Tolong...bagi yang hanya penasaran jangan buka bab!!!
Sultan Rafsanjani, CEO muda nan tampan, cerdas serta berasal dari keluarga kaya raya, rela menyamar menjadi pria culun dan menyembunyikan identitasnya demi mengejar gadis pujaannya.
Hingga suatu hari dirinya diminta menjadi kekasih pura-pura oleh gadis tersebut hanya untuk memberikan kado istimewa buat ulangtahun eyangnya.
Bersediakah Sultan atau dia malah memanfaatkan keadaan dan meminta menjadi kekasih sungguhan?
Ataukah justru hal lain tak terduga akan terjadi?
Ikuti kisahnya hanya di sini;
"Suami Culunku Ternyata Sang Pewaris" karya Moms TZ, bukan yang lain!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1.
"Jangan lupa lusa nanti ulang tahun pernikahan emas eyang kalian. Kali ini kamu harus datang, Ayang," ucap Bu Arimbi seraya menyendokkan nasi ke dalam piring.
"Aku malas datang, Ma," sahut Kahiyang Batari, putri sulung pasangan Pak Andika dengan Bu Arimbi.
"Mama justru berharap kali ini kamu datang membawa kado istimewa buat mereka," lanjutnya dengan raut serius.
Kahiyang langsung terdiam. Ia sudah paham yang dimaksud dengan kado istimewa tersebut.
Hingga sang ayah kemudian berkomentar dengan bijak, "Ma, jangan terlalu menekan Ayang. Dia sudah dewasa tahu mana yang terbaik untuknya."
"Tapi, sampai kapan dia akan terus melajang seperti ini, Pa?" sanggah Bu Arimbi
"Ya, selama aku masih merasa nyaman, Ma," celetuk Kahiyang dengan santai.
"Apa katamu...? Nyaman...?" Bu Arimbi mengulang kata terakhir Kahiyang.
"Ayang, usiamu itu tak lagi muda, Nak. Lihat adik-adikmu, mereka semua sudah berkeluarga bahkan punya anak."
"Apa kamu nggak sadar selama ini selalu jadi bahan gunjingan tetangga? Bahkan keluarga kita sendiri." Netra Bu Arimbi berkaca-kaca sembari menatap putri sulungnya dengan perasaan campur aduk.
"Apalagi mulut bibimu itu yang nggak bisa dikondisikan. Selalu menganggap kamu seolah masih berharap sama Tedy. Kamu tahu nggak, gimana sakit hatinya mama?" katanya sambil menepuk-nepuk dada yang tiba-tiba terasa sesak.
Mendadak sekelebat bayangan kejadian dua bulan lalu pada saat acara kumpul keluarga bagaikan menari-nari di pelupuk mata Kahiyang. Bagaimana sikap Bu Retno, yang menghinanya habis-habisan. Ketika itu dirinya berada di beranda samping rumah eyangnya sedang menimang keponakannya.
"Makanya punya suami, biar yang ditimang anak sendiri. Bukan anak orang lain!" Tiba-tiba terdengar suara celetukan sarkas yang sangat Kahiyang kenal.
Akan tetapi, gadis itu hanya diam tak menanggapi. Sampai akhirnya sosok itu berdiri di sampingnya.
"Sudah berapa lama kamu dibuang Tedy, Ay? Masih saja betah menjomblo sampai sekarang? Atau masih belum bisa move on dari dia, ya? Nggak takut di bilang perawan tua? Ups ...ralat. Emang kamu perawan tua kan, ya?" sindirnya sambil tertawa mengejek.
Kahiyang memejamkan mata sambil melipat bibir kuat-kuat, berusaha tetap tenang meski gejolak emosi mulai menguasai dirinya.
"Kenapa... kamu nggak terima bibi bilang perawan tua? Emang kenyataannya begitu, kan?" tukas wanita paruh baya itu lagi dengan pandangan meremehkan
"Apa jangan-jangan kamu masih mengharapkan cintanya Tedy...iya?"
"Jangan harap hal itu terjadi! Karena bibi tidak akan pernah membiarkan kamu mengganggu rumahtangga Cantika! Camkan itu!" ucapnya ketus sambil menekan dada kanan Kahiyang.
Ingin rasanya Kahiyang meremas mulut sang bibi yang selalu berkata pedas padanya, andai tidak ingat adab kesopanan. Lalu ia pun menatap tajam bibinya sembari tersenyum tipis.
"Sepertinya Bibi takut sekali ya, aku menggoda Tedy. Menganggap seolah aku masih mengharapkan pencundang itu? Kalau aku mau sudah aku lakukan itu sejak dulu!"
Kahiyang lantas terkekeh pelan. "Tapi maaf...tak secuilpun terbesit dalam pikiranku menginginkannya kembali. Justru aku merasa sangat-sangat senang Cantika mencurinya dariku."
"Apa maksudmu!" sergah Bi Retno cepat.
Kekehan Kahiyang berubah senyum miring. "Bagiku sudah tepat kalau lelaki sampah macam dia emang cocoknya ya, bersama sampah."
"Dan perlu Bibi catat, aku nggak akan pernah sudi memungut sampah...!"
Kalimat itu sukses membungkam mulut rasa cabai Bu Retno.
Kahiyang menghela napas panjang seraya memejamkan mata. Entah mengapa kala itu ia gagal meredam emosi sehingga membalas ucapan bibinya.
Bu Arimbi yang melihat ekspresi muram pada wajah Kahiyang, mengira putrinya masih belum bisa melupakan masa lalu.
