Karina, 30, memergoki suaminya selingkuh—perempuannya sudah hamil. Delapan tahun divonis mandul, ia melampiaskan amarah pada satu malam dengan Nathan, cowok sepuluh tahun lebih muda, lalu bersumpah tak akan bertemu lagi. Takdir berkata lain: Nathan adalah teman sekamar adiknya, dan tubuh yang "mandul" itu kini mengandung kembar tiga. Nathan pindah masuk, menyerahkan hartanya, berubah jadi calon ayah paling posesif. Karina tak tahu, di balik nama Nathan tersembunyi Aries Mah, pewaris tunggal Maxson Private Bank Singapura. Mantan suami menyesal, pelakor sombong, mertua jahat, saudara tiri rebut warisan—semua datang bergiliran. Tapi Nathan siap membalas setiap hinaan berkali lipat. Sanggupkah janda beranak tiga benar-benar duduk di singgasana keluarga konglomerat itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Bab 7
Kamu Nggak Bisa Manjain Aku?
Karina memblokir kontak bernama Gangguan pukul tujuh pagi.
Pukul delapan, nomor baru menelepon.
"Selamat pagi, Kak."
Karina hampir menjatuhkan cangkir. "Kamu dapat nomor baru dari mana?"
"Beli kartu."
"Aku tanya nomor ini, bukan proses membeli kartu."
"Aku yang menelepon. Tentu aku tahu nomornya."
"Nathan!"
Tawa rendah terdengar sebelum Karina memutus sambungan. Lima detik kemudian, sebuah pesan masuk.
Jangan marah pagi-pagi. Cepat tua.
Karina memblokir nomor kedua.
Dia juga mengubah rute ke kantor, berhenti datang ke kedai kopi langganan, dan meminta resepsionis tidak menerima tamu bernama Nathan. Hidupnya sedang terlalu rumit untuk ditambah seorang pemuda yang menganggap penolakan sebagai permainan.
Di kantor pengacara, pembagian harta sementara dibahas. Andri mempertahankan mobil dan keluar dari apartemen lama. Karina menerima bagian tabungan bersama serta sejumlah uang yang cukup untuk uang sewa setahun. Bu Wanda juga menawarkan posisi supervisor setelah melihat caranya memimpin presentasi besar di tengah masalah pribadi.
"Saya butuh orang yang tidak runtuh ketika keadaan berantakan," kata Bu Wanda.
Karina tersenyum tipis. "Saya runtuh, Bu. Hanya tidak di ruang rapat."
"Itu namanya profesional. Pikirkan tawarannya."
Karina memutuskan pindah. Apartemen lama terlalu penuh kenangan. Dengan harga yang masih masuk akal, dia menemukan unit di lantai enam sebuah bangunan tua. Tidak ada lift, cat tangga mengelupas, tetapi jendelanya menghadap deretan atap Jakarta dan pemilik tidak banyak bertanya.
Sebelum menyerahkan kunci lama, Karina bertemu Andri di kantor pengacara. Mereka duduk di sisi meja yang berlawanan. Daftar aset dibacakan satu per satu: mobil, tabungan, perabot, dua kartu kredit yang masih memiliki cicilan, dan deposito kecil yang dulu mereka sebut dana bayi.
Andri memandang nama deposito itu lama. "Kita nggak harus sampai seperti orang asing."
"Orang asing nggak saling mengkhianati."
"Aku akan tetap membayar kebutuhanmu sampai putusan keluar."
"Nggak perlu. Bagian harta bersama cukup."
Andri mendorong kunci mobil ke tengah meja. Karina mendorongnya kembali. "Pakai saja. Aku nggak mau kendaraan yang kamu gunakan mengantar Tania."
Wajah Andri menegang. Pengacara segera mengambil alih, memastikan setiap keputusan ditulis dan ditandatangani. Ketika Karina keluar, dia membawa satu map tipis. Sepuluh tahun hidupnya ternyata bisa diringkas menjadi beberapa halaman dan bukti transfer.
Josie membantu mencari apartemen melalui aplikasi. Dia menolak unit pertama karena terlalu dekat rumah Andri dan unit kedua karena satpamnya suka bertanya status perkawinan. Unit lantai enam dipilih Karina karena jendelanya terang dan uang sewanya tidak menggerus tabungan.
"Tangga enam lantai akan membunuhmu," protes Josie.
"Naik turun gratis. Anggap olahraga."
"Aku akan mengingat kalimat itu saat kamu menelepon minta dibawakan galon."
Sabtu siang, dia membawa kardus terakhir menaiki tangga. Di lantai empat, napasnya putus-putus. Sebuah tangan tiba-tiba mengambil kardus dari pelukannya.
"Berat."
Karina mengenali suara itu dan menutup mata. "Bagaimana kamu tahu aku pindah?"
Nathan naik dua anak tangga di depannya sambil membawa kardus seolah kosong. "Aku datang ke alamat lama. Satpam bilang kamu pindah."
