Indonesia
NovelToon NovelToon
Trauma Ranjang

Trauma Ranjang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Evita Desniati adalah seorang wanita yang sudah menikah selama 6 tahun lamanya dengan Xander Wiryawan. Kehidupan rumah tangga mereka mendadak hancur saat Evita memergoki Xander tengah bermesraan dengan seorang wanita bernama Viola Sanustika di atas ranjang yang biasa ia dan Xander gunakan! Evita menjadi trauma dengan ranjang hingga seorang pria asing dari Tiongkok bernama Ma Yong Hua muncul dan mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ranjang yang Ternoda

Langit senja di Jakarta tampak jingga keemasan, menghampar megah di balik kaca jendela pesawat yang membawa Evita Desniati mendarat kembali di tanah air. Tiga hari penuh Evita habiskan di Singapura untuk memenuhi undangan sebagai dosen tamu dalam seminar akademik internasional. Meskipun lelah mendarat di sekujur tubuhnya, ada satu hal kecil yang membuatnya tetap bersemangat: kerinduan mendalam pada suaminya, Xander Wiryawan. Selama mereka menikah, jarang sekali Evita meninggalkan rumah berhari-hari karena kesibukan mengajarnya di universitas, begitu pula Xander yang sibuk dengan perusahaannya.

Langkah kaki Evita terasa ringan saat ia menyeret koper kecilnya memasuki halaman rumah minimalis modern mereka yang asri. Jam dinding di ruang tamu menunjukkan pukul lima sore. Rumah tampak begitu sunyi, begitu tenang—sebuah suasana yang biasa ia nikmati setelah penat bekerja. Namun, ketenangan itu mendadak terusik begitu matanya menangkap siluet janggal di dekat rak sepatu dekat pintu masuk utama.

Evita menghentikan langkahnya. Alisnya bertaut heran.

​Di sana, terselip rapi sebuah sepatu hak tinggi wanita bertali kulit putih dengan desain elegan. Bukan. Sepatu itu jelas bukan miliknya. Evita sangat mengenali setiap pasang alas kaki yang ia miliki; ia tidak pernah membeli atau bahkan menyukai model seperti itu.

​Siapa tamu di rumah ini? Apakah asisten rumah tangga sedang menerima tamu? batin Evita bertanya-tanya, mencoba menepis prasangka buruk yang tiba-tiba mendesak dadanya.

Ia melepas sepatu pantofelnya, meletakkannya di rak, lalu melangkah pelan tanpa suara. Udara di dalam rumah terasa pengap, kontras dengan kesejukan pendingin ruangan yang biasanya menyambut. Suasana sekitar terasa begitu senyap, kecuali suara detak jantung Evita sendiri yang mulai berpacu lebih cepat dari biasanya. Ada firasat buruk yang merayap dingin di tengkuknya, membuat bulu kuduknya meremang.

Evita berjalan meniti koridor lantai bawah menuju dapur, berniat mencari Bi Inah, namun rumah tampak kosong. Ia lantas berbalik menaiki tangga menuju lantai dua, tempat kamar utama mereka berada. Semakin dekat ia dengan pintu kamar tidur utama, semakin aneh suasana yang ia rasakan. Terdengar samar-samar suara desahan napas yang berat dan ritmis dari balik daun pintu yang tidak tertutup rapat—hanya berjarak beberapa sentimeter.

****

Jantung Evita seperti berhenti berdetak. Kakinya terasa membeku di atas lantai kayu koridor. Napasnya tercekat di tenggorokan. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mendorong pelan pintu kamar itu agar terbuka lebih lebar.

Pemandangan yang tersaji di depan matanya detik itu juga menghancurkan dunianya berkeping-keping dalam hitungan detik.

​Di atas ranjang ukuran king size—tempat suci di mana ia dan Xander mengikat janji pernikahan, tempat mereka berbagi pelukan hangat dan doa setiap malam—kini ternoda oleh sebuah pemandangan yang biadab dan menjijikkan. Xander Wiryawan, pria yang sangat ia cintai, pria yang ia percaya sepenuh hati, tengah tidak berbusana, bergelut liar di atas tubuh seorang wanita asing berambut panjang.

​Wanita itu mendesah pelan, merentangkan tangan merangkul leher Xander, sementara mata mereka sempat beradu pandang dengan Evita yang berdiri terpaku di ambang pintu.

​"Xander...?" panggil Evita. Suaranya tercekat, nyaris tak terdengar, meluncur lemah dari bibirnya yang mendadak pucat pasi.

Mendengar suara itu, sang suami tersentak kaget luar biasa. Xander langsung menghentikan gerakannya, menoleh cepat ke arah pintu. Wajah pria yang tadinya dipenuhi gairah itu berubah drastis menjadi pucat pasi selayaknya mayat hidup. Keringat dingin bercucuran di pelipisnya.

