Lima tahun lalu, Larasati pergi tanpa penjelasan, meninggalkan Raka dalam kebencian yang tak pernah ia pahami alasannya. Kini takdir mempertemukan mereka kembali—bukan sebagai kekasih, tapi sebagai atasan dan bawahan. Raka yang dingin membalas luka lamanya lewat cara-cara kecil yang menyakitkan, meski diam-diam hatinya masih menyimpan rasa.
Namun ketika kebenaran akhirnya terungkap—bukan dari Laras, melainkan dari orang lain—Raka sadar betapa kejamnya ia selama ini. Sayangnya, penyesalan itu datang terlambat. Laras telah menemukan kebahagiaannya sendiri, bersama seseorang yang benar-benar memilih untuk mendengarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
dingin di lantai atas
Tiga hari setelah pertemuan mengejutkan itu, Laras masih berusaha menyesuaikan diri dengan pekerjaan barunya di lantai lima belas, meski pikirannya terus-menerus melayang pada momen ketika mata Raka menatapnya dengan begitu dingin di depan seluruh staf baru.
"Laras, tolong antar dokumen ini ke lantai dua puluh tiga," kata atasan langsungnya di divisi pemasaran, seorang manajer bernama Pak Bayu. "Ini laporan kuartal yang harus segera ditandatangani Pak Raka."
Jantung Laras berdegup kencang mendengar instruksi itu. "Nggak ada staf lain yang bisa antar, Pak?"
Pak Bayu mengerutkan kening, sedikit heran dengan reaksi Laras yang tampak enggan. "Kenapa? Ini kan cuma antar dokumen biasa. Lagipula, sekretaris Pak Raka lagi cuti hari ini, jadi kita yang harus antar langsung."
Laras tidak punya alasan lain untuk menolak tanpa terlihat mencurigakan, sehingga dengan berat hati, ia menerima map berisi dokumen itu dan berjalan menuju lift, hatinya dipenuhi kecemasan yang sulit dijelaskan.
Sesampainya di lantai dua puluh tiga, suasana kantor terasa jauh lebih formal dan hening dibandingkan lantai-lantai lain. Ia menghampiri meja resepsionis di depan ruang kerja Raka, mencoba menenangkan diri sebelum akhirnya berbicara.
"Selamat siang, saya mau antar dokumen untuk Pak Raka."
Resepsionis itu mengangguk. "Silakan masuk, Pak Raka sedang tidak ada rapat sekarang."
Laras menarik napas panjang sebelum mengetuk pintu ruang kerja itu, kemudian membukanya perlahan setelah mendengar suara datar dari dalam mempersilakan masuk.
Raka duduk di balik mejanya, matanya masih terfokus pada layar laptop, tidak langsung mendongak ketika pintu terbuka. "Taruh saja di meja."
Suara itu—dingin, datar, seperti berbicara dengan orang asing—membuat dada Laras terasa semakin sesak. Ia melangkah masuk, menaruh map dokumen di meja seperti yang diminta, namun sebelum sempat berbalik pergi, Raka akhirnya mengangkat wajahnya.
Begitu menyadari siapa yang berdiri di hadapannya, ekspresi Raka berubah seketika, matanya menyipit menatap Laras dengan tatapan yang sulit diartikan—antara terkejut, marah, dan sesuatu yang lebih dalam yang berusaha keras ia sembunyikan.
"Kamu," gumamnya pelan, nadanya berubah tegang.
"Saya cuma antar dokumen, Pak," jawab Laras cepat, mencoba menjaga profesionalisme meski suaranya sedikit bergetar.
Raka menatapnya lama, kemudian berdiri dari kursinya, melangkah mengelilingi meja hingga berhenti hanya beberapa langkah dari Laras. "Kamu kerja di sini beneran? Ini bukan kebetulan?"
"Saya nggak tau ini perusahaan Anda waktu ngelamar kerja," jawab Laras jujur, mencoba menahan gejolak emosi yang mulai membuncah.
"Kebetulan yang aneh," Raka menjawab sinis, nada suaranya penuh sarkasme yang tidak pernah Laras dengar sebelumnya dari mulutnya. "Setelah lima tahun menghilang tanpa kabar, sekarang tiba-tiba muncul lagi, kerja di perusahaan yang aku pimpin."
"Raka, aku bisa jelasin—"
"Panggil saya Pak Raka," potongnya tajam, membuat Laras terdiam seketika. "Di sini, saya atasan Anda. Bukan siapa-siapa yang perlu penjelasan apa pun dari masa lalu."
Kata-kata itu menusuk lebih dalam dari yang bisa Laras bayangkan. Ia menatap Raka dengan mata yang mulai berkaca-kaca, namun berusaha keras menahan air mata agar tidak jatuh di hadapan pria yang kini begitu asing baginya.
"Baik, Pak," jawabnya pelan, suaranya bergetar menahan emosi. "Saya permisi dulu."
Ia berbalik, melangkah menuju pintu dengan langkah yang terasa berat, namun sebelum sempat membuka pintu, suara Raka kembali terdengar dari belakang.
"Larasati."
Laras berhenti, menoleh perlahan.
