Indonesia
NovelToon NovelToon
Aku Mengira Itu Kamu

Aku Mengira Itu Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:121
Nilai: 5
Nama Author: Ri7

"Ternyata selama ini aku salah mengira. Perempuan yang kutemui di pondok baru itu bukanlah perempuan yang mengajakku ta'aruf. Aku terlalu cepat menyimpulkan hanya karena namanya sama. Ah, betapa cerobohnya aku... Seandainya sejak awal aku tidak terburu-buru membuat penilaian, mungkin kebingungan ini takkan pernah terjadi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ri7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ummu Sakit

Hari itu, untuk kedua kalinya aku mengantar ummu ke rumah sakit.

Entah kenapa langkahku terasa lebih berat daripada sebelumnya. Mungkin karena kali ini aku sudah tahu bahwa pemeriksaan yang akan dijalani ummu bukan sekadar pemeriksaan biasa.

Beberapa tahun lalu, ummu pernah berjuang melawan kanker paru-paru. Kemoterapi yang panjang akhirnya membuahkan hasil. Dokter mengatakan kondisinya membaik, bahkan beberapa waktu kemudian ummu dinyatakan bersih dari kanker.

Keluarga beliau sempat mengira semuanya telah berakhir.

Namun beberapa bulan terakhir, batuk ummu kembali muncul. Awalnya hanya sesekali. Kemudian semakin sering, disertai nyeri di dada dan tubuh yang lebih mudah lelah.

Ummu tetap berusaha tenang.

“Paling cuma kecapekan,” katanya setiap kali ditanya.

Tapi sebagai seorang dokter, aku tidak bisa menganggapnya sesederhana itu.

Setelah berdiskusi dengan keluarga, akhirnya aku kembali mengantar ummu ke rumah sakit besar untuk menjalani pemeriksaan lebih lengkap.

Pagi itu, kami duduk di ruang tunggu. Ummu mengenakan gamis sederhana dengan jilbab yang rapi. Tangannya menggenggam tas kecil di pangkuannya.

Aku duduk di sampingnya sambil sesekali melihat layar ponsel.

“Dokter Alam.”

Aku menoleh.

Seorang perawat memanggil nama ummu.

“Ya,” jawabku sambil berdiri.

Ummu ikut bangkit.

Kami menjalani pemeriksaan demi pemeriksaan. Mulai dari pemeriksaan darah, rontgen, CT scan, hingga beberapa pemeriksaan lanjutan yang disarankan dokter.

Aku berusaha terlihat tenang di depan ummu.

Padahal dalam hati, aku mulai merasa tidak nyaman.

Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya massa pada paru-paru yang perlu dievaluasi lebih lanjut. Dokter kemudian menyarankan pemeriksaan jaringan untuk memastikan apakah benar terjadi kekambuhan kanker.

Hari itu terasa panjang.

Sangat panjang.

Sampai akhirnya kami kembali dipanggil masuk ke ruang dokter.

Dokter duduk di balik meja dengan beberapa lembar hasil pemeriksaan di hadapannya.

Aku duduk di samping ummu.

Entah mengapa, sejak pintu ruangan itu tertutup, jantungku berdegup lebih cepat.

Dokter menarik napas sebelum berbicara.

“Bu, dari hasil pemeriksaan dan pemeriksaan jaringan yang sudah kami lakukan, kami menemukan bahwa penyakit sebelumnya kembali muncul.”

Ummu diam.

Aku menatap dokter.

“Jadi... kanker itu kambuh lagi, Dok?” tanyaku, meskipun sebenarnya aku sudah mengetahui jawabannya.

Dokter mengangguk perlahan.

“Iya.”

Ruangan itu mendadak terasa sunyi.

Aku menunduk sebentar.

Tanganku yang berada di atas lutut mengepal tanpa sadar.

Kemudian dokter melanjutkan penjelasannya.

“Dari hasil pemeriksaan yang ada, kondisi ini sudah masuk stadium tiga. Tetapi kita masih perlu melihat secara keseluruhan apakah sudah ada penyebaran ke bagian tubuh lain dan menilai kondisi ummu secara menyeluruh.”

Aku menelan ludah.

Stadium tiga.

Dua kata itu terus berputar di kepalaku.

Aku seorang dokter. Aku tahu apa artinya.

Tapi saat diagnosis itu ditujukan kepada orang yang duduk tepat di sampingku, semuanya terasa berbeda.

