"Di kelas, dia adalah hukum. Di dunia luar, dia adalah takdir."
Ravian menjalani dua kehidupan yang berbeda. Di siang hari ia adalah dosen dingin di kampus dan setelahnya ia adalah CEO kejam Evander Corp.
Batasan yang ia buat runtuh seketika ketika ia tak sengaja jatuh cinta pada pandangan pertama kepada mahasiswinya.
Kini Ravian terjebak di antara aturan etika akademis, profesionalisme perusahaan, dan getaran dada yang tak bisa ia kendalikan.
Sanggupkah Ravian mempertahankan rahasianya saat batas antara ruang kuliah, ruang rapat, dan hatinya makin menipis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Midtwilight03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19 Larangan dan Bayangan Masa Lalu
Pintu mahoni ruang CEO tertutup rapat.
Suara klik dari gagang pintu yang kembali pada tempatnya terdengar begitu jelas di tengah keheningan. Seolah-olah bunyi singkat itu menjadi batas antara apa yang baru saja terjadi dan rahasia yang sengaja dikunci rapat oleh Ravian.
Keheningan mendadak merayap kaku.
Kini hanya ada Liora dan Ravian di dalam ruangan besar itu. Belum pernah sekalipun, sejak mengenal pria itu, ruangan CEO yang biasanya terasa elegan dan menenangkan justru terasa sempit dan menyesakkan.
Bayangan senyum kemenangan Elara masih terpatri jelas di benak Liora.
Perempuan itu pergi dengan langkah tenang, seolah telah berhasil menanam sebuah bom yang hanya tinggal menunggu waktu untuk meledak.
Liora menundukkan pandangan pada amplop tebal berwarna abu-abu gelap di tangannya.
Amplop itu dihiasi pita tipis berwarna perak. Tekstur kertasnya terasa mahal dan dingin di jemarinya. Tanpa alasan yang jelas, benda sederhana itu membuat tengkuk Liora meremang.
Ada sesuatu di dalamnya.
Sesuatu yang bahkan mampu mengubah ekspresi Ravian dalam sekejap.
"Berikan amplop itu pada saya, Liora," suara Ravian terdengar rendah.
Kini tidak ada ketenangan dan kewibawaan yang biasanya melekat pada setiap kata-katanya. Ada getaran tajam yang tertahan di balik artikulasinya, seolah pria itu sedang berusaha keras mengendalikan kepanikan yang mulai menguasai dirinya.
Liora mendongak.
Ravian berdiri hanya beberapa langkah di depannya. Kacamata titanium yang biasanya membuat penampilannya semakin berwibawa telah dilepaskan dan diletakkan entah di mana. Wajahnya terlihat jauh lebih keras tanpa benda itu.
Garis rahangnya menegang.
Alisnya berkerut.
Dan iris mata cokelat tuanya tertuju pada amplop di tangan Liora dengan kecemasan yang tidak mampu ia sembunyikan.
"Pak Ravian..." Liora perlahan mengulurkan tangan. "Siapa yang dimaksud Bu Elara? Rahasia apa yang..."
"Berikan," Ravian mengambil amplop itu sebelum Liora sempat menyelesaikan kalimatnya.
Gerakannya tegas.
Hampir terlalu kasar.
Ia membalikkan tubuh, membuka salah satu laci meja kerjanya, lalu memasukkan amplop tersebut ke dalamnya. Tanpa ragu, laci itu langsung dikunci.
Klek.
Suara laci terkunci membuat Liora terdiam. Bukan karena takut pada Ravian. Melainkan karena ia semakin yakin bahwa sesuatu yang sangat buruk memang sedang terjadi.
"Pak..." Liora mencoba lagi. "Sikap Bu Elara tadi... beliau sengaja mengundang saya untuk memancing reaksi Bapak, kan?"
Ravian tidak menjawab.
Liora menarik napas pelan. "Kalau ada sesuatu yang membahayakan Bapak atau posisi kantor, setidaknya biarkan saya tahu. Saya mungkin tidak bisa banyak membantu, tetapi..."
"Saya bilang kamu tidak perlu tahu, Miss Arwen!" Suara Ravian meninggi. Keras. Membentur dinding ruang kerja yang sunyi.
Liora tersentak.
Langkah kakinya otomatis mundur satu tindak. Jemarinya mengepal kecil di sisi tubuh, sementara bibirnya tertutup rapat. Kacamata barunya bahkan bergetar halus ketika napasnya tertahan di dada.
Belum pernah terjadi sebelumnya, sejak hubungan mereka menjadi semakin dekat, Ravian membentaknya.
Tatapan pria itu terlihat begitu dingin hingga membuat dada Liora seakan menyempit.
Beberapa detik berlalu tanpa suara.
