"Saya tidak melihat."
"Ya liat yang bener dong!"
"Kamu terlalu kecil."
"Hah?!"
"Jadi kamu minta saya untuk tanggung jawab?"
"Iya."
"Baik. Buka baju kamu."
"Hah! Jangan ngomong sembarang ya!"
Gara-gara terciprat air lumpur, Azel nekat menghadang mobil seorang pria asing.
Siapa sangka pria itu adalah dosen yang paling ditakuti di kampusnya. Belum selesai rasa kesalnya, ternyata dosen kaku itu adalah ayah dari Arjun, anak kecil yang begitu dekat dengannya.
Di balik sikap dosennya, Ibrahim Rabbani Mahendra, ia menyimpan luka di masa lalu.
Pertemuan demi pertemuan membuat hidup mereka perlahan berubah. Saat seorang anak kecil menjadi penghubung, takdir membawa Azel pada pilihan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Mampukah Azel menerima takdirnya?
Sementara Ibra mulai menyadari bahwa gadis bernama Arzelia Nayesha Mahina Ghazi bukanlah orang asing dalam hidupnya. Sebuah nama keluarga membawa kembali kenangan masa kecil yang telah lama ia tinggali.
Spin Off novel 'Dari Ribut Jadi Jodoh'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Beberapa hari kemudian...
Pagi itu, ruang rapat BEM dipenuhi kesibukan. Meja besar di tengah ruangan dipenuhi laptop, ponsel, map, dan tumpukan berkas. Di salah satu sisi, papan tulis telah penuh dengan jadwal kegiatan, pembagian divisi, hingga daftar perlengkapan yang harus dibawa ke desa.
Sinar matahari yang masuk dari jendela besar membuat ruangan terasa terang, meski suasananya tetap riuh oleh diskusi para panitia.
Di depan ruangan, Ihsan berdiri sambil memegang clipboard. Wajahnya menunjukkan perpaduan antara semangat dan keseriusan.
"Baik, teman-teman." Ia mengetukkan ujung pena ke clipboard untuk menarik perhatian. "Ini briefing terakhir sebelum kita berangkat ke desa. Pastikan semua tugas sudah jelas dan nggak ada yang tertinggal."
Suasana perlahan menjadi tenang. Fariz yang duduk di barisan depan membuka buku catatan kecilnya yang sudah penuh dengan poin-poin penting.
Di sampingnya, Rafka tampak lebih santai sambil memutar pena di sela jemarinya.
Ihsan kembali melihat daftar di clipboard. "Pertama, koordinasi dengan warga desa."
Tatapannya berhenti pada Azel yang duduk di sisi kanan meja rapat.
"Azel. Gimana perkembangan terakhir?"
Azel segera menegakkan tubuh. "Alhamdulillah semuanya sudah beres, Kak. Warga sudah tau jadwal kedatangan kita. Tempat tinggal panitia juga sudah disiapkan. Tim pendahulu rencananya berangkat setelah briefing ini buat ngecek ulang semuanya."
Ihsan mengangguk puas. "Bagus. Lalu satu lagi. Indira masih izin karena sakit. Jadi untuk sementara kamu yang handle briefing dengan warga. Kamu ambil alih tugas Ketua Divisi Humas."
Azel mengangguk mantap. "Siap, Kak."
Belum sempat Ihsan melanjutkan, Sarah yang sejak tadi sibuk memainkan ponselnya mendengus pelan. Meski pelan, nada sinisnya cukup terdengar.
"Yakin, San?"
Semua mata langsung beralih kepadanya.
Sarah menatap Azel sekilas. "Lo yakin Azel bisa handle semuanya?"
Sekar yang duduk tak jauh dari Azel langsung mengangkat wajah. "Kenapa nggak yakin? Azel pasti bisa. Dia lebih bisa diandalkan daripada orang yang dari tadi rapat malah sibuk main HP."
Beberapa anggota langsung menahan tawa. Devi yang duduk di samping Sarah langsung menatap tajam ke arah Sekar.
"Maksud lo apa?"