"Mulai sekarang, semua laporan divisi pemasaran yang berhubungan dengan proyek besar, saya minta diperiksa ulang secara detail sebelum diserahkan ke saya," katanya, nadanya tetap dingin dan formal. "Termasuk yang kamu kerjakan. Saya nggak mau ada kesalahan sedikit pun."
Laras mengerutkan kening, menyadari ada sesuatu yang janggal dari instruksi mendadak itu, namun ia memilih untuk tidak membantah. "Baik, Pak. Saya akan pastikan semuanya sesuai."
"Bagus," Raka kembali duduk di kursinya, mengalihkan pandangan kembali ke layar laptop, seolah percakapan itu sudah selesai sepenuhnya. "Kamu boleh keluar."
Laras keluar dari ruangan itu dengan hati yang hancur berkeping-keping, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya menetes begitu ia berada di dalam lift, sendirian, jauh dari pandangan siapa pun yang bisa melihat kelemahannya.
Sementara itu, di dalam ruang kerjanya, Raka duduk terdiam, tangannya mengepal erat di atas meja. Kemarahan yang ia rasakan begitu besar, namun di balik kemarahan itu, ada perasaan lain yang jauh lebih membingungkan—perasaan hangat yang tiba-tiba muncul begitu melihat wajah Laras dari dekat, perasaan yang sudah lama ia yakini telah mati sepenuhnya.
Kenapa aku masih ngerasa kayak gini? batinnya frustrasi, mencoba memahami gejolak emosi yang tidak sesuai dengan citra dingin yang selama ini ia bangun dengan susah payah.
Ia teringat kembali pada kata-kata ibunya bertahun-tahun lalu, tentang bagaimana cinta yang tidak sepadan hanya akan membawa penderitaan, tentang bagaimana Laras dianggap tidak pantas berada di lingkaran hidupnya. Kemarahan itu perlahan bercampur dengan keyakinan lama yang kembali menguat—keyakinan bahwa Laras memang sengaja meninggalkannya tanpa penjelasan, bukti nyata bahwa cinta gadis itu tidak pernah sedalam yang ia kira.
Kalau dia emang nggak peduli waktu itu, pikirnya, rahangnya mengeras, kenapa sekarang aku harus peduli sama perasaannya?
Keputusan itu, meski lahir dari luka yang belum sembuh dan kesalahpahaman yang belum terungkap, mulai membentuk pola pikir baru dalam diri Raka—pola pikir yang akan mendorongnya untuk memperlakukan Laras dengan cara yang jauh lebih keras dari stafnya yang lain, sebuah bentuk balas dendam terselubung yang, meski ia sendiri sulit mengakuinya, sebenarnya juga menjadi caranya untuk tetap memiliki alasan berada dekat dengan Laras, meski dengan cara yang menyakitkan bagi keduanya.
Ia membuka laporan yang baru saja diantarkan Laras, membacanya dengan teliti. Laporan itu sebenarnya sudah sangat rapi dan akurat, hasil kerja keras yang jelas terlihat dari detail-detail yang tersusun sistematis. Namun Raka, didorong oleh emosi yang masih bergejolak, mencoret beberapa bagian dengan pena merah, menandainya sebagai "perlu revisi" meski sebenarnya tidak ada kesalahan berarti di dalamnya.
Biar dia belajar, pikirnya pahit, meski jauh di dalam hatinya, ada bagian kecil yang merasa bersalah atas tindakan yang mulai ia sadari sebagai bentuk kekejaman yang tidak seharusnya ia lakukan.
Sore harinya, ketika laporan yang telah dicoret itu dikembalikan kepada Laras melalui sekretarisnya yang baru kembali dari cuti, Laras menatap coretan-coretan merah itu dengan kebingungan yang mendalam. Ia sudah memeriksa laporan itu berkali-kali sebelum diserahkan, yakin tidak ada kesalahan berarti di dalamnya.
"Ada yang salah dengan laporan ini?" tanyanya kepada sekretaris Raka.
"Pak Raka cuma bilang perlu direvisi lebih detail," jawab sekretaris itu, mengangkat bahu tanda tidak tahu lebih jauh. "Nggak ada penjelasan spesifik."
Laras menatap laporan itu lama, mencoba mencari kesalahan yang mungkin terlewat olehnya, namun semakin ia periksa, semakin ia yakin bahwa laporan itu sudah benar dan lengkap. Sebuah kecurigaan mulai muncul di benaknya—kecurigaan bahwa revisi ini bukan soal kesalahan pekerjaan, melainkan sesuatu yang jauh lebih personal, sesuatu yang berhubungan langsung dengan masa lalu yang baru saja kembali menghantui mereka berdua.
Namun tanpa bukti yang jelas dan posisinya sebagai staf baru yang belum memiliki banyak pengaruh, Laras hanya bisa menahan diri, memperbaiki laporan itu sesuai permintaan meski hatinya dipenuhi kebingungan dan kesedihan yang semakin dalam—awal dari serangkaian tekanan yang akan terus ia hadapi dalam hari-hari mendatang, tanpa ia sadari bahwa di balik semua kekejaman itu, tersembunyi hati yang masih terluka dan bingung, berusaha keras menyembunyikan rasa yang tidak pernah benar-benar hilang meski waktu telah berlalu selama lima tahun penuh.