bibuk Hannan & Afnan
si kompor bleduk ini Tatiana
bibuk Hannan & Afnan
😱😱😱 si colo harganya bikin nahan napas 😄😄😄😄
bibuk Hannan & Afnan
aku juga ikutan syok nahan nafas Saniya 😄😄😄😄
bibuk Hannan & Afnan
warna bola matanya mirip artis India Rani Mukherjee ya mas Yash,🤭
bibuk Hannan & Afnan
👍👏👏👏
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Akhir cerita yang mengharukan dan membahagiakan.👍
Baca marathon ceritanya sampe ga terasa sudah akhir bab.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍: Sama² Thor.🤗
total 2 replies
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Huss Huuss sana jauh jauh para Hama, jangan ganggu lebahagiaan keluarga Yarash - Saniya.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Ga apa² Titania yang penting kamu sudah berusaha keras untuk jadi lebih baik dan mendapatkan nilai bagus jadi tetap semangat untuk terus melangkah maju.
Penyesalan emang datangnya di belakang karna kalau duluan pendafyaran.🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Baguslah KENA SEMUA para murid² toxic bukan hanya Titania saja yang rugi.👍
bibuk Hannan & Afnan
kecelakaan dr usia 8 th hingga skrg sudah dewasa usia 26 th trauma masih ada tp orang tua abai, duh kebangetan orang tuanya Saniya
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Iyalah datang saja sebagai tamu, bawa kado seadanya, ga usah lagi di pikirkan antara enak ga enak toh itu jauh lebih baik Saniya jadi kamu ga harus ikut beban mereka.🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Yarash saingan terbesarmu yang mampu mengalahkan mu merebut perhatian Saniya bukan laki² lain di luar sana tapi si Bodel gemol anakmu sendiri./Facepalm//Facepalm//Facepalm/
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
SKAK MATT sampe mampus si Jena./Joyful//Joyful//Joyful/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!