"Aku tidak butuh pernikahan. Tak ada satupun wanita yang bisa menggantikan posisi cinta pertamaku.”
Di usianya yang sudah matang, Arsen Winston, pewaris tunggal Winston Group berada di puncak kejayaan. Namun, tekanan keluarga menuntutnya untuk segera berumah tangga. Menolak menyerah pada pendirian sang putra, Adrian, sang ayah, merancang rencana gila dengan menyewa seorang wanita malam demi mendapatkan keturunan.
Namun, sebuah kesalahan fatal terjadi. Wanita yang menghabiskan malam dengan Arsen bukanlah wanita sewaan sang ayah, melainkan seorang gadis misterius yang menghilang tanpa jejak.
Lima tahun berlalu…
Di atas kapal pesiar mewah, sebuah insiden mengerikan hampir merenggut nyawa seorang bocah perempuan. Arsen bertindak cepat untuk menyelamatkannya. Namun, saat tatapan mereka bertemu, jantung Arsen seolah berhenti berdetak.
Anak menggemaskan itu memiliki garis wajah yang sangat identik dengannya, bahkan punya alergi sepertinya.
“Hai bocah, kamu tidak suka kacang?”
“Ndak cuka, bikin gatal-gatal badan Lupia. Paman Endut ndak cuka kacang juga?”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ini Darurat!
Di tempat yang sangat jauh di sebuah rumah terpencil di pinggiran kota lain.
Adara berdiri di tengah ruang tamu sambil mengelus bagian bawah perutnya yang terasa aneh dan sedikit meregang. Ia kemudian menghampiri Rosa yang sedang sibuk mengetik laporan di laptopnya.
"Bibi..." panggil Adara dengan wajah polos. "Perutku rasanya aneh sekali."
Wanita berkacamata itu bahkan tidak menoleh dari layar laptop. "Aneh bagaimana? Apa kamu belum makan?"
"Sudah, Bibi. Bahkan aku baru saja menghabiskan lima piring nasi..." jawab Adara santai.
Byursss!
Rosa tersembur, menyemburkan air liurnya ke layar laptop. Ia menoleh patah-patah dengan mata membelalak lebar. "Berapaaa?! Lima piring?! Adara, sejak kapan kamu berubah jadi raksasa serakus ini?!"
Adara mengerucutkan bibirnya. "Aku juga tidak tahu, Bibi. Rasanya lapar sekali. Oh iya, satu lagi... seingatku sudah tiga bulan ini aku tidak datang bulan."
Seketika, jari-jari Rosa terkunci di atas papan ketik. Suasana di dalam ruangan itu menjadi hening mencekam. Mata merah Rosa melebar sempurna, peluh dingin langsung mengucur deras di pelipisnya.
Ia dengan cepat bangkit, menerjang Adara dan memegang kedua bahu keponakannya itu erat-erat. "Adara! Jawab Bibi yang jujur! Obat pencegah kehamilan yang Bibi berikan tiga bulan lalu... apa selalu kamu minum?!"
Adara mengedipkan matanya polos, lalu menggelengkan kepala. "Tidak..."
Jantung Rosa seolah merosot jatuh ke dasar bumi. "Kenapa tidak kamu minum, Adara Zaviana?!" jerit Rosa dengan nama lengkap keponakannya itu.
"Habisnya... obat dari Bibi itu rasanya sangat pahit dan tidak enak! Makanya tidak pernah aku minum sama sekali," tutur Adara tanpa rasa bersalah.
Rosa mengelus dadanya yang mendadak sesak, rasanya ia ingin pingsan saat itu juga. "Kamu... kamu ini..."
Tanpa membuang waktu, Rosa menarik kasar gaun longgar yang dikenakan Adara. "Lepas baju kamu sekarang!"
Adara yang terkejut langsung melompat mundur, memeluk tubuhnya sendiri dengan wajah memerah. "A-Apa-apaan Bibi ini?! Kenapa tiba-tiba menyuruhku telanj4ng?!"
"Bibi mau cek perutmu!" tegas Rosa tak sabar.
Adara terus menolak dan menghindar, namun kekuatan Rosa jauh lebih tangguh. Rosa memaksanya dan menyibak gaun longgar itu ke atas. Begitu kain terangkat, tenggorokan Rosa terasa pahit seketika.
Perut bagian bawah Adara yang biasanya rata dan ramping kini tampak kentara membuncit membulat sempurna bagaikan menyimpan rahasia besar di dalamnya.
"Gila... ini gila..." geram Rosa, mengacak rambutnya berantakan.
Kemarahannya membakar dada, namun rasa panik jauh lebih mendominasi. Tanpa menunggu lama, Rosa langsung menyambar ponselnya dan mendial nomor seorang dokter kepercayaannya. "Dokter, datang ke rumah saya sekarang juga! Ini darurat!"
Di sisi lain, Adara yang mendengar bibinya memanggil dokter perlahan menunduk. Jemari lentiknya gemetaran saat menyentuh gundukan halus di perutnya sendiri.
Aku... hamil? Bagaimana mungkin hanya dengan satu malam... aku langsung mengandung anak pria asing itu?
Pikiran Adara mendadak berputar hebat. Bayangan rasa takut, kepanikan, serta kenyataan rumit yang harus ia hadapi bertubi-tubi membuat kepalanya terasa amat berat. Pandangannya perlahan berubah kabur dan gelap.
Brak!
"Adara!" teriak Rosa melihat tubuh keponakannya itu roboh dan pingsan di atas lantai.
__
Di dalam kamar tidur yang tenang, sang dokter perlahan menyingkirkan alat pemeriksaannya dari perut Adara. Wajah dokter paruh baya itu tampak takjub sekaligus tegang saat menatap Rosa dan Adara bergantian.
"Bagaimana, Dokter? Keponakan saya ini tidak sedang sakit aneh-aneh, kan?" tanya Rosa cemas.
Dokter itu menghela napas panjang lalu tersenyum tipis. "Nona Adara tidak sakit. Dia sedang mengandung... dan luar biasanya, di dalam perutnya ada tiga janin sekaligus. Nona Adara hamil kembar tiga."
"APA?!"
ntah lah, padahal cerita nya sgttt bagus dan kami para pembaca sgttt menikmati dan slalu menunggu update yg byk,,, semoga lancar yea thourr 👍👍👍💪💪💪💪🥰🥰🥰🥰🥰