Di balik hilangnya seorang gadis, tersimpan rahasia yang selama ini disembunyikan. Seorang ibu bertekad mengungkapnya, meski harus melawan kekuasaan yang selama ini tak tersentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman baru
"Sial! Sial! Sial!"
"ARGH!" Clarisa meremas rambutnya kasar, wajahnya memerah menahan amarah yang menggebu-gebu.
"Gembel itu udah nggak kayak dulu lagi," desisnya kesal, wajahnya masih terasa panas bekas kuah bakso tadi. Untuk pertama kalinya sejak menjadi ketua Geng Aster, ia benar-benar dipermalukan oleh anak beasiswa yang selama ini ia anggap remeh.
Selena yang berdiri tak jauh darinya, menatap pantulan wajahnya sendiri di cermin toilet, mengoleskan salep pada kulitnya yang memerah. "Cla, kita harus balas gembel itu," ucapnya kesal, suaranya bergetar antara sakit dan dendam.
Bianca yang masih merapikan bajunya yang kusut ikut menimpali. "Iya, Cla! Dia udah keterlaluan. Berani-beraninya dia bikin kita malu di depan seluruh kantin."
Clarisa mendecih, menatap tajam pantulan dirinya di cermin. "Tenang aja," ucapnya dingin, meski matanya masih menyala penuh amarah. "Daddy gue udah bertindak. Dia bakal balas semua rasa sakit yang gue rasain sekarang."
"Maksud lo?" Selena menoleh, penasaran.
"Daddy gue dah punya rencana buat menghancurkan keluarga Lyn," lanjut Clarisa, senyum tipis mulai terukir di bibirnya meski wajahnya masih memerah. "Malam ini juga."
Bianca dan Selena saling pandang, sedikit lega mendengar kepastian itu.
"Bagus." Selena tersenyum puas. "Gembel itu bakal nyesal udah berani sama kita."
Clarisa mengangguk mantap, mencoba menutupi rasa perih di wajahnya dengan kepercayaan diri yang mulai kembali.
"Tunggu aja, Lyn. Kali ini, giliran lo yang bakal hancur."
—°—
"Dia benar-benar berubah."
Alaric tak percaya dengan apa yang ia lihat di layar ponselnya, sebuah rekaman yang sudah viral di media sosial sekolah, menampilkan kejadian di kantin Lyn tadi. Sosok yang bergerak begitu tenang dan tegas dalam video itu terasa asing, jauh berbeda dari Lyn yang selama ini ia kenal.
"Lyn hebat banget bisa balas Geng Aster," puji Dimas yang duduk di sampingnya, ikut menonton rekaman yang sama dengan mata berbinar kagum.
"Gue aja yang lihat langsung di kantin kagum," timpal Rifki, menggelengkan kepala takjub. "Cara dia balas dendam itu tenang banget, dingin, kayak udah diperhitungkan semua. Belum lagi gerakan bela dirinya, kayak udah terlatih banget. Keren, sih, jujur."
Alaric menyimpan ponselnya, melipat tangan di dada sambil termenung, pikirannya berkecamuk.
"Jangan-jangan dia nggak masuk sekolah karena diam-diam belajar bela diri," gumamnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri.
"Bisa jadi!" sahut Dimas cepat. "Selama ini kan dia selalu dirundung sama Geng Aster. Mungkin aja dia capek jadi korban terus, terus mutusin buat belajar sesuatu biar bisa lawan balik."
Rifki mengangguk setuju. "Masuk akal juga sih. Tapi tetap aja, itu perubahan yang gila banget dalam waktu sesingkat itu."
Alaric terdiam, matanya menerawang jauh, mengingat kembali percakapan singkatnya dengan Lyn di taman tadi—caranya bicara yang berbeda, sorot matanya yang menyimpan sesuatu yang jauh lebih dalam, dan senyum manis yang entah kenapa terasa begitu dingin.
"Ada yang nggak beres."
•○•
"Nyonya, bukankah ini Nona Clarisa?"
Tiara, asisten pribadi Citra, menyerahkan ponselnya pada sang atasan.
Citra menaikkan kacamata, mengambil ponsel itu dengan raut wajah penasaran. Namun begitu matanya menangkap isi video di layar, ia terbelalak tak percaya melihat putrinya diperlakukan sedemikian rupa.
"Siapa dia? Berani-beraninya bikin putriku malu!" seru Citra, suaranya penuh amarah.
"Nyonya, sepertinya dia gadis yang pernah bermasalah dengan Nona Clarisa sebelumnya," jelas Tiara hati-hati.
Citra mengepalkan tangannya, menatap layar itu berulang kali, dadanya semakin sesak menahan murka. Tanpa membuang waktu, ia segera meraih ponselnya sendiri, menghubungi suaminya.
"Daddy!" suara Citra langsung meninggi begitu panggilan tersambung. "Kamu udah lihat video yang lagi viral itu? Clarisa dipemalukan di sekolah!"
Di ujung telepon, Cakra terdiam sejenak, sudah mendengar laporan itu lebih dahulu dari Bimo. "Iya, aku sudah tahu."
"Terus kenapa kamu diam aja?!" Citra semakin emosi. "Dan, kenapa gadis itu bisa balik lagi ke sekolah? Bukannya udah kamu urus supaya dia keluar?!"
Cakra menghela napas, mencoba menenangkan istrinya. "Sayang, tenang dulu."
"Tenang gimana, Dad?! Anak kita dihina!" Citra marah dan sakit hati sebagai seorang ibu.
"Aku udah punya rencana," ucap Cakra tegas, suaranya dingin dan penuh perhitungan. "Percaya sama aku. Gadis itu dan keluarganya akan bayar mahal atas semua yang mereka lakukan ke Clarisa."
Citra terdiam sejenak, mencoba menenangkan dirinya mendengar ketegasan suara suaminya. "Kamu janji?"
"Aku janji," jawab Cakra mantap, matanya menyala penuh dendam yang telah lama terpendam. "Malam ini, semuanya akan dimulai."