Indonesia
NovelToon NovelToon
Damian: Jerat Sang Iblis

Damian: Jerat Sang Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Iblis / Romansa Fantasi / Hantu
Popularitas:180
Nilai: 5
Nama Author: cinnamon girl

Jatuh cinta pada Hantu adalah sebuah kutukan. Kutukan takdir yang akan terus berputar pada keluarganya.

Ketika logika manusianya tertutupi oleh manipulasi gaib yang Damian lakukan. Membuat Cindy yang awalnya murni jatuh hati pada sikap dan ketampanan pria itu menjadi buta pada segala hal keanehan yang terjadi pada tubuhnya serta pada Damian. Namun setelah melahirkan anak pria itu perlahan ia sadar bahwa ia terlanjur jatuh pada jeratnya. Demi cinta ia mau jiwanya terjerat mati bersamanya selamanya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cinnamon girl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 20

Sepasang mata biru milik Damian yang biasanya sedingin es kini membelalak sempurna. Pupilnya mengecil, menyiratkan keterkejutan yang teramat sangat, sesuatu yang belum pernah terjadi selama ratusan tahun ia hidup sebagai entitas gaib. Hawa dingin di dalam ruang tamu seketika membeku, hingga beberapa pajangan keramik kuno di atas meja bergetar samar akibat gejolak energi Damian yang mendadak tidak stabil.

"Apa yang kau katakan, Renggo?!" geram Damian rendah, suaranya terdengar seperti gemuruh petir di malam hari. Ia maju satu langkah, mencengkeram lengan kursi kayu jati di dekatnya hingga terdengar bunyi retakan halus. "Jangan membual di hadapan saya. Saya adalah entitas yang sudah mati. Raga saya dingin. Bagaimana mungkin... bagaimana mungkin makhluk mati seperti saya bisa menghasilkan kehidupan?!"

Ki Renggo tidak terkejut dengan reaksi meledak-ledak dari pangeran Belanda itu. Dukun tua itu justru mengelus jenggot putihnya yang tipis, lalu menyandarkan tubuh rentanya pada sandaran kursi dengan ekspresi yang teramat tenang, seolah ia sudah memprediksi skenario ini sejak lama.

"Tuan Muda..." Ki Renggo menjeda kalimatnya, menatap lurus ke dalam manik mata biru Damian yang dipenuhi riak kepanikan. "Anda memang entitas yang sudah mati. Tetapi, jangan lupa bahwa kemarin malam Anda baru saja menanam Segel Penambat Sukma di bawah bantal gadis itu. Anda bertaruh nyawa di dimensi seberang untuk memisahkan hawa kematian Anda agar Nona Cindy tetap hidup sebagai manusia biasa, bukan?

Damian terdiam, rahangnya yang tegas mengencang keras. "Lantas apa hubungannya dengan bualanmu tentang mahluk kecil itu?"

"Hubungannya sangat besar, Tuan," sahut Ki Renggo dengan senyuman misterius yang sarat akan pengetahuan kuno. "Saat Anda melakukan hubungan intim yang begitu panas dan memabukkan semalam, segel itu bekerja menyaring energi kematian Anda. Cairan gaib dan gairah iblis Anda yang luar biasa masif tidak membunuh sel telur manusia milik Nona Cindy. Sebaliknya, energi murni dari sukma Nona Cindy yang hangat justru menyerap esensi gaib Anda, memadukannya menjadi sebuah benih kehidupan baru."

Ki Renggo mengetukkan tongkat kayunya ke ubin sekali, menciptakan bunyi thuk yang berat. "Anak yang akan lahir dari rahim Nona Cindy bukanlah manusia biasa, dan bukan pula mahluk halus yang mengerikan. Dia adalah perwujudan dari cinta obsesif Anda berdua. Sesosok peri setengah manusia... mahluk cilik yang akan memiliki kecantikan luar biasa, namun memiliki sayap gaib dan kemampuan mistis yang diturunkan dari darah iblis Anda, sekaligus memiliki detak jantung dan kehangatan manusia dari darah ibunya."