Sekar mengangkat bahu santai. "Ya kalau ngerasa berarti emang begitu."
Sarah langsung meletakkan ponselnya di atas meja. "Lo nyindir gue?"
Sebelum Sekar sempat menjawab, Azel lebih dulu membuka suara. Nada bicaranya tetap tenang. Namun cukup tajam.
"Kak Sarah."
Sarah menoleh.
"Kalau Kakak memang kurang yakin sama kemampuan saya, kenapa nggak Kakak aja yang handle semuanya?"
Ruangan seketika hening.
Azel melanjutkan dengan senyum tipis. "Jadi saya bisa belajar langsung dari Kakak. Nanti kalau ada yang kurang sekalian Kakak yang tanggung jawab."
Beberapa anggota BEM spontan menutup mulut menahan tawa. Rafka sampai menundukkan kepala sambil berdeham.
Sekar dan Bela saling pandang. Wajah keduanya menunjukkan rasa bangga. "Akhirnya dibales juga."
Sarah mengepalkan tangan di bawah meja. "Tuh, kan! Lo semua lihat sendiri. Dia kalau ngomong memang selalu nyolot."
Azel tetap tersenyum tipis. "Saya cuma menjawab pertanyaan, Kak. Nggak lebih."
Melihat suasana mulai memanas, Ihsan segera mengangkat tangan. "Udah. Cukup. Nggak ada gunanya kita saling menyalahkan. Kita ke desa buat mengabdi. Bukan buat adu ego."
Fariz yang sejak tadi diam akhirnya ikut berbicara. Suaranya tenang, tetapi cukup membuat ruangan kembali fokus. "Saya percaya Azel mampu menjalankan tugas itu. Kalau Ihsan menunjuk dia berarti memang dia dianggap mampu. Dan kalau nanti ada kendala kita semua bantu. Bukan malah menjatuhkan."
Beberapa anggota langsung mengangguk setuju. "Iya, Kak."
Sarah hanya mengembuskan napas kasar. Ia memilih diam. Namun tatapannya kepada Azel semakin tajam.
Sejak Azel bergabung dengan BEM, banyak hal berubah. Fariz yang dulu sering memperhatikannya. Kini justru lebih sering berdiskusi dengan Azel. Pendapat Azel juga semakin didengar oleh pengurus lain. Hal itu membuat rasa tidak sukanya perlahan berubah menjadi iri.
Logistik dipimpin Azka untuk memastikan semua barang sudah diangkut ke mobil dan tidak ada yang tertinggal.
Konsumsi dikoordinasi Bella untuk memeriksa makanan dan air minum selama perjalanan dibantu oleh Sarah dan juga anggota divisi konsumsi lainnya.
Acara dipegang Rafka untuk persiapan rundown setibanya di desa. Sekar dipercaya oleh Rafka sebagai wakilnya untuk mengatur semua kegiatan agar sesuai dengan rundown dan kalaupun ada perubahan, Sekar bisa membantunya bersama dengan anggota divisi acara yang lainnya.
Kesehatan dikoordinasi oleh Delia dan dibantu oleh Raka dan beberapa anggota divisi kesehatan yang lainnya, memastikan agar obat-obatan dan peralatan kesehatan lainnya tersedia kalau-kalau ada yang sakit baik panitia maupun warga desa. Sekretaris dan bendahara kegiatan yaida Devi dan Ica selalu siap sedia untuk mengabsen kehadiran serta menyiapkan dana apabila ada beberapa hal yang harus dibeli di luar RAB karena memang setiap divisi menyiapkan dana tak terduga yang nantinya ditambahkan ke RAB.
Serta divisi-divisi lainnya.
"Semuanya sudah paham tugas masing-masing, kan?" tanya Ihsan matanya menyapu seluruh ruangan.
"Paham," Jawab semua anggota hampir serentak, meskipun ada beberapa suara yang terdengar malas.
Ihsan mengangguk puas. "Bagus. Kalau begitu kita langsung mulai angkut semua perlengkapan ke kendaraan. Pastikan barang-barang dicek ulang. Jangan sampai ada yang tertinggal karena nanti kita tidak mungkin bolak-balik ke kampus."