Ravian menatap Liora.
Seolah baru menyadari apa yang telah dilakukannya, ekspresinya berubah. Mata pria itu terpejam rapat.
"Sial..."
Tangannya terangkat mengusap wajah dengan kasar. Ia mengembuskan napas panjang, berat, penuh frustrasi.
Rasa bersalah langsung menghantam dadanya. Bukan Liora yang seharusnya menerima kemarahan itu.
Bukan gadis yang justru sedang berusaha memahami dan melindunginya dari ancaman yang bahkan belum sepenuhnya ia pahami.
Ravian akhirnya melangkah mendekat. Hingga jarak di antara mereka kembali menipis. Kedua tangannya terangkat dan dengan hati-hati menggenggam bahu Liora yang masih kaku.
"Maafkan saya," suara Ravian berubah serak. Rapuh. "Maaf... saya tidak bermaksud membentakmu."
Liora menunduk. Namun, matanya mulai berkaca-kaca. "Pak Ravian..." suaranya nyaris berbisik. "Ada apa sebenarnya?"
Ravian terdiam.
"Kenapa Bapak sekhawatir ini?"
Pria itu menatapnya lama.
Tatapan mereka bertemu.
Ada begitu banyak hal yang ingin dikatakan Ravian, tetapi semuanya seakan tertahan di tenggorokannya.
Akhirnya, ibu jarinya bergerak perlahan mengusap pelipis Liora dengan sangat lembut. "Sabtu malam nanti, kamu tidak boleh datang ke gala dinner itu."
Liora mengernyit. "Tapi..."
"Apa pun yang terjadi," potong Ravian, kali ini lebih tenang tetapi jauh lebih tegas, "di mana pun kamu berada, kamu tidak boleh menginjakkan kaki di acara Arabell Group."
"Tapi Bu Elara..."
"Elara sedang menyiapkan jebakan, Liora," nada suara Ravian berubah semakin serius.
"Sosok yang dia maksud..." ia berhenti sejenak, seolah nama orang tersebut saja sudah cukup untuk membangkitkan luka lama. "Adalah seseorang yang pernah menghancurkan hidup saya lima tahun lalu."
Liora terpaku.
Ravian melanjutkan dengan suara rendah. "Orang itu memegang potongan masa lalu keluarga Evander yang bisa menghancurkan reputasi perusahaan ini dalam semalam jika sampai terdistribusi ke media."
Dada Liora mendadak penuh oleh gemuruh yang tak beraturan.
Dugaannya benar. Elara tidak sekadar cemburu.
Perempuan itu sedang memainkan permainan politik korporasi yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar perebutan posisi.
"Elara tahu saya mulai memiliki kelemahan," tatapan Ravian turun sejenak pada bibir Liora sebelum kembali mengunci mata gadis itu. "Dan kelemahan itu adalah kamu."
Oksigen mendadak terkunci di pangkal tenggorokan Liora.
"Kamu adalah satu-satunya orang yang bisa dia gunakan untuk membuat saya kehilangan kendali."
Jari Ravian mengerat sedikit di bahu Liora. "Dia ingin menyeretmu ke tengah panggung agar kamu menjadi korban dari kehancuran yang ia rancang untuk saya."
Kata-kata itu menggantung di udara.
Liora tidak tahu harus menjawab apa.
Pengakuan bahwa dirinya adalah kelemahan Ravian membuat dinding dadanya bergetar hebat. Ada rasa haru yang menyelinap di antara ketakutan, tetapi juga kesadaran mengerikan bahwa kedekatannya dengan pria itu kini bukan lagi sesuatu yang hanya menyangkut perasaan.
Mereka telah menjadi bagian dari permainan berbahaya.
Dan seseorang sedang mengincar mereka.
***
Sabtu malam, pukul delapan tepat.
Ballroom Hotel Grand Hyatt Jakarta tampak seperti dunia yang berbeda.
Lampu-lampu kristal menggantung megah dari langit-langit, memantulkan cahaya ke seluruh ruangan. Meja-meja bundar tertata sempurna dengan rangkaian bunga putih dan lilin elegan di tengahnya.
Para petinggi bisnis, pejabat, pengusaha, dan selebriti papan atas memenuhi ballroom.
Kilatan kamera terus bermunculan.
Tawa dan percakapan bercampur dengan denting gelas serta alunan musik instrumental yang terdengar lembut di udara.
Namun, di antara semua kemewahan itu, satu kursi terasa kosong.
Kursi yang seharusnya ditempati Liora.
Sementara itu, beberapa kilometer dari sana, Liora berdiri sendirian di balkon apartemennya.
Rintik hujan membasahi kaca. Udara malam terasa dingin, tetapi pikirannya jauh lebih dingin daripada itu.