Mendengar penjelasan yang begitu terperinci dan realistis dari mulut Ki Renggo, Damian terpaku di tempatnya. Untuk pertama kalinya, kabut obsesi di matanya memudar, digantikan oleh rasa takjub yang teramat dalam sekaligus secercah rasa protektif yang jauh lebih besar dari sebelumnya. Di dalam rahim hangat Cindy, gadis murni yang begitu ia gilai, kini tengah tumbuh sebuah keajaiban kecil yang merupakan darah dagingnya sendiri.

"Peri... setengah manusia?" gumam Damian lirih, suaranya yang serak kini terdengar bergetar oleh emosi yang campur aduk.

"Benar, Tuan. Rahhim Nona Cindy sekarang adalah tempat paling sakral di rumah ini," Ki Renggo bangkit dari duduknya perlahan, membetulkan letak kain surjannya. "Namun ingat, kehamilan ini akan berjalan jauh lebih cepat daripada manusia biasa karena pengaruh energi gaib Anda. Jaga dia dengan baik. Mahluk-mahluk rawa di luar sana pasti akan semakin gila mencium aroma benih suci ini."

Sementara itu, di dalam kamar, Cindy yang sedang menatap layar laptopnya mendadak meletakkan jemarinya di atas perut ratanya. Entah kenapa, sebuah sengatan hangat yang asing namun terasa begitu menenangkan baru saja berdesir di dalam rahimnya, membuat bibirnya refleks menyunggingkan senyuman manis tanpa ia tahu bahwa takdir besar baru saja tertanam di dalam tubuh manusianya.

»»»

Setelah pintu depan ditutup rapat dan langkah kaki Ki Renggo yang berketuk ritmis dengan tongkatnya menghilang di balik pagar, keheningan kembali merayap masuk ke dalam rumah kolonial itu. Namun, keheningan kali ini terasa berbeda. Hawa dingin yang biasanya pekat dan menekan di sekitar Damian mendadak melunak, digantikan oleh aura protektif yang begitu tebal dan bergetar hebat.

Damian berdiri mematung di ruang tamu selama beberapa saat. Jemari tangannya yang pucat meraba dadanya sendiri, tempat di mana jantungnya yang sudah ratusan tahun berhenti berdetak kini seolah bergemuruh oleh emosi baru yang tak kasat mata. Seorang anak, janin kecil yang merupakan perpaduan antara hawa es miliknya dan kehangatan murni Cindy.

Tanpa suara, Damian melangkah lebar menuju kamar tengah. Langkah kakinya yang tak menapak bumi dengan sempurna membuatnya bergerak laksana bayangan hitam yang cepat. Begitu pintu kamar terbuka, matanya langsung tertuju pada Cindy yang masih duduk di depan laptop dengan sebelah tangan yang entah mengapa masih mengusap lembut perut ratanya.

Melihat kedatangan Damian, Cindy mendongak dan langsung menutup layar laptopnya. Senyuman manis terukir di bibirnya, meski matanya menyiratkan rasa penasaran yang besar.

"Damian," panggil Cindy, suaranya yang masih agak serak terdengar begitu renyah di telinga sang Iblis Belanda. "Kakek tua itu sudah pulang? Sebenarnya kalian bicara soal bisnis apa, sih? Kok mukamu tegang banget begitu?"

Damian tidak langsung menjawab. Ia berjalan mendekat, lalu berlutut di lantai kayu tepat di hadapan kursi tempat Cindy duduk. Tindakan ini begitu tidak biasa bagi sosok aristokrat Belanda yang angkuh seperti dirinya, membuat Cindy tertegun heran. Damian meraih kedua tangan hangat Cindy, menggenggamnya erat lalu membawa jemari itu ke bibir tipisnya untuk dikecup perlahan.

"Damian... kamu kenapa?" tanya Cindy lagi, jemari satunya bergerak mengelus rambut hitam lebat Damian yang tampak jatuh berantakan di dahinya. "Jangan bikin aku takut, ah."

Damian mendongak, menatap lekat-lekat ke dalam manik mata Cindy. Kabut obsesi di mata birunya kini bercampur dengan binar ketakjuban yang teramat dalam. "Cindy... mijn liefde... apakah kamu merasakan sesuatu di dalam tubuhmu pagi ini? Sesuatu yang berbeda?"

