Masih dalam masa berkabung karena ayah dan semua saudara laki-lakinya gugur di medan perang. Bai Ningyuan, putri sulung jenderal Bai harus menerima kenyataan pahit yang sangat menyakitkan.
Putra mahkota, suaminya telah diangkat menjadi kaisar. Tapi titah pertama yang kaisar itu tulis adalah menurunkan pangkat Bai Ningyuan menjadi selir.
Tangan Bai Ningyuan gemetar, suaminya telah menjadikannya selir. Karena harus mengangkat putri perdana menteri Su menjadi permaisuri.
"Nyonya, silahkan berkemas. Dan pindah dari istana timur ini menuju istana Hanzi!" seru Kasim Wang.
"Nyonya..." pelayan di sisi Bai Ningyuan tampak sedih, matanya sudah berkaca-kaca.
"Lin'er, bereskan barang. Yang mulia ingin aku menjadi selir... " Bai Ningyuan terkekeh lirih, "maka aku akan menjadi selirnya!"
'Xuan Pingyan! jangan menyesali keputusanmu ini!' geram Bai Ningyuan dalam hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Di kediaman jenderal Bai. Semua orang masih menunggu dengan sangat cemas. Lin Qingxue dan keluarga Mu masih terus berdoa di kuil leluhur. Sementara pandangan pangeran Ziyu masih terus tertuju ke arah pintu gerbang kediaman jenderal Bai.
Pria itu tampak cemas. Dia mengkhawatirkan Bai Ningyuan. Jika dia saja tadi harus menerobos blokade pengawal yang disiapkan oleh perdana menteri Su. Entah bagaimana Bai Ningyuan mengatasi hal yang sama.
Dia sangat khawatir pada keselamatan Bai Ningyuan. Karena dia juga mendengar, ibu suri sedang mengunjungi Kaisar di istana kekaisaran. Pangeran Ziyu tahu, ibu suri sebenarnya bukan sedang mengunjungi Kaisar. Tapi sedang menahannya di sana. Membiarkan perdana menteri Su melakukan apapun yang dia ingin lakukan, karena mendengar bahwa menantu pertama keluarga jenderal Bai akan melahirkan.
Sementara di dalam kamar Mu Wanqing. Kamar Mu Wanqing itu telah berubah menjadi ladang kepanikan. Udara yang sejak tadi pengap oleh panas tubuh dan asap dupa kini terasa semakin sesak. Tirai ranjang bergetar setiap kali Mu Wanqing meronta menahan rasa sakit, sementara suara erangannya terdengar putus-putus, bercampur dengan isak panik seorang pelayan wanita yang terus mondar-mandir membawa kain bersih dan baskom air.
"Cepat, ambil air lagi. Cepat!"
"Ini diletakkan di mana? apalagi yang harus aku lakukan?"
"Kain itu, ambil lagi yang baru!"
Semua benar-benar kacau. Setengah hari menunggu tabib telah menguras hampir seluruh tenaga Mu Wanqing. Persalinan yang seharusnya mendapat pertolongan sejak awal justru dibiarkan berlangsung terlalu lama, dan kini darah terus merembes membasahi kain di bawah tubuhnya.
"Tabib He! Bagaimana keadaan nyonya?" suara pelayan pribadi Mu Wanqing itu bergetar hebat.
Tabib He tidak langsung menjawab. Kedua tangannya sibuk memeriksa keadaan Mu Wanqing, wajahnya yang biasanya tenang kini berubah tegang. Begitu melihat banyaknya darah, alisnya langsung berkerut dalam. Ia segera meminta pelayan menyiapkan lebih banyak kain bersih dan air hangat.
"Cepat! Jangan hanya berdiri di sana! Ambil kain lagi!" hanya itu yang dia katakan. Dia berusaha untuk tetap fokus pada pertolongan yang dia berikan untuk Mu Wanqing.
"Baik! Baik, Tabib He!"