Ummu justru terlihat lebih tenang dariku.

“Kalau begitu, saya harus bagaimana, Dok?” tanyanya.

Dokter membuka hasil pemeriksaan lainnya.

“Karena lokasi dan kondisi tumornya masih memungkinkan untuk ditangani secara operasi, kami menyarankan tindakan pembedahan sebagai salah satu bagian dari penanganan.”

Ummu terdiam.

“Operasi?” ulangnya pelan.

“Iya, Bu. Tetapi sebelum operasi, kami perlu memastikan kondisi jantung, paru-paru, dan organ lainnya cukup baik untuk menjalani tindakan. Tim bedah juga akan berdiskusi untuk menentukan jenis operasi yang paling sesuai.”

Aku mengangguk.

Aku memahami penjelasan dokter itu.

Namun mendengar kata operasi tetap membuat dadaku sesak.

Ummu menoleh kepadaku.

“Menurut kamu bagaimana, Dokter Alam?”

Aku terdiam beberapa detik.

Bukan karena tidak tahu jawabannya.

Justru karena aku tahu terlalu banyak tentang apa yang mungkin terjadi.

Aku menggenggam tangan ummu.

“Kalau dokter menyarankan operasi karena memang masih memungkinkan untuk dilakukan, kita ikuti dulu pemeriksaannya. Kita jalani satu per satu, Ummu.”

Ummu tersenyum kecil.

“Ummu takut.”

Aku menatap wajahnya.

Untuk pertama kalinya sejak kami masuk rumah sakit, aku melihat ketakutan di matanya.

Aku pun tersenyum, meskipun mataku mulai terasa panas.

“Tak apa-apa takut, Ummu.”

Aku menggenggam tangannya lebih erat.

“Tapi Ummu nggak sendirian.”

Ummu menatapku.

“Ada aku. Ada keluarga. Kita hadapi sama-sama.”

Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya jatuh juga.

Aku cepat-cepat mengusapnya.

Aku tidak ingin ummu melihatku menangis.

Namun ummu justru tersenyum.

“Kalau kamu menangis, nanti ummu ikut menangis.”

Aku terkekeh kecil di tengah air mata.

“Maaf.”

Dokter memberi kami waktu untuk berbicara dan menjelaskan bahwa keputusan operasi akan dibahas kembali setelah seluruh pemeriksaan praoperasi selesai.

Kami keluar dari ruangan itu dengan langkah perlahan.

Koridor rumah sakit masih sama.

Orang-orang berjalan seperti biasa. Perawat sibuk membawa berkas. Suara roda tempat tidur terdengar dari kejauhan.

Dunia tetap berjalan.

Padahal duniaku baru saja berubah.

Aku melihat ummu yang berjalan di sampingku.

Beberapa tahun lalu, dia pernah melewati perjalanan panjang melawan penyakit ini.

Dan sekarang, kami harus kembali berjalan di jalan yang sama.

Bedanya, kali ini aku tidak hanya mengantarnya sebagai seorang anak.

Aku juga mengantarnya sebagai seorang dokter.

Namun hari itu aku belajar satu hal.

Sebanyak apa pun ilmu yang kumiliki, ketika orang yang sedang sakit adalah seseorang yang kusayangi, aku tetap hanya seorang anak yang ingin ibunya baik-baik saja.

Aku menatap tangan ummu yang masih kugenggam.

“Ummu.”

“Hmm?”

“Kita pulang dulu, ya.”

Ummu mengangguk.

“Besok kita pikirkan lagi semuanya.”

Aku tersenyum.

“Iya.”

Aku menarik napas panjang.

“Yang penting hari ini kita sudah tahu apa yang harus kita hadapi.”

Dan untuk pertama kalinya setelah mendengar kata stadium tiga, aku mencoba meyakinkan diriku sendiri bahwa diagnosis bukanlah akhir dari segalanya.

Masih ada ikhtiar.

Masih ada doa.

Dan selama Allah masih memberikan kesempatan, kami akan terus berjuang.

1
MF015
menarik novelnya 👍
R
Nama yang sama orang yang berbeda😄
Dini
Agak mendayu, bagai riak kecil yang akhirnya menjadi akhir perpisahan bersama teman-temannya.

jangan lupa masukkan untuk karya ku.
#Tanah_Luka_dan_Persahabatan
😄🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!