Ia benar-benar mengikuti perintah Ravian.
Ia tidak datang.
Ponselnya tergeletak di meja kecil dekat pintu balkon dan terus bergetar sejak satu jam terakhir. Pesan dari Rhea, grup magang, bahkan beberapa nomor yang tidak ia kenal terus masuk.
Liora mengabaikannya.
Tak tahu kenapa, sejak sore tadi, hatinya terasa tidak tenang. Seolah ada sesuatu yang akan terjadi. Sesuatu yang tidak bisa ia cegah.
Tiba-tiba...
Bzzzt... bzzzt...
Layar ponselnya kembali menyala. Kali ini bukan pesan. Panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
Liora menatap layar itu beberapa detik. Keraguan membuat tangannya menggantung di udara. Namun, rasa penasaran akhirnya menang. Ia menggeser ikon hijau.
"Halo?" Tidak ada jawaban selama beberapa detik. Hanya terdengar suara napas seseorang.
Berat.
Pelan.
Kemudian suara seorang pria terdengar dari seberang telepon. "Liora Valeska?"
Jantung Liora mendadak berdetak liar. "I-iya. Saya sendiri. Ini siapa?"
Pria itu terkekeh. Tawanya rendah dan dingin. Sebuah suara yang mampu membuat bulu kuduk Liora berdiri.
"Sayang sekali kamu tidak datang malam ini, Little Miss Arwen."
Liora terpaku di tempatnya. "Siapa kamu?"
"Padahal saya sudah menyiapkan hadiah penyambutan yang sangat spesial untuk asisten kesayangan Ravian."
Jemari Liora mencengkeram ponsel semakin erat. "Siapa kamu?!" Desaknya panik.
Pria itu kembali tertawa. Kemudian suaranya berubah menjadi bisikan. "Tanyakan pada Ravian..."
Liora menahan napas. "...siapa pria yang memegang kunci kematian kakaknya lima tahun lalu."
Waktu mendadak kehilangan detaknya.
'Kematian kakaknya?'
Liora belum sempat mencerna kalimat itu ketika terdengar suara perempuan di seberang telepon.
Tawa kecil. Tawa yang sangat ia kenal.
Elara.
Mata Liora melebar. "Bu Elara?!"
Tidak ada jawaban. Pria itu justru terdengar semakin santai. "Dan oh ya..."
Suara itu berubah menjadi ancaman yang lebih nyata. "Jika kamu ingin bos besarmu selamat dari jebakan konferensi pers malam ini, datang ke ruang VIP lantai dasar sekarang."
Liora menelan ludah kasar. "Jangan!"
"Sebelum saya membocorkan rekaman suara malam tragedi itu ke seluruh wartawan di ballroom."
"Jangan sentuh Ravian!!" Baru kali ini, suara Liora pecah karena panik.
Sebaliknya, pria itu hanya tertawa pelan. Kemudian...
Tut... tut... tut...
Panggilan terputus.
Kedua kaki Liora seolah tertanam di lantai. Ponsel di tangannya hampir terlepas. Napasnya memburu. Wajahnya memucat.
Hujan di luar semakin deras, tetapi suara gemuruh langit bahkan tidak mampu mengalahkan satu pertanyaan yang kini terus berputar di kepalanya.
Apa yang sebenarnya terjadi lima tahun lalu?
Siapa pria yang mengetahui rahasia keluarga Evander?
Apa hubungan orang itu dengan kematian kakak Ravian?
Dan yang membuatnya semakin bertanya-tanya, mengapa Elara berada di sana?
Liora menatap layar ponselnya yang kini kembali gelap.
Ravian telah melarangnya datang ke gala dinner. Namun, kini seseorang baru saja mengancam nyawa dan reputasi pria itu tepat di malam yang sama.
Kali ini Liora menyadari bahwa mungkin saja larangan Ravian bukanlah bentuk perlindungan terbesar.
Mungkin justru malam ini adalah malam ketika ia harus memilih. Tetap bersembunyi dan membiarkan Ravian menghadapi masa lalunya seorang diri...
Atau melangkah masuk ke dalam permainan yang sejak awal sengaja disiapkan untuk menjadikannya korban.
Liora menggenggam ponselnya erat-erat. Matanya beralih pada pintu apartemennya.
Ketakutan masih ada. Tetapi saat ini, ada sesuatu yang lebih kuat dari rasa takut itu.
Tekad.
Karena jika benar Ravian sedang berada dalam bahaya, Liora tidak yakin dirinya sanggup hanya duduk diam dan menunggu kabar buruk datang.
Malam itu belum berakhir.
Dan bayangan masa lalu keluarga Evander baru saja membuka pintunya.