"Mama tahu, kamu mungkin masih trauma dengan kandasnya hubunganmu sama Tedy. Tapi, ini sudah hampir lima tahun, masa kamu masih belum bisa move on juga dari lelaki itu?"
"Mama ini ngomong apa, sih? Siapa bilang aku belum move on dari lelaki mokondo itu?" sahut Kahiyang cepat.
"Kalau memang kamu sudah melupakan dia, terus kenapa belum juga membuka hatimu untuk pria lain?" tanya sang ibu.
"Malas, aja," jawab Kahiyang enteng. "Enakan sendiri, nggak ribet.
"Ayang, dengerin mama, ya. Nggak semua lelaki itu sama seperti Tedy. Masih banyak di luaran sana yang jauh lebih baik dari dia. Bukalah hatimu untuk mengenal sosok baru dalam hidupmu, Nak."
"Mama nggak mau mereka terus merendahkanmu, seolah dirimu nggak laku. Kamu harus bungkam mulut julid bin nyinyir bibimu itu dengan membawa teman pria ke ulangtahun eyang kalian nanti!" titah Bu Arimbi tak ingin dibantah.
Pak Andika yang sedari tadi diam hanya menyimak akhirnya membuka suara. "Papa rasa maksud mamamu baik, Ay. Pikirkanlah..." ujarnya seraya menepuk pundak Kahiyang lembut.
....
Di kantor, Kahiyang sama sekali tak bisa fokus dengan pekerjaannya. Hingga pada saat jam istirahat perkataan mamanya masih terus berputar-putar di kepalanya.
"Aku harus bagaimana?" gumam gadis itu sambil memegangi kepalanya yang berbalut hijab.
Hal itu rupanya sangat menarik perhatian seorang pemuda yang duduk di kubikel depan Kahiyang. Dari tadi pemuda berkacamata tebal dan gaya rambut klimis itu terus mencuri pandang memperhatikannya. Hingga saat istirahat tiba dan Kahiyang belum juga beranjak dari duduknya, pemuda itu pun menghampirinya.
"Mbak... Mbak Ayang!" panggilnya lembut.
Karena tak mendapat respon, pemuda itu akhirnya memberanikan diri menyentuh pundak Kahiyang. Sentuhan itu pun berhasil membuat Kahiyang berjingkat kaget.
"Astaghfirullah...! Bikin kaget aja deh, kamu, Raf!" pekik Kahiyang seraya memegang dadanya.
Pemuda yang dipanggil Rafa itu pun tersenyum yang membuat Kahiyang sedikit terpana beberapa saat. "Ternyata dia manis juga kalau tersenyum," batinnya berbisik.
"Maaf, kalau saya lancang, Mbak," ujar Rafa takut-takut. "Soalnya saya panggil dari tadi tapi Mbak Ayang nggak merespon."
Kahiyang menggeleng cepat, berusaha menyingkirkan pikirannya yang kacau.
"Ada apa?" tanyanya setelah pikirannya loading.
Ia menatap Rafa lama sehingga membuat pemuda itu menunduk salah tingkah.
"Mm... nggak ada, Mbak. Cuma memastikan kalau Mbak Ayang baik-baik saja," jawabnya sambil mencuri pandang ke arah gadis idamannya.
Kahiyang mengernyitkan kening sambil memperhatikan tingkah pemuda culun itu yang entah mengapa tiba-tiba sangat menarik di matanya.
"Raf, berapa usiamu sekarang? Kamu punya pacar, nggak?" Kalimat itu terlontar begitu saja dari bibir Kahiyang.
Rafa tersenyum tipis sambil mengusap tengkuknya. Namun, rupanya senyum itu membuat Kahiyang kembali terpana untuk kedua kalinya. Ia lantas berdehem berkali-kali. "Maaf, aku... aku nggak bermaksud menyinggung ranah pribadimu. Lupakan saja." Kahiyang menunduk sambil memegangi keningnya--malu.
Rafa memperhatikan tingkah gadis idamannya yang menurutnya sangat lucu. "Saya sama sekali nggak tersinggung kok, Mbak," sahutnya santai.
Kahiyang langsung mengangkat kepalanya menatap Rafa. "Ya Tuhan, ke mana aku selama ini? Dia ada di depan mataku tapi aku nggak pernah menyadarinya, kalau ternyata dia begitu manis," gumamnya dalam hati.
"Usia saya dua tujuh tahun, Mbak. Dan saya belum punya pacar," ucap Rafa jujur. "Ada sih, yang saya suka tapi..."
"Tapi kenapa...?" sambar Kahiyang cepat.
"Saya cukup sadar diri, Mbak. Lagian gadis mana yang mau sama saya yang hanya pegawai biasa, tampang pas-pasan, penampilan juga tidak modis," jawab Rafa tak semuanya benar.
Kahiyang menatap Rafa lama seolah menilai sesuatu. "Tapi kalau aku perhatikan ternyata kamu manis juga, kok," ucapnya spontan. "Kamu mau nggak, jadi kekasihku?"
Duh... Gimana ya kira-kira reaksi Rafa ditembak langsung oleh cewek yang selama ini ditaksirnya?
.
.
.
Halo.. Jumpa lagi di karya baru moms. Semoga kalian suka.
Bagi yang cuma penasaran, plis jaga jarinya untuk tidak menekan like!!!
Siap2 saja sebentar lagi akan kehilangan jabatan
ayang baru sadar kalo Rafa itu CEO, kamu aja shock apalagi nanti keluarga besar mu,🤭