"Satpam nggak mungkin memberimu alamat baru."
"Benar. Pengemudi mobil sewaanmu yang kasih tahu."
"Kamu menyuap orang?"
"Aku membayar ongkos parkirnya. Dia yang banyak bicara."
Karina mempercepat langkah, lalu menyesal ketika betisnya terasa nyeri. "Ini sudah keterlaluan."
Nathan berhenti. Senyum di wajahnya hilang. "Kalau kamu benar-benar takut atau merasa terancam, bilang. Aku akan pergi."
Karina menatapnya. Itulah masalahnya. Dia tidak takut. Dia hanya takut pada rasa lega yang muncul saat Nathan mengambil beban dari tangannya.
"Aku bisa mengurus sendiri."
"Aku tahu. Tapi kamu nggak harus mengangkat semuanya sendiri."
Mereka sampai di unit. Nathan meletakkan kardus, lalu melihat sekeliling. Dua kamar kecil, dapur sempit, jendela dengan pengait longgar.
"Lantai enam tanpa lift?"
"Sewanya murah."
"Kalau sakit, bagaimana?"
"Aku sehat."
"Kalau bawa belanjaan?"
"Aku punya tangan."
Nathan membuka kardus bertanda dapur dan mulai menyusun piring. "Kamu benar-benar nggak bisa memanjakan aku sedikit?"
"Apa hubungannya dengan kamu?"
"Kalau tinggal di tempat yang ada lift, aku lebih gampang datang."
Karina merampas piring dari tangannya. "Siapa bilang kamu boleh datang?"
Nathan mengeluarkan sepasang sarung tangan karet dari kantong belanja. "Aku bawa alat bersih-bersih. Sayang dibuang."
Dua jam kemudian, jendela sudah diperbaiki, kardus kosong ditumpuk, dan Nathan berhasil memesan rak kecil yang akan dikirim besok. Karina membenci betapa mudahnya pemuda itu membuat dirinya berguna.
Nathan menemukan bingkai foto pernikahan di dasar kardus. Senyumnya langsung lenyap. "Mau dipasang?"
Karina mengambil bingkai itu. Kaca depannya retak karena terguncang saat pindahan. Dia membuka bagian belakang, mengeluarkan foto, lalu merobeknya tepat di antara dirinya dan Andri.
"Buang."
Nathan memasukkan kedua potongan ke kantong sampah tanpa berkomentar. Setelah itu dia mencuci tangan dan membuat mi instan untuk mereka. Dapurnya belum memiliki meja, jadi keduanya duduk di lantai beralas kardus.
"Kamu nggak pernah makan makanan murah?" tanya Karina saat melihat Nathan mengamati bungkus bumbu.
"Aku cuma heran kamu memasukkan semua saus."
"Memangnya kenapa?"
"Pedas."
"Anak kecil nggak kuat?"
Nathan menatapnya, lalu menuangkan seluruh saus ke mangkuk sendiri. Lima menit kemudian, telinganya merah dan dia diam-diam menghabiskan air minum Karina.
Karina tertawa sampai bahunya bergetar. Nathan tidak tersinggung. Dia hanya memandang Karina lama, seolah rela membakar lidah demi mendengar suara itu lagi.
Saat ponsel Nathan berdering, nama Kevin muncul sekilas di layar. Karina tidak sempat membacanya jelas karena Nathan langsung membalik ponsel.
"Siapa?" tanya Karina.
"Teman kampus."
"Kenapa nggak diangkat?"
"Lagi sibuk."
Nathan pergi menjelang malam. Di depan pintu, dia menatap Karina dengan ekspresi terlalu puas.
"Aku sudah bilang jangan muncul lagi."
"Aku muncul karena kamu butuh bantuan."
"Aku nggak minta."
"Besok raknya datang. Jangan angkat sendiri."
Karina menutup pintu di wajahnya, tetapi jari di gagang pintu tidak segera lepas.
Malam itu, dia memblokir nomor ketiga. Nathan hanya mengirim satu pesan dari nomor keempat.
Oke. Sampai ketemu.
Karina menatap layar. Tidak ada protes, tidak ada rayuan. Hanya satu kalimat yang terlalu tenang.
Dia membalas sebelum sempat menahan diri.
Jangan muncul lagi.
Tanda sedang mengetik muncul, lalu hilang. Beberapa detik kemudian, Nathan hanya mengirim emoji tersenyum.
Keesokan paginya, rak tiba bersama sebuah kartu kecil.
Untuk perempuan keras kepala di lantai enam. Jangan jatuh sebelum aku sempat menangkapmu lagi.
Karina melipat kartu itu, berniat membuangnya. Namun beberapa menit kemudian, kartu kecil tersebut justru terselip rapi di laci dapur, di tempat yang hanya dia sendiri tahu dan tak pernah dibuka orang lain pada malam itu.