Cindy mengernyitkan alisnya, berpikir sejenak. Ingatannya langsung kembali pada sengatan hangat yang berdesir di rahimnya beberapa menit yang lalu saat ia sedang mengetik. "Hmm... sebenarnya tadi pas kamu lagi bicara di depan, perutku mendadak terasa hangat banget. Seperti ada aliran listrik kecil yang nyaman. Kenapa memangnya?"

Damian mengembuskan napas panjang, sebuah kebiasaan manusia yang kadang ia tiru saat emosinya meluap. Ia memindahkan tangan pucatnya dari jemari Cindy, perlahan merayap naik dan menempelkan telapak tangannya yang sedingin salju di atas perut rata Cindy yang terbungkus kain daster.

Begitu kulit dinginnya bergesekan dengan kain tipis itu, Damian bisa merasakan getaran gaib yang sangat halus berdenyut di dalam sana. Sebuah energi kehidupan yang sangat cantik, memancarkan pendar keemasan bercampur biru muda di mata gaibnya.

"Renggo ke sini bukan untuk urusan tanah atau rawa, Cindy," bisik Damian, suaranya yang berat dan serak terdengar bergetar hebat. "Dia ke sini untuk memberi tahu saya... bahwa di dalam sini, di dalam rahimmu, telah tumbuh sebuah kehidupan baru."

Cindy tertegun untuk beberapa saat dia terdiam. Logikanya sempat mencoba memproses kata-kata itu secara medis, namun seperti biasa, pengaruh gaib dari kedekatan mereka membuat pikirannya langsung menerima hal itu tanpa rasa syok yang berlebihan. "Kehidupan baru? Maksudmu... aku hamil?"

"Ya, mijn liefde," Damian mengecup perut Cindy dengan teramat lembut, seolah raga mungil di depannya adalah porselen paling rapuh di dunia. "Anak kita. Dia tidak akan menjadi manusia biasa, dan tidak akan menjadi hantu seperti saya. Renggo bilang... dia akan terlahir sebagai sesosok peri kecil setengah manusia. Sangat cantik, memiliki sayap, namun memiliki detak jantung sepertimu."

Mendengar kata 'peri setengah manusia', Cindy tidak menjerit ketakutan atau menganggap Damian gila. Jiwanya yang telah terikat mati oleh segel penambat sukma justru merasa mekar oleh kebahagiaan yang membuncah. Ia menangkup wajah tampan Damian, memaksa pria itu untuk menatapnya.

"Anak kita...?" air mata haru menetes di sudut mata rubah Cindy. "Jadi, sentuhanmu semalam... benar-benar memberikan kehidupan, Damian? Meskipun kamu... dingin?"

"Segel yang saya bawa dari dimensi seberang telah menyaring kematian saya, Cindy. Kehangatan jiwamu yang luar biasa murni telah menghidupkan benih saya," Damian bangkit, langsung menyusupkan lengan kokohnya di bawah ketiak dan paha Cindy, mengangkat tubuh mungil itu dengan mudah dan membawanya ke atas ranjang jati mereka.

Damian merebahkan tubuh Cindy dengan perlahan, lalu ikut berbaring di sampingnya, memeluk gadis itu dari samping dengan proteksi yang luar biasa ketat. "Tapi kehamilan ini akan berjalan sangat cepat, Cindy. Tidak akan sampai sembilan bulan seperti manusia biasa. Saya akan menjagamu setiap detik. Tidak akan saya biarkan sehelai rambutmu pun terluka."

Cindy menyandarkan kepalanya di dada bidang Damian yang kaku, menghirup aroma kenanga yang menenangkan. "Aku gak takut, Damian. Selama ada kamu di sini, aku siap melahirkan anak kita. Aku mencintaimu... sangat mencintaimu."

Damian tersenyum penuh kemenangan yang mutlak. Ia mengecup kening Cindy lama, tahu bahwa takdir mereka kini telah terkunci sempurna dan akan diteruskan oleh mahluk kecil yang sedang tumbuh di dalam kehangatan rahim kekasihnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!