"Siap, Kak!"
Suasana ruang rapat pun seketika berubah ramai. Sebagian anggota bergegas menuju ruang logistik untuk mengangkat kardus-kardus berisi perlengkapan kegiatan. Sebagian lainnya langsung menuju area parkir guna menyusun barang ke dalam mobil operasional dan bus yang akan digunakan.
Terdengar suara tawa, candaan, dan obrolan ringan yang saling bersahutan di tengah kesibukan. Meski demikian, di balik ramainya persiapan keberangkatan, ketegangan tipis antara Sarah dan Azel masih terasa. Keduanya sama-sama fokus pada tugas masing-masing, tetapi tatapan Sarah yang sesekali mengarah kepada Azel menunjukkan bahwa rasa tidak sukanya belum juga mereda.
***
Di parkiran kampus yang luas, suasana pagi yang cerah berbanding terbalik dengan kesibukan yang terjadi. Beberapa mobil telah berjajar rapi, siap membawa rombongan BEM menuju desa tujuan. Kardus-kardus logistik, perlengkapan konsumsi, alat kebersihan, hingga perlengkapan penyuluhan ditata di tepi parkiran sambil menunggu dimuat ke dalam kendaraan.
Udara pagi yang bercampur aroma bensin dan debu jalanan tidak sedikit pun mengurangi semangat para panitia.
Di tengah keramaian itu, Ihsan berdiri dengan clipboard di tangan. Pandangannya terus menyapu setiap sudut parkiran, memastikan seluruh persiapan berjalan sesuai rencana.
"Azka," panggilnya.
Azka yang sedang memeriksa daftar logistik segera menoleh.
"Pastikan semua barang di mobil pertama sudah lengkap. Cek lagi satu per satu, jangan sampai ada yang tertinggal."
"Siap, bro."
Tanpa menunda, Azka berjalan cepat menuju mobil pertama sambil mencocokkan isi kendaraan dengan daftar inventaris yang ia pegang.
Sementara itu, di sisi lain parkiran, Azel dan Bella sedang bekerja sama mengangkat beberapa kotak konsumsi.
Meski wajah Azel masih terlihat sedikit pucat akibat baru pulih dari sakit, ia tetap memaksakan diri membantu. Butiran peluh mulai menghiasi dahinya, tetapi ia tetap berusaha tersenyum.
"Zel, hati-hati. Berat loh," ujar Bella khawatir.
Azel menggeser posisi kotak di pelukannya. "Tenang aja, Bel. Gue masih kuat. Tapi kalau tumbang, baru lo angkat gue."
Bella terkekeh. "Mulut lo masih sempet bercanda."
Di dekat mereka, Sarah hanya berdiri sambil memegang daftar konsumsi. Sesekali ia memberi instruksi kepada anggota divisinya, tetapi sama sekali tidak berniat membantu mengangkat barang. Tatapannya justru sesekali mengarah ke Azel dengan ekspresi yang sulit diartikan.
Tak jauh dari sana, Fariz yang sedang membantu mengatur posisi barang di bagasi mobil tanpa sadar terus memperhatikan Azel. Ia melihat gadis itu beberapa kali mengusap peluh di dahinya dan memegang perutnya sekilas.
Fariz pun menghampiri. "Zel."
Azel menoleh. "Iya, Kak?"
"Kasih sini." Fariz langsung mengambil kotak yang sedang dibawa Azel.
"Eh, Kak. Gapapa, aku masih bisa."
"Kamu baru sembuh. Jangan sok kuat."
Azel mengembuskan napas pelan. "Yaudah... Makasih ya."
Fariz hanya mengangguk kecil lalu membawa kotak itu menuju mobil.
Pemandangan itu tak luput dari sepasang mata yang baru saja datang. Suara langkah sepatu terdengar mendekat.