Pelayan itu berlari keluar, hampir tersandung ujung pakaiannya sendiri. Tangannya gemetar ketika membawa kembali baskom, tetapi belum sempat ia meletakkannya, Mu Wanqing tiba-tiba menjerit panjang.
"Aaahhh!"
Tubuhnya menegang di atas ranjang. Jemarinya mencengkeram seprai begitu kuat sampai buku-buku jarinya memutih. Wajahnya basah oleh keringat, rambutnya melekat di pelipis, dan napasnya tersengal-sengal seperti setiap tarikan udara membutuhkan seluruh tenaga yang masih tersisa dalam tubuhnya.
Bayangkan saja menahan rasa sakit selama itu, jika tekadnya tidak kuat. Mungkin Mu Wanqing sudah menyerah sejak tadi.
"Tabib, selamatkan anakku.Jangan... jangan biarkan aku mati... sebelum anakku lahir. Lakukan apapun untuk mempertahankan aku sebelum anakku lahir!" bisiknya dengan suara nyaris tak terdengar.
Pelayan wanita di sisi Mu Wanqing itu langsung menangis. Dia bisa melihat bagaimana Mu Wanqing berjuang sekuat tenaga untuk bertahan demi anaknya.
"Nyonya, jangan berkata begitu! Tabib He ada di sini. Tabib He pasti bisa menolong mu, Nyonya!" lirihnya yang terisak.
Semua pelayan sebenarnya sudah menangis sejak pagi. Ketika mendengar tidak ada tabib yang mau datang.
"Dengarkan aku!" bentak Tabib He, berusaha mempertahankan ketenangannya. "Jangan membuatnya panik. Mu Wanqing, tetap sadar. Tarik napas perlahan. Jangan menghabiskan tenaga untuk berteriak."
Tabib berusaha untuk menenangkan Mu Wanqing. Namun rasa sakit kembali menghantam sebelum Mu Wanqing sempat menjawab. Ia menggeliat, lalu mencengkeram tangan pelayan di sampingnya sampai kuku-kukunya menekan kulit.
"Ahh... sakit...!"
"Sedikit lagi, Nyonya!" Tabib He berkata tegas. "Bertahanlah. Jangan menyerah sekarang."
Tabib He terus bekerja dengan cepat.
Sesekali ia melirik kain yang telah berubah merah dan wajahnya semakin serius. Ia menyadari bahwa pendarahan itu sudah cukup banyak, terlebih setelah Mu Wanqing menunggu pertolongan selama berjam-jam. Tidak ada lagi waktu untuk panik.
"Air hangat! Dan siapkan kain sebanyak mungkin!" perintahnya lagi.
"Tabib He..." Pelayan itu menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Darahhnya... darahnya... kenapa..."
"Jangan bicara seperti itu!" Tabib He membentak. "Kalau kau masih ingin menyelamatkan nyonya kalian, gunakan tanganmu untuk membantu, bukan untuk gemetar!"
Pelayan itu mengangguk cepat sambil menyeka air matanya.
"Baik! maafkan aku!"
Di dalam kamar itu, suara langkah kaki yang tergesa, tangisan, erangan Mu Wanqing, dan perintah Tabib He saling bertumpuk menjadi satu. Tak seorang pun berani berpikir tentang kemungkinan terburuk, tetapi ketakutan itu telah memenuhi seluruh ruangan.
Mu Wanqing tiba-tiba membuka mata dan menatap langit-langit dengan pandangan kabur.
"Tidak, aku tidak bisa menyerah. Aku tidak bisa menyerah! anakku!" Suaranya begitu lemah.
Tabib He terdiam sepersekian detik sebelum menjawab, "Anak Anda masih harus dilahirkan, nyonya. Jadi Anda harus bertahan. Aku mohon Nyonya, bertahan sedikit lagi. Nyonya berusahalah!"
"Anakku, anakku harus lahir dengan selamat. Satu-satunya keturunan keluarga jenderal Bai harus selamat!"
"Anda akan melihatnya, nyonya. Anak anda akan selamat," jawab Tabib He tegas. "Tetapi Anda harus mengikuti perintah saya."
Mu Wanqing menggigit bibir, lalu mengangguk lemah.
Tak lama kemudian, rasa sakit kembali datang seperti gelombang besar. Seluruh tubuhnya menegang dan teriakan pecah dari bibirnya.
"Aaaahhh!"
Pelayan wanita itu memegang tangannya dengan kedua tangan.
"Dorong, Nyonya! Bertahanlah, nyonya pasti bisa!"
Tabib He segera berkata, "Sekarang! Gunakan tenaga Anda sekarang, nyonya!"
Mu Wanqing mengerahkan sisa kekuatannya. Wajahnya memerah, napasnya terputus-putus, sementara air mata mengalir tanpa mampu ia tahan. Tabib He terus memberikan arahan, suaranya tegas di tengah kekacauan.
"Sedikit lagi... jangan berhenti!"
Pelayan wanita itu menangis sambil terus membantu.
"Nyonya, sebentar lagi! Sebentar lagi!"
Tetapi ketika Tabib He kembali melihat darah yang keluar, ekspresinya seketika berubah.
Pelayan itu membeku. Dia melihat tabib He yang sepertinya sangat terkejut.
"Tabib He, bagaimana sekarang?"
Tabib He menarik napas dalam-dalam, lalu berkata dengan suara jauh lebih keras,
"Kita tidak punya banyak waktu! Mu Wanqing, dengarkan aku. Anda harus bertahan sekarang. Apa pun yang terjadi, jangan kehilangan kesadaran! Nyonya, berusahalah!"
Mu Wanqing hanya mampu mengangguk lemah.
Di luar kamar, tak seorang pun tahu betapa genting keadaan di dalam. Sementara di balik pintu tertutup itu, satu nyawa sedang berjuang melahirkan nyawa lainnya dan Tabib He tahu, setelah menunggu pertolongan selama setengah hari, setiap detik yang berlalu kini bisa menentukan hidup atau mati.
"Nyonya, sekarang... dorong!"
"Agkhhhhhh!"
"Oeeee... Oeee....!"
"Bayinya lahir, cepat ambil kain!" kata tabib He dengan cepat menyelamatkan bayi yang memang sudah sangat lemah itu.
"A... anak... ku!"
Brakk
"Nyonya...."
"Nyonya!"
***
Bersambung...
👧🏻 :"Ape abang.. Ingat ya, dedek selir mulia.. "
🧔🏻 :"Abang mencintaimu Ning'er.. "🤤
👧🏻 :" Dihh.. Lap dulu tuh ilerrr woyy.. "🫢
Agar tak ada yg mempersulit mu untuk datang & pergi..
Kena kan dikit tuh pedang ke lehernya, biar cacat tuh kulit nya Permaisuri Su.. 🤭
kelakuanmu aja macam a Su , Bai terus yang kau salahkan dan jadi pelampiasan 😔
boleh tanya gak sama teman teman disini, aku kan baca neh, tapi aku gak bisa nge like cerita ( dan ada tulisan akun aku di blokir) itu kenapa ya.. padahal aku gak pernah ngelapor atau ngeblok loh tapi ko aku gak bisa koment itu cerita.. padahal bagus loh cerita dia.. selama ini aku baca baik baik aja.. ko di dia aku d blok ya.. sedih..
makasih teman semua udah dengerin curhatku...
semangat kaka othor nulisnya😍😍😍😍
Kenapa hanya Kaisar yg kau buat mandul..?
Andai saja jika kau ingin menaburkan racun di sumur kediaman Perdana Menteri itu, aku bisa membantu mu selir Bai.. 🤧
Termasuk tabib², tujuan nya untuk mempersulit Bai Ningyuan sebagai selir istimewa..
Begitulah intrik yg terjadi di dalam kehidupan dunia kerajaan..