​"Ev-Evita...?" gumam Xander terbata-bata, tubuhnya langsung menegang kaku di atas wanita telanjang di bawahnya.

****

Wanita asing di ranjang itu—yang kemudian Evita ketahui dari tatapan matanya yang penuh tantangan bernama Viola Sanustika—tidak menunjukkan rasa takut ataupun bersalah. Wanita itu justru menyunggingkan senyuman tipis penuh kemenangan, seolah menikmati kehancuran yang baru saja disaksikan oleh sahnya istri dari pria di atasnya. Viola bahkan dengan sengaja menarik selimut untuk menutupi tubuhnya setengah-setengah sambil menatap Evita dengan pandangan meremehkan.

Dunia Evita seolah runtuh seketika. Ruangan di sekitarnya berputar hebat. Hantaman rasa sakit yang begitu menusuk menghujam dadanya, membuat paru-parunya kekurangan oksigen. Rasa jijik, marah, kecewa, dan hancur lebur bergejolak menjadi satu dalam pusaran emosi yang menyesakkan. Pernikahan yang ia bangun atas dasar kesucian dan cinta kasih kini telah diinjak-injak di atas ranjang mereka sendiri.

Air mata yang sejak tadi tertahan akhirnya tumpah ruah membasahi pipi Evita. Derai air mata itu jatuh begitu deras, mewakili kepedihan yang teramat sangat, kepedihan yang tidak sanggup lagi ia deskripsikan dengan kata-kata.

​Xander panik bukan kepalang. Ia buru-buru bangkit dari ranjang, meraih sehelai celana kain yang tergeletak di lantai untuk menutupi tubuhnya yang telanjang, lalu melangkah cepat ke arah Evita dengan tangan terulur memohon.

​"Evita, tunggu! Kamu salah paham! Ini... ini tidak seperti yang kamu lihat! Dengarkan aku dulu, Sayang!" teriak Xander dengan suara panik, mencoba mendekati istrinya.

****

Namun Evita melangkah mundur. Setiap inci jarak yang diciptakan Xander terasa seperti duri tajam yang merobek kulitnya. Pandangan mata Evita menyiratkan kekecewaan yang sudah berada di tingkat paling puncak—tatapan seorang wanita yang harga dirinya telah diinjak-injak tanpa sisa oleh orang paling berharga di hidupnya.

​"Jangan sentuh aku!" bentak Evita dengan suara parau yang bergetar hebat, penuh dengan sisa-sisa tenaga terakhirnya.

​Ia menggelengkan kepala perlahan, menatap tajam ke arah Xander untuk terakhir kalinya sebelum pandangannya kabur tertutup air mata. Tanpa membuang waktu sedetik pun untuk mendengar alasan murahan atau pembelaan busuk dari suaminya, Evita membalikkan badannya dengan cepat.

​Langkahnya terasa gontai menuruni tangga, meninggalkan kamar utama yang kini telah berubah menjadi saksi bisu pengkhianatan paling keji dalam hidupnya. Di belakang sana, suara Xander memanggil-manggil namanya kian memudar seiring deru isak tangis Evita yang pecah di sepanjang lorong rumah.

****

Suara isak tangis Evita yang menggema menuruni tangga berangsur-angsur lenyap, menyisakan keheningan yang menyesakkan di dalam kamar tidur utama yang luas itu. Xander masih terpaku di tempatnya berdiri, kedua tangannya mencengkeram erat pinggiran celana kain yang baru saja ia kenakan. Wajahnya pucat pasi, matanya menatap nanar ke arah pintu kamar yang kini tertutup rapat. Ada rasa bersalah, panik, dan ketakutan yang luar biasa berkelebat di benaknya—ketakutan akan kehilangan status, kenyamanan, dan wanita terhormat yang selama ini menjadi pendamping hidupnya di mata sosial.

"Evita... Sial!" geram Xander tertahan, bersiap melangkah menyusul istrinya yang tengah kalut.

​Namun, sebelum langkah kakinya sempat terayun melewati ambang pintu, sepasang lengan yang lembut namun licin melingkar erat di pinggang telanjangnya dari belakang. Aroma parfum wanita yang begitu pekat dan memabukkan langsung menyeruak indra penciumannya.

​"Mau ke mana, Mister Wiryawan?" bisik Viola Sanustika dengan suara serak yang sengaja dibuat-buat manja, sarat akan bujukan yang mematikan.

1
Ma Em
Evita balas perbuatan Xander dan jalang nya buat mereka menyesal karena sdh berani bawa selingkuhan ke rumah tempat Evita tinggal .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!