Obrolan para panitia perlahan mereda. Pak Ibra muncul dari arah gedung kampus dengan kemeja putih yang lengan bajunya digulung hingga siku. Langkahnya tenang, tetapi wibawanya membuat beberapa mahasiswa spontan merapikan posisi berdiri.
"Assalamu'alaikum, Pak."
"Wa'alaikumussalam."
Tatapan Ibra langsung menyapu seluruh area parkiran, memastikan semua persiapan berjalan sebagaimana mestinya.
"Bagaimana persiapannya?"
Fariz segera menghampiri. "Alhamdulillah hampir selesai, Pak."
Ibra mengangguk pelan. "Bagus."
Tatapannya kemudian tanpa sadar mencari satu orang. Dan ia menemukannya.
Azel.
Gadis itu berdiri di samping Bella sambil merapikan kardus-kardus konsumsi.
Entah mengapa, sejak kejadian di ruang dosennya beberapa hari lalu, hubungan mereka terasa begitu canggung. Tidak ada lagi perdebatan kecil. Tidak ada lagi balasan spontan dari Azel yang selalu berhasil membuatnya menggelengkan kepala. Yang ada hanya percakapan seperlunya.
Dan anehnya, Ibra justru merindukan itu.
"Azel."
Gadis itu langsung menoleh. "Iya, Pak?"
"Tugas koordinasi dengan warga sudah selesai?"
"Sudah, Pak. Tim pendahulu juga sudah berangkat."
Ibra mengangguk singkat. "Bagus."
Hanya itu. Padahal biasanya ia akan melontarkan beberapa pertanyaan tambahan. Namun kali ini ia justru kehabisan kata.
Azel pun kembali melanjutkan pekerjaannya. Sementara Ibra diam-diam mengembuskan napas pelan.
"Kenapa jadi secanggung ini..."
Belum sempat ia mengalihkan pikirannya, ia melihat Fariz kembali menghampiri Azel.
"Kamu kelihatan capek. Nih."
Fariz menyerahkan sebotol air mineral yang tadi dibelinya. "Minum dulu."
Azel menerimanya sambil tersenyum. "Makasih, Kak."
"Iya. Jangan sampai tumbang sebelum berangkat."
Melihat senyum itu entah kenapa dada Ibra terasa sesak. Padahal itu hanya air mineral. Dan Fariz memang ketua BEM yang wajar memperhatikan anggotanya.
Tetapi tetap saja... Ada rasa tidak nyaman yang muncul begitu saja. Tanpa sadar, rahangnya mengeras.
Fariz baru saja hendak kembali mengajak Azel beristirahat ketika suara Ibra tiba-tiba terdengar.
"Fariz."
Langkah ketua BEM itu terhenti. "Iya, Pak?"
Ibra berjalan mendekat dengan raut wajah datar seperti biasanya. "Di sana nanti kalian datang sebagai satu tim."
Tatapannya beralih kepada seluruh anggota yang berada di sekitar mereka.
"Bukan sebagai kelompok-kelompok kecil."
Semua yang mendengar mulai memperhatikan.
"Jangan fokus memperhatikan satu orang saja. Pastikan perhatian kalian terbagi kepada seluruh anggota. Kalau ada yang kelelahan, bantu. Kalau ada yang kesulitan, bantu. Kalau ada masalah, selesaikan bersama. Karena keberhasilan kegiatan ini bukan ditentukan oleh satu orang. Tapi oleh kerja sama seluruh tim. Paham?"
"Siap, Pak," jawab beberapa anggota hampir bersamaan.
Fariz mengangguk hormat. "Siap, Pak. Saya mengerti."
Ibra menganggukkan kepala singkat. "Bagus."
Meski terdengar seperti arahan umum, entah mengapa Fariz merasa kalimat itu memang ditujukan kepadanya.
Ia melirik sekilas ke arah Azel yang sejak tadi hanya diam sambil memegang botol air mineral.
Azel sendiri tidak berpikir macam-macam. Ia justru mengangguk pelan.
"Benar juga..." Gumamnya lirih. "Kita memang harus saling memperhatikan semuanya."
Namun berbeda dengan Azel, Bella dan Sekar justru saling pandang.
Bella berbisik pelan. "Lo ngerasa nggak?"
Sekar menaikkan sebelah alis. "Ngerasa apaan?"
"Kayaknya itu sindiran buat seseorang deh."
Sekar menahan senyum sambil melirik Fariz yang sedang menggaruk tengkuknya dengan canggung.
"Bisa jadi."
Tak jauh dari mereka, Sarah yang sedari tadi memperhatikan hanya menyunggingkan senyum tipis. "Bagus. Minimal ada yang akhirnya negur juga."
Sementara itu, Ibra tetap memasang wajah tenang. Seolah ucapan tadi murni merupakan arahan seorang dosen pembina.
Padahal di dalam hatinya, ia tau betul. Kalimat itu keluar bukan hanya karena profesionalisme. Melainkan karena ia tidak menyukai kenyataan bahwa perhatian Fariz kepada Azel mulai terasa terlalu sering.
***
Satu per satu mobil yang membawa rombongan BEM mulai meninggalkan area kampus. Konvoi kecil itu melaju beriringan menuju desa tujuan, tempat mereka akan melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat selama beberapa hari ke depan.
Suasana yang semula sibuk dengan aktivitas mengangkat barang kini berganti menjadi obrolan ringan di dalam setiap mobil.
Di mobil pertama, Ihsan duduk di kursi penumpang depan, sesekali memeriksa kembali daftar peserta dan perlengkapan melalui clipboard yang sejak tadi tak pernah lepas dari tangannya.
Azka yang bertugas sebagai koordinator logistik duduk di belakang sopir sambil sesekali mengecek grup koordinasi untuk memastikan semua kendaraan tetap berada dalam rombongan.
Sementara itu, Azel memilih duduk di baris paling belakang bersama Bella dan Sekar. Tas ranselnya dipangku rapi, sementara kepalanya disandarkan pelan ke sandaran kursi.
Wajahnya masih tampak sedikit pucat, meski kondisinya sudah jauh lebih baik dibanding beberapa hari lalu.
Bella melirik sahabatnya. "Gimana? Masih sakit?"
Azel menggeleng kecil. "Udah mendingan. Cuma agak capek aja."
Sekar yang duduk di sampingnya langsung menyodorkan sekotak susu. "Nih. Minum dulu. Biar nggak masuk angin."
Azel tersenyum kecil. "Makasih, Sek."
"Dasar." Sekar menyenggol pelan bahunya. "Kalau badan belum fit bilang. Jangan sok kuat."
"Iya, bestieku yang cerewet."
Bella dan Sekar langsung tertawa kecil. "Nah... Udah mulai bisa nyaut."
"Berarti emang udah baikan."
Azel ikut terkekeh pelan.
Di dalam mobil, suasana menjadi hangat dengan obrolan ringan. Ada yang mulai memutar musik pelan. Ada pula yang sudah sibuk mengambil foto perjalanan untuk dokumentasi kegiatan.
Sementara itu...
Di mobil yang berada tepat di belakang mereka, Ibra duduk di kursi kemudi. Tanpa sadar pandangannya beberapa kali tertuju ke mobil di depan melalui kaca depan. Mobil yang ditumpangi Azel.
"Apa yang sebenarnya aku lakukan..." gumamnya dalam hati.
Sejak kejadian di ruang dosen beberapa hari lalu, hubungannya dengan Azel justru menjadi jauh lebih canggung.
Padahal... Sebelumnya mereka selalu saja berdebat hampir di setiap pertemuan. Kini... Azel lebih banyak diam.
Dan anehnya Ibra justru merindukan perdebatan-perdebatan kecil itu.
Ia mengembuskan napas pelan lalu fokus pada jalanan. Berusaha memusatkan pikirannya pada kegiatan yang akan mereka jalankan di desa.
Namun bayangan gadis berhijab krem yang duduk di mobil depan itu terus saja muncul di benaknya.
tor Ibra jangan manggil saya lagi sama Azel
yg sebelumnya lebih ke mes